“Jatuh Hati di Bali”
Pulau Dewata. Surga Indonesia. Surga para surfer. Surga budaya. Surga liburan. Surga hedonisme. Surga semuanya. Katakanlah demikian. Bali memang memiliki magnet berkekuatan hebat. Tidak sedikit orang yang berkeinginan untuk kembali mengunjungi Bali. Seperti saya ini, meskipun baru pertama kali menginjakkan kaki di Bali, di benak ternyempil saya, ingin rasanya kembali ke Bali. Tetapi bukan ke tempat-tempat yang dijejali bule-bule bertelanjang dada atau tempat jedang-jedung di sekitar Legian – Kuta. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat sepi, sunyi, sakral dan duduk atau berdiri menikmati kemurnian Bali. Bisakah? Atau tepatnya, masih adakah? Saya tidak tahu. Rasanya, semuanya, di sini sudah menjadi barang komersil, yang bisa ditebus dengan uang. Begitukah? Rasanya tidak semua ya. Ah, soal itu lupakan. Mari kita jelajahi dan nikmati setiap jengkal tanah di Bali. Mari…!
Motor sewaan hilang
Kendaraan pertama saya ketika keliling di Bali adalah motor. Saya tidak tahu menahu jalanan di Bali. Dengan sok tahunya, saya sewa motor dan berjalan-jalan di seputaran Legian – Kuta. Akhirnya nyangkut di Hard Rock. Di sini kami melepaskan ketegangan bersama seorang teman yang di tinggal di Bali dan seorang pacar. Fiuh! Lumayan lega rasanya.
Tidak terasa ya. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Saya harus pulang. Besok ada perjalanan panjang dengan motor sewaan. Saya menuju parkiran pinggir jalan. Motor tidak ada di tempat. Hilang. Padahal STNK ada di bawah jok. Saat petugas parkir bertanya berapa nomor platnya, saya juga tidak tahu. Matilah! Untung ada berkas kertas penyewaan di dalam tas, jadi saya bisa tahu plat nomornya. Saya, pacar dan teman plus tukang parkir mencari-cari motor. Keringat dingin, deg-degan, motor hilang, di tempat liburan pula, motor sewaan pula. Hadeehh! Ada-ada saja. Petugas parkir bertanya dimana saya parkir motornya. Saya menunjuk ke lokasi beberapa jam lalu saya parkir motor. Hilang kayanya ya. Ada orang iseng nih, katanya. Saya semakin panik. Saya yakin tadi parkir di sini. Yakin? Yakin!
Pacar berteriak di tengah-tengah motor. Dia menunjuk ke salah satu motor. Hiuh! Akhirnya, ketemu jugaaaaa! Kami pun berbahagia. Tidak jadi kehilangan motor. Ternyata, saya lupa kalau saya parkir motor di sini ya. Rasanya tadi si sana. Hah! Pikuuun!
Yuk ah pulang! Besok perjalanan ke sebuah tempat membutuhkan tenaga ekstra.
Bersujud di tanah Ubud
Ubud merupakan rute pertama saya menjelajah sebagai kecil Bali. Saya melakukan perjalanan dari Legian menuju Ubud mengendarai motor. Perjalanan pertama saya naik motor menempuh jarak sejauh itu. Sebelumnya saya tidak pernah mengendarai motor sejauh dan selama itu, di tempat asing pula. Nekat!
Sepanjang perjalanan menuju Ubud itulah jantung saya terus berdebar, hati terguncang, mulut terus berdecak dan mata tak berkedip. Gila nih orang Bali, semua bisa dijadikan barang seni. Pasti dari semenjak embrio, orang-orang Bali sudah diajarkan membuat karya aneh-aneh. Mau beli rasanya semua benda yang dilewatin, sayang, selain tidak ada tempat, juga bingung harus dibawa dengan apa. Jadinya, hanya meraba dan melihatnya. Kemudian melanjutkan perjalanan melewati pura-pura keluarga, hamparan sawah, wangi padi, udara sejuk dan villa-villa mewah.
Sepanjang perjalanan saya bicara sendiri dalam hati,”Sepertinya menarik ya tinggal di Ubud. Menulis, bercocok tanam padi atau apalah yang bisa menghidupi hidup.” Tetapi, diri saya lainnya bicara,”Ah, di Puncak atau di Cianjur atau di Malang juga bisa. Ada sawah, ada villa mewah.” Di Ubud ini berbeda, nuansa mistik budaya dan wangi dupa-dupa serta pajangan-pajangan karya seniman Bali membuat gairah menulis 100 tingkat lebih semangat dibandingkan dengan daerah tempat saya tinggal. Mulai lebay nih ya!
Ah, mungkin kalau ada rejeki lebih, saya berniat membeli tanah di Ubud. Membangun rumah dan membesarkan keluarga di sana. Gaya!
Merenung di Murni’s Warung
Setelah beberapa lama bermotor, saya, pacar dan seorang teman yang menjadi guide berhenti di Murni’s Warung. Untuk mengisi perut yang kosong. Murni’s Warung ini letaknya di tebing sungai Campuhan. Suara air bercampur suara burung liar dan aroma khas Bali menjadi teman kami bertiga menyantap hidangan dengan rasa yang biasa-biasa saja. Saya suka tempat ini bukan karena makanannya, tetapi suasana dan aroma yang menghidupkan jiwa. Entah jiwa apa. Hmmm….!
Eh! Padahal ada babi guling Ibu Oka, cukup terkenal dan enak. Sayangnya saya tidak suka babi. Jadi, saya lewatkan begitu saja. Bebek Bengil? Ah, di Jakarta bebek mah banyak. Susah ya, makan saja ribet!
Melongo di ruangan Antonio Blanco
Berdasarkan rekomendasi teman kantor yang cabul, Lita, saya menyempatkan diri mampir ke musium Antonio Blanco. Seniman berdarah Spanyol kelahiran Manila ini merupakan seniman paling beruntung. Ia terdampar di Bali pada jaman Bali masih sangat murni dan suci. Dia bisa melihat gadis-gadis Bali bertelanjang dada dengan batik melingkar di perut ke bawah. Pesona yang tidak akan bisa ditemui di jaman Bali semodern sekarang ini. Lihat saja, semua lukisan Don Antonio dipenuhi dengan ketelanjangan. Lugu sekali ya. Tidak semua sih, tetapi nyaris kebanyakan. Saya pun betah berlama-lama memandang lukisannya. Terpikir untuk mengabadikannya dengan kamera. Eh, dilarang rupanya. Jadilah setiap berpindah dari lukisan satu ke lukisan lainnya, sang penjaga mengintil di belakang saya. Lebih parahnya, terpikir untuk mencurinya. Otak kriminal!
Meskipun dilarang, saya sempat diam-diam mengabadikan beberapa lukisannya yang ada di ruang pameran lainnya. Itu pun kepergok salah satu petugas. Hiyah!
Terakhir saya dibukakan sebuah lemari usang di dinding berlampu remang. Kata penjaganya,”Ini masterpisnya. Yang bisa melihat hanya orang dewasa. Tujuh belas tahun ke atas.” Saya bilang saja usia saya masih 16 tahun. Dia tertawa. Tertawa percaya atau tidak percaya. Hanya dia dan arwah Antonio yang tahu. Saya pun menyiapkan kamera dalam posisi on.
“Ini nggak boleh difoto juga,” kata petugas sebelum membuka pintu lemari. Petugas itu perlahan membuka pintu lemari. Jantung saya mulai dag dig dug. Jangan-jangan ini lukisan nenek moyang saya. Heh!?
Pintu terbuka, lukisan mulai terlihat. Hmmm….! Inilah masterpiece. Seorang wanita bermain asik dengan dildo. Merinding saya melihatnya. Tidak lama mata saya menatapnya. Tidak tahan berlama-lama berdiri di depan lukisannya. Cukup sudah mata saya dimanjakan kecabulan eksotisme mistis yang tak bisa dinilai dengan rupiah semata.
Terasering dan Tampak Siring
Saat masih dalam wujud anak ingusan, saya banyak bermain di sawah. Menangkap belut, perang lumpur atau bermain layangan di pematangnya. Namun, sawah ini lain dari yang lain. Sawah dengan daya tarik menarik. Sawah bertangga. Sebut sajalah terasering. Awalnya saya tidak begitu penasaran dengan sawah. Berhubung sudah di Bali dan kebetulan melewatinya, ya sudahlah yah. Saya sejenak menikmati pemandangan sawah. Sekedar melepas rasa penasaran. Sayangnya, padi di sawahnya baru beberapa minggu lalu dipanen. Jadi tinggal jeraminya saja. Sayang, ya.
Mari kita lanjutkan ke Tampak Siring. Pura dengan sejuta wewangian. Hmmm…! Saya suka wangi aroma ini. Banyak orang berendam di pancuran beningnya. Ternyata mereka bukan sembarang berendam, mereka itu berdoa. Oh, baiklah. Saya pun ikut berdoa. Doa saya sederhana.”Dewata, tolong berikan kesempatan saya untuk mengunjungi Bali lagi bersama pacar dan anak saya kelak.” Kemudian saya meminum air dari pancuran. Segerrr!
Tidak lama saya di Tampak Siring. Waktu sudah menggelap dan gerimis sudah berdatangan. Sebelum meninggalkan pemandian itu, saya melongok ke salah satu lokasi. Saya pikir itu wisata lainnya, ternyata pria-pria bugil sedang mandi dan di sebelah wanita-wanita juga sedang mandi. Doh! Sayang kalau dilewatkan, tapi takut tergiur ikut mandi kalau melihatnya berlama-lama. Mari kita pulang ke Legian untuk istirahat. Besok perjalanan menuju tempat lain masih panjang.
Bergaul di Bedugul dan sekitarnya
Ada apa di sepanjang Bali Utara ini? Mari kita berangkat. Kali ini saya ditemani seorang sopir. Pak Ketut namanya. Saya sewa mobil ke Pak Ketut, yang jadi sopir Pak Ketut sendiri. Mobil Karimun lama. Harga 150 ribu plus bayar Pak Ketut 100 ribu selama 12 jam. Inilah perjalanan bergaul di sekitar Bedugul.
Perjalanan pun dimulai. Pak Ketut tidak henti-hentinya bicara. Saya mendengarkannya sambil melihat pemandangan di kanan kiri. Dia mulai bicara soal motor. Dia bilang, pengendara motor di Bali itu sudah tidak pernah sekali pun mematuhi peraturan lalu lintas. Apalagi di desa seperti ini. Mau belok, mau berhenti, mau ngapain aja sesuka hati. Semua orang sekarang sudah naik motor. Anak minta dibeliin motor sampai mogok makan dan bahkan ada yang bunuh diri. Pak Ketut berdecak sendiri. Orang Bali ini sudah mulai terpinggirkan, katanya. Lihat saja ini. Dia menunjuk sebuah deretan villa di samping jalan. Ini dulunya sawah. Sepanjang pinggir jalan ini sawah. Lihat yang itu. Dia menunjuk sepetak sawah yang diapit villa di sisi kiri dan kanan. Lama-lama habis sawah di Bali ini jadi villa. Bodoh sih, katanya. Jual tanah, uanganya buat beli mobil. Sekarang tanah itu sudah jadi villa. Disewakan menghasilkan uang. Nah, orang Bali jadi apa? Buka rental mobil? Jual tanah lagi?
Pak Ketut terus bicara dengan semangat. Saya mendengarkannya sambil sesekali menimpalinya.
Setelah cukup heboh bercerita, dia pun mengajak saya mampir ke pertanian organik. Di sana saya minum KOPI LUWAK ORGANIK. Lumayan juga. Pagi-pagi minum kopi. Cukup bisa menyegarkan otak. Harganya, yah namanya juga KOPI LUWAK, ORGANIK pula. Jangan ditanya. Nikmatin saja.
Penjaganya mengajak saya berjalan-jalan di kebun kecilnya. Dia menjelaskan berbagai tanaman di kebun. Kemudian dia menunjukkan Luwak di kandang, menunjukkan kopi hasil dari ee Luwak liar dan Luwak piaraan. Jadi teringat nenek saya. Hiks! Apalagi ketika saya melihat tempat menyangrai ditaruh di tungku kayu bakar. Semakin mengingatkan saya ke nenek saya. Jawara Kopi dari Gunung Malang. Nek, yuk ngopi, neeekk!! Saya menegak secangkir kopi Luwak. Nikmat!
Sambil menikmati KOPI LUWAK, Pak Ketut bercerita soal bisnisnya. TOKEK! Modal berbisnis tokek dia habiskan besar-besaran. Tertipu ratusan juta rupiah bersama bosnya pemilik sewa mobil. Dari hasil jual beli tokek, dia bisa beli mobil Avanza. Jadi sopir itu hanya side job saja. Sekarang dia memelihara tokek yang berat badannya tidak kunjung gemuk juga. Rugi berat, keluhnya. Dia kapok berbisnis tokek. Dia pun diajak bosnya berbisnis jual beli batu merah delima yang didapat dari pertapaan. Jual beli jenglot, benda-benda gaib dan sejenisnya. Ih, katanya sambil merinding. Dia nggak berani jual begituan. Kalau itu bisa mendatangkan kekayaan, ngapain dijual. Ya, ngga? Saya mengangguk. Pinter juga, nih Pak Ketut. Pembicaraannya semakin memanjang, sementara matahari sudah bangkit lebih tinggi dan kopi sudah habis. Bagaimana kalau kita sudahi duduk-duduk santai di sini.
Selanjutnya saya menuju Taman Ayun. Pak Ketut kembali bercerita. Lama-lama, sawah-sawah di Ubud itu akan hilang. Di sana sudah banyak villa, tapi di dalam. Mungkin di pinggir jalan mahal ya. Atau orang sekitar tidak ingin menjualnya. Tapi, lambat laun, daerah itu akan menjadi tempat penginapan. Sawah di Ubud lima tahun ke depan hilang. Pasti itu! Pasti hilang! Yang menyedihkan, pemiliki villa bukan orang Bali. Lagi-lagi orang Bali akan semakin terpinggir. Itulah akibat dari jual-jual tanah sesuak hati. Pak Ketut terlihat cemas, menggerutu dan kesal. Wah, saya mau beli tuh tanah di sekitaran Ubud. Bangun villa untuk mengembangkan tulisan-tulisan saya. Beli tanah pake daun. Ngrok!
Pak Ketut menghentikan mobilnya di Taman Ayun. Hanya sebentar saya mampir di tempat ini. Tidak bisa masuk ke dalam puranya. Padahal saya mau ikut berdoa. Harus jadi orang Bali dan masuk Hindu dulu sepertinya ya. Mungkin lain kali saja saya akan mencobanya.
Malarungkan diri di danau Bratan
Bebek keling itu bernasib sial. Pagi ini kakinya diikat sebuah pemberat dari batu. Perahu berisi tiga orang siap membawa sesajen. Satu orang mengayuh, satu orang memegang bebek dan satu orang memegang bakul isi sesajen. Perahu itu pun menuju tengah danau. Salah seorang pengunjung bertanya,”Itu bebek ditenggelemin gitu aja? Nggak dipotong dulu. Jahat banget.” Tidak ada kejahatan yang lahir dari kebudayaan. Itu bagian dari upacara. Sudah untung hanya bebek, coba yang dilarung itu seorang gadis perawan ting ting. Hah!
Ini ada tiga danau, cerita Pak Ketut. Nanti kita akan melewatinya, katanya. Kami keluar dari danau Bratan yang berudara sejuk. Di sini kehidupan terasa seperti di Puncak atau Ciwidey atau Lembang. Udara dingin, di pinggir jalan dijajakan sayuran, buah dan bunga segar. Seperti sedang tidak jalan-jalan di Bali.
Jarum jam di tangan baru menunjukkan pukul 2 siang, tetapi jalanan menuju danau Buyan dan Tamblingan sudah berkabut tebal. Jarak pandang hanya tiga meter. Pak Ketut melambatkan kendaraannya. Membuka jendela. Wangi kabut tercium sampai ke ubun-ubun. Saya membayangkan bisa tinggal di atas puncak gunung ini. Setiap pagi melihat pemandangan dua danau, Buyan dan Tamblingan dan pemandangan hutan menuju Singaraja. Tanah di sini masih murah kali ya. Turisnya semakin sedikit. Restoran pun tidak ada. Penginapan hanya berupa rumah. Yuk! Beli tanah di atas Buyan dan Tamblingan. Tak perlu pendingin ruangan di sini. Udaranya sesegar gadis usia lima belas tahun sedang jalan-jalan di sawah dengan batik melilit di tubuhnya. Tapi, saya tiba-tiba berpikir lagi. Kalau tinggal di lereng Gunung Lesung setinggi ini, terus tiga danau itu ternyata aktif, meletus, tamatlah riwayat saya di Buleleng. Karena konon, tiga danau ini, yaitu Bratan, Buyan dan Tamblingan, merupakan hasil dari kaldera. Wah! Serem kan nih kalau ternyata suatu saat gunung ini meletus. Ah, lebih baik beli tanah di Bali bagian lain saja. Yuk, kita cari lagi ada apa di sekitaran Buleleng ini.
Menunduk di Munduk
Kita akan kemana lagi nih Pak Ketut? Saya bertanya ke Pak Ketut. Dia menjawab,”Kita akan ke air terjun Munduk.” Katanya Gitgit bagus, pak. Wah, itu jalan kakainya jauh. Oh, baiklah. Saya sudah gempor terlalu banyak jalan kaki di Bali.
Mobil yang kami tumpangi meluncur melewati hutan cengkeh dan kopi. Pak Ketut mulai bercerita lagi. Kaca mobil tetap kami buka. Wangi cengkeh tercium sepanjang jalan menuju desa Munduk. Katanya, kalau mau beli tanah di sini saja. Murah. Satu are harganya cuma 15 juta! Dalam satu are itu ada kopi, cengkeh dan coklat. Sekali panen udah bisa leha-leha. Makanya orang di sini kaya-kaya semua. Sekali panen cengkeh bisa mencukupi hidupnya sampai setahun berikutnya. Kalau mau, beli lewat saya saja. 15 Juta! Beli sehektar udah deh tinggal nunggu panennya saja. Sesekali nengokin ke sini. Enak kan tempatnya. Dingin dan masih asri. Belum rame sama turis.
Dalam hati, kalau saya punya uang milyaran kaya koruptor negeri ini, saya pasti langsung membeli tanah di desa Munduk ini. Saya suka wangi hutan cengkeh dan kopi serta airnya yang dingin. Bisa hidup damai tanpa polusi udara, kuping dan mata seperti di Legian atau Jakarta. Ah, mimpi! Lebih baik menyapa air terjun Munduk yang harus ditempuh berjalan kaki melalui anak tangga tanah yang licin. Rasanya, orgasme dadakan saya di tempat ini. Air terjunnya tinggi. Suaranya bergemuruh. Airnya meluluhkan hati yang panas tak mampu beli tanah di sini. Hahahhaha!
Saya nyaris setengah jam bercengkerama di air terjun Munduk. Menghirup udaranya, meminum airnya dan melepaskan energi negatif bersama aliran air. Tiba-tiba saya jatuh cinta begitu saja di desa Munduk. Padahal tidak ada gadis satu pun yang saya temui kecuali pacar saya, yang sejak kedatangan di Bali selalu ada di samping saya.
Sudahlah. Kalau berlama-lama, nanti bisa patah hati karena tidak mampu beli tanah di sini. Huyahahahaha! Saya melanjutkan perjalanan ke bawah. Jalanannya menggila. Tidak ada tanjakan. Semua jalanan turun dan turun. Pak Ketut akan membawa kami ke Banjar. Di sana ada permandian air panas.
Saya tidak begitu suka mandi air panas. Jadi tidak begitu antusias ketika sampai di sana. Lagipula, tidak ada gadis Bali mandi di tempat itu. Yang ada hanya bapak-bapak tua, emak-emak dan anak kecil. Yuk ah! Kita balik ke Legian saja. Saya butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaga. Supaya besok masih bisa bergerak menjelejahi Bali bagian selatan.
Hari sudah mulai sore. Perjalanan kali ini menanjak. Saya akan kembali ke Legian. Butuh sekitar 3 jam dari Banjar. Dengan kondisi jalanan hujan begini, perjalanan akan semakin lama. Padahal saya mengejar pemandangan indah dari ketinggian Baturiti. Sepertinya tidak akan terlaksana. Ditambah lagi Pak Ketut berencana mampir ke desanya untuk membeli tuak. Katanya, tuak di kota sudah tidak asli lagi. Itu sebabnya dia ingin membeli tuak di desanya sendiri. Lho? Pak Ketut bukan orang Legian? Oh, ternyata bukan. Dia bilang, rata-rata, orang yang kerja di Legian atau Kuta, Denpasar dan sekitarnya, itu berasal dari kampung-kampung pelosok di Bali. Coba saja datang di hari Raya Galungan, Legian – Kuta itu sepi. Semua orang pulang kampung.
Dueh! Kaya di Jakarta donk ya. Iya, persis begitu. Jawabnya. Memangnya kampung Pak Ketut deket dari sini? Saya bertanya. Takut kalau jauh. Bisa-bisa sampai di Legian sudah malam. Dengan tenang dia menjawab, dekat kok. Ada di bawah sana.
Dekat? Satu hal. Jangan percaya orang Bali soal jarak. Dekatnya mereka berbeda dengan dekatnya manusia Jakarta pada umumnya. Desa yang dia bilang jaraknya dekat, ditempuh dengan waktu nyaris sejam dan melewati hutan kopi, cengkeh dan coklat. Jarak satu rumah ke rumah lainnya sekitar satu sampai dua kiloan. Serem!
Wah! Jangan-jangan saya akan di bawah ke tengah hutan. Terus Pak Ketut ini mangggil teman-temannya, kemudian saya dibunuh dan harta benda diambil semua. Tamatlah riwayat saya di tengah hutan cengkeh, kopi dan teh. Pasrah saja. Sempat terpikir untuk menulis di twitter,”Saya sedang dibawa ke tengah hutan. Kalau tidak kembali, tolong cari di desa Munduk mayatnya.” Horor!
Saya yakin, orang Bali itu baik-baik. Tidak mungkin mereka melakukan hal-hal aneh. Saya mencoba meyakinkan diri sendiri. Semuanya akan berjalan lancar. Saya dibawa ke dalam hutan. Semakin dalam. Semakin jauh dari keramaian. Semakin tidak ada rumah sama sekali. Semakin lebat pula hutannya. Hari sudah mulai sore. Hujan pun menyemarakan suasan horor di hutan Munduk.
Setelah sejam naik turun melewati hutan dibarengi hujan. Akhirnya Pak Ketut berhenti. Ini dia rumah saya. Saya tak bisa berkata-kata. Di tengah hutan belantara coklat, cengkeh, aren dan pohon-pohon lainnya, ada rumah semewah ini. Gila! Rumahnya tiga kali lipat lebih besar dari rumah saya. Terasnya luas. Warna catnya pun mentereng berwarna orange dipadu warna putih. Selamat datang di rumah sederhana saya, ucap Pak Ketut. Speechless. Saya menarik napas panjang. Masih belum percaya di tengah hutan ada rumah mewah. Jangan-jangan ini ilusi saya saja.
Ternyata ini bukan ilusi. Ini asli. Saya bisa merasakan air hujan mengenai kulit saya. Dingin. Kita minum tuak dulu ya, katanya. Pak Ketut mengajak ke gubuk di belakang rumahnya. Gubuk itu milik pamannya. Di depan gubuk ada bale-bale kecil. Di sana terlihat empat pria serem, ada juga berambut panjang, sedang duduk-duduk santai sambil merokok dan minum tuak. Waduh! Aman nggak sih nih. Apakah ini akhir hidup saya? Dibunuh orang dari desa Munduk. Ah, tidak mungkin. Mereka pasti orang baik semua.
Mereka memang baik kok. Mereka menawarkan saya tuak. Saya minumnya penuh ragu. Ada obat biusnya nggak ya. Jangan…jangan…., ah sudahlah. Saya minum seteguk. Lumayan juga. Mereka pun minum lagi dan lagi. Mau yang manis? Pamannya Pak Ketut bertanya. Jangan repot-repot, saya bilang. Tapi pamannya tetap memanjat pohon aren dan membawakan saya minuman segar manis langsung dari pohon aren. Glek! Glek! Dua gelas habis. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai pada mereka semua mendoakan kami supaya segera mendapatkan keturunan.
Terima kasih! Terima kasih! Saya berkali-kali mengucapkannya. Maaf merepotkan. Mereka bilang, kami semua senang kedatangan orang. Maaf tidak bisa memberikan apa-apa. Maaf…
Saya jadi tidak enak hati. Pak Ketut pun mengakhiri pembicaraannya sambil mengeluarkan uang. Dia ini bos kalau ada uang. Kalau ngga ada uang, samalah kaya kami ini semua. Canda seorang paman tertuanya. Pak Ketut hanya cengar-cengir saja. Kemudian dia pamitan untuk pulang.
Saya pun pulang melewati hutan-hutan dengan jalanan tanpa lampu penerang, sementara hujan mengguyur sepanjang jalan pulang menuju Legian.
Sambil menyetir dengan hati-hati karena jalanan licin, Pak Ketut kembali bercerita soal kehidupannya. Saya pun bertanya sudah punya istri belum, dia menjawab ringan,”Istri saya tiga.” Heh?! Serius?! Dia meyakinkan saya dengan menjelaskan ketiga istrinya. Istri pertama menghasilkan dua anak. Anaknya sudah setinggi badannya. Lebih cocok adik ketimbang anak. Istri kedua tidak menghasilkan anak. Istri ketiga usianya seusia anaknya. Dia menikah dengan gadis belasan tahun dan mendapatkan seorang anak masih TK. Jika diberikan kesempatan, dia pun akan menambah istri lagi. Hebat!
Obrolan semakin seru, tetapi batas waktu dia menyetir 12 jam sudah nyaris habis. Lebih dari 12 jam, saya akan dikenai biaya tambahan 10 ribu per jam. Saya terpaksa harus menyetir sendiri. Sebelum menyetir sendiri, Pak Ketut bertanya tentang perjanjian sewa mobil. Dia meminta saya bertanya ke Pak Ketut. Heh?! Maksudnya? Saya jadi bingung. Saya nyewa mobil ke Pak Ketut. Yang nyetir juga Pak Ketut. Kenapa saya harus nelepon Pak Ketut kalau Pak Ketut sendiri ada di sebelah saya. Hiii! Bingung.
Bingung saya segera terjawab setelah Pak Ketut menjelaskan. Di sini banyak sekali nama Ketut. Ketut itu artinya anak ke empat. Dia pun menjelaskan lebih detail soal nama untuk anak pertama biasa disebut Gede, Putu, Ni Luh. Anak kedua biasanya ada Made atau Kadek. Sementar anak ketika selalu ada embel-embel Nyoman atau Komang. Oh, sekarang saya baru mengerti. Panggil saya Pak Ketut Budi saja, katanya. Baiklah. Saya menelpon Pak Ketut Mobil. Supaya kalau ke Bali saya tidak salah nelepon lagi, saya catat nama Pak Ketut di Blackberry saya. Pak Ketut Mobil dan Pak Ketut Sopir. Gampang kan ya.
Sesampainya di Legian, mobil kami berhenti di tempat oleh-oleh. Kumbawati namanya. Di sana Pak Ketut akan dijemput temannya dengan motor. Dia menyerahkan kunci mobilnya. Kami pun bersalaman. Terima kasih, Pak Ketut. Dia tersenyum, kemudian pergi.
Sekarang, giliran saya nyetir di sekitar Legian – Kuta – Seminyak. Saya pede bisa sampai ke penginapan di Legian tanpa tersasar sedikit pun. Jalanan di Bali sepertinya gampang. Lurus lurus belok kiri belok kanan sampai deh di jalanan bernama Double Six/Arjuna.
Semenit. Dua menit. Tiga menit. Setengah jam saya tersasar-sasar di tengah kota Legian – Kuta. Kembali bertemu jalan yang sama, pertigaan yang sama dan resto yang sama. Dimanakah hotel tempat saya menginap? Keringat mulai bercucuran padahal mobil berpendingin. Sementara jalanan di Legian – Kuta rasanya semakin menggila. Macet dimana-mana. Parkir dimana-mana. Motornya melesat-lesat seperti kelelawar baru keluar dari goa. Duenk! Pusing. Cape. Putus asa. Google Map pun tidak membantu. Hanya satu yang bisa dilakukan, berdoa dan kembali meraba-raba jalanan menuju penginapan.
Setelah sejam lebih berputar-putar, akhirnya bertemu juga di jalan menuju penginapan. Terima kasih Dewata!
Cukup sudahlah yah nyetir malam ini. Niat untuk bergaul di sekitar Hard Rock Café pun pupus. Takut tersasar kemana-mana. Saya putuskan untuk nongkrong di Circle K saja. Bodoh! Ke Bali nongkrongnya di Circle K juga. Dueh! Tak apalah daripada sejam dua jam nyasar-nyasar tengah malam dengan perut kelaparan. Ngiks!
Perut kenyang, mata masih ingin belanja di sisi pantai Kuta. Tetapi tubuh terlalu lelah. Lebih baik istirahat. Masih ada Bali bagian selatan yang menunggu saya besok.
Terpana di Nusa Dua
Perjalanan kali ini menuju Bali Selatan bersama rombongan teman. Saya mendapat giliran menyetir. Sialnya, mobil yang disewa tidak power steering. Belok kanan kiri menggunakan tenaga penuh. Ok, pelajaran berikutnya, jangan sewa mobil yang tidak power steering. Cape!
Nusa Dua menjadi perhentian pertama. Duduk manis di atas karang hitam. Menunggu matahari membuka matanya di ujung laut. Awal yang baik untuk memulai hidup, mengisinya dengan energi baik. Matahari mulai menggeliat. Wajahnya masih kuning, matanya masih merah. Laut menyambutnya dengan tenang. Riak-riak emas memantul sepanjang lautan. Sempurna, bukan?
Saya pergi meninggalkan matahari yang merangkak di atas lautan. Saatnya mengisi perut. Babi guling? Ya, begitulah menunya. Kalau tidak salah, nama rumah makannya Pak Gobi. Semoga tidak salah. Adanya di sekitaran Nusa Dua. Semua makan babi, kecuali saya. Saya tidak suka babi. Saya pun menghampiri Pak Gobinya. Saya pesan sayurannya saja. Sejenis urap plus tempek orek plus telor bulat dan nasi setengah lebih dikit. Si bapak itu mengambil semua makanan saya dengan tangan. Comot sana comot sini, bahkan nasi pun dicomot menggunakan tangan. Sementara beberapa detik lalu dia mengambil uang untuk kembalian. Duh!
Di meja makan saya sedikit tertegun. Antara mau makan, mau didiamkan atau pesan sesuatu yang tidak dicemek-cemek tangan. Sepertinya tidak ada ya. Dengan keteguhan hati, saya perlahan memakannya. Kalau bukan karena rasa lapar yang tidak tertahankan, saya pasti mengurungkan niat untuk memakannya. Tapi ya sudahlah. Makan saja. Kenyang.
Membatu di Uluwatu
Campuran panas, keren dan monyet-monyet jail! Itulah gambaran saya tentang Uluwatu. Terbayang juga untuk mendirikan rumah di ujung Uluwatu. Setiap pagi bisa menghirup napas laut dan sunset sore hari yang bisa mengorgasmekan apa saja. Namun tidak terbayang kalau siang bolong panasnya akan seperti apa jika dilalui setiap hari. Ah, saya pikir-pikir dulu deh mendirikan rumah di ujung Uluwatu. Hah! Gayanya!
Bermimpi indah di Dreamland
Seperti apa wajah Dreamland? Apakah seperti dunia surealis? Tak berujung dan tak terdefenisikan? Atau seperti mimpi, tidak berwarna? Dreamland merupakan sepetak pantai berpasir cream, ombak membiru tinggi dan gelimangan bule-bule di atas papan jemuran. Saya suka tempat ini, tetapi tidak suka dengan kepenuhsesakannya. Jadi, cukup sebentar saja saya bermimpi di sini, di Dreamland, tempat dimana orang-orang bermimpi indah di siang bolong.
Melotot di Tanah Lot
Jatuh cinta di senja merona muda. Hati saya tergerus arus lautan merah keemasan, jiwa saya tenggelam di dasarnya. Tubuh saya rasanya ingin hanyut begitu saja di tebing karang. Saya ingin selamanya tinggal di tebing ini. Menunggu langit matang, menunggu matahari tenggelam. Tidak mungkin ya. Harus kembali ke Jakarta, kerja, nabung dan baru bisa melihat tempat ini lagi. Hueh!
Saya meninggalkan Tanah Lot dengan jiwa gamang. Kaki melangkah, tetapi jiwa saya terikat di tebingnya. Suatu saat saya akan menjenguk jiwa saya di sini, di Tanah Lot, yang membuat mata saya terus melotot.
Hmmmm…!
Lima hari di Bali bukanlah waktu yang lama. Butuh sebulan atau dua bulan untuk menjelejahi keunikan Bali dari semua sisi. Butuh waktu setahun dua tahun untuk mengenal lebih dalam soal Bali. Butuh tinggal di Bali untuk memahami Bali sesungguhnya. Yuk! Hiii! Tapi, meskipun hanya lima hari, saya bisa menyerap energi positif banyak di Bali dan menikmatinya dengan penuh kecapean yang melegakan.
Saya kembali ke Jakarta. Kerja, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk melakukan perjalanan ke tempat selanjutanya di negeri kaya raya ini, negeri Indonesia.
Selamat berlibur!
02.05.2011 “sonofmountmalang”
P.S Selamat merayakan ulang tahun pertama pernikahan untuk pacar saya sekaligus istri:)
Like this:
Like Loading...