Dongeng (33) Marasi Buah Ajaib!

Sudah lama tidak menulis Dongeng Sebelum Tidur. Sekarang, pendengar DST ada dua. Ranting dan Tala aka anak dan emak. Biasanya juga, kebanyakan, rata-rata, dongengnya belum kelar, dua-duanya udah molor duluan.

Sebelum memulai dongeng, saya memutar aura hutan hujan, kicauan burung dan gemiricik air di sungai.

      “Ranting sudah siap? Aku mau dongeng nih. Dongeng seru.”

Ranting yang belum bisa ngomong, tetapi mengerti, langsung merebahkan badanya dan tiduran di bantal.

Jaman aku kecil, Ting, kataku. Aku sering main ke hutan. Main di hutan itu seru. Aku bisa ngapain aja di hutan. Teriak-teriak. Manjat pohon. Nyari kayu bakar. Nyari rumput buat domba. Oh ya, nanti ada sesi ya serunya mencari kayu bakar di hutan. Bareng dua sahabatku. Nanti aku ceritain juga dua sahabatku itu.

Malam ini aku mau ceritain satu buah unik yang sering aku makan di hutan itu. Nama buahnya MARASI.

Kalau ke hutan, aku selalu diajarkan nenek dan kakek, katanya, jangan pernah takut kelaparan kalau tersesat di hutan. Ada air, ada daun, ada akar, ada batang dan banyak buah-buahan yang bisa dimakan. Salah satunya, ya itu, MARASI itu.

Marasi itu salah satu kategori buah ajaib yang bisa ditemuin di tengah hutan atau di sisi hutan dan di sisi sungai hutan. Nama latinnya Curculigo Latifolia. Kata nenek, kalau kurang tenaga atau haus, makan buah MARASI saja. Dijamin, katanya, badan kembali segar bertenaga dan minum air apa pun jadi MANIIIISSSSSS!

            “Kok bisa manis?” Emaknya Ranting nanya.

MARASI itu mengandung senyawa Curuculin. Semacam protein yang memiliki rasa manis. Jadi, mau minum air apa pun, rasanya akan manis. Caranya sih gampang. Cari saja pohon MARASI dengan ciri-ciri berdaun lebar, tingginya paling 30 cm – 50 cm dan buahnya ada di pangkal dahan. Kaya salak gitu tempat berbuahnya. Warna buahnya putih seukuran kacang merah paling besar. Bagian dalam buahnya ada biji-biji berwarna hitam. Ambil yang sudah matang dan kunyah. Rasanya dingin sedikit berlendir. Kunyah-kunyah sampai lunak. Kalau cuma mau merasakan sensasi minum air jadi manis, lepehin saja. Kalau untuk mengisi energi saat lelah di hutan, telan saja.

Nah, kalau sudah mengunyah buah Marasi. Cari air. Airnya bisa dicari di banyak tempat. Bisa memotong bambu air dan minum airnya. Bisa pergi ke sungai di hutan. Mencari daun yang biasa bisa menampung air atau minum air bawaan dari rumah juga bisa. Kalau mau iseng lagi, bisa juga mencari buah CANAR atau buah SUSU SAPI yang asamnya seasam buah LEMON. Rasanya dijamin jadi manis kalau sudah mengunyah buah MARASI.

            “Gimana? Seru kan? Kapan-kapan kita coba ya pas ke hutan.”

Nggak ada jawaban.

Keduanya sudah molor.

*buat yang penasaran seperti apa buah marasi, klik saja di google Curculigo Latifolia*

*marasi ini khasiatnya banyak, untuk mereka yang punya penyakit diabetes.*

*silakan browsing untuk apa saja khasiatnya*

“sonofmountmalang”

Menyerah punya anak!

Siapa di antara kalian yang sudah menikah?
Siapa di antara kalian yang baru mau menikah?
Siapa di antara kalian yang tidak akan menikah?
Siapa di antara kalian yang sudah menikah dan belum punya anak?
Siapa di antara kalian yang sudah menikah tapi tidak ingin punya anak?
Siapa di antara kalian yang sudah merasakan susahnya punya anak?
Siapa di antara kalian yang sudah menyerah untuk punya anak?
Siapa di antara kalian yang masih berjuang?
Siapa yang di antara kalian yang hanya menyerahkan dikasih Tuhan?
Cukup ya pertanyaannya. Jawabnya nanti saja di belakang.
Kali ini saya akan bercerita bagaimana perjuangan saya dan pacar yang saya nikahi ingin memiliki anak.
Ternyata, memilik anak itu, tidak semudah CROD trus tekdung. Ada yang udah ngecrod sampe tinggal angin doank, nggak jadi anak juga. Sampai dengkul koplak, nggak hamil juga. Ada juga yang lempar kolor doank ke badan cewek, langsung hamil tuh cewek. Bahkan lebih hebat lagi, baru buka celana, udah hamil aja ceweknya. Sehebat itu kaya gitu, ada kali ya. Haks!
 BABAK 1
Saya, beda lagi. Menikah tahun 2010 awal. Selama tujuh bulan sampai akhirnya hamil, perjuangan sederhana sudah saya lakukan. Makan semua makanan yang bagus untuk sperma dan sel telur. Semua buah-buahan yang digosipkan memiliki kandungan untuk kesuburan, SAYA MAKAN. Nggak ada, saya cari! Susah dicari, saya cari sampai dapat.
Apa saja itu. Salah satu yang saya ingat adalah JUS TOGE setiap pagi. Mampus nggak tuh minum jus toge. Yang minum suami istri. MANGGA AFRIKA. Mahal itu. Tapi tetap saya cari. BUNGA KURMA. Itu juga ya lumayan harganya. Soalnya harus minum setiap hari. Nah, ada lagi yang lumayan susah. KURMA MUDA. Dulu kalau nggak salah, setengah kilo hampir 150 ribuan. Itu juga dimakan setiap hari. Belum lagi rempah-rempah, jamu-jamuan dari apotek cina. Untungnya, semua terapi kesuburan itu nggak semuanya dilakukan di bulan yang sama. Terapi kesuburan ini nggak berhasil, ganti dengan metode lain. Sengaja belum ke dokter supaya biarlah usaha dulu dengan cara manual.
Akhirnya, setelah 7 bulan berjuang, eh hamil juga. Barulah ketemu dokter. Dokternya di YPK Menteng, dokter Yusfa. Nggak apa-apalah nyebut nama dokter.
Kata dokter, positif hamil. Cuma dia menambahkan, tapi kenapa dinding rahimnya nggak tebal dan belum keliatan benih yang dibuahi ada di rahim ya. Jangan-jangan ini hamil di luar rahim ya. Tapi, kita liat minggu depan ya. Dua minggu balik lagi.
Belum dua minggu, pacar saya aka istri, subuh-subuh nggak bisa bangun. Dia merasakan sakit luar biasa di perutnya. Subuh-subuh berangkat ke dokter. Dicek. Ternyata telur yang dibuahi itu berhenti di saluran TUBA FALLOPI. Salurannya pecah dan darahnya menyebar ke mana-mana. Sakitnya tak tertahankan, katanya. Dokter mencoba menyedot darah di dalam, namun darahnya sudah membeku, jadinya harus operasi. Operasi sesar maksudnya? Iya. Nggak punya anak disuruh operasi sesar. Ironi banget ya.
Sesarlah. Biayanya sama kaya sesar melahirkan. Perawatannya juga. Dan sedihnya, istri saya ditempatkan di kamar bareng dengan ibu-ibu melahirkan, yang ada tangisan bayinya. Nggak sedih gimana tuh dia. Tapi, itu semua kita lalui dengan kuat.
BABAK 2
Setelah sesar itu, kita mulai konsultasi dengan dokter. Mulai dari USG, HSG dan cek perlengkapan bagian dalam istri saya. Oh ya, catatan penting. Saluran hamil istri saya cuma satu. Yang satu sudah dipotong karena waktu hamil pertama itu pecah dan tidak bisa diapa-apain. Saluran itu, kata dokter, ukurannya rambut dilebah berapalah gitu. Sangat kecil dan halus. Untuk memastikan saluran satunya tidak ada masalah, maka diceklah dengan HSG. Kata dokter HSG, salurannya panjang ya. Hmmm…! Jadi apa pengaruhnya? Ya, telur yang dibuahi jadi lebih panjang saja perjalanannya. Kalau nggak okeh banget benihnya, bisa berhenti juga. Bahaya juga. Bisa-bisa nggak hamil selamanya kalau dua-duanya dipotong. Wew!
Setelah saluran itu dipastikan tidak ada masalah, saya berdua kembali ke dokter Yusfa. Memulai dari awal terapi hamil. Ngecek telur. Suntik telur. Mematangkan telur. Lalu kalau sudah matang telurnya, siap dibuahi dengan kata lain, GENJOOOOTTTTT!
Gagal!
Ke dokter lagi.
Cek lagi.
Disuruh genjoot lagi.
Gagal.
Terus berulang.
Akhirnya, bosan dengan dokter Yusfa dan antrinya tidak tahan, saya mencari dokter lain. Masih di YPK Menteng juga, saya ke dokter Karnadi. Ganti dokter, mulai dari awal lagi. Berhubung kebetulan dokternya sering telat dan bahkan jarang ada, akhirnya pindah lagi ke dokter Yusfa. Pas balik lagi pas istri saya telat. Pas dicek menggunakan testpack itu positif hasilnya.
Dokter Yusfa pun bilang, hamil. Yes! Hamil kedua kalinya yak. Lumayan cepat untuk ukuran satu saluran TUBA. Disuruh balik dua minggu kemudian. Pas dua minggu balik, pas dicek, kata dokternya, kok dinding rahimnya nggak tebal ya, kok nggak ada janinnya. Kata dokternya, ini sudah luruh.
Gagal maning! Gagal maning!
Kita coba lagi ya.
Tetap semangat!
Kata dokter.
Okehlah.
BABAK 3
Setelah babak dua berakhir, saya berdua memasuki babak ketiga. Babak di mana perjuangan dimulai lagi dari awal. Kembali konsultasi, minum obat, suntik dan disuruh ngecrod! Gagal. Ngecrod lagi. Gagal lagi. Ngecrod lagi. Gagal lagi. Duit terus mengalir bak paralon bocor.
Cape nih dok, saya bilang ke dia, saya mau insem aja, gimana? Kita coba ya. Insem juga nggak segampang itu. Harus dicek sperma saya. Oh, iya. Satu hal yang tidak boleh lupa. Kalau program hamil, jangan lupakan juga cek dua-duanya. Waktu itu kita terlalu fokus ke perlengkapan istri, sementara sperma nggak ke-cek. Pas dicek. Eh, info saja. Itu masturbasi termahal yang pernah saya alami. Bayangin lho, cuma dikasih DVD bokep dan setelah itu bayar sekitar 1,9 jutaan plus obat. Kata dokter spermanya bagus sih, cuma ada bakteri dan nggak bahaya, jadi harus dibenerin dulu selama sebulan plus banyak sperma yang lari di tempat dan jalan ogal-egol gitu, kaya atlet jalan cepat. Haaaahahahah! Sperma aja banyak tingkah. Ngehe lo!
Selama sebulan sperma saya ditritmen dan setelah itu cek lagi dan bayar lagi lah tentunya. Barulah insem. Insem.
Berhasil? Oh, tentu tidak. Hahhahaha!
Balik lagi ke dokter Yusfa. Saya nyerah, katanya. Saya kasih kalian ke guru saya, DOKTER KAREL di RS BUNDA. Hmmmm…! Ganti dokter artinya memulai semua proses dari awal.
BABAK 4
 Bertemulah dengan Dr. Karel Maanary di RS Bunda. Seperti dugaan kami berdua, semua memulainya dari awal lagi. Cek ini. Cek itu. Tapi untungnya, resep dari dokter Karel itu obatnya murah-murah. Dan satu hal juga, dicek perlengkapan dalam oleh dokter itu ternyata SAKIITTTTTT sampai ke ubun-ubun. Itu kata istri saya. Kebayang sih. Suara gemerincing besi-besi. Gunting-gunting. Saya sendiri ngilu dengarnya.
Setelah lulus semua tahapan selama beberapa bulan dari dokter Karel Maanary, berlanjutlah ke tahap akhirnya insem. Karena saya yang minta. Saya disuruh cek sperma di RS Abdi Waluyo dan lumayan murah juga. Singkat cerita, semua sudah oke. Sel telur oke. Sperma oke. INSEMMMMMMM!
BABAK 5
Menunggu hari demi hari hasil insem. Akhirnya sampailah hari di mana kami berdua kembali ke dokter. Senyum-senyum bahagia. Dan ketika di USG, DUG DUG DUG! Suara jantung terdengar, kata dokter. Nggak lama kemudian dia kaget, apaaaa?!! Ada dua suara detak jantung. Selamaat! Anak kamu kembaarrr! Kami bertiga berpelukan. Bahagia. Balik dua minggu lagi ya. Kata dokter.
Kabar bayi kembar saya simpan dulu. Saya tetap merahasiahkan kehamilan istri saya, kecuali ke mertua dan orang tua.
Selama dua minggu itu kami bahagia. Tralala trilili.
Pas dua minggu kembali ke dokter. USG. Cek detak jantung. Hmmm…! Dokter ngubek-ngubek segala sudut. Kok nggak ada suaranya ya. Maksudnya dok? Nggak ada detak jantungnya nih. Kemudian dokter menyalami saya lagi, maaf ya, bayinya nggak berkembang. Bungaaa kaliiiii nggak berkembang. Sudah tidak bisa bersedih lagi kayanya saya berdua. Sudah bosen bersedih.
Kata dokter, saya serahkan ke dokter Yusfa lagi ya.
Besok paginya ke dokter Yusfa. Dan positif, bayi kembar 7 minggu itu selesai sudah. Istri saya pun dikuret di YPK Menteng. Setelah dikuret, ada proses konsultasi lagi. Istri saya disuruh cek darah. Kemungkinan, katanya, jenis darah istri saya kental, jadi asupan nutrisi ke janin nggak lancar. Apalagi janinnya dua. Ohh! Oke. Cek darah. Hasilnya baik-baik saja. Jadi, apa yang salah dong ya? Semua hasilnya bagus. Hmmmm….!
BABAK 6
Saya memutuskan istirahat sebentar dari dokter. Cape juga ya empat tahun berjuang non stop. Cape keuangan, cape pikiran dan cape perasaan.
Jelang jeda istirahat ke dokter itu, mertua saya mengajak saya ketemu orang Cina di mangga besar. Di sana saya dibilangin, kalau mau punya anak, coba ramuan khasnya.
Apa itu ramuan khasnya. Ikan mas digoreng, lalu dicampur air panas, dihancurin dan disaring, kemudian airnya diminum. Minum intisari ikan mas selama 30 hari!! Rasanya trauma. Tapi demi memuaskan rasa penasaran mertua saya, tak apalah dicoba. Hasilnya, ya tidak hamil.
Nyoba ini. Nyoba itu. Terapi ini. Terapi itu. Terus berjuang ini. Berjuang itu. Jalan-jalan ke sana ke mari. Traveling biar bahagia. Hura-hura.
Eh, akhirnya setelah hampir setahun, istri saya telat. Telat, tapi kita berdua nggak seneng. Biasa saja. Soalnya sudah terbiasa ditipu kondisi dan beli segala jenis testpack, hasilnya selalu negatif. Akhirnya, penasaran juga. Beli testpack dua jenis merk yang berbeda. Hasilnya, positif. Senang? Nggak. Biasa sajalah. Takut pura-pura positif juga. Selama masa itu, kita tetap mencari dokter yang pas, yang sejodoh.
Browsing-browsing dokter. Nanya-nanya saudara. Jatuhlah pilihan ke Profesor Wachyu Hadisaputra. Mantaplah!
BABAK 7
Datang ke Profesor Wachyu dengan sejarah yang dicatat di buku. Sejarah panjang di mana air mata, suka, duka dan uang tersirat di sini.
Kata Prof. Wahyu, wah! Hebat ini. Saluran tinggal satu, hamil lumayan gampang. Kenapa nggak dari dulu ke saya. Sayang sekali ini, bayi disia-siakan.
Saya nggak bisa ngomong. Kemudian dia bilang, ini pasti ada virus. Gagal terus soalnya. Coba cek darah ke lab, katanya. Saya yakin sih ini virus.
Cek ke lab. Hasilnya langsung dibawa ke Profesor Wachyu. Pas dibaca, ternyata ya. TERNYATA YA! AUTOIMUN di salah satu virus TORCH itu tinggi banget. Jadi, efek sampingnya secara nggak langsung inilah yang membubarkan janin-janin di rahim selama ini. Kata Profesor Wachyu, ini harus segera diatasi. Kalau nggak, janin yang berumur 5 minggu itu bisa kelar juga riwayatnya kaya yang lalu-lalu.
Profesor Wachyu langsung memberikan obat untuk istri saya minum selama sebulan. Mudah-mudahan, autoimunnya normal dan bayinya selamat!
Berhasilkah dengan Profesor Wachyu??
BABAK 8

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

DAN ABRACADABRA!

virgillyan-ranting-areythuza005
Selebihnya, kalian bisa cek anaknya di sini, Virgillyan Ranting Areythuza
Jadi, gimana? Kalian masih berpikir untuk menyerah?
*Tulisan ini sengaja dibuat untuk mereka yang sedang berjuang punya anak*
“sonofmountmalang”

sore-sore manis manis santai

20150816_171617_Richtone(HDR)-01

Selain doyan jalan-jalan nggak penting, nongkrong nggak penting, bercocok tanam nggak penting, saya juga punya hobi nggak penting lainnya. Apalagi kalau bukan masaaaakkk! Haks!

Memasak itu hobi yang seru, apalagi kalau jelang sore-sore sambil nunggu burung di depan rumah nyiapin diri untuk tidur di pohon depan rumah. Lebih seru lagi sih kalau hujan. Cuma sayang ya, hujan sekarang lagi malas datang sepertinya. Jadinya ya, nikmatin sore sambil denger cuitan burung, musik santai dan makan pisang goreng ala suka-suka saya bareng teh poci dan Ranting tentunya.

Sebut saja BANANA CHOCO LAVA aka PISANG GORENG ISI COKLAT.

Mau?
20150816_174354_Richtone(HDR)

20150816_174633-01

20150816_175539

“sonofmountmalang”

samsung project (35) pacaran di sini yuk

20150812_131458_Richtone(HDR)

Tempat pacaran di sini buat abg-abg yang lagi pada diamuk birahi tinggi.

Orang pacaran atau pun orang nongkrong, jaman dulu, mungkin lebih mengesankan dan lebih menantang. Misalnya, pacaran di saung di tengah sawah. Pacaran di atas pohon dengan membangun rumah pohon. Pacaran di pinggir sungai. Pacaran di kebun teh. Pacaran di kebun jagung. Pacaran di kebun cengkeh. Pacaran di bawah pohon beringin. Pacaran di semak-semak. Pacaran di atas bukit. Pacaran di hutan. Pacaran di tepi empang. Pacaran di curug.

Orang pacaran jaman dulu lebih intim. Lebih memiliki privasi. Yang melihat pun palingan monyet, musang, ikan dan binatang-binatang lainnya.

Beda dengan jaman sekarang. Orang pacaran di tempat umum. Gelendotan. Cubit-cubitan pipi. Cium-cium pipi. Pegangan tangan. Ya ngaceng-ngaceng dikit tinggal nyari kamar.

Tapi, ada nih tempat pacaran yang enak. Tentunya sambil ngobrol santai ngopi-ngopi. Di sini nih, di woodpecker coffee. Tempatnya lucu, minimalist dan enak buat duduk-duduk sambil mencari ide untuk menulis.

Jadi, kapan nih mau nongkrong? Yuk! Ngobrol yuk! Di sini. Ngobrolin mau jalan-jalan ke mana buat bahan tulisan. Haaaa!?

Tulisan yang aneh. Hahhahaah! Yuk!

20150812_131004_Richtone(HDR)

acb4516516d41d19930ff52762972dd1

20150812_130907_Richtone(HDR)

20150812_130925_Richtone(HDR)

20150812_131113

longblack

“sonofmountmalang”

Apa Jimatmu Sekarang?

20150808_150503_Richtone(HDR)

azimat n amulet, cula, jampi, jimat, obat pekasih, obat pengasih, pacau, pelet (cak), penangkal, pencacau, pepunden, pripih, susuk, uduh

Ketika saya masih kecil. Ketika masih hidup di kaki Gunung Malang. Ketika mitos-mitos masih begitu melekat di kehidupan sehari-hari. Kata jimat, bagi saya, adalah makanan sehari-hari. Ketika orang tua di sana, jika ingin melakukan apa pun, ada jampi-jampinya, juga ada jimatnya.

Pergi ke hutan, membawa jimat. Supaya tidak celaka. Pulang dengan selamat dan tidak bertemu binatang buas. Pergi memancing, juga ada jimatnya. Pergi berdagang di pasar atau pun dagang keliling atau membuka warung, sudah bisa dipastikan ada jimatnya. Pergi pacaran pun atau apel ke rumah gadis, ada jimatnya. Bahkan kebelet beol pun ada jimatnya supaya bisa ditahan beolnya. Pergi berladang, pergi ke kota, pergi berjualan dan apa pun aktivitasnya, pasti ada jimatnya.

Saya pernah diberi jimat oleh nenek saya. Berupa kalung yang terbuat dari benang hitam dan terdapat kantong kecil, kira-kira seukuran setengah plat metal kalung tentara Amerika. Jimatnya ada di bagian dalam kantong tersebut. Isinya saya tidak tahu. Yang jelas, kata nenek saya, jimat itu untuk membuat saya tetap sehat dan dijauhkan dari penyakit.

Ada pula jimat yang hanya boleh dipakai di acara tertentu dan tidak boleh dibawa beol atau pun kencing. Ada juga jimat yang ditaruh di dompet, dikalungin, digelangin, ditaruh di jari jadi cincin.

Sepertinya, pada jaman saya kecil, hidup setiap orang pasti ada jimatnya sendiri-sendiri. Bisa dibilang juga, satu orang memiliki lebih dari satu jimat yang dibawa sehari-hari.

Jimat itu, menurut saya, sekarang, sebagai bentuk motivasi yang bisa menghasilkan energi positif bagi diri dan memberi aura baik bagi orang lain. Terlepas dari sifat magis-magisan, yang pada akhirnya, saya tidak percaya.

Contoh sederhana, ketika masih kecil, seringkali dalam perjalanan jauh, tiba-tiba kebelet beol dan orang tua saya mengambil batu kecil, menjampi-jampinya, lalu menyuruhnya menaruh batu tersebut di saku celana. Katanya, itu jimat, untuk menahan beol. Di kepala saya, percaya, bahwa batu itu bisa menahan beol. Karena saya percaya dan energi positif saya bilang, bahwa saya bisa menahan beol, ya akhirnya selalu bisa nahan beol, sampai bertemu jamban atau sungai.

Itulah jimat menurut saya. Jimat menurut teman saya, Arie Triono, yang sudah lama tinggal di Ubud dan berkarya di sana, jimat itu adalah Wearable mantras for you and the universe. Simple yet beautifully crafted.”

Untuk mereka, kalian dan siapa saja, yang ingin memiliki jimat berupa kalung berisikan kuote-kuote penyemangat, untuk sang petualang, sang pelari, sang pendiam diri, sang penulis, sang penjelajah, sang pencerah, sang pencari jati diri dan sang lainnya.

Silakan cek IG-nya. Siapa tahu, kalian butuh jimat!

instagram.com/jimatbykerdus/

20150808_150540_Richtone(HDR)

20150808_150624_Richtone(HDR)

20150808_150642_Richtone(HDR)

20150808_150704_Richtone(HDR)

20150808_152047_Richtone(HDR)

20150808_150344_Richtone(HDR)

14393682855761

Ini JIMAT pilihan Virgillyan Ranting Areythuza

“sonofmountmalang”

Copywriter Banci: Karyawan Bank Mandiri Heboh

Belakangan ini saya sering ke Plaza Bank Mandiri untuk bertemu client, presentasi materi kreatif atau menerima brief. Kebetulan, setelah prisen, saya kebelet kencing. Jadi, saya pamit ke temen-temen sekantor, mau ke toilet dulu. Saya buru-buru ke toilet yang ada logo untuk cowok, which is ada di kanan. Toilet cewek kan di sebelah kiri ya.

Di dalam, seperti biasa ya, saya kencing berdiri. Pas keluar toilet, teman-teman saya heboh. Rupanya, ada bapak-bapak yang teriak heboh, nyuruh ke teman saya, ngasih tahu kalau toilet yang saya tuju itu toilet cowok, bukan toilet cewek. Teman saya bilang, iya pak, itu memang toilet cowok. Si bapak bilang, itu si embaknya salah toilet. Teman saya bilang, dia memang cowok. Bapaknya tidak percaya, masa cowok sih, bukannya cewek. Teman saya meyakinkan kalau yang masuk toilet cowok itu memang cowok, bukan cewek.

Akhirnya ya, mereka, teman saya ini, menyaksikan juga dengan kepala dan mata mereka sendiri kalau kejadian begini sering menimpa saya. Setelah mertua saya tidak pernah percaya ada yang manggil saya mba, akhirnya dia menyaksikan saya dipanggil mba berkali-kali sama tukang parkir. Weks!

Kemudian, teman saya membahas. Apanya yang kaya cewek ya? Saya pun masih tetap bingung. Nggak punya tete. Langkah gagah gempita laki banget, nggak melambai kaya Alm. Olga. Rambut pendek. Berjenggot menjuntai. Berkumis tebal kaya inspektur pijay. Pantat juga kaga demplon kaya Kim Kardarshian. Aneh. Bagian mana yang bisa bikin orang berpikir kalau saya CEWEEEKKK!

Sekian cerita Copywriter Banci. Besok-besok, kalau ada kejadian begini, saya buka dada aja kali ya, nunjukkin kalau saya tak bertete gede. Eh!

“sonofmountmalang”

samsung project (34) pemancing norak!

20150125_083344

Pemancing yang ketakutan dengan hasil pancingannya. Mereka berdebat. Menerka-nerka. Hewan apakah ituh!???

Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan pagi. Iseng. Ke Ancol. Sekedar menghirup udara laut. Lumayan kan, lama nggak melihat laut, Ancol pun tak masalah sih. Cuma pas santai jalan-jalan di dermaganya, terlihat beberapa pemancing. Entah iseng-iseng buang-buang waktu atau hobi atau kurang kerjaan saja. Yang jelas sih, mereka itu pemancing alay, yang tidak tahu isi biota laut apaan saja.
Jadi, satu momen, satu pemancing heboh menarik joran pancingan dan memutar reel. Seru kayanya sambil memanggil temannya. Ketika yang nyangkut di umpan semakin mendekat, barulah terlihat ke permukaan, sebuah bentuk panjang kaya ular. Mereka pun heboh.
Pemancing 1 (yang dapat),”Ular! Wah! Ular!”
Pemancing 2, “Jangan diangkat! Putus aja benangnya. Nanti matok!”
Pemancing 3, “Angkat aja! Bunuh di atas aja.”
Pemancing 1, “Gimana nih? Takut gigit. Ntar mati gue.”
Pemancing 2 dan 3 memberi semangat akhirnya ke pemancing 1 supaya mengangkat jorannya ke atas. Pemancing 1 pun mengangkat dan menaruh yang mereka sebut ular laut itu gulang-guling di beton dermaga.
Mereka bertiga tidak ada yang berani mendekat. Mereka menjauhkan hewan yang mereka sebut ular laut itu dari diri mereka. Kata mereka bertiga sambil berdebat,”Ntar matok baru nyaho lho!”
Saya bilang, “Bang! Itu bukan ular! Itu belut laut! Mancing sih nggak tahu biota laut,” sambil nunjukkin ke Ranting, sahabat kecil saya, kalau itu bukan ular, tapi belut laut. Mereka mendengar ucapan saya cuma melihat ke arah saya sebentar, lalu berdebat lagi dan mau memotong benang pancingan, lalu membuang belut yang mereka sebut ular itu ke laut.
Di tengah heboh, panik, takut, heran dan sejenisnya, muncullah salah satu tukang foto keliling.
Pemancing 1,”Bang! Ini apaan bang!?”
Tukang foto, “Ular yak!?”
Pemancing 1, “Nggak tau, bang!”
Saya nonton aja kelakuan mereka. Lumayan kan buat bahan cerita di blog. Hhahahah!
Tukang foto, “Kaya ular yak!”
Pemancing 2&3, “Gigit nggak ya bang! Beracun nggak ya!?”
Tukang foto, “Tau dah! Keplak aja palanya biar nggak gigit.”
Tiba-tiba di momen dongo itu, muncul pemancing lainnya. Ia membawa tang. Plak! Plak! Plak! Kepala belut laut itu ditoyor pakai tang. Seketika saja, belut laut yang tadinya berontak pun sekarat.
Sudah sekarat pun, para pemancing itu tidak berani mendekati belut. Akhirnya tukang foto inisiatif melepaskan kail pancingan dari mulut belut. Kail terlepas dan pemancing 1 menyodorkan wadah untuk menampung hasil pancingannya. Itu pun menyodorkannya dari jauh.
Pemancing 1,”Takut saya bang! Ntar matok saya neh!”
Belut laut yang sudah metong pun akhirnya masuk wadah penampungan. Pemancing kembali memancing, namun sambil tetap membahas hewan yang baru mereka tangkap itu apaan.
Norak yak! Begitulah kalau melakukan sesuatu tanpa dibekali pengetahuan yang lengkap. Tentang apa pun. Tidak hanya soal lautan dan isinya, tetapi juga semesta, agama, alkitab dan segala tektekbengek yang ada di seluruh dunia dan di luar dunia ini, supaya hidup tidak dongo-dongo amat sih dan mencelakai diri sendiri. Seperti halnya juga orang-orang alay naik gunung yang tidak tahu ada apa saja di hutan dan apa saja yang bisa dimakan di hutan jika kelak tersesat tidak mati kelaparan. Banyak kan yang mati kelaparan dan tersesat di gunung.
Jadi, gengs! Please! Bekali diri sendiri dengan pengatahuan, supaya tidak kaya pemancing-pemancing itu. Padahal itu sejenis BELUT LAUT atau sejenis MOA atau sejenis SIDAT yang nggak beracun dan bisa dimakaaannn!
Sekian!
20150125_083347

Tiga pemancing dan satu tukang foto berdebat hewan apakah itu. LOL!

20150125_083411

Saat berdebat, datang pemancing lain bawa tang dan siap noyor kepala belut laut.

20150125_083401

Ditoyor beberapa kali dan jadilah setengah mati.

20150125_083432

Tukang foto jadi hero dengan melepaskan kail dari mulut belut.

20150125_083437

Saya bilang ke Ranting,”Tuh Ting! Itu namanya BELUT LAUT. Kamu jangan norak kaya mereka yak!” HHAhahaha!

20150125_083521
“sonofmountmalang”