26

6haridiBali (1) dan, saya pun terbang

bali6hari5malam

Ini postingan pertama setelah liburan super santai #6haridiBali. Enaknya penerbangan pertama di pagi hari itu kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian. Pemandangan ini saya ambil ketika berada di atas Pulau Jawa. Isinya Pulau Jawa itu gunung semua. Kapan coba ya saya bisa ke Gunung Semeru, Gunung Bromo, Gunung Gede dan gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa. Ini malah  pergi ke Bali. Tidak bosan apa ya. Hmmm…!

Sebelum menilai bosan atau tidaknya, kita lihat saja ya postingan saya di #6haridiBali. Perjalanan di Bali kali ini perjalanan lama terakhir saya. Meskipun belum 100 persen saya menjelajah Bali, tapi rasanya sudah keliling Bali Timur, Selatan, Barat dan Bali Utara. Perjalanan berikutnya, tentunya setelah kerja lagi, nabung lagi dan kerja lagi dan nabung lagi dan ngirit lagi, akan saya tentukan setelah uangnya terkumpul. Hahahahah! Beginilah nasib traveler jejadian dan memusiman yak.

Nah, sambil kerja keras dan nabung sekaligus ngirit lagi, kita tunggu saja postingan berikutnya di #6haridiBali. Maaf ya, buat blogger US, Australia, Jepang, Vietnam, Inggris, Jerman, Philippine, Canada, Hong Kong, Denmark, Swedia dan negara-negara yang follow blog saya dan fasih berbasaha Inggris, saya akan menuliskan semuanya dalam Bahasa Indonesia. Kalian bisa menggunakan  translation. It’s ok YES?! Yesss!:p

SELAMAT JAJANJALANJALAN!

“sonofmountmalang”

16

Yuk! Bercinta di Curug Orok

Pemandangan di perjalanan menuju Curug Orok / On the way to Curug Orok or Baby Waterfall or Orok Waterfall. Au dah!

Wisata ke Garut ini belum kelar juga tulisannya. Long way to go. Masih banyak yang harus ditulis. Salah satunya Curug Orok. Terletak Jalan Raya Bungbulang, Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang. Sekitar 35 KM dari kota Garut. Jarak yang lumayan dekat.

Sebagai catatan kecil saja, di Garut ini jalanan tidak sebanyak di Bali. Meskipun minim pengalaman, untuk nyasar kemungkinannya sangat kecil. Ditambah lagi ada teknologi Google Map. Lancar sudahlah perjalanan kali ini. Termasuk perjalanan menuju Curug Orok. Tinggal ketik, arah jalan pun sudah jelas. Saya meluncur santai dengan udara sejuk menuju Curug Orok.

Curug Orok ini persis lokasinya ada di belakang Gunung Papandayan. Jadi kalau naik Gunung Papandayan dari arah Cisurupan bisa tembus ke arah Cikajang. Cuma kakinya saja yang ngondoy, dan biasanya rute ini digunakan oleh pengendara motor gila untuk mengangkut sayuran.

Lalu, ada apa gerangan dengan Curug Orok? Apa cerita di balik Curug Orok? Seperti apa? Bagaimana?

Ini cerita penjaga villa di Curug Orok. Katanya, jaman dulu, entah kapan tahunnya, ditemukanlah Orok alias bayi di atas batu. Siapa yang membuangnya? Kemungkinan gadis desa yang bercinta sebelum nikah, kemudian hamidun dan malu ketahuan, akhirnya gadis itu membuang bayinya ke curug. Sesederhana itu ceritanya. Sejak ditemukan bayi alias orok, curug tersebut pun memiliki nama, yaitu Curug Orok. Katanya lagi, dulu banget, curug ini merupakan tempat angker, serem, penuh ririwa alias hantu dan tidak ada yang berani datang ke curug ini. Apalagi kalau malam, katanya, sambil diiringi suara derasnya curug sering terdengar tangisan orok atau bayi, bahkan sesekali diselingi tangisan ibu, lalu tertawa ngikik. Hiiiii!

Mitos itu perlahan sirna seiring dibukanya areal pertanian dan wisata. Kini, banyak orang datang ke Curug Orok untuk mandi, iseng-iseng, piknik, foto-foto dan sorean sedikit, curug ini dijadikan tempat yang pas untuk berdua-duaan, pacaran, ciuman, pelukan dan kalau sudah sepi, bisa jadi pasangan itu pun bercinta di atas batu, kemudian hamidun. Hmmm…! Jadi, kalau mau hamil, bercintalah di atas batu sekitar Curug Orok ini. Dengan catatan, jangan sampai ketahuan orang lain. Hmmm…! Menarik juga. Yuk! Coba! hahahah!

Untuk bisa melakukan semua itu, kita harus membayar 20.000 berdua plus mobil. Harga yang kurang layak untuk dibayarkan dibanding kondisi jalanannya, tapi untuk memusnahkan rasa penasaran, harga segitu anggap saja untuk membayar udara dingin dan suasana alam yang bisa membuat kita semakin ingin kembali bersatu dan hidup dengan alam bebas. Meskipun sayangnya ada sampah juga ya di sungai itu. Duh! Saya harus berhadapan dengan sampah kemanapun saya berwisata. Gimana ini orang Indonesia? Kapan sadarnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga Indonesia. Paling susah berdamai dengan sampah.

Nah, buat kalian yang ingin merasakan dinginnya bermalam di Curug Orok, di sini sudah tersedia vila. Harganya 500.000 untuk satu keluarga, bisa memuat 15 orang. Malam-malam bisa membuat api unggun dan mengambil satu kambing dari kandang di sisi kebun teh. Gimana? Tertarik? Jika iya, silakan meluncur ke Curug Orok. Tapi jangan terlalu berharap banyak ya. Ini bukan curug kaya Cikaso, Resun atau bahkan Iguazu. Ini air terjun kecil biasa.

Namun seperti kata pepatah, yang penting itu bukanlah tujuannya bagaimana, tetapi perjalanannyalah, memberikan kita banyak sekali pemandangan dan pengalaman baru. Hmmm..! Semoga berguna.

Selamat menikmati!

Pemandangan gunung apa ya ini. Kayanya Gunung Galunggung deh atau jangan-jangan Gunung Cikuray. Tebak aja ya.

Punggung Gunung Papandayan

Serunya melaju di jalan meliuk-liuk. Bikin jantung dag dig dug!

Asik ya punya rumah di tengah kebun teh.

Siap-siap diguncang jalanan berbatu. Namanya juga jalanan kampung ya.

Nih akhirnya sampai juga di Curug Orok. Ini pemandangan dari atas. Untuk bisa melihat Curug Orok, kita harus turun tangga. Yuk!

Nah ini nih yang namanya Curug Orok. Debit airnya tidak heboh. Jadi ya begini airnya. Kurang lebay.

Sisi lain Curug Orok. Tetep kurang keren. Apa karena kurang jago motonya ya. Hmmm..!

Yang asik di sini, airnya dingin. Bikin mata melek.

Hati-hati ya naik ke sini. Licin.

Katanya, air terjun di sebelah sini keluarnya dari bebatuan. Wah! Mejik!

Lebih baik datang pagian ke curug ini. Siangan dikit sudah penuh dengan alay.

Jam 10 pagi kabut sudah datang.

Kabut semakin tebal. Matahari sudah ketutupan. Padahal baru jam 10 lebih. Saatnya pulang menuju tempat berikutnya. YUK!

 

“sonofmountmalang”