Menanam Pisang di Kebun Kita

Cangkul cangkul cangkul yang dalam, menanam pisang di kebun kita. Begitulah bunyi lagu yang sejak jaman neneknya nenek moyang kita dinyanyikan. Berdasarkan lagu itulah saatnya bagi kita untuk kembali melakukan kebiasaan jaman nomaden, yaitu menanam. Menanam apa saja yang berguna di halaman rumah kita. Tidak punya tanah, gampang! Kita beli tanah! Sekarung cuma 20 ribu! Huehehehe! Kalau ada duit, belilah dua sampe tiga hektar. #ngarang2ngayal!

Seperti saya yang sederhana ini. Saya tidak bisa menanam seperti petani di desa-desa, tetapi saya percaya, tanaman yang kita tanam dengan cinta, niscaya akan tumbuh dengan makmur, subur dan berbuah tanpa lelah. #huaaalebayngehe

Ini buktinya. Saya menanam pisang di depan rumah belum setahun. Tepatnya itu tanah kompleks yang harusnya diurus oleh pengembang. Berhubung pengembangnya KERE, maka tetangga-tetangga sederatan rumah saya sepakat untuk mengangkat cangkul masing-masing dan menggali tanah, kemudian menanam apa pun yang sekiranya nanti bisa dipetik buahnya. Tetangga saya gila buah mangga. Segala jenis mangga dia tanam. Di depan rumah sudah seperti kebon. Ya emang kebon! Ada pepaya, segala jenis jambu, duren, jeruk, rambutan, sirsak, mengkudu, srikaya dan bahkan kelapa pun ditanam. Komplet sudah kosakata perbuahan di depan rumah!

Saya menanam pisang itu belum setahun, tetapi buahnya sudah saya panen berkali-kali. Pisangnya sederhana saja. Pisang Lampung. Bentuknya kecil bantet, mirip pisang Emas. Tingginya paling semeter setengah. Setiap panen, tetangga selalu merasakan manisnya pisang saya. #nahlhooo! *maksudnya pisang beneran*

Sekarang, yang mencicipi bukan hanya tetangga, satpam dan saudara di seluruh Jakarta, tetapi juga SANG MUSANG. Dia mulai mencium keberadaan pisang saya. Kali ini pisang pun jadi korbanya. Musang mengacak-ngacak pisang di tengah malam. Kasian pisang saya. Hiks! #nggakpenting!

Nah, selain pisang, saya juga menanam rambutan, sirsak, bawang daun, kunyit, kencur, jahe, sereh, pandan, kopi, kemangi, singkong, jambu bangkok dan jambu jamaika. Lainnya tanaman bunga-bungaan dan peneduh halaman rumah. Lumayan lho punya segala jenis tanaman. Kalau butuh apa-apa untuk masak, tinggal ambil saja. Tidak perlu repot menunggu tukang sayur yang datangnya tidak bisa diprediksi. Dan mungkin koleksi rempah-rempah saya akan terus bertambah.

Perlu diingat, Anda tidak perlu tanah hektaran. Cukup sekarung dua karung tanah dan siapkan pot yang banyak. Jangan lupa menyiramnya dengan rutin. Sekali-kali ajak tanaman Anda bicara, belai dan bilang,”Tumbuh yang subur ya. Cepet berbuah ya. Cepet berbunga ya.” #Gila

Eh, jangan salah. Tanaman juga mahluk hidup. Dia mengerti bahasa kita. Jadi, sayangilah tanaman seperti Anda menyayangi diri sendiri.

Selamat bercocok tanam! Semoga berhasil!

This slideshow requires JavaScript.

 

“sonofmountmalang”

About these ads

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s