imajinasi; sibuk bertani

IMG_6766

Pertanian di kaki Gede – Pangrango, Cibodas.

Lama tidak blogging. Saya sibuk bertani. Sibuk menanam padi. Sibuk menanam brokoli. Sibuk menanam berbagai jenis sayuran, buah-buahan dan mengurusin puluhan hektar tanah di perbukitan di kaki Gunung Gede – Pangrango. Saya sibuk bangun pagi, pergi ke ladang, mengurus tanaman dari hektar ke hektar. Sibuk duduk di depan saung sambil menikmati senja dan suara keciak sore. Sibuk panen dan sibuk menjualnya ke pasar. Saya sibuk bermain di air sungai, memancing di sungai dan sibuk menikmati bisingnya sungai serta suara-suara di kaki hutan. Sampai-sampai, segala kesibukan itu membuat saya lupa dunia maya dan lupa bagaimana caranya menulis di blog atau pun bersosial media. Karena, bersosial dengan alam jauh lebih menyenangkan, ternyata ya.

Sekian, khayalan kali ini. Ayo, kita ngayal lagi.

IMG_6765

Sungai jernih berair dingin, mengalir dari hutan Gede – Pangrango melintasi pertanian.

IMG_6762

Pengen punya rumah di sisi sungai ini.

“sonofmountmalang”

samsung project (41) ngegelinding ajah!

20160506_072402_Richtone(HDR)

Mau ke mana liburan panjang kali ini?

Banyak sekali jawabannya. Ada yang mau ke Bali. Ada yang mau ke Jogja, Semarang, Surabaya, Garut, Bandung, Bogor, Carita, Anyer, naek gunung dan segala jenis liburan lainnya, yang sudah fix lokasi dan penginapan serta tujuannya.

Kalau saya? Jawabannya, nggak tahu. Lihat mood besok saja, gimana maunya.

Tahunya, mood subuh buta membilang kalau saya harus segera memanaskan kendaraan dan biarkan roda menggelinding ke mana maunya.

Benar saja, roda menggelinding dari  Jakarta – Sukabumi – Cianjur – Padalarang – Bandung – Padalarang – Cianjur – Jakarta PP! Hasilnya, banyak berhenti, karena kebetulan jalan sendirian dan saking asiknya menikmati perjalanan nggak puguh, sampai malas memotret pakai DSLR segala. Alhasil, pakai Galaxy K Zoom. Simpel dan cepat.

Tapi, memang benar ya. Jalan-jalan, tanpa dibebani harus memotret itu, memang, jauh lebih menikmati. Kebayang kan, menikmati udara dingin saja, menikmati pemandangan yang membikin sejuk saja, itu sudah merasakan liburan paling menyenangkan. Tanpa harus juga dibebani posting atau check in di sosmed di setiap pengkolan berhenti. Cukup memarkir kendaraan. Keluar dan menikmati sampai kenyang. Melanjutkan perjalanan lagi sampai tidak tahu tujuannya apa. Aneh sih, tetapi itu nikmat sekali.

Coba, siapa yang pernah mencobanya?

20160506_064541

20160506_060154

20160506_07381220160506_07361720160506_072535_Richtone(HDR)20160506_072330_Richtone(HDR)20160506_072157_Richtone(HDR)20160506_07185320160506_06323120160506_06133920160506_055200

“sonofmountmalang”

Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (6)

20160326_125505-2

26.03.2016

Dear,

 Ranting….

 Selamat ULANG TAHUN!

*sorry ya baru nulis surat, sibuk pitching:))!*

Jika saja waktu bisa diputar ulang, aku ingin sekali lagi, merasakanmu belajar guling-guling, belajar merangkak dan belajar tertatih-tatih di antara meja-meja serta kursi. Tetapi ya Ting, waktu kan terus bergerak mengikuti poros semesta apa pun yang terjadi di galaksi ini, jadi aku tetap harus melihatmu terus bergerak dari usia dua detik, dua menit, dua jam, dua minggu, dua bulan dan seketika sudah dua tahun.

Dua tahun, Ting! Dua tahun! Kalau pacaran itu sudah berada di titik jenuh, atau jelang serius bicara nikah atau bubaran. Sementara, bersamamu ya, Ting, dua tahun hanyalah TITIK NOL, titik di mana semuanya hanyalah permulaan. Permulaan untuk segala hal. Saking permulaannya, kadang, aku butuh waktu untuk menerjemahkan keinginan dari bahasa absurdmu. Bahasa paling susah yang bisa aku duga-duga terjemahkan menjadi sebuah makna. Kadang salah memaknai, kadang pas, kadang jauh banget dari makna yang ingin kamu sampaikan dan kadang butuh mikir, well sorry ya mas bro. Akan ada saatnya ketika kita bisa saling bicara juga, bisa saling diam. Banyak hal alasannya, aku pernah menjadi anak dari seorang bapak dan tidak selamanya hubungan seperti sepasang ABG jatuh cinta di minggu pertama. Tapi kita nggak akan seperti itu kan ya, Ting. Ya ya ya! Janji ya! Aku janji deh ya.

Ngomong-ngomong, dua tahun sudah bisa apa ya, Ting? Banyak banget ya. Sudah tidak bisa dihitung. Tenang, masih banyak keseruan yang akan kita lakukan, karena kita harus terus bergerak menyelaraskan seiring jalannya waktu dan gerak galaksi.

Dua tahun, untuku dan untukmu, hanyalah sebagian permulaan dari sekian permulaan.

Selamat ulang tahun, ke dua, Virgillyan Ranting Areythuza! I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK!

20160403_111653-2

Jadilah PENJELAJAH!

“Raka, Sahabatmu!”

Balik Jungkir Kita Hidup

20160324_100735-01

Hidup untuk apa? Mungkin pertanyaan klise, tetapi mengganggu saya. Sampai-sampai, harus jungkir balik, banting tulang, banting kancut, banting kutang dan banting-banting aja semua. Demi apa?

Demi apa ya?

Demi anak istri? Demi secangkir kopi? Demi bisa liburan kemudian menulis di blog? Demi nongkrong? Demi membayar bensin bulanan? Demi belanja bulanan? Demi beli kopi? Demi cicilan? Demi masa depan?

Demi apa sih?

Saya tidak menemukan jawabannya. Mungkin terlalu banyak demi, sampai lupa mengisi blog, menulis dan hura-hura seru lainnya.

Padahal, bilang saja, sudah lama tidak ngeblog, lalu bingung menulis apa. Haaaaaaa!

“sonofmountmalang”

 

samsung project (40) siapa yang suka senja?

20160217_182705

Panorama ala ala K Zoom.

Coba.

Siapa yang tidak suka senja. Bahkan Seno Aji Gumira saja menulis cerpen maha gaib, “Sepotong Senja untuk Pacarku” Bahkan penyair jaman jebot hingga penyair karbitan jaman kekinian, pun doyan memuja senja. Mengukir kalimat seanjing mungkin, hingga mampu mengalahkan keanjingan senja itu sendiri.

Memangnya, apa yang menarik dari sebatang senja? Kalau saya, padahal saya sudah berkali-kali memotret senja, menuliskan sesuatu tentang senja, dan, kemudian, kali ini, saya memotretnya lagi dan menuliskannya sesuatu lagi. Benar-benar tidak penting tulisan ini yah.

Tapi, kan, selalu ada sudut pandang baru, yang bisa ditulis, tentang keseharian senja. Jika beberapa rentang waktu yang lalu, saya menuliskan senja dari kacamata bola mata seorang wanita, yang memantulkan senja memerah padam. Dan, jika beberapa jedaan waktu di masa silam, saya menuliskan senja yang mencahayai pipi syahdu seorang gadis terduduk di atas batu dekat pohon kelapa ketika daun di atasnya melambai-lambai dan ombak membela-belai.

Kali ini, saya menulis senja dari sudut pandang berbeda. Ngomong-ngomong, masih penting banget ya si senja ini ditulis. Memangnya, apa untungnya menulis soal senja ini. Dibayar juga tidak oleh senja. Ah, tapi, ya sudahlah yah. Hitung-hitung mempromosikan senja.

Kembali ke pertanyaann di atas. Siapa yang suka senja? Kenapa?

Kalau saya, kenapa suka senja? Karena eh karena, senja itu GRATIS!

Sekian.

Lhaaa?!

20160217_181337

Siap-siap dapet senja bagus.

20160217_182450_Richtone(HDR)

Siapkan kameranya.

20160217_182532

Ada bulan segala.

20160217_183021

Sempurna!

“sonofmountmalang”

Note:

Anjing merupakan ungkapan baru untuk sesuatu yang beyond keren! :))

Dongeng (39) Halimah dan Goa Gawir

          “Masih ingat Halimah kan? Perempuan penyembah hujan? Anak Pak Endang. Gadis tomboy, liar dengan kulit seputih kabut pagi di atas situ tengah hutan. Badannya lebih bongsor dari gadis seumurannya. Payudara lebih besar dari gadis seumurannya. Gaulnya pun lebih sering dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan di kaki Gunung Malang. Ia sama-sama suka bermain layangan, suka bermain bola dan permainan anak laki-laki lainnya.”

Aku memulai sebuah dongeng lagi. Dongeng sebelum tidur. Dongeng tentang kehidupan di kaki Gunung Malang.

         “Kali ini aku kasih judul Halimah dan Goa Gawir.”

         “Apa tuh Goa Gawir?” tanya Tala.

         “Dengarkan saja dongengnya.”

         “Owww! Okehlah.”

Halimah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan, satu-satunya sahabat perempuan yang bisa diajak bermain dan melakukan apa saja. Salah satunya adalah membuat goa di gawir. Gawir merupakan tebing yang tidak terlalu tinggi. Hanya mencapai tujuh lima sampai tujuh meteran. Gawir biasanya menjadi tebing pembatas antara persawahan dan perkebunan. Di gawir itulah aku dan Halimah, juga sahabat lainnya membuat goa.

Sebetulnya, jangan membayangkan goa-goa besar seperti kehidupan di jaman manusia goa. Goa yang dibuat hanyalah muat maksimal untuk tiga orang. Tiga orang anak kecil tentunya. Tinggi goa sekitar 70 cm dan dalamnya juga paling sekitar 50 cm dan lebar goa bisa mencapai 100 cm.

Sebelum membuat goa di gawir, pastikan dulu tanah gawir tersebut tidak rentan longsor. Tanahnya harus berupa tanah padat. Entah tanah merah atau tahan putih. Yang jelas bukan tanah gembur. Tapi bukan juga cadas. Kalau cadas, bisa setengah mampus membuat goanya.

Sebisa mungkin juga, gawirnya menghadap ke pemandangan lepas. Supaya bisa mendapatkan udara yang cukup, juga pemandangan yang bagus. Biasanya sih, pemandangannya langsung ke persawahan dan di bawah gawir pasti ada selokan mengalirkan air jernih.

Setelah menemukan lokasi yang bagus, maka langkah pertama adalah membuat undakan dari bawah hingga mencapai titik gawir di mana aku dan lainnya akan menggali tanah di gawir untuk dibuatkan goa. Untuk membuat goa di gawir membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi, tidak bisa sehari jadi. Soalnya alatnya juga sederhana, yaitu cuma sekop kecil, cangkul dan perlengkapan sederhana lainnya untuk menggali tanah.

Halimah, satu-satunya anak perempuan yang ikut proses dari awal hingga terbentuk yang namanya goa di gawir. Ia ikut naik ke undakan, ikut menggali pelan-pelan. Pelan-pelan, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan sampai galian di gawir membentuk goa yang diinginkan pun jadi.

Kalau sudah jadi, aku dan yang lainnya membuat tungku dari batu. Tapi, ada juga sih goa yang tidak ada tungkunya. Difungsikan sebagai tempat bermain saja. Tempat membaca buku, tempat ngobrol dan tempat santai-santai bareng teman. Kalau ada tungkunya, sekalian bisa untuk masak-masakan. Dan siap-siap goanya bau asap.

        “Trus? Kamu dah Halimah ngapain di goa gawir itu?” Tala menyelak dongengku.

       “Ya, rebahan sambil ngobrol. Baca buku. Makan rame-rame juga sama teman di goa gawir sebelah.”

        “Yakin?”

        “Iyalah! Tapi, nanti, akan ada cerita soal Halimah yang bikin kaget sekampung!”

        “Kalian ML ya?”

        “Bukan! Bukan itu! Nanti saja ya. Kan ini ceritanya soal goa gawir.”

Tren goa gawir tidak berlangsung lama. Soalnya, akan selalu ada tren membuat tempat bermain dengan gaya baru di kaki Gunung Malang. Goa Gawir salah satunya. Lainnya lagi, ada tren membuat rumah pohon di pinggir sungai.

Itu, aku ceritain lain malam saja ya.

Sekarang, saatnya tidur.

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Dari Jakarta Kembali ke Jakarta!

_MG_6039

Mau pesta duren. Jangan lupa abis itu makan sate kambing dan minumnya bir!

Kenapa, ketika berada di tempat baru, kita selalu bilang,

“Enak ya tinggal di sini!”

“Enak ya tinggal di pesisir pantai!”

“Enak ya tinggal di pegunungan!”

“Enak ya tinggal di tempat dingin!”

“Enak ya tinggal di pulau terpencil!”

Apalagi coba. Yang pernah ke Iceland, pasti bilang, “Enak ya tinggal di Iceland!” atau yang pernah ke tempat baru, pasti pernah terbersit kalimat itu.

Seperti kata pepatah dari monyet yang bergelantungan di pohon, sesuatu yang indah atau pun enak itu bisa kita nikmati ketika hanya sesaat saja. Bener juga tuh monyet. Nonton kembang api juga bosen kalau kelamaan. Orgasme juga bosen dan cape kalau kelamaan. Coba saja orgame seharian non stop atau nonton kembang api semalam suntuk. Ledeh deh tuh mata.

Makanya, saya percaya pepatah monyet. Sesuatu yang indah itu memang sewajibnya hanya bersifat sementara, supaya kita selalu merindukan momen itu lagi. Sama halnya juga bepergian ke tempat –tempat baru, sudah selayaknya kita hanya diperkenankan mampir sejenak saja, lalu pergi dan kelak, jika alam semesta mengizinkan, kita akan kembali menikmati pemandangan yang kita rindukan. Entah pantai, entah gunung, entah desa atau pun kota.

Begitu pun kemampiran saya di Lampung. Bersifat sementara. Untuk bisa menikmatinya lagi dengan antusiasme yang sama kelak, kini saya harus merelakannya pergi, segera meninggalkannya. Jika ada waktunya, saya akan kembali.

Jadi, marilah kita pulang ke Jakarta.

Sebelum mampir ke toko oleh oleh YEN YEN, kita makan dulu di rumah makan murah meriah. Makan kenyang berempat cuma bayar 175 ribu!

Pulang ke Jakarta, di sepanjang jalanan, bagi yang doyan durian, bisa berhenti kapan saja, sebab segala ukuran dan harga durian memancing pemangsanya di setiap tenda-tenda durian pinggir kanan kiri jalan.

Doa saya, SEMOGA KETIGA TEMAN SAYA NGGAK TERGODA MAKAN DURIAN!

Namun, semesta berkata lain. Mereka tergoda juga makan durian. Bangke! Alamat bau durian dah. Tapi, beruntung, niat mereka membeli durian untuk dibawa ke Jakarta tidak jadi. Mereka makan di tempat sampai pada keliyengan. Tinggal minum bir aja tuh sama ditutup makan sate kambing.

Tiwaaasss!

Dan benar saja kan, sepanjang perjalanan, setiap kali sendawa, mobil pun dipenuhi BAU NAPAS DURIAN. Hoeeeeeks! Ampun dah ah! Nasib nggak doyan durian ya, disiksa bau durian aja rasanya udah kesel bingits!

Untuk meredam bau napas durian, saya ajak mereka ngopi. Tentu saja ngopi di tempat heits Lampung. Eh, susah ya nyari kedai kopi di Lampung. Datang ke dua tempat yang rekomen dari blogger banget, dua-duanya tutup. Lhaaa!? Gimana ceritanya ini, Lampung sebagai daerah terkenal penghasil kopi Robusta namun jarang banget ada kedai kopi, nggak kaya ke Pematang Siantar atau Aceh yah.

Karena kecewa sudah macet-macetan di Lampung demi menikmati kopi kedai kopi yang ternyata tutup, akhirnya kami memutuskan ambil jalan Trans Sumatra dan melesat menuju Bakauheni.

Mobil melaju dengan kecepatan tak terkira, menyalip truk, menyalip kontainer, menyalip bis, menyalip motor, menyalip penjual duren yang selalu ada lagi dan ada lagi, menyalip rumah, menyalip ratusan pohon, menyalip sepeda, warung dan orang-orang, lobang dihajar, tikungan ngepot, turunan digeber, tanjakkan digas abis-abisan sampai mentok, jalan lurus koprol-koprol dan akhirnya mendarat di kapal juga.

Kapal melaju dari Bakauheni menuju Jakarta. Kita pulang dengan aman, dengan perut kenyang dan pikiran senang.

Dan, ada cerita yang bisa diceritakan di blog dan untuk anak cucu kita kelak.

Sampai ketemu di KABUR DARI JAKARTA berikutnya!

Cau!

 

_MG_6037

Isi bensin di RM Ika. Enak dan murah.

_MG_6033

Ikan apaan ya lupa ini. Kayanya sih baronang ya. Atau kue. Sejenis dua itu.

_MG_6035

Nunggu makanan komplit. Abis itu kita gerak ala Piranha.

_MG_6042

Lanjut pada makan durian. Eeeeewww!

_MG_6045

Nih orang Jepang nih aneh juga ya, dia doyan makan duren.

20160207_182336

Goodnight. Have some rest!

“sonofmountmalang”