Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (6)

20160326_125505-2

26.03.2016

Dear,

 Ranting….

 Selamat ULANG TAHUN!

*sorry ya baru nulis surat, sibuk pitching:))!*

Jika saja waktu bisa diputar ulang, aku ingin sekali lagi, merasakanmu belajar guling-guling, belajar merangkak dan belajar tertatih-tatih di antara meja-meja serta kursi. Tetapi ya Ting, waktu kan terus bergerak mengikuti poros semesta apa pun yang terjadi di galaksi ini, jadi aku tetap harus melihatmu terus bergerak dari usia dua detik, dua menit, dua jam, dua minggu, dua bulan dan seketika sudah dua tahun.

Dua tahun, Ting! Dua tahun! Kalau pacaran itu sudah berada di titik jenuh, atau jelang serius bicara nikah atau bubaran. Sementara, bersamamu ya, Ting, dua tahun hanyalah TITIK NOL, titik di mana semuanya hanyalah permulaan. Permulaan untuk segala hal. Saking permulaannya, kadang, aku butuh waktu untuk menerjemahkan keinginan dari bahasa absurdmu. Bahasa paling susah yang bisa aku duga-duga terjemahkan menjadi sebuah makna. Kadang salah memaknai, kadang pas, kadang jauh banget dari makna yang ingin kamu sampaikan dan kadang butuh mikir, well sorry ya mas bro. Akan ada saatnya ketika kita bisa saling bicara juga, bisa saling diam. Banyak hal alasannya, aku pernah menjadi anak dari seorang bapak dan tidak selamanya hubungan seperti sepasang ABG jatuh cinta di minggu pertama. Tapi kita nggak akan seperti itu kan ya, Ting. Ya ya ya! Janji ya! Aku janji deh ya.

Ngomong-ngomong, dua tahun sudah bisa apa ya, Ting? Banyak banget ya. Sudah tidak bisa dihitung. Tenang, masih banyak keseruan yang akan kita lakukan, karena kita harus terus bergerak menyelaraskan seiring jalannya waktu dan gerak galaksi.

Dua tahun, untuku dan untukmu, hanyalah sebagian permulaan dari sekian permulaan.

Selamat ulang tahun, ke dua, Virgillyan Ranting Areythuza! I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK!

20160403_111653-2

Jadilah PENJELAJAH!

“Raka, Sahabatmu!”

Balik Jungkir Kita Hidup

20160324_100735-01

Hidup untuk apa? Mungkin pertanyaan klise, tetapi mengganggu saya. Sampai-sampai, harus jungkir balik, banting tulang, banting kancut, banting kutang dan banting-banting aja semua. Demi apa?

Demi apa ya?

Demi anak istri? Demi secangkir kopi? Demi bisa liburan kemudian menulis di blog? Demi nongkrong? Demi membayar bensin bulanan? Demi belanja bulanan? Demi beli kopi? Demi cicilan? Demi masa depan?

Demi apa sih?

Saya tidak menemukan jawabannya. Mungkin terlalu banyak demi, sampai lupa mengisi blog, menulis dan hura-hura seru lainnya.

Padahal, bilang saja, sudah lama tidak ngeblog, lalu bingung menulis apa. Haaaaaaa!

“sonofmountmalang”

 

samsung project (40) siapa yang suka senja?

20160217_182705

Panorama ala ala K Zoom.

Coba.

Siapa yang tidak suka senja. Bahkan Seno Aji Gumira saja menulis cerpen maha gaib, “Sepotong Senja untuk Pacarku” Bahkan penyair jaman jebot hingga penyair karbitan jaman kekinian, pun doyan memuja senja. Mengukir kalimat seanjing mungkin, hingga mampu mengalahkan keanjingan senja itu sendiri.

Memangnya, apa yang menarik dari sebatang senja? Kalau saya, padahal saya sudah berkali-kali memotret senja, menuliskan sesuatu tentang senja, dan, kemudian, kali ini, saya memotretnya lagi dan menuliskannya sesuatu lagi. Benar-benar tidak penting tulisan ini yah.

Tapi, kan, selalu ada sudut pandang baru, yang bisa ditulis, tentang keseharian senja. Jika beberapa rentang waktu yang lalu, saya menuliskan senja dari kacamata bola mata seorang wanita, yang memantulkan senja memerah padam. Dan, jika beberapa jedaan waktu di masa silam, saya menuliskan senja yang mencahayai pipi syahdu seorang gadis terduduk di atas batu dekat pohon kelapa ketika daun di atasnya melambai-lambai dan ombak membela-belai.

Kali ini, saya menulis senja dari sudut pandang berbeda. Ngomong-ngomong, masih penting banget ya si senja ini ditulis. Memangnya, apa untungnya menulis soal senja ini. Dibayar juga tidak oleh senja. Ah, tapi, ya sudahlah yah. Hitung-hitung mempromosikan senja.

Kembali ke pertanyaann di atas. Siapa yang suka senja? Kenapa?

Kalau saya, kenapa suka senja? Karena eh karena, senja itu GRATIS!

Sekian.

Lhaaa?!

20160217_181337

Siap-siap dapet senja bagus.

20160217_182450_Richtone(HDR)

Siapkan kameranya.

20160217_182532

Ada bulan segala.

20160217_183021

Sempurna!

“sonofmountmalang”

Note:

Anjing merupakan ungkapan baru untuk sesuatu yang beyond keren! :))

Dongeng (39) Halimah dan Goa Gawir

          “Masih ingat Halimah kan? Perempuan penyembah hujan? Anak Pak Endang. Gadis tomboy, liar dengan kulit seputih kabut pagi di atas situ tengah hutan. Badannya lebih bongsor dari gadis seumurannya. Payudara lebih besar dari gadis seumurannya. Gaulnya pun lebih sering dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan di kaki Gunung Malang. Ia sama-sama suka bermain layangan, suka bermain bola dan permainan anak laki-laki lainnya.”

Aku memulai sebuah dongeng lagi. Dongeng sebelum tidur. Dongeng tentang kehidupan di kaki Gunung Malang.

         “Kali ini aku kasih judul Halimah dan Goa Gawir.”

         “Apa tuh Goa Gawir?” tanya Tala.

         “Dengarkan saja dongengnya.”

         “Owww! Okehlah.”

Halimah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan, satu-satunya sahabat perempuan yang bisa diajak bermain dan melakukan apa saja. Salah satunya adalah membuat goa di gawir. Gawir merupakan tebing yang tidak terlalu tinggi. Hanya mencapai tujuh lima sampai tujuh meteran. Gawir biasanya menjadi tebing pembatas antara persawahan dan perkebunan. Di gawir itulah aku dan Halimah, juga sahabat lainnya membuat goa.

Sebetulnya, jangan membayangkan goa-goa besar seperti kehidupan di jaman manusia goa. Goa yang dibuat hanyalah muat maksimal untuk tiga orang. Tiga orang anak kecil tentunya. Tinggi goa sekitar 70 cm dan dalamnya juga paling sekitar 50 cm dan lebar goa bisa mencapai 100 cm.

Sebelum membuat goa di gawir, pastikan dulu tanah gawir tersebut tidak rentan longsor. Tanahnya harus berupa tanah padat. Entah tanah merah atau tahan putih. Yang jelas bukan tanah gembur. Tapi bukan juga cadas. Kalau cadas, bisa setengah mampus membuat goanya.

Sebisa mungkin juga, gawirnya menghadap ke pemandangan lepas. Supaya bisa mendapatkan udara yang cukup, juga pemandangan yang bagus. Biasanya sih, pemandangannya langsung ke persawahan dan di bawah gawir pasti ada selokan mengalirkan air jernih.

Setelah menemukan lokasi yang bagus, maka langkah pertama adalah membuat undakan dari bawah hingga mencapai titik gawir di mana aku dan lainnya akan menggali tanah di gawir untuk dibuatkan goa. Untuk membuat goa di gawir membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi, tidak bisa sehari jadi. Soalnya alatnya juga sederhana, yaitu cuma sekop kecil, cangkul dan perlengkapan sederhana lainnya untuk menggali tanah.

Halimah, satu-satunya anak perempuan yang ikut proses dari awal hingga terbentuk yang namanya goa di gawir. Ia ikut naik ke undakan, ikut menggali pelan-pelan. Pelan-pelan, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan sampai galian di gawir membentuk goa yang diinginkan pun jadi.

Kalau sudah jadi, aku dan yang lainnya membuat tungku dari batu. Tapi, ada juga sih goa yang tidak ada tungkunya. Difungsikan sebagai tempat bermain saja. Tempat membaca buku, tempat ngobrol dan tempat santai-santai bareng teman. Kalau ada tungkunya, sekalian bisa untuk masak-masakan. Dan siap-siap goanya bau asap.

        “Trus? Kamu dah Halimah ngapain di goa gawir itu?” Tala menyelak dongengku.

       “Ya, rebahan sambil ngobrol. Baca buku. Makan rame-rame juga sama teman di goa gawir sebelah.”

        “Yakin?”

        “Iyalah! Tapi, nanti, akan ada cerita soal Halimah yang bikin kaget sekampung!”

        “Kalian ML ya?”

        “Bukan! Bukan itu! Nanti saja ya. Kan ini ceritanya soal goa gawir.”

Tren goa gawir tidak berlangsung lama. Soalnya, akan selalu ada tren membuat tempat bermain dengan gaya baru di kaki Gunung Malang. Goa Gawir salah satunya. Lainnya lagi, ada tren membuat rumah pohon di pinggir sungai.

Itu, aku ceritain lain malam saja ya.

Sekarang, saatnya tidur.

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Dari Jakarta Kembali ke Jakarta!

_MG_6039

Mau pesta duren. Jangan lupa abis itu makan sate kambing dan minumnya bir!

Kenapa, ketika berada di tempat baru, kita selalu bilang,

“Enak ya tinggal di sini!”

“Enak ya tinggal di pesisir pantai!”

“Enak ya tinggal di pegunungan!”

“Enak ya tinggal di tempat dingin!”

“Enak ya tinggal di pulau terpencil!”

Apalagi coba. Yang pernah ke Iceland, pasti bilang, “Enak ya tinggal di Iceland!” atau yang pernah ke tempat baru, pasti pernah terbersit kalimat itu.

Seperti kata pepatah dari monyet yang bergelantungan di pohon, sesuatu yang indah atau pun enak itu bisa kita nikmati ketika hanya sesaat saja. Bener juga tuh monyet. Nonton kembang api juga bosen kalau kelamaan. Orgasme juga bosen dan cape kalau kelamaan. Coba saja orgame seharian non stop atau nonton kembang api semalam suntuk. Ledeh deh tuh mata.

Makanya, saya percaya pepatah monyet. Sesuatu yang indah itu memang sewajibnya hanya bersifat sementara, supaya kita selalu merindukan momen itu lagi. Sama halnya juga bepergian ke tempat –tempat baru, sudah selayaknya kita hanya diperkenankan mampir sejenak saja, lalu pergi dan kelak, jika alam semesta mengizinkan, kita akan kembali menikmati pemandangan yang kita rindukan. Entah pantai, entah gunung, entah desa atau pun kota.

Begitu pun kemampiran saya di Lampung. Bersifat sementara. Untuk bisa menikmatinya lagi dengan antusiasme yang sama kelak, kini saya harus merelakannya pergi, segera meninggalkannya. Jika ada waktunya, saya akan kembali.

Jadi, marilah kita pulang ke Jakarta.

Sebelum mampir ke toko oleh oleh YEN YEN, kita makan dulu di rumah makan murah meriah. Makan kenyang berempat cuma bayar 175 ribu!

Pulang ke Jakarta, di sepanjang jalanan, bagi yang doyan durian, bisa berhenti kapan saja, sebab segala ukuran dan harga durian memancing pemangsanya di setiap tenda-tenda durian pinggir kanan kiri jalan.

Doa saya, SEMOGA KETIGA TEMAN SAYA NGGAK TERGODA MAKAN DURIAN!

Namun, semesta berkata lain. Mereka tergoda juga makan durian. Bangke! Alamat bau durian dah. Tapi, beruntung, niat mereka membeli durian untuk dibawa ke Jakarta tidak jadi. Mereka makan di tempat sampai pada keliyengan. Tinggal minum bir aja tuh sama ditutup makan sate kambing.

Tiwaaasss!

Dan benar saja kan, sepanjang perjalanan, setiap kali sendawa, mobil pun dipenuhi BAU NAPAS DURIAN. Hoeeeeeks! Ampun dah ah! Nasib nggak doyan durian ya, disiksa bau durian aja rasanya udah kesel bingits!

Untuk meredam bau napas durian, saya ajak mereka ngopi. Tentu saja ngopi di tempat heits Lampung. Eh, susah ya nyari kedai kopi di Lampung. Datang ke dua tempat yang rekomen dari blogger banget, dua-duanya tutup. Lhaaa!? Gimana ceritanya ini, Lampung sebagai daerah terkenal penghasil kopi Robusta namun jarang banget ada kedai kopi, nggak kaya ke Pematang Siantar atau Aceh yah.

Karena kecewa sudah macet-macetan di Lampung demi menikmati kopi kedai kopi yang ternyata tutup, akhirnya kami memutuskan ambil jalan Trans Sumatra dan melesat menuju Bakauheni.

Mobil melaju dengan kecepatan tak terkira, menyalip truk, menyalip kontainer, menyalip bis, menyalip motor, menyalip penjual duren yang selalu ada lagi dan ada lagi, menyalip rumah, menyalip ratusan pohon, menyalip sepeda, warung dan orang-orang, lobang dihajar, tikungan ngepot, turunan digeber, tanjakkan digas abis-abisan sampai mentok, jalan lurus koprol-koprol dan akhirnya mendarat di kapal juga.

Kapal melaju dari Bakauheni menuju Jakarta. Kita pulang dengan aman, dengan perut kenyang dan pikiran senang.

Dan, ada cerita yang bisa diceritakan di blog dan untuk anak cucu kita kelak.

Sampai ketemu di KABUR DARI JAKARTA berikutnya!

Cau!

 

_MG_6037

Isi bensin di RM Ika. Enak dan murah.

_MG_6033

Ikan apaan ya lupa ini. Kayanya sih baronang ya. Atau kue. Sejenis dua itu.

_MG_6035

Nunggu makanan komplit. Abis itu kita gerak ala Piranha.

_MG_6042

Lanjut pada makan durian. Eeeeewww!

_MG_6045

Nih orang Jepang nih aneh juga ya, dia doyan makan duren.

20160207_182336

Goodnight. Have some rest!

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

Kabur dari Jakarta; Menyusu(ri) Pulau Kelagian

 

 

 

_MG_5962

Salah satu spot! Plis, jangan buang sampah sembarangan di pulau, plisss! Yang di dekat sungai juga plissss jangan buang sampaahhh plisssss!

Kelagian, malamnya diguyur hujan, membuat kami khawatir, bangun-bangun di tenda, tendanya sudah berada di tengah lautan alias hanyut terbawa arus ombak. Tapi, ketika ditanyakan ke petugas, petugasnya jawab, “Ombaknya nggak pernah gede. Palingan sebentar lagi surut. Paling jauh sampe di situ,” petugas menunjuk ke batas ombak, yang jaraknya sekitar satu meter dari pintu tenda.

Baiklah!

Benar saja. Paginya tiba, airnya surut, menyisakan sisa-sisa sampah yang terbawa arus gelombang. Kemudian, kami membereskan tenda. Saat yang lain sibuk foto-foto di dermaga sambil ngopi dan nyemil, saya memisahkan diri, mencoba mencari sesuatu yang unik di Pulau Kelagian. Harusnya sih, Pulau Kelagian ini dijelajah sampai ke hutannya, cuma takut juga kalau nggak ada pemandu, tiba-tiba nanti menginjak ranjau dan sejenisnya, mampuslah saya. Dan, harusnya juga, di arah barat pulau ini, setelah dilihat-lihat dari Google Earth sih, di arah barat Pulau Kelagian ini ada spot sepi, pasir putih dan mungkin lebih bersih karena nggak dilewati arus laut yang dilewatin sungai isi sampah.

Namun, berhubung hari memiliki keterbatasan, sementara mobil terkunci belum diapa-apain, perut lapar karena semalam cuma makan Indomie dan siangnya mau jalan-jalan di kota Lampung untuk mencari kedai kopi enak!

Jadinya, saya cuma menyusuri pantai di sebelah kanan dermaga, yang sama sekali nggak ada penghuninya dan nggak ada yang berani main, plus juga di baliknya hanya ada belantara savana.

Saya luntang lantung sendirian. Pantainya lebih landai dari pantai di dekat dermaga. Cuma memang tidak diurus. Sampah dibiarkan berjejalan di perbatasan pasir dan daratan. Sampahnya pun banyak yang bukan sampah alami. Banyak sampah plastik. Sengaja saya tidak foto sih. Saya foto yang bagus-bagusnya saja.

Mungkin di pulau ini butuh tenaga ekstra untuk membersihkan sampah-sampah yang terbawa arus. Mungkin jangan hanya membayar 50 ribu per tenda. Mungkin membayar 200 ribu per tenda untuk uang lebih para pembersih ekstra. Mungkin tidak usah ada warung rombong supaya less sampah di pulaunya juga. Mungkin harus lebih disadarkan lagi bagi semua pengunjung untuk peduli lingkungan.

Mungkin.

Karena saya bawel, mungkin saatnya pulang, meninggalkan Pulau Kelagian yang sedang dibersihkan dari sampah-sampah oleh petugas yang jumlahnya hanya dua.

Semangat!

Selamat tinggal, Pulau Kelagian! See you when i see you!

 

_MG_6009

Bangun pagi, air sudah surut. Papan kayu yang hanyut pun sudah menjadi dari depan tenda. Petugas sudah membersihkan sampahnya dan pengunjung mulai main air. Saya masih kriyep-kriyep!

_MG_5879

Kasihan juga si bapak ini yah. Setiap hari membersihkan sampah di pantai demi pantainya tetap terlihat cantik. Ayo kita kasih uang ke si bapak ini.

_MG_5880

Semangaattttt!

_MG_5896

Sementara foto-foto dulu buat meregangkan otot-otot yang kram karena tidur berempat di satu tenda.

_MG_5921

Pagi aja masih mendung nih yaaaaa.

_MG_5980

Ini lokasi saya jalan-jalan sendirian.

_MG_5928

Asik juga bikin rumah pohon. Tinggal digigit gigit segambreng semu rangrang aja sih.

_MG_5956

Ombaknya pelaaaann banget.

_MG_5964

Naek pohon, nongkrong di sini sampe bosan.

_MG_6017

Bisa juga kemping di sini sih yah. Lebih enak kayanya.

_MG_5927

Kalau jalan ke ujung sana lagi, itu bisa juga, cuma waktunya nggak ada.

_MG_5943

Masih asriiiii bangetttt!

_MG_5975

Saya suka pantainya, cuma nggak suka sisa sampah plastiknya.

_MG_5945

Jalan-jalan setengah jam demi nyari spot foto bagus.

_MG_5930

Melewati pohon-pohon yang melintang di pantai.

_MG_6000

Tembus pandang yah.

_MG_5950

Mau deh dikasih pantai bagian ini. Akan saya urus deh habis-habisan. Ya kelessss!

_MG_6031

Tanpa basa basi lagi, dengan perut lapar, LETS GO BACK to Dermaga Ketapang.

 

Note:

Jangan percaya tukang foot

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Brokeback Beach di Pulau Kelagian

_MG_5865

Pemandangan langsung dari pintu tenda.

          “Masih ingat nggak, dialog apa di Brokeback Mountain saat di dalam tenda, yang membuat dua pria itu akhirnya begituan?”
          Lempar pertanyaan seorang teman yang batangan, seakan memancing kami yang semuanya batangan untuk menjawab, kemudian dia berharap, skandal Brokeback Mountain menjadi Brokeback Beach. Asli yah! Pertanyaan jebakan. Untung nggak ada yang hapal dialognya, dan kami terlepas dari jebakan. Ya keleesss ya empat batang pria kemudian tergoda main gila di tenda sempit. Jangan bayangin! Hahhaaha!
          Jangan bayangin yaaa!
          Lupakan!
          Lupakan!
          Eh, kok bayangin sih!
          Jangaaannnn!
          Hahahahha!
          Lupakan! Okeh! Cukup! Bakar tendaaaaaa!
          Jadi, setelah dari Pulau Pahawang, perahu diarahkan menuju Pulau Kelagian, kami berkenalan dengan penjaga Pulau Kelagian. Niatnya mau mendirikan tenda persis di pinggir pantai. Hanya berjarak dua meter dari siraman ombak pelan.
         “Kalau mau nenda, bayarnya 50 ribu. Pertenda. Bukan per orang. Kalau mau pake saung, bayarnya beda lagi. Itu bayar ke ibu-ibu di warung sana,” kata petugasnya yang sedang sibuk membersihkan sampah di pantai.
            Lima puluh ribu itu murah banget yah. Okehlah! Nggak masalah. Kami orang kaya raya. Ya, kalau kaya ke Maldives kelesssss! Tenda didirikan di bawah pohon, menghadap laut dan asiknya nggak begitu ramai. Cuma, sayang banget. Sayaaangggg banget! Pantainya banyak sampah. Padahal pantainya masih bagus. Ketika saya tanya ke petugas yang sibuk membersihkan sampah. Ia pun bercerita.
           Begini ceritanya.
         “Lagi musim hujan nih. Di sana ada sungai besar banget. Semua yang dibawa sungai, mampir juga di pulau ini. Arusnya melewati pulau ini. Apalagi kalau hujan besar, penuh sampah nih pantai.”
         “Wah! Sayang banget yah pak!”
         “Iya, sayang banget!”
          Kemudian kami berdua berpelukan. Sayang-sayangan. Moduussss. Hahahhaha!
          Ya, nggak begitu juga sih.
         “Ya udah pak, semangat ya! Saya mau bangun tenda.”
         Ia pun menunjuk lokasi untuk membangun tenda yang enak, di bawah pohon rindang.
          Setelah membangun tenda, saya pergi lagi ke sisi laut. Kembali melihat si bapak yang sibuk membersihkan sampah di sisi pantai. Mulai dari batangan kayu, segala jenis papan, buah kelapa, pelapah kelapa, pohon pisang, ranting, sekumpulan plastik dan sampah-sampah lainnya. Belum aja ada kasur, bantal dan sekalian aja mobil gitu, koper isi dolar atau cewek cantik ikutan ngambang. Itu pasti saya yang pertama membereskannya.
           Sebenarnya, jujur saja, saya lebih suka Pulau Kelagian. Cuma entah saya lagi sial atau bagaimana, ya rasanya ini sampah nggak habis-habisnya ya. Plus, kalau saya, lebih baik di pulau itu nggak ada gubuk-gubuk dan penjual indomi-indomian sama sekali. Saya lebih milih Pulau Kelagian yang bener-bener natural. Cuma karena tuntutan ekonomi sebagian warga, jadilah ada gubuk-gubuk warung Indomie, toilet umum. Itu sih okeh ya. Toilet wajib ada. Jangan sampai ada yang BAB di kebon atau gali pasir. Iuyyyyyyy!
           Jadi, kalau saya jadi pemkot sekitar, lebih baik itu pulau di biarkan alami. Lha!? Emang masih alami sih. Nggak ada rumah permanen. Semuanya gubuk. Tapi kan mendingan nggak usah ada gubuk sekalian. Kok gue yang ngatur yah!
           Tapi ya itu sih resikonya, kalau musim hujan, sampah bawaan dari sungai besar tidak bisa dihindari. Plus juga, Pulau Kelagian itu memang diperuntukan untuk LATIHAN MILITER, di mana para tentara bisa nembak-nembakan. Cieeeee!
           Jadinya, memang bukan wisata minded sih pulaunya. Alias wisata ala kadarnya. Kalau sampahnya sampah alami sih masih bisa diterima, cuma kalau udah ada plastik, pempers, botol, dan mungkin ada BH atau cangcut kalau mau nyari juga ada. Hahahaha!
           Udah dulu ya. Mau foto-foto!
20160207_091224_Richtone(HDR)
Dermaga di Pulau Kelagian. Terbuat dari papan pohon kelapa. Dermaganya sepi. Cocok untuk pacaran, curhat dan menatap masa depan.
20160207_091215_Richtone(HDR)
Pos jaga. Selamat datang di Pulau Kelagiaaaannnn!
_MG_5908
Santai dulu. Tuh kan, santai tapi batangan semua sih.
_MG_5828
Aslinya, pantainya bagus dan sampahnya itu kebanyakan sampah hasil sisa dari sungai besar.
_MG_5853
Karena mendung, sunset-nya pun nggak bagus.
IMG_7010
Di sini kita membangun tenda.
_MG_5835
Tuh kan banyak sampah ngambang.

 

 

_MG_5874

Hujan mulai turun.

_MG_5872
Siap-siap masuk tenda.
_MG_5858
Ini nih salah satu sampah yang hanyut. Kayu sebagong ini dan kalau bisa saya bawa nih buat bikin kursi atau meja. Sayangnya jauhhhh.
_MG_5867
Santai di dermaga sambil nunggu hujan deras beneran turun.

 

Note:

  1. Jangan lupa bawa alat snorkeling.

  2. Jangan lupa bawa tenda.

  3. Jangan lupa bawa autan.

  4. Jangan lupa bawa perlengkapan masak karena kalian cuma bisa makan Indomie dan mie sebangsanya doank di warung.

  5. Jangan lupa bawa perlengkapan bahan untuk dimasak.

  6. Jangan lupa bawa alat ngopi

  7. Jangan datang pas musim hujan. JANGAN! HARAM!

  8. Jangan lupa bawa lampu badai.

  9. Jangan lupa bawa senter.

  10. Jangan lupa bawa powerbank.

  11. Bayar nge-charge handphone lima ribu sampai penuh.

  12. Mandi bayar lima ribu/mandi.

  13. Kalau mau bakar-bakaran, jangan lupa bawa ikan sendiri.

  14. Jangan lupa bawa pasangan.

  15. Kalau ngga bawa pasangan, jangan sampai terjadi skandal Brokeback Beach!! Hahahhahaha!

  16. Sebisa mungkin jangan batangan semua kalau nenda. GARIIINGGG!! KERIINGG!

 

“sonofmountmalang”