UNTUK KAMU YANG INGIN MELLOW!

20150515_135353-1

“Mokapot yang selalu saya bawa ke mana mana.”

Akhir-akhir ini, kedai kopi semakin menjamur. Macam penyakit latah yang memang dimiliki negeri ini. Mulai dari design interior yang wah sampai biasa saja. Mulai dari kopi yang serius enak sampai yang rasanya acak-acakan, asal-asalan. Asal nongkrong enak, rasa dan kuliatas kopi bukanlah hal yang penting. Yang penting itu eksis di kedai kopi yang lagi hits.

Menurut saya, masalah kopi itu masalah kepekaan lidah. Tempat bagus bukan jaminan kopi bagus. Rasanya, kebanyakan yang saya temui, ya asal bikin. Hanya beberapa yang serius membuat kopi dengan cita rasa luar biasa. Semisal Rumah Ranin di Bogor.

Itulah sebabnya, saya sengaja menciptakan kedai kopi sendiri di rumah dan di kantor dan bahkan saya membawa perlengkapan untuk membuat kopi ke mana pun saya pergi. Bukan tidak suka nongkrong, tetapi karena saya bebas meracik rasa kopi yang sesuai dengan selera dan tidak harus keluar uang mahal hanya demi secangkir kopi hambar di kedai hipster alay-alay yang baru mengenal kopi.

Lalu, kopi apa yang bagus dan memiliki rasa luar biasa?

Salah satu produsen kopi yang menurut pancaindera saya itu pas, adalah QUINTINO’S, dengan berbagai varian KOPI ASLI INDONESIA yang memiliki kualitas kopi kelas satu dan hasil roasting yang ENAK.

Saya suka semua jenis kopi yang keluar dari QUINTINO’S. Nah, salah yang tidak pernah kosong di koleksi box kopi saya adalah SUMATRAN MELLOW. Paduan ACEH GAYO dan MANDHELING atau orang asli sana lebih suka disebut MANDAILING.

Kenapa mellow? Karena perasaannya begitu lembut dan aromanya kuat yang bisa mengundang teman seruangan untuk datang ke meja kerja.

Gimana?

Mau nyoba?

Yuk ke sini!

“sonofmountmalang”

Pecel ala Minyak Goreng Hitam!

"Berani makan?"
“Berani makan?”

Teman saya sering mengajak makan di warung pinggir jalan, warung tenda, warteg dan warung-warung pecel-pecelan di pinggir jalan, yang bukanya biasa malam.

Saya sering kali menjawab, “Sorry ya, tubuh gue, tenggorokan gue, udah nggak bisa nerima makan di tempat begituan. Pasti habis itu radang tenggorokan dan batuk.”

Teman saya selalu bilang,”Gaya lu! Biasa juga makan di pinggir got!”

Sebelum saya menyadari kesehatan itu penting, YES! Saya dulu doyan pecel lele, pecel ayam. Setelah sadar, saya sebisa mungkin tidak makan. Bukan masalah ayamnya. Bukan masalah lelenya. Tetapi masalah kebersihannya dan masalah minyaknya.

Menggoda sih. Memang. Sungguh. Semenggoda gorengan abang-abangan yang menjajakan tempe, tahu, pisang dan gorengan lain, dan sekali lagi, saya setengah mampus menahan godaan untuk tidak membelinya. So far cukup berhasil. Sudah lama saya tidak makan gorengan di pinggir jalan itu atau biasa juga ada di depan minimarket.

Lantas, kenapa sih sebegitu gayanya saya tidak mau makan di warung tenda jenis pecel-pecelan.

Pertama, tenggorokan saya sudah tidak bisa menerima gempuran makanan yang digoreng dengan warna minyak yang sudah kaya oli. Coba deh kalian, yang doyan makan di warung tenda, perhatikan minyak goreng di wajan. Seperti apa rupanya. Sementara saya di rumah, minyak goreng hanya dua kali pakai.

Kedua, saya juga kadang suka geli cara mencuci piringnya. Siapa yang tidak pernah melihat dua ember di pojokan belakang tenda. Satu isi ember untuk membilas dan satu ember untuk mencuci. Kebayang kan mau sebersih apa pun, tetaplah bakteri dan kuman ada di ember. Mungkin semakin banyak. Terkadang itu lah yang membuat ketika saya makan terus berpikir cara mencucinya.

Sekali lagi, bukan masalah pecel lele atau ayamnya ya.

Nah, akhirnya. Setelah lamaaaaaa sekali tidak makan hal seperti ini. Teman saya mengajak makan di Benhil. Katanya ada AYAM PENYET enak banget. Di kepala saya sih ayam pencet macam di LEKO sejenisnyalah. Rupanya, ayam penyet di pinggir jalan.

Oke. Saya ragu, namun lapar dan teman saya sudah memesan. Hmmm…!

Saya pesan ayam.

Dan tentu saja dong ya kekepoan saya dengan minyaknya seperti apa. Jadi, saya melihatlah adegan mereka menggoreng. Beneran nih dalam hati saya, bakalan sakit tenggorokan. Mau dibatalin, eh sudah digoreng. Mau nggak dimakan juga gimana jadinya.

Bismilah saja yah. Saya makan dan minum yang banyak.

Tidak perlu menunggu besoknya. Beberapa menit setelah saya makan, tenggorokan mulai protes. Gatal dan seperti ada sesuatu di tenggorokan yang membuat saya batuk-batuk.

Kalau sudah begini, minum vitamin, minum Brand’s Essence of Chicken dan minum air hangat yang banyak. Minum air lemon paginya dan makan gandum plus susu untuk beberapa hari ke depan. Supaya radang tenggorokan tidak terjadi.

Beruntunglah tidak parah efeknya, meksipun tenggorokan saya sampai sekarang masih terasa gatal.

Gimana? Kalian masih berani makan gorengan yang minyaknya sudah menghitam?

*Mungkin tidak semua mereka menggunakan minyak goreng sampai hitam. Mungkin lho ya*

 

“sonofmountmalang”

Liburan bareng Virgillyan Ranting Areythuza di Bali

_MG_3697

Saya bilang ke sahabat kecil saya, Virgillyan Ranting Areythuza,”Ran, senjanya memang tidak sempurna, tetapi inilah senja pertamamu di Pantai Kuta, Bali.”

Saya pernah berjanji, jika usianya sudah menginjak setahun, saya akan membawa sahabat kecil yang mungil, Virgillyan Ranting Areythuza, berlibur singkat ke Bali. Meskipun dia tidak tahu apa-apa tentang konsep liburan, tidak mengerti apa-apa konsep Bali, tapi setidaknya, saya mulai menanamkan semangat berpetualang, semangat melangkah menuju satu tempat ke tempat lainnya.

20150502_100459
Bertemu teman baru dan ngobrol dengan bahasanya. Bla bla bla. La la la. Wa wa wa. Hahahahah!

Awalnya saya khawatir ketika di pesawat. Takut tidak tahan dengan tekanan udara dan tidak tahu cara mengatasinya. Ternyata asik-asik aja ya. Hanya gelisah sedikit saat take off dan molor setelah itu sampai mau mendarat di Bali.

Karena dia baru satu tahun, yang makannya juga masih sedikit ribet, jadi perjalanan tiga hari di Bali dijalani dengan santai. Tidak ada target harus ke mana dan jalan ke mana atau pergi ke mana.

_MG_3618
Jalan jalan ke pasar ubud, santai digendong opahnya.

Jalan ke Bali kali ini lebih santai, mengikuti ritme sahabat kecil saya, Virgillyan Ranting Areythuza, yang ya suka-suka dia.

Beruntung selama di Bali, dia tidak rewel. Sepertinya menikmati suasana Ubud meskipun cuaca di Ubud lagi panas. Biasanya udara malam Ubud terasa lebih dingin, kali ini sedikit panas. Mungkin bermalam di sekitar Bedugul atau Kintamani akan merasakan nikmatnya dingin. Untunglah villanya ber-ac.

_MG_3614
Vila private kolam renang. Bebas mau nyebur kapan pun. Ubud Heaven.

Kali ini juga saya menginap agak sedikit jauh dari keramaian Ubud. Saya menginap di sekitaran Jalan Penestanan. Sedikit ke pelosok. Tidak ada jalan raya menuju penginapan. Jalannya sengaja tidak dibuat untuk mobil. Warga sekitar tidak mengizinkan jalan menuju sekitarnya dibuat untuk lalu lalang mobil.

Mungkin niatnya baik. Selain mengurangi polusi, juga mengurang bising. Buat saya tidak masalah. Ya jalan kaki sekitar 300 meter hitung-hitung olah raga walaupun pihak vila menyediakan antar jemput dengan motor. Tapi, barang bawaan ya pakai motor. Asik kan? Saya menginap di Ubud Heaven, yang sekali lagi hanya saya orang lokal Indonesia yang menginap di sini. Sampai-sampai ada anak kecil setempat bilang, “Wahhh! Ada orang Indonesianya juga yang nginep…” Weleh!

_MG_3395

Bahagia main air.

Penginapan seperti ini dan kebanyakan di Ubud memang sangat cocok untuk berlama-lama, khususnya mereka yang sedang mencari ide menulis. Ya, aura Ubud cocok untuk menjadi tempat menggali tulisan. Banyak inspirasi bisa lahir di Ubud. Terasa lebih sejuk, sakral dan jauh dari hingar bingar macam Seminyak dan sekitarnya.

_MG_3609
Makanan di sini juga enak-enak. Ya, wajib enak sih. Secara kalau makan keluar rada PR.

Setelah kelar tidur di Ubud, tentu saja hal yang wajib dilakukan adalah mengunjungi pusat kerajinan tangan di Tegalalang. Di sini nih tempat yang bikin mata kalap dan isi dompet megap-megap. Di sini juga bisa mendapatkan banyak sekali ide untuk berbisnis. Hmmm…! Hahahaha! Dari dulu, setiap kali ke Tegalalang selalu begitu pikirannya. Berbisnis. Yuk! Bosan kan kerja mulu.

Salah
Mengajak Ranting ke pusat kerajinan di Tegalalang. Beberapa pengrajin di sini mengikuti trend dan cenderung musiman. Ini salah satu yang lagi trend di Tegalalang. Borong yuk!

Tidak lupa juga makan salah satu gelato terenak di Ubud. Gelato Gaya. Glek! Mau?

Gelato Gayo. Panas bolong. Makan beginian. Mau?
Gelato Gayo. Panas bolong. Makan beginian. Mau?

Selanjutnya saya membawa Ranting ke Kuta. Maunya sih membawa di ke Lovina atau Amed, cuma berhubung liburan cuma dua malam dan itu anak juga masih belum bisa diajak jalan ke sana ke mari terlalu jauh, jadinya pantai pertamanya di Bali ya Kuta. Saya sendiri tidak begitu suka ke Kuta, ya sekali ini sajalah. Next time, kalau ke Bali lagi, akan saya ajak di ke Bali Utara atau Bali Selatan atau Bali Timur. Pantainya lebih alami dan tidak banyak sampah.

Di Kuta, saya menginap di Hotel Bene. Enak dan nyaman untuk bayi. Jarak ke pantai juga tinggal jalan kaki empat menitan.

Seperti biasa, kebanyakan bayi pada umumnya, doyan maen aiirrrr. Ranting nggak mau beranjak dari pantai. Diajak pulang karena cuaca Kuta sedang kurang asik, dia nggak mau. Apalagi dia kalau diajak ke pantai-pantai bersih di belahan Indonesia lainnya, kayanya bakalan kemping di pantai dia.

20150502_175956
Jadilah penjelajah, Virgil!
20150502_181825
Selamat jalan, Bali.

Next time ya, kita jelajahi Indonesia lebih jauh lagi. Amin!

_MG_3687

Pantai Kuta – Bali.

_MG_3674

Senja di Kuta lagi kurang asik dan pantainya pun lagi banyak sampah. Ya, Kuta memang sudah nggak asik lagi.

“sonofmountmalang”

Santai Santai di Sensa Koffie

_MG_3931

Kalau ke Bali, bosan dengan yang itu-itu aja, tongkrongan & masakan eropa kebarat-baratan atau warung ke bali-balian, mungkin sudah saatnya kalian mampir ke Sensa Kueh, Pia & Koffie di Jalan Dewi Sri, Kompleks Ruko Parwata. Tepatnya di seberang Central Park Kuta. Tempatnya, untuk di Kuta, sedikit berbeda dari hingar bingar pada umumnya. Seperti bukan berada di Kuta. Kaya lagi di daerah Jawa. Hahahah! Lha? Pergi ke Bali kok nyari suasana keJawa-Jawaan. Ahey!

20150502_115159

Bukan itu maksudnya, ini simply tempat ngopi yang cozy dan tenang. Untuk penulis atau blogger, mungkin tempat ini bisa dijadikan tempat singgah dan menuliskan perjalanan-perjalanan yang akan dijual atau pun di-posting.

_MG_3901

Kopi di Sensa juga banyak jenisnya dengan proses yang berbagai jenis juga. Sesuai selera. Nah, ini prosesnya adalah airpresso ya kalau nggak salah. Hahahah! Lupa prosesnya. Ini adalah Toraja yang jadi ringan rasanya, namun sedikit membekas sisa pahitnya di ujung belakang lidah hingga tenggorokan.

_MG_3856

Enaknya ruang di Sensa tidak umpel-umpelan. Jadi terasa leluasa dan nyaman ngobrol sambil ngopi berjam-jam, sampai kembung dan kenyang.

 _MG_3854

Buat kalian yang ingin menikmatinya sambil melihat lalu lalang jalanan, duduk di balkon pun enak. Cuma ya asal tahan saja dengan udara Kuta. Enaknya kalau di luar ini duduknya sedikit sore jelang malam.

_MG_3857

Selain bisa ngopi, di Sensa juga kita bisa membeli biji kopi yang sudah mereka roasting. Saya tadinya mau beli Bali Kintamani, cuma sayang lagi nggak ada stock. Jadi, ya nggak jadi beli. Untuk ukuran segini, katanya dijual sekitar 200an. Tergantung jenis kopinya.

20150502_122730

Teman untuk ngopi yang pas. Mau?

Jadi, gimana? Bosan dengan tempat modern di Kuta? Coba dulu mampir ke Sensa, yang merupakan cabang di Malang. Nahhh! Ke Malang aja yuk! Sekalian ke Bromo, melihat sunsrie mewah.

Yuyuyuyuyuyu!

“sonofmountmalang”s

samsung project (31) menembus batas, awan!

20150502_175905

Siapa yang merindukan terbang. Terbang ke mana saja. Untuk mendarat di sebuah tempat yang kalian inginkan. Tempat di mana air bergelombang pelan dan pasir diam-diam saling melekat. Tempat di mana fajar tumbuh dari balik lautan dan senja mengembang di bukit-bukit berilalang liar. Tempat di mana awan berada di mata kaki dan tubuh di puncak gunung. Tempat di mana mata menembus pandangan ke dasar laut yang dilukis karang dan ikan bermain-mainan. Tempat di mana sungai berisi air jernih menjadi ruang bermain dan mandi tanpa penutup diri. Tempat di mana senja bisa pecah di ufuk lautan dan gemuruh ombak menyapa-nyapa tubuh anak-anak laut. Tempat di mana duduk di bukit hijau ketika angin-angin berbisik di ujung daun dan lautan biru menggoda di ujung mata.

Tempat di mana pun yang kalian mau, terbanglah sekarang menembus awan-awan dan mendarat di tanah yang kalian mimpii!

“sonofmountmalang”

Hebohnya Cookies Ganja

Ayo! Ngaku! Siapa yang pernah mencicipi Cookies manis rasa coklat dengan efek skip-skip berbahagia? Kalian, salah satu dari kalian, pasti pernah mencobanya?

Buat yang belum nyoba, kayanya sudah terlambat ya. Polisi sudah membongkar jaringan. Meskipun yang dibongkar sepertinya jaringan besar. Sementara jaringan ecek-ecek, kayanya tidak terbongkar dan tiarap dulu untuk beberapa waktu.

Sayang ya, terbongkar. Padahal itu Cookies enak bingits. Halah!

Lalu, apa sih sensasi rasa memakan Cookies Ganja ini? Sebetulnya setiap Cookies Ganja memiliki efek berbeda-beda. Tergantung kadar ganja yang terkandung di dalamnya. Ada yang makan satu sudah terbang-terbang, hepi-hepi, skip-skip. Ada yang juga yang kalau makan satu, rasanya biasa saja. Cuma hidup terasa ringan, sedikit melayang dan tidak skip alias sadar biasa saja.

Tetapi ada juga yang makan satu, efeknya berasa sekali. Namun ada juga yang makan satu kue, efeknya langsung parno. Biasanya, ini, dirasakan oleh pemakan pemula, yang tidak mengkondisikan dirinya untuk skip-skip. Mirip kan sama ganja. Hahahah! Ya iyalah! Bahannya ada ganjanya.

Cookies Ganja ini merupakan pengembangan dari DODOL GANJA yang sempat heboh dan BROWNIES GANJA yang juga sempat heboh. Nah, setelah Cookies Ganja ketahuan oleh pihak berwajib aka polisi, akankah lahir generasi kue-kue lainnya yang tidak terendus oleh mereka? Mungkin akan  terus ada evolusi cara menikmati ganja, selain dihisap, yang sudah tidak hits lagi, karena gampang tercium dan tidak semua bisa menghisap rokok.

Soal ganja tidak akan ada matinya. Menurut saya, akan ada soal beginian sampai dunia kiamat. Lama gila yak!

Gimana? Mau nyoba?

Sekali tidak apa-apa, demi menambah wawasan soal cookies. Haks!

“sonofmountmalang”

Hidup tanpa rasa takut

20150401_080315

Dia, sang kakek tua, hidup tanpa rasa takut. Ia tidak takut rumahnya disantroni maling. Tidak takut mobilnya dicuri. Tidak takut smartphone-nya dicopet. Tidak takut barang berharganya hilang dibegal orang. Tidak takut sandal atau sepatu harga juta-jutaan diambil orang. Tidak takut tas mewah dijambret orang.
Ia tidak hidup dalam ketakutan, seperti yang kita alami sekarang ini.
“sonofmountmalang”