Kabur dari Jakarta; Episode Kekebutan Bakauheni – Pantai Klara

20160206_142905

Satu-satunya perahu di Pantai Klara yang mau kita bawa kabur, tapi pemiliknya langsung mengejar kami. Haks!

Setelah Episode Insiden Merak, kapal pun akhirnya berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluhan. Hujan mengguyur pelabuhan. Cukup deras.
Mobil ngebut kesetanan di tengah guyuran hujan. Menyalip truk, menyalip bis, menyalip kontainer, menyalip mobil, menyalip motor dan angin pun disalip. Meliuk kanan, meliuk kiri. Guling-guling. Jungkir balik. Nyetir mobil kok kaya mainan di atas kasur.
Tiga jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Dermaga Ketapang. Tapi, kami tidak masuk ke dermaga, kami melanjutkan ke Pantai Klara. Dermaga Ketapang terlihat ramai, penuh dan umpel-umpelan parkirnya.
Karena GO SHOW dan asal jalan saja, jadi pas di Pantai Klara nemu kapal kosong. Pas naik ke kapal, eh pemiliknya teriak-teriak panik. Kirain nggak ada pemiliknya. Ya udah, sekalian aja nanya harga nyeberang ke Pahawang.
            “Mau pakai perahu ini, pak.”
            “Mau ke mana?”
            “Keliling pulau, pak.” Padahal jam sudah menunjukkan setengah empat sore.
            “500 ribu ya.” kata si bapak pede banget.
            “Kita mau keliling pulau, kemping di Pulau Kelagian, terus besoknya minta dijemput lagi.”
            “Oh, 500 ribu nggak bisa.”
            “Ya, udah berapa? Uang nggak masalah, pak. Kami orang kaya.” Hahahaha! EEK!
            “900 ribu.”
            “Yakin, pak? Segitu doank?”
            “Iya, nggak bisa kurang.”
            “Kalau beli perahunya aja berapa pak?”
            “25 jutaan.”
            “Okeh! Saya sewa aja.”
Akhirnya, kami berempat sewa perahu PAK AGUS, begitu namanya pas saya kenalan.
Sebelum semua barang masuk perahu, Pak Agus bilang, mobil jangan diparkir di Pantai Klara. Soalnya nggak ada yang jaga. Mobil ditaroh di halaman rumahnya, yang lokasinya di Dermaga Ketapang.
Tidak lama kemudian terjadi kehebohan. Setelah mobilnya dibawa ke halaman rumah Pak Agus, mobilnya nggak sengaja kekunci dari dalam. Hahahahah! Gilak! Bijimana bisa, mobil jaman gini kekunci dari dalam. Mobil yang aneh.
Sibuk nelepon bengkel, eh pada jauh yah. Sekitar 30 KM-an dan ya udahlah, pikirin besok aja itu mobilnya. Sementara kita peperahuan di pulau dulu. Pas mau naik perahu, baru ingat nggak bawa alat snorkeling. Pas mau sewa alatnya, eh sudah habissssss. Hahahhaha! Eeklah! Terus kita ini kaya Deni Manusia Ikan. Nyelam bebas. Ya kelessss! Kita bisa.
Ya udah, namanya juga go show. Liat nanti saja gimana jadinya. Yang penting sampai dulu ke tujuan. Perkara di tujuan mau ngapain, itu urusan belakangan. Seru kannn!??!!
Let’s GOH kita ke Pahawang!
Ayo, pak AGUS! Genjot perahunyaaaa! Jangan kasih ampuunnn!
20160206_142925

Menatap masa depan, CEKREK!

20160206_142942

Menatap masa suram, CEKREK!

_MG_5734

Ini lho ketiga teman GO SHOW saya. Yang depan itu emak-emak aslinya. Yang di tengah itu Matsuke Sinaga asli kelahiran Tokyo. Bahasa Indonesianya masih terbata-bata. Yang di belakang itu KOMIKUS yang gagal nyaingin Raditya Dika.

_MG_5735

Berasa naik kapal Titanic nggak sihhhh! Tinggal nunggu Rose aja. Berhubung batangan semua, kecuali emak-emak itu, ya gagal Titanicanlah.

_MG_5738

Backpacker bener gayanya!

_MG_5744

Itu pulaunya sudah kelihatan. Siap-siap! Siapkan peralatan snorkeling! Lhaaa! Pan nggak bawaaa!

_MG_5745

Gilak nih emak emak satu ini, berani lho dia berdiri di anjungan kapal. Padahal Pak Agus ngebut banget.

_MG_5806

Kayanya mereka pacaran ya.

_MG_5810

Iklan Emeron banget nggak sihhhhh!

_MG_6025

Bosen nih di laut ga sampe-sampe!

_MG_6029

Yes! Udah mau sampai di Pulau Pahawang.

Note:

  1. Kalau mau ke Pahawang, sewa kapal di Dermaga Ketapang
  2. Kalau bisa nawar, ya tawar
  3. Kalau kasihan, nggak usah nawar
  4. Jangan lupa sewa alat snorkeling
  5. Jangan lupa bawa cemilan
  6. Jangan lupa bawa minuman
  7. Jangan lupa booking kapal jauh-jauh hari, kecuali punya kapal sendiri

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Episode Insiden Merak

 

20160206_035405_LLS

Kapal ini berlabuh di dermaga empat dan hanya loading saja, sementara orang-orang nunggu satu jam demi naik kapal ini. Ternyata, PHP nggak cuma kamu ya, kapal juga ikutan PHP-in aku berkali-kali.

Kabur dari rutinitas macam Jakarta memang impian setiap para budak-budak berdasi dan budak-budak yang lembur-lembur demi rekening di akhir bulan kembali normal. Seperti kita, saya, kamu dan kalian, yang hidup masih mengandalkan gajih! Haaaaahahahah!

Lantas, ke mana kita akan kabur?

Saya kabur ke Lampung. Modalnya tenda, segenggam uang dan keinginan besar untuk bertemu dan bermain pantai bersih.

Berangkat dari Jakarta jam sebelasan. Melaju kencang di jalan tol hingga sampai di Merak jam dua subuh. Lumayan kan, sampai jam 2 subuh. Tapi, rupanya, Pelabuhan Merak marak sekali dengan berbagai jenis kendaraan. Dan petugas bangke mengarahkan mobil ke dermaga lima.

Di dermaga lima, semua mengantri dan kapal di dermaga lima cenderung jarang. Saya mulai curiga. Sementara dermaga 1, 2, dan 3 itu kapal selalu terisi. Dan tolilnya, kami diam saja, tanpa menaruh curiga. Hanya bengong sambil mengumpat, “ITU KOK DERMAGA 1, 2 dan 3 selalu ada kapal ya!”

Dongonya juga, petugas di dermaga lima tidak bicara apa-apa. Intinya, kami rada dongo dan petugas dermaga juga sama-sama dongo. Selidik punya selidik, setelah dua kapal mampir di dermaga lima untuk LOADING doank, which is itu butuh dua jam kan untuk mereka merapat, loading dan pergi lagi. Katanya, bocoran dari petugas bengke, dermaga 5 dan 4 itu kebanyakan untuk loading dan buangan dari dermaga 1, 2 dan 3.

Apaahhhhh!?? Jadi kami nunggu dari jam 2 sampai jam lima itu sia-sia! Hahahah! Angcaattttt!

Segera mobil putar balik ke dermaga empat, kebetulan ada kapal lagi loading. Setelah ngantri, rupanya kapal juga cuma loading. Bangkeeee! Itu sudah jam 6 pagi. Mau pindah dermaga, sudah tidak bisa. Di belakang sudah penuh. Setengah jam kemudian datang kapal, sementara di dermaga 1, 2 dan 3 itu kapalnya terus jalan. Lhaaaa??! Kenapa nggak pindah dari subuh ke dermaga 1, 2 dan 3. Ya meneketeheeee kalau dermaga 4 dan 5 itu kebanyakan untuk loadinggggg!

Setelah menunggu, akhirnya jalan juga menuju kapal. Tahunya, teman saya membuang karcis. Hahhahahah! Ditahan dong ya sama petugas. Karena ditahan sekitar lima menit, ketika disuruh masuk kapal, eh kapalnya penuh. Hahahhaha! Taeeeeee!

Keluar mobil, nonton orang mancing, narik napas panjang. Dan pindah ke dermaga 3. Langsung masuk kapal. Jalan jam 7 pagi. Hahhaha! Tai kucing banget kan tuh. Hahahhaha! Antara kesal, bangke-bangkein petugas dan segala jenis makian keluar, akhirnya, kapal pun berlayar, membelah laut, memecah gelombang-gelombang ringan di saat matahari di balik awan menerangi lautan lepas.

Selamat tinggal Jakarta, untuk sementara!

20160206_055930_Richtone(HDR)

Menunggu kapal dari gelap gulita hingga cahaya dari timur merekah. Ini seperti menanti janjimu yang akan datang ke dermaga, hingga tua, tak kunjung juga datang. Kamu mungkin ditelan lautan!

20160206_065325_Richtone(HDR)

Kapal dari dermaga lain datang dan pergi. Tidak pernah sepi. Dermaga empat dan lima emang bangke adanya. Janganlah kalian ke dermaga itu. Maklum, saya pemula kalau soal kapal-kapalan dan dermaga-dermagaan.

20160206_065314_Richtone(HDR)

Kapal lainnya pun datang dan pergi, tapi di dermaga lain. Nangis sambil ngunyah besi di dermaga empat.

20160206_065133_Richtone(HDR)

Mau ngejar kapal ini pun tidak sempat. Keburu penuh. Padahal udah siaangg. Apa kabar ini?!!

20160206_070130_Richtone(HDR)

Akhirnya nonton AKAMSI mancing ikan di dermaga 4! Kasihan tuh nasib ikan. Harusnya hidup di laut, tiba-tiba kejebak kail dan mati di darat. Kasian banget hidupnya yah.

20160206_075848

Akhirnyaaaaaaaaaaa! Bye bye Jakartaaaaa!

20160207_173943

Sementara, narsis dan eksis demi kalau kita sudah kabur dari Jakarta!

 

 

 

“sonfomountmalang”

Kamu suka main apa?

_MG_5647

Garis start. Airnya bersih. Dingin. Untunglah ada ban yang bisa dipegang-pegang. Maksuuudddd!?

Pasti di dunia ini ada aja yang suka main cewek. Main motor. Main cowok. Main burung. Main gilak. Main cinta. Main mata. Main tangan. Main kaki. Main bola. Main bulu tangkis. Main komputer. Main pasir. Main tanah. Main duit. Main teman. Main sepeda. Main bulu. Main ketek. Main cinta-cintaan. Main ranjang-ranjangan. Main dokter-dokteran. Main suster-susteran. Main barbie. Main boneka. Main handphone. Main perasaan. Main api. Main asmara.

Dan main apa lagi coba yang pernah kalian lakukan?

Kalau saya, main air aja cukup. Main air di sungai dingin berarus lumayan deras, di tengah hutan, berbatu-batu dan kebanting sana kebanting sini di atas ban selama 45 menit, di Kadudampit – Sukabumi. Tentu saja sambil jejeritan bikin monyet-monyet kabur ke tengah hutan.

Inilah salah satu kegiatan yang bisa kalian nikmati saat kemping di Tanakita. Setelah 45 menit main air di sungai, kegiatan akan berakhir di tempat kemping sisi sungai. Di sana bisa langsung menyantap pisang goreng, teh manis, kopi dan cemilan lainnya yang bikin tenaga kembali pulih.

Gimana? Mau main air apa main perasaan? Eaaaa!

20160131_094704

Briefing dari Kang Rahmat. Supaya tidak terjadi apa-apa nanti di sungai. Kalau nggak kuat, lambaikan tangan dan tim penyelamat siap mengangkat kalian dari sungai untuk kemudian dilempar ke hutan. Bhhhayyyyyy!

_MG_5633

Kaya donut raksasa ya. Jangan pengen ngegraus nih ban. Abis laper sih! Dua menit kemudian si amangnya lari ketakutan saya gigit.

_MG_5639

Tracking dari Tanakita ke garis start sekitar 20 menitan. Along the way, nonstop narsis! Yah, namanya juga bangsa narsis yah. Haaaaaa!

_MG_5654

Jembatan kayu nan rapuh. Macam hubungan kitalah neng. Jadi kudu hati-hati melangkah dan tetap saling berpegangan tangan. Kesempataannnnn!

_MG_5645

Pengen deh naroh paralon terus ngalirin air ini ke rumah. Pake paralon wavin. Iklan dulu ya!

_MG_5692

Selain track sungai, ada juga track di jalan setapak, sekitar 10 meteran di atas sungai. Semacam jurang yang kalau jatuh bisa bikin nyawa terbang-terbang di udara lepas. Alias mati seketika kepala beradu dengan batu sebesar ego kita.

20160131_100842_Richtone(HDR)

Coba ya, kembalikan kearifan lokal. Itu para gadis coba jangan mandi di kamar mandi lagi. Kembalilah mandi di alam bebas. Lebih natural, lebih seru dan lebih menantang. *kemudian para laki hidung belang mengintip di balik semak*

_MG_5638

Karena ini hutan lindung nan liar, jadi masih banyak buah-buahan hutan alami dan bisa kita temukan di jalan setapak. Ini salah satunya, BUAH SANINTEN. Kalau dalam bahasa Sundanya itu adalah  CHESNUTS.

_MG_5694

Selain buah-buahan yang asing di mata, juga ada pohon kopi tuh. Duh! Jadi pengen ngopi di tengah hutan yah.

_MG_5662

Keseruan pun dimulai. Cewek cewek lebay mulai jerit-jerit. Kaya liat setan aja gitu yah.

_MG_5672

Wah! Ada korban nih. Hanyut.

_MG_5682

Di tengah jalan, semua istirahat dan dikasih kopi. Begh! Manja bener yah.

_MG_5699

Di garis finish, sudah disediakan cemilan hangat.

 

_MG_5649

Sebagai penutup, marilah kita main air sambil main pacar dan main cinta-cintaan di sungai yang dingin, sepi dan hanya hutan menjadi saksi kita mau main apalagi selanjutanya.

“sonofmountmalang”

Tanah siapa? Tanakita!

_MG_5447

Lokasi kemping sisi hutan. Terlindung dari udara langsung karena pohon damarnya tinggi-tinggi. Mungkin ini yang menyebabkan udara di tempat kemping sisi hutan ini tidak sedingin hubungan kita. Eaaaa!

Blogger sejati macam kalian, pasti sudah pernah kemping di Tanakita. Saya saja mungkin yang telat. Maklum kan blogger jejadian. Sebenarnya juga, hampir semua blogger sudah menulis ulasan soal kemping di Tanakita. Jadinya saya bingung sih mau ngulas apalagi. Semua sudah ada. Foto-foto aja deh ya. Biarkan visual yang bicara.

Padahal ya, kalau dipikir-pikir, ngulas sebuah tempat di blog secara cuma-cuma itu cuma demi eksistensi di dunia per-blog-an. Nggak dibayar. Malah kita bayar. Ehhhhh! Ada juga sih blogger bayaran. Tenang…! Weee!

Tapi, nggak apalah, demi eksistensi, mari kita nulis ulasan singkat. Boleh yaaaa!

Jadi, gimana kemping ala ala di Tanakita? Enak. Seru. Kenyang. Krunya sigap-sigap. Ramah. Kamar mandi banyak dan bersih. Cuma satu yang kurang, menurut saya, yaitu kurang dingin. Nggak sedingin di Cibodas. Mungkin posisi tempat kempingnya terlindungi pohon-pohon dan berada di sisi hutan, jadi tidak terkena angin lepas.

Sama satu lagi, kalau berminat kemping di Tanakita, pesanlah yang di RIVER SIDE aka pinggir sungai. Saya tidak tahu kalau ada lokasi di pinggir sungai. Lebih seru dan enak pastinya.

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan saat kemping di Tanakita.

  1. Bisa tracking ke hutan
  2. Bisa tracking ke Situ Gunung
  3. Bisa tracking ke Curug Sawer
  4. Bisa River Tubing
  5. Bisa bakar kambing atau ayam
  6. Joget suka suka melingkari api unggun malam-malam diiringi musisi dari Tanakita
  7. Bisa hunting kunang-kunang kalau malam
  8. Bisa bercinta kalau ada pasangan
  9. Bisa ngayal jorok kalau ngga ada pasangan
  10. Bisa maen bola sambil hujan-hujanan di lapangan
  11. Bisa berendem di kali sampai biji mengkerut
  12. Bisa jalan-jalan nyusurin sungai
  13. Bisa ngapain aja sukanya kamu

 Sekianlah. Mendingan liat foto aja lebih seru. Weeeehhh!

_MG_5492

Pemandangan kota Sukabumi dari tempat ngopi. Sepi. Sendiri, kemudian horny. Cabul yak!

20160130_175959

Kalau hujan, enaknya nongkrong di depan tenda sambil ngemil pisang goreng. Sama kamulah.

20160131_124635

Glamping sih, cuma jangan bayangin hotel bintang TIGA yaaaa! Yang penting cinta ya neng sama abang, itu udah cukup. Kasur busa berasa kasur berlapis permadani dari Turki.

_MG_5434

Hujan, pada masuk tenda semuanya.Ngewi kayanya nih mereka. *ga jauh jauh ya otaknya*

_MG_5459

Sore berkabut, tapi tetep nggak sedingin hati saya. Haaaaa!

_MG_5446

Enaknya berpelukaannnnn! Sama siapa aja suka suka kamu. *meluk pohon sambil bilang sayang*

_MG_5456

Ngobrol di pojokan sambil ngeteh-ngeteh lucu. Kaya kamu…!

20160130_174452_Richtone(HDR)

Gosipin kamu yang nggak ikutan kemping gara-gara nggak diajak. Lhaaa!

_MG_5460

Pohon Kalindra berbunga-bunga, kaya kamu….! Iya, kamu, yang senyum-senyum kaya orang gilak!

_MG_5512

Di mana ada makanan, di situlah kita berkumpul. Ya, seperti hati kita, berkumpul berduaan. Cahhh elahh!

_MG_5496

Pada di tenda semua nih. Asik bercinta kayanya.

_MG_5452

Stock kayu bakar lumayan banyak. Untuk membakar asmara kita, neng. Haiishhh!

_MG_5505

Ngangetin perasaan yang beku, di sini tempatnya. Yuk!

_MG_5445

Air panas, kopi dan teh 24 jam selalu tersedia. Kaya aku ke kamu gitu lah, bunda…! Hanjriing! *Pacaran ABG jaman sekarang kan manggilnya bunda*

20160131_075523_Richtone(HDR)

Selalu bawa peralatan kopi sendiri itu menunjukkan jati diri kita siapa. Hahahah! Lebay angcattt!

_MG_5697

Jangan lupa ya, pilih tempat kemping di samping sungai. Biar kalau patah hati, bisa langsung nyeburin diri ke sini.

_MG_5703

Itu si amang amang yang pakai pelampung lagi siap-siap nyegat hati yang terbawa arus. Haaahahahha. Taeklah!

_MG_5708

Niat hati ngintip gadis mandi, sampe lumutan juga nggak ada. Pada kemana gadis desa sekarang yaaaa. *kemudian lunglai, ngintip monyet mandi*

_MG_5719

Kebayang nggak, kemping cuma berduaan di sini, tapi sama sama laki dua-duanya. Brokeback River lah kejadiannya.

 

“sonofmountmalng”

 

Emangnya situ siapa?!! Situ Gununglah!

_MG_5514

Subuh-subuh, langitnya cerah. Lensa Canon 10-22mm.

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan Indonesia banget. Jadi, marilah kita kenalan dengan salah satu situ di Sukabumi, Situ Gunung.
Menurut legenda yang diceritakan ulang Mang Ujang, nama Situ Gunung itu berasal dari perdebatan dua orang pencari kayu kabar. Dua pencari kayu bakar itu bernama Mang Situ dan Mang Gunung. Mereka berasal dari beda kampung dan tidak saling kenal. Ketika mereka sedang mencari kayu bakar, tiba-tiba ada harimau mengaum di dekat mereka. Sontak saja, mereka meninggalkan kayu bakar dan lari sekencang mungkin menuruni hutan. Sampai akhirnya mereka tiba di danau kecil. Mereka menyeburkan diri dengan harapan harimau yang mengejar itu tidak berani masuk ke danau.
Ketika mereka menyeburkan diri ke danau, rupanya danau tersebut cukup dalam dan airnya dingin, namun mereka harus bertahan dari serangan harimau. Melihat dua manusia berada di danau, harimau itu pun balik lagi ke hutan. Setelah beberapa jam dan yakin harimau tidak ada di sekitar, mereka barulah bisa saling menyapa.
            “Situ siapa?” tanya pencari kayu bakar satunya.
            “Gunung!” jawab pencari kayu bakar satunya.
            “Situ siapa?” tanya pencari kayu bakar yang namanya Gunung.
            “Situ!” jawab pencari kayu bakar.
            “Ahaaaa!” teriak Mang Gunung, “Bagaimana kalau danau yang nyelamatin kita dari serangan harimau ini, kita kasih nama dari nama kita.”
            “Ahaaa! Ide bagus tuh!” jawab Mang Situ, “Kita kasih nama danau ini SITU GUNUNG!”
            “Situ apa?!!!”
            “SITU GUNUNG!”
Tersebarlah berita soal dua pencari kayu bakar yang dikejar harimau dan berhasil diselamatkan oleh danau yang sudah mereka beri nama “SITU GUNUNG.” Kabar tersebut menjadi viral dan orang-orang penasaran dengan keberadaan Situ Gunung. Semenjak kejadian itu, Situ Gunung pun menjadi ramai dikunjungi orang, untuk piknik, kemping dan menjadi tempat wisata.
Begitulah legenda Situ Gunung yang ngaco dari Mang Ujang, seseorang yang saya ajak bicara pada jam 5 pagi di perjalanan menuju Situ Gunung untuk menunggu sunrise dan ketika sampai di situ, Mang Ujang mendadak hilang di balik pohon.
Itu Mang Ujang jelmaan siapa yah. Haaaaaa! #SIGARINGANYING!
Situ Gunung masih gelap gulita. Langit masih biru. Bulan masih terang. Kabut masih berselimut. Gunung membiru sudah tampak. Ketika pagi menyapa, mendadak saja langit memutih, matahari sembunyi, kabut kabur dan Situ Gunung pun terlihat jadi biasa saja. Tidak ada cahaya ilahi yang menembus celah-celah daun penuh kabut. Tidak juga pohon-pohon terselubungi kabut tebal. Semua pemandangan terlihat blak-blakan. Apa adanya. Situ yang dangkal karena kemarau panjang. Dan, seperti biasa, Indonesia pada umumnya, sampah plastik nyangkut di sudut-sudut situ.
Inilah Situ Gunung. Situ di kaki Gunung Gede – Pangrango, berlokasi di Cisaat, Kadudampit, Sukabumi – Jawa Barat. Situ yang dibangun oleh, menurut legenda, bangsawan Mataram, Rangga Jagad Syahadana atau Mbah Jalun (1770-1841). Buronan penjajah yang akhirnya menetap di kawasan Kasultanan Banten, tepatnya di kaki Gunung Gede-Pangrango. Si Mbah kewong sama gadis Kuningan-Cirebon dan punya anak bernama Rangga Jaka Lulunta. Karena bangganya punya anak laki, ia pun membuat Situ Gunung dengan bantuan jin. Lhaaa?! Kaya cerita Sangkuriang. Ya, itu yang terakhir saya ngarang sih.
Catatan: Jangan percaya tukang foto, mereka mengambil sudut yang bagus, momen yang bagus, lensa yang bagus dan sotosop yang bagus. Haks! Haks!
Jadi, kuis tebak situ nggak ada yang bener yak. Weeee!
20160131_060450

Yang ini pakai Samsung K Zoom.

_MG_5519

Masih gelap.

_MG_5548

Terangnya langsung berawan.

_MG_5549

Masih lumayan.

_MG_5555

Makin abu-abu langitnya.

_MG_5570

Hopeless dapet pemandangan drama koreanya.

_MG_5573

Foto-foto apa adanya aja yah.

_MG_5578

Rakitnya nganggur tuh, kaya kamu.

 

“sonofmountmalang”

emangnya situ siapa?!!

_MG_5533
Siapa yang bisa nebak, kira-kira ini tempat apaan yah?
A. Tempat ikan berenang
B. Tempat orang memancing
C. Tempat gadis desa mandi
D. Tempat ABG pacaran
E. Tempat semedi

Clue-nya, tempat ini ada di kaki gunung. Ada perahu. Ada banyak pohon. Ada pulau kecil di tengahnya. Kalau sedang beruntung, ada cahaya matahari pagi menembus kabut-kabut di balik daun-daun, sehingga bisa melihat cahaya ilahi di pagi hari. Ada banyak suara burung. Dari kejauhan bisa mendengar suara OWA. Kalau lagi beruntung juga, bisa melihat lutung dan rombongan monyet bergelantungan pagi-pagi dari satu pohon ke pohon lainnya. Udaranya sejuk dan wangi hutan masih terasa di perjalanan pagi menuju tempat ini.

Posisinya ada di Jawa Barat. Clue-nya makin jelas aja. Ini bukan clue ya, ini ngasih tahu. Tapi nggak apa-apalah. Supaya gampang nebaknya.

Nah, kalau sudah baca Clue-nya, silakan tebak. Saya ada sesuatu hadiah. Entah apa hadiahnya. Pokoknya ada lah.

Kalau sudah ketebak, saya akan posting kemping di hutan ala-ala.

*penting banget nih info*

Haks!

Note: Clue tambahan, jawabannya sih nggak ada di opsi itu:P

“sonofmountmalang”

Apa narkobamu sekarang?

20160119_093631-01

Resep Kopi Enak Gilak: Kopi Kolombia dibekuin selama 24 jam. Setelah dibekuin, dikeluarin dan dikasih susu kental manis sesuai selera. Biarkan susu mengalir ke sela-sela kopi dan menyatu. Setelah menyatu, kocok sampai berbuih dan minum sambil santai mendengarkan musik kesukaan. Kalau bisa, dinikmati di atas gunung atau pun di tepi pantai. Haaaahahaha! Mau?

Pernah mendengar Narkoba Digital dalam bentuk musik yang ada di Apps bernama I-Doser dan sempat heboh di sosial media. Tapi emang ya, sosial media kita ini, orang beol di jalan aja bisa jadi heboh. Apa saja bisa heboh. Bener kan?

Kembali ke Narkoba. Menurut para pakar yang mendalami kesotoyan, narkoba yang beredar dikonsumsi tidak hanya dalam bentuk obat-obatan. Semisal itu tadi, Narkoba Digital. Narkoba Digital dibagi-bagi lagi. Ada yang larinya ke Games Online, ke Path, ke Youtube, WhatApps dan banyak lagi Narkoba Digital lainnya, yang katanya, menurut pakar kesotoyan ini, Narkoba Digital lebih berbahaya dan eksistensinya tidak bisa ditolak atau pun dipidanakan.

Ada lagi narkoba yang sudah menjelma dalam bentuk kopi. Bukan kopi ganja lho ya, yang kaya di Aceh atau pun Dodol Ganja yang bikin kepala keliyengan terus seru sendiri. Ini kopi. Murni kopi. Kopi yang sudah menjadi narkoba dan tidak lepas dari ngopi sehari pun!

Rasanya, dunia hampa kalau tidak ngopi sehari. Gelisah. Resah. Seolah dunia mau kiamat. Apa pun dilakukan demi menikmati secangkir kopi. Sampai bela-belain jalan kaki untuk membeli kopi, bela-belain panggil panggil GOJEK dan kerja jadi nggak bisa konsen. Tangan ngetik, tapi otak isinya kopi, kopi, kopi dan kopi. Kecanduan yang sudah parah. Sama kaya orang kehabisan stock sabu sabu dan barang sejenisnya, yang lebih elit efeknya. Halah! Elit! Preett!

Selain kopi, selain narkoba digital itu tadi, selain agama, yang konon lho ya, bisa bikin mabuk kepayang juga dan membuat orang lupa daratan, selain minuman penuh alkohol, selain nonton bokep, selain TRAVELING, selain belanja, narkoba dalam bentuk apa yang kini sedang menghantui kalian?

Kalau saya, lebih baik putus cinta semiliar kali daripada nggak bisa ngopi sehari!

Tsahhh! Prettt!

“sonofmountmalang”