mimpi copywriter (20) goyangan britney spears


Sore-sore adalah saat tepat untuk bersantai. Saya pun jalan-jalan di kompleks mewah salah satu perumahan di Amerika Serikat.  Di sudut kompleks, terdapat lapangan fustal. Di sana banyak anak usia belasan tahun sedang seru-serunya bermain futsal. Ketika saya melewatinya, mereka mengajak saya ikut bermain fustal. Maka, ikutlah saya bergabung dengan mereka. Meskipun mereka baru berusia belasan tahun, tetapi tinggi badannya melampaui tinggi badan saya. Saya pun jadi satu-satunya pemain berbadan pendek. Main futsal lawan mereka bukanlah permainan menyenangkan. Untuk mendapatkan bola sekali tendang saja susahnya masa ampun. Napas saya sampai ngos-ngosan dibuatnya. Bola tidak dapat, rasa dongkol bercampur lelah yang didapat.


Ah! Sudah ah! Berhenti saja. Saya pergi meninggalkan abg-abg bule bermain fustal.


Di luar lapangan, saya disambut seorang penyanyi terkenal Amerika. Britney Spears. Dia menggandeng tangan saya. Senyumnya liar, pegangannnya kuat. Dia mengajak saya menikah.


Saya langsung kikuk diajak nikah seorang diva Hollywood. Ini pasti mimpi, pikir saya. Bukan mimpi ternyata. Ketika dia mencium pipi saya, saya bisa merasakannya. Ini nyata! Ya ampun! Saya akan menikah dengan Britney Spears. Pasti saya bakalan punya anak yang superlucu. Mau! Mau! Mau!

Adegan nikahnya entah kenapa tidak terjadi. Tahu-tahu saya dan Britney sudah tinggal serumah. Rumahnya sangat besar. Letaknya di bibir tebing. Di bawahnya lautan lepas. Kami pun bercinta ala film bokep Hollywood. Hot! Patah-patah! Ringsek! Tahulah goyangan Britney seperti apa.

Dari hasi hasil pernikahan saya dengan Britney, lahirlah seorang anak laki-laki. Lucu! Sangat lucu! Tetapi bentuknya kok kaya Mini-Me di film Austin Powers. Lucu-lucu mengerikan. Saya menggendongnya pun antara takut, geli dan pengen ngelus-ngelus. Rasanya jadi ingin membuangnya ke lautan lepas. Tapi, eh ini anak saya sendiri. Dari keturunan seorang artis pula. Serba salah jadinya. Mana makannya rakus nih anak. Apa saja dimakan. Minum susunya juga tidak cukup sedot dua dot. Butuh bergelas-gelas susu di meja. Kalau melihat hal-hal lucu, tertawanya jadi serem. Tidak seperti anak bayi pada umumnya. Hati saya jadi galau balau! Dibunuh lucu nih, begitulah pikiran saya bicara.

Tau begini, saya tidak akan kawin dengan Britney. Lebih baik kawin dengan gadis lokal, asli buatan Indonesia saja. Lebih alami!

Apa daya. Nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah menikah dengan Britney Spears. Sudah memiliki satu anak, yang pertumbuhannya sangat cepat. Perasaan baru beberapa jam lalu dilahirkan, sekarang dia sudah bisa jalan-jalan. Loncat sana, loncat sini macam bajing saja. Semua barang di rumah dilempar-lempar. Meja dirusak. Kursi dicakar-cakar. Emaknya sendiri, ya siapa lagi kalau bukan Britney Spears, pusing melihat tingkah anaknya kaya setan. Dia pun menyerah. Siap minggat dari rumah membawa setumpuk koper.

 

Satu kata keluar dari mulutnya. Cerai!

Lha?

Baru nikah beberapa jam lalu, bercinta, punya anak, sekarang ngajak cerai. Yang boneng aja lho Brit! Emangnya gue laki apaan!

Kami berdua bertengkar hebat. Seluruh isi rumah hancur. Bukan karena kami berdua saling melempar piring, melainkan amarah anak kecil lucu Mini-Me yang tidak setuju kami berdua cerai. Dia menghancurkan semua barang di rumah dengan pemukul baseball. Gila nih anak. Anarkis abis!

 

Britney pun pergi dari rumah. Saya terhenyak sedih. Tiba-tiba anak itu jalan labil ke arah saya sambil membawa tongkat baseball. Dengan lugunya dia memukul kepala saya. Sontak saja saya kaget setengah mati, kesakitan dan tersadar.

 

Sial! Mimpi! Eh, ternyata mimpi. Untung cuma mimpi. Saya mengusap dada.

Nggak mau deh nikah sama Britney Spears kalau ternyata punya anak nakal sebegitunya. Nggak!


sonofmountmalang

Catatan kecil. Sebelum tidur, saya menonton MTV, yang kebetulan memutar video clip-nya Britney Spears terbaru, Till The World Ends. Ternyata, kemolekan tubuhnya mengantarkan saya ke sebuah mimpi menyenangkan sekaligus mengerikan. Sigh!

Filosofi Rokok

Suatu hari……

Tulislah demikian untuk memulai cerita dengan mudah. Suatu hari seorang pasien lugu datang untuk konsultasi ke dokter. Di ruangan, sang dokter bertanya,”Apa masalahnya?”

“Begini dok,” ucap si pasien,”Saya ingin berhenti merokok.”

“Ohhh….Gampang itu mah.”

Sang dokter berkata penuh ketenangan.

“Gampang gimana, dok? Saya sudah lama jadi perokok.”

“Caranya, sumpal rokoknya ke lobang pantat.”

“Ohhh…! Begitu. Akan saya coba, dok.”

Sebulan kemudian sang pasien lugu ini kembali menemui dokter.

“Dok,” keluhnya di depan dokter.

“ Ada masalah apa lagi?”

“Ini dok, saya sudah berhenti merokok.”

“Terus?”

“Anu, dok. Saya nggak bisa berhentiin kebiasaan masukin rokok ke pantat.”

Dokter,”()@)^&#$%$@*&!)#^???!!!”

 

Hah! Hah! Lucu kan? Ngakak, please…!:P

Itu hanyalah sekian dari jutaan lelucon soal rokok. Masih banyak lagi yang lebih tolil dari ini, dan mungkin lebih ironis atau lucu. He’hoh!

 

Rokok, bagi sebagian orang, merupakan sahabat, musuh, sumber penghasilan, sumber kehidupan, sumber kemakmuran, sumber pendapatan negara dan segala jenis sumber, termasuk penyakit. Benarkan demikian? Rokok sumber penyakit? Bisa jadi itu hanya mitos, atau konspirasi pengusaha-pengusaha non-rokok, yang iri dengan keuntungan dari penjualan rokok. Can be anything. Tetapi yang jelas, di buku yang dipinjamkan bos saya, berjudul “Filosofi Rokok. Sehat Tanpa Berhenti Merokok” barulah ada setitik terang tentang segala kebaikan tembakau a.k.a rokok. Nah lho?! Kok bisa?

 

Untuk menjawabnya, Anda mungkin bisa membaca Filosofi Rokoknya Suryo Sukendro. Di sini dibahas dari awal mula lahirnya rokok di berbagai belahan bumi. Sejarah rokok di Indonesia pun tak kalah menariknya. Seperti awal terciptanya kata KERETEK. Dikisahkan Haji Jamahri, penduduk asli Kudus, selalu mengalami rasa nyeri di dadanya. Untuk mengurangi rasa sakitnya, Haji Jamahri mengusapkan minyak cengkeh, bahkan mengunyah cengkeh. Hasilnya rasa nyeri pun berkurang. Kemudian ide untuk merajang cengkeh dicampur daun tembakau dengan dilinting daun jagung kering pun muncul. Jadilah sebuah penemuan fenomenal pada masa itu. Ia membakar lintingan itu, menghisapnya sampai masuk ke paru-paru. Rasa sakit di dadanya pun perlahan sembuh. Penemuannya itu menyebar dengan cepat. Semula penduduk sekitar menyebut penemuannya itu ROKOK CENGKEH. Tetapi kemudian berganti sebutan menjadi ROKOK KERETEK. Karena ketika dibakar, terdengar bunyi keretek-keretek. Beruntunglah pada jaman itu bunyi bakarannya bukan CROD CROD. Kebayang kan kalau bunyi bakarannya terdengar seperti itu, sekarang kita pasti memiliki sebutan ROKOK CROD .

 

Banyak hal yang dikupas dalam buku ini. Sejarah tembakau di Eropa, Indian dan manfaatnya pada jaman itu. Khusus di Indonesia, sejarah bisnis rokok ditandai dengan munculnya perusahaan resmi dengan merek Tjap Bal Tiga milik Nitisemito yang seorang mantan kusir. Berikutnya muncul perusahaan rokok seperti Nojorono, Djamboe Bol, Djarum dan Sukun. Sementara di Jawa Timur muncul PT HM Sampoerna. Menarik sekali membaca buku ini. Seakan kita dibawa wisata kuliner rokok ke jaman dimana saya sama sekali belum terpikirkan oleh Tuhan mau dilahirkan sebagai apa, dimana, di suku apa dan seterusnya.

 

Meskipun ulasan soal sejarah rokok dan raja-raja rokok tidak sedalam lautan, tetapi cukuplah membuka wawasan kita untuk memahami lebih dalam tentang rokok, dan bagaimana menyiasati merokok dengan kondisi badan tetap sehat, bugar segar tanpa penyakit.

Ternyata, menurut buku itu, salah satu siasatnya adalah mengonsumsi makanan yang bisa mencegah kanker, jantung, olah raga, istirahat yang cukup dan cek ke dokter secara rutin. Ngaks! Kalau semua perokok menerapkan pola hidup seperti ini, semakin hari pastinya akan semakin banyak orang yang merokok tanpa harus takut mati muda.

 

Untuk penggila rokok sejati, buku ini cocoklah untuk sekedar memahami filosofi rokok, tata krama merokok yang baik dan benar. Supaya jangan asal mulut ngebul doank. Dan biar tetap bisa merokok tanpa harus takut terkena penyakit mengerikan macam kanker, jantung dan penyakit kelas berat sebangsanya.

 

So, saran saya, teruslah merokok! Jangan pernah berhenti merokok! Karena dengan merokok, Anda semua telah berjasa bagi petani tembakau, cengkeh, buruh linting, pekerja-pekerja di pabrik dan perusahaan rokok, pedagang asongan, toko kelontong, pemerintah yang mendapatkan pajak triliunan, juga media-media TV, Radio, Billboard, Koran yang mendapatkan uang dari penayangan iklan rokok. Production House yang sudah memproduksi iklannya, tempat postpro, musisi, tempat recording, editor, talent VO, talent rokok dan semuanya yang berhubungan intim dengan rokok, termasuk Biro Iklan; Creative Director, Art Director, Copywriter dan segenap karyawan di Biro Iklan yang meng-handle merek rokok. 

 

Wah! Ternyata banyak ya orang yang menggantungkan hidupnya dari rokok. Kebayang kan jasa para perokok. Betapa besarnya jasa mereka. Yah…dibanding jasa presiden mah nggak ada apa-apanyalah. Catat itu!

 

Sebagai penutup, beberapa tahun lalu, saya jalan-jalan ke pedalaman salah satu gunung di Jawa Barat. Di usia semuda dan seliar ini, saya sudah tidak mampu berjalan kaki menaiki bukit berlama-lama. Payah! Padahal saya tidak merokok lho. Sementara, seorang bapak tua yang duduk di bawah pohon sambil merokok masih mampu memanggul kayu, yang beratnya tidak bisa saya pikul. Ketika saya bertanya berapa umurnya, si bapak tua itu bilang kalau usianya sudah tua. Tujuh puluh tahun. Duenkkk! Miris ya. Umur 70 tahun, perokok tembakau dilinting daun kawung, masih kuat naik turun bukit sambil memanggul kayu. Hebring! Saya yang masih berumur belasan kalah kuat. Kayanya saya harus merokok. Ngeks!

 

Akhir kata,”Hidup rokok!”

 

Hiduuppp!

 

“sonofmountmalang”

 

Nuhun pisan to @kawanjaja  atas pinjaman bukunya:)

mimpi copywriter (19) serigala banci

 

Daun-daun kecoklatan berjatuhan menyapa ruang hutan. Ranting-ranting retak terinjak bekas kaki ukuran raksasa. Angin berhembus cukup kencang. Lolongan serigala melengking di kejauhan. Suaranya membuat semua pembuluh darah merah berubah menjadi putih. Wajah saya langsung pucat. Keringat dingin mengucur.

Saya segera bersembunyi di gubuk kayu. Dari celah kecil saya mengintip. Di luar terlihat gerombolan serigala berkepala manusia datang. Mereka berkumpul di depan gubuk. Saling berbisik satu sama lain.

Apa yang sedang mereka bisikkan?

Satu serigala bertubuh kurus, tinggi, berbulu merah dengan trisula perak menjejakkan kakinya. Trisulanya ia arahkan ke gubuk tempat saya sembunyi. Semua wajah memandang ke arah gubuk.

Dari semua wajah itu, ada tiga wajah yang saya kenali. Meskipun tidak begitu detail, saya bisa tahu karakter wajahnya. Satu serigala bertubuh kurus dengan bulu keriting merah menyala adalah Rarambol. Dua lagi adalah Bella dan Cullen. Rarambol  bekas teman kerja satu tim kami masih sekantor. Sementara Bella dan Cullen saya kenalnya dari film Twilight. Sekarang ketiganya ada di depan saya. Hanya terhalang bilik kayu lapuk. Dengan tatapam setajam silet, hidung mendengus-dengus, mulutnya berliur begitu mengucur, matanya membara kemerahan, mereka siap mencabik-cabik tubuh saya.

 

Rarambol maju selangkah ke depan. Cakar tajam mengkilat keluar dari ujung jari-jarinya. Mulutnya menyeringai. Taring lancipnya mengeluarkan tetesan liur berlendir. Dia melolong. Suaranya keras memekakan telinga.

 

Rarambol tidak mungkin memangsa, begitu pikir saya dalam hati. Dia teman dekat saya. Orang-orang kantor dulu bilangnya, kami berdua bak pinang dibelah dua. Saya yakin sekali, dia anak yang baik. Walau pun sudah menjadi serigala, hatinya pasti masih bisa mengenali saya. Jadi, tidak mungkin dia menelan saya di tengah hutan ini. Kecuali seluruh jiwanya sungguh-sungguh sudah dirasuki oleh jiwa serigala. Kalau itu, saya pasrah saja.

 

Bella dan Cullen saling lirik melihat Rarambol maju selangkah lagi. Kini, jaraknya semakin dengan dengan gubuk tempat dimana tulang di badan saya sudah mulai bergetar ketakutan. Jantung pun berpacu dengan melodi lolongan serigala di segala penjuru hutan.

 

Anying! Jerit batin saya. Haruskah saya mati di hutan ini, di tangan sahabat sekantor yang sudah berubah menjadi manusia serigala?

 

Nggak rela rasanya.

 

Saya memutar otak 360 derajat untuk mendapatkan cara agar bisa keluar dari situasi mengerikan ini.

Tuhan Maha Baik.

Dia mendengarkan jeritan seorang umatnya yang sedang teraniaya. Maka, ide untuk lepas dari cengkrama serigala Rarambol dan kedua temannya, Bella dan Cullen pun muncul di kepala saya.

Ting!

Saya mengambil jerami, ranting dan daun-daun kering yang ada di dalam gubuk. Semua atribut itu ditempelkan ke seluruh badan.

 

Cara berkamuflase yang sempurna.

Badan saya jadi lebih mirip empunya serigala dengan bulu-bulu kasar dari jerami.

Berbekal kepercayaan diri yang tinggi, saya keluar dari gubuk.

“Hay, nekkk! Pada ngapain sih kumpul-kumpul. Cari mangsa yey! Sama donk. Eike juga cari mangsa. Hyuuk!”

Jdeeeng!

Spontan saja saya menjadi serigala banci. Pecicilan menyapa serigala-serigala bermata bara. Lenggak-lenggok di depan kawanan serigala kelaparan.

Melihat saya keluar dengan dandanan serigala berbulu jerami, serigala-serigala berkepala manusia itu saling lirik terheran-heran.

Selamet neh gue, saya bicara dalam hati sambil melihat mereka semua. Semoga saja mereka tidak mencium bau manusia.

Dugaan saya salah!

Satu serigala yang memegang trisula perak memberikan isyarat ke serigala-serigala lainnya untuk menyerang saya.

“Auuuuu!!” Teriaknya.

Breekk!

Puluhan serigala, termasuk Bella, Cullen dan Rarambol menyerang saya.

 

Kampreeddd! Serigala setaann! Tau aja lagi samaran gue!

Saya mengumpat sambil ancang-ancang untuk berlari. Jurus langkah seribu saya kerahkan sekuat tenaga menghindari taring-taring serigala.

Hosh! Hosh! Hosh!

Brak!

Saat sedang konsetrasi berlari, kaki saya tersandung batang pohon. Saya terperanjat kaget dan bangun dari tidur. Saya mengusap dada. Melihat sekeliling kamar.

Syukurlah tidak jadi makanan empuk serigala berkepala manusia.

Whiew!

 

“sonofmountmalang”