(1) mie ayam; bakmi ayung

20150514_093040

Siapa yang suka MIE AYAM?
Tunjuk tangaaannnn!
Siapa yang suka MIE AYAM KUAH BABI?
Acungkan jempoolll!
Siapa yang suka MIE AYAM TOPING DAGING BABI?
Acungkan kakiii!
Kenapa harus dimulai dengan kalimat itu ya. Begini. Ceritanya. Saya tinggal di Sunter, di mana mayoritas penghuninya etnis China. Sebenarnya saya tidak suka nyebut kata etnis China. Wong mereka orang Indonesia, kebetulan saja matanya sipit. Sama halnya kaya orang Indonesia yang kulitnya hitam, logatnya Jawa atau cacat huruf F.
Ya, abaikanlah soal etnis itu. Nah, di Sunter itu, banyak sekali MIE AYAM enak dengan berbagai jenis mie. Mulai dari MIE KARET, MIE SIANTAR, MIE BANGKA, MIE PONTIANAK dan mie mie lainnya. Satu persatu saya coba ulas ya. Kali-kali ada yang gila MIE AYAM dan lagi tersesat di Sunter.
Perdana tulisan soal MIE AYAM ini mengulas tentang MIE AYAM AYUNG. Mie-nya beneran handmade. Tanpa bahan-bahan aneh. Pengolahannya pun masih tradisional. Pembuat mie-nya membuat mie di depan supaya orang-orang tahu kalau MIE AYUNG beneran asli buatan sendiri.
Katanya, pas saya ngobrol sama pembuat mie ayam, mas-mas yang nggak mau disebutkan namanya, “Mie-nya kita bikin sendiri. Nggak pake mesin. Harus manual. Soalnya bahan-bahannya nggak ada campuran aneh-aneh. Jadi nggak bisa pake mesin.”
Maksudnya campuran aneh-aneh bahan pengenyal dan sejenisnya. Ini murni, katanya, cuma telor sama tepung saja.
Dan memang sih, mie-nya itu empuk banget dan saya suka tekstur mie-nya. Cuma kadang saya nggak suka ngantrinya. Cari-cari momen saja kalau mau makan MIE AYUNG ini.
Harganya, hmmm…, lumayan murah sih. Sekitar 18 ribuan per mangkok. Gimana? Mau nyoba? Silakan.
Tunggu MIE AYAM selanjutnya yak!

 20150514_092944 20150509_071549 20150514_093600_Richtone(HDR) 20150514_093025 20150514_093059

“sonofmountmalang”

Antara Bunga Liar dan Ranting

Ranting di Cimanggis13

Lama tidak hunting foto di kebun depan rumah. Rumput liat dan bunga liar tumbuh subur. Lama juga tidak menggunakan SLR yang beli lensa telenya sampe ngirit-ngirit makan berbulan-bulan. Setelah dibeli malah jarang dipakai. Kebetulan kan libur lebaran lumayan panjang. Jadi ada waktu itu hunting barengan sahabat kecil saya, Virgillyan Ranting Areythuza, yang sudah bisa lari ke sana ke mari.
Sementara yang lain posting libur lebaran ke berbagai kota di seluruh Indonesia, saya posting hal yang sederhana di depan rumah. Gimana? Lumayan kan ya. Yayayaya! *maksa*

Virgillyan Ranting Areythuza

“sonofmountmalang”

samsung project (33) kopi kina

20150605_215527_Richtone(HDR)

Tempat ngopi semakin banyak semakin bagus. Persaingan semakin sehat. Plus masing-masing memiliki pasarnya sendiri. Kopi Kina misalnya. Kebanyakan yang ngopi di sini para pemotor. Dalamnya juga padat merayap. Katanya, salah satu tempat ngopi yang memiliki varian kopi paling banyak. Meskipun pas ke sana tidak semuanya ada alias lagi nggak ada stocknya.

Mau nyoba?

Silakan.

20150605_220942 20150605_220347_Richtone(HDR) 20150605_220257_Richtone(HDR) 20150605_215840_Richtone(HDR)

“sonofmountmalang”

samsung project (32) Nongkrong ala hipster di Filosofi Kopi

20150515_201038

Ayo siapa yang pernah nongkrong di sini? Di mana para hipster Jakarta berkumpul foto-foto bareng kasirnya, Rio Dewanto dan Chico Jerico. Saya sih nggak begitu suka kopinya. Lebih suka liatin ABG narsis aja. Hmmmm…! Tumben tulisannya nggak banyak. Saya sih cukup sekali ke tempat beginian. Parkirnya kaya setan ya di Melawai ini. Amit. Hahaha! Ngomel. Lagian tempatnya sempit. Komplen aja bisanya. Ya iya sih. Kita kan bangsa komplen. Curcol. Begitulah.

20150515_200732_LLS 20150515_202207 20150515_202406 20150515_195718 20150515_200406_Richtone(HDR)

“sonofmountmalang”

samsung project (31) tuku kopi

20150617_130919_Richtone(HDR)

Siapa yang hari ini puasa? Siapa yang nggak? Godaan apa yang paling nggak bisa ditahan saat puasa? Buka bokep? Makanan enak? Cemilan enak? Gosipin bos? Pacaran di tempat gelap? Makan junkfood? Gosipin orang? Minum kopi? Atau apa?
Kalau saya sih godaan yang nggak bisa saya tahan itu adalah kopi. Ditambah lagi, tempat ngopi semakin bermunculan di segala penjuru kota, hingga pelosok desa.
Tapi, saya nggak bakalan bahas yang di pelosok desa, saya bahas di dekat kantor dulu aja ya. Seperti biasa kan, sesuai janji saya, akan mengulas segala jenis makanan dan tempat nongkrong khusus di Jalan Cipete Raya. Pelan-pelan ya, tapi pasti. Wew!
Lalu, ada tempat baru apa kira-kira di Jalan Cipete Raya? Ada nih, namanya Tuku, tempat ngopi yang diperuntukan untuk TAKE AWAY atau mampir sejenak saja. Karena memang kondisi tempatnya tidak terlalu besar, tapi kalau mau ngopi duduk-duduk sih boleh.
Tuku ini khusus ngopi saja ya. Tidak ada makanan besar di sini. Cemilannya pun sederhana. Semacam donat kampung dan lemper dan cemilan kecil lainnya. Konon, katanya, Tuku ini pemiliknya yang punya Toodz. Bocoran dari baristanya lho ya. #bocorannggakpenting!
Bagaimana dengan kopinya? Ya, okehlah. Ada Sunda Ciwidey Arum Manis dengan harum khasnya dan cukup jarang sih nih kopi. Tidak semua tempat ngopi menyediakan kopi Sunda ini. Kemudian Tuku juga memiliki beberapa jenis kopi dan blend khas mereka, yaitu SELAMAT PAGI BLEND dan TETANGGA BLEND.
Buat kamu yang suka kopi, mungkin bisa coba TUKU KOPI di TUKU KOPI.
 Dayan 20150617_131637 20150617_123828 20150617_130157
20150617_131139_Richtone(HDR)
20150617_130930_Richtone(HDR) 20150617_132140_Richtone(HDR) 20150617_131124_Richtone(HDR) 20150617_131157_Richtone(HDR)
“sonofmountmalang”

 

 

UNTUK KAMU YANG INGIN MELLOW!

20150515_135353-1

“Mokapot yang selalu saya bawa ke mana mana.”

Akhir-akhir ini, kedai kopi semakin menjamur. Macam penyakit latah yang memang dimiliki negeri ini. Mulai dari design interior yang wah sampai biasa saja. Mulai dari kopi yang serius enak sampai yang rasanya acak-acakan, asal-asalan. Asal nongkrong enak, rasa dan kuliatas kopi bukanlah hal yang penting. Yang penting itu eksis di kedai kopi yang lagi hits.

Menurut saya, masalah kopi itu masalah kepekaan lidah. Tempat bagus bukan jaminan kopi bagus. Rasanya, kebanyakan yang saya temui, ya asal bikin. Hanya beberapa yang serius membuat kopi dengan cita rasa luar biasa. Semisal Rumah Ranin di Bogor.

Itulah sebabnya, saya sengaja menciptakan kedai kopi sendiri di rumah dan di kantor dan bahkan saya membawa perlengkapan untuk membuat kopi ke mana pun saya pergi. Bukan tidak suka nongkrong, tetapi karena saya bebas meracik rasa kopi yang sesuai dengan selera dan tidak harus keluar uang mahal hanya demi secangkir kopi hambar di kedai hipster alay-alay yang baru mengenal kopi.

Lalu, kopi apa yang bagus dan memiliki rasa luar biasa?

Salah satu produsen kopi yang menurut pancaindera saya itu pas, adalah QUINTINO’S, dengan berbagai varian KOPI ASLI INDONESIA yang memiliki kualitas kopi kelas satu dan hasil roasting yang ENAK.

Saya suka semua jenis kopi yang keluar dari QUINTINO’S. Nah, salah yang tidak pernah kosong di koleksi box kopi saya adalah SUMATRAN MELLOW. Paduan ACEH GAYO dan MANDHELING atau orang asli sana lebih suka disebut MANDAILING.

Kenapa mellow? Karena perasaannya begitu lembut dan aromanya kuat yang bisa mengundang teman seruangan untuk datang ke meja kerja.

Gimana?

Mau nyoba?

Yuk ke sini!

“sonofmountmalang”

Pecel ala Minyak Goreng Hitam!

"Berani makan?"
“Berani makan?”

Teman saya sering mengajak makan di warung pinggir jalan, warung tenda, warteg dan warung-warung pecel-pecelan di pinggir jalan, yang bukanya biasa malam.

Saya sering kali menjawab, “Sorry ya, tubuh gue, tenggorokan gue, udah nggak bisa nerima makan di tempat begituan. Pasti habis itu radang tenggorokan dan batuk.”

Teman saya selalu bilang,”Gaya lu! Biasa juga makan di pinggir got!”

Sebelum saya menyadari kesehatan itu penting, YES! Saya dulu doyan pecel lele, pecel ayam. Setelah sadar, saya sebisa mungkin tidak makan. Bukan masalah ayamnya. Bukan masalah lelenya. Tetapi masalah kebersihannya dan masalah minyaknya.

Menggoda sih. Memang. Sungguh. Semenggoda gorengan abang-abangan yang menjajakan tempe, tahu, pisang dan gorengan lain, dan sekali lagi, saya setengah mampus menahan godaan untuk tidak membelinya. So far cukup berhasil. Sudah lama saya tidak makan gorengan di pinggir jalan itu atau biasa juga ada di depan minimarket.

Lantas, kenapa sih sebegitu gayanya saya tidak mau makan di warung tenda jenis pecel-pecelan.

Pertama, tenggorokan saya sudah tidak bisa menerima gempuran makanan yang digoreng dengan warna minyak yang sudah kaya oli. Coba deh kalian, yang doyan makan di warung tenda, perhatikan minyak goreng di wajan. Seperti apa rupanya. Sementara saya di rumah, minyak goreng hanya dua kali pakai.

Kedua, saya juga kadang suka geli cara mencuci piringnya. Siapa yang tidak pernah melihat dua ember di pojokan belakang tenda. Satu isi ember untuk membilas dan satu ember untuk mencuci. Kebayang kan mau sebersih apa pun, tetaplah bakteri dan kuman ada di ember. Mungkin semakin banyak. Terkadang itu lah yang membuat ketika saya makan terus berpikir cara mencucinya.

Sekali lagi, bukan masalah pecel lele atau ayamnya ya.

Nah, akhirnya. Setelah lamaaaaaa sekali tidak makan hal seperti ini. Teman saya mengajak makan di Benhil. Katanya ada AYAM PENYET enak banget. Di kepala saya sih ayam pencet macam di LEKO sejenisnyalah. Rupanya, ayam penyet di pinggir jalan.

Oke. Saya ragu, namun lapar dan teman saya sudah memesan. Hmmm…!

Saya pesan ayam.

Dan tentu saja dong ya kekepoan saya dengan minyaknya seperti apa. Jadi, saya melihatlah adegan mereka menggoreng. Beneran nih dalam hati saya, bakalan sakit tenggorokan. Mau dibatalin, eh sudah digoreng. Mau nggak dimakan juga gimana jadinya.

Bismilah saja yah. Saya makan dan minum yang banyak.

Tidak perlu menunggu besoknya. Beberapa menit setelah saya makan, tenggorokan mulai protes. Gatal dan seperti ada sesuatu di tenggorokan yang membuat saya batuk-batuk.

Kalau sudah begini, minum vitamin, minum Brand’s Essence of Chicken dan minum air hangat yang banyak. Minum air lemon paginya dan makan gandum plus susu untuk beberapa hari ke depan. Supaya radang tenggorokan tidak terjadi.

Beruntunglah tidak parah efeknya, meksipun tenggorokan saya sampai sekarang masih terasa gatal.

Gimana? Kalian masih berani makan gorengan yang minyaknya sudah menghitam?

*Mungkin tidak semua mereka menggunakan minyak goreng sampai hitam. Mungkin lho ya*

 

“sonofmountmalang”