Hidup tanpa rasa takut

20150401_080315

Dia, sang kakek tua, hidup tanpa rasa takut. Ia tidak takut rumahnya disantroni maling. Tidak takut mobilnya dicuri. Tidak takut smartphone-nya dicopet. Tidak takut barang berharganya hilang dibegal orang. Tidak takut sandal atau sepatu harga juta-jutaan diambil orang. Tidak takut tas mewah dijambret orang.
Ia tidak hidup dalam ketakutan, seperti yang kita alami sekarang ini.
“sonofmountmalang”

Kebebasan itu gratis

bebas tidur di mana ngantuk datang.
bebas tidur di mana ngantuk datang.
Siapa yang bisa menikmati hidup. Tanpa harus ada gawai aka gadget selalu di tangan. Dua powerbank di tas. Modem dan charger yang wajib dibawa ke mana pun kaki melangkah. Tidur di kasur empuk. Nongkrong di Starbucks atau cafécafé berkelas dengan semerbak wangi kopi. Makan di restoran mahal. Dingin. Ber-AC. Dilayani sepenuh hati.
Kita sudah tidak bisa lagi menikmati sebuah kebebasan. Kita sudah diikat oleh teknologi dan kemanjaan hidup. Dijejali kekhawatiran. Khawatir kalau-kalau gadget lowbat, powerbank lowbat, nggak ada sinyal, nggak ada wifi dan takut tidak bisa nongkrong di Starbucks. Takut tiba-tiba path blur semua, tidak bisa posting dan error. Dan ketinggalan info soal kehidupan di sosial media. Seolah-olah kita bisa mati mendadak karenanya.
Kita terkadang suka iri dengan kebebasan mereka, yang sudah menanggalkan apa yang kita pegang erat-erat. Hidup bahagia tanpa khawatir kuota internet tiba-tiba habis dan tidak perlu kemudian lari ke ATM atau penjual pulsa demi membeli paket.
Kekebasan mereka adalah menikmati hidup seadanya, gratis tanpa kuota.
Apaan sehhh!???
Intinya itu lah. Saya mau bikin KATEGORI baru di BLOG, yang isinya meng-capture kebebasan manusia-manusia bebas.

 KAKEK TUA PEMUNGUT BARANG BEKAS. CIPETE. JAKARTA SELATAN.

kakek mengecek dompet kosong.

kakek mengecek dompet kosong.

“sonofmountmalang”

samsung project (30) sateku satemu

siap dilumat -lumat, jilat jilat penuh nikmat

siap dilumat -lumat, jilat jilat penuh nikmat

Beberapa minggu lalu saya tobat makan kambing atau pun domba-domba, hari ini saya melanggar janji saya. Memang domba atau kambing itu bikin nagih! Lebih nagih dari tete cewek macam TRIO SRIGALA! Berbahaya bagi kesehatan, namun kadang selalu ada celah untuk memaafkan. Untuk tobat, masih ada esok. Masih bisa olah raga, masih bisa diimbangi dengan minum jus timun atau besok makan sayuran.
Well, selalu ada cara untuk bisa menikmati sate kambing atau domba di tengah kondisi badan ingin seperti ABG, keker, sekel, lari kencang dan six pack. Prettt!
Gimana? Menurut kalian? Tertarik makan sate kambing atau domba di kala usia makin tua bangke?
YOLO! Nikmati hidup!:P
Hidup kambing dan domba!
pajangan yang bikin merangsang

pajangan yang bikin merangsang

merah merekah bagaikan bibir wanita habis diolesi gincu. halah!

merah merekah bagaikan bibir wanita habis diolesi gincu. halah!

begitu menggoda birahi

begitu menggoda birahi

tetesan tetesan lemak mengalir bak lendir dua manusia saling bercinta di kandang domba.

tetesan tetesan lemak mengalir bak lendir dua manusia saling bercinta di kandang domba.

surga bagi para kalian yang ingin ngaceng sepanjang malam plus obat kuat dan perempuan liar.

surga bagi para kalian yang ingin ngaceng sepanjang malam plus obat kuat dan perempuan liar.

harganya pun bikin dompet teriak

harganya pun bikin dompet teriak

“sonofmountmalang”

samsung project (29) seniman semarang

20150320_150926

Ternyata Semarang juga memiliki galeri seni. Memiliki seniman-seniman hebat. Banyak dari mereka merupakan seniman keturunan Tionghoa dan mendengar cerita Mas Chris Dharmawan sang pelopor GaleriSemarang yang memugar salah satu bangunan di Kota Tua. Salut mendengar ceritanya, yang ketika etnis China terpinggirkan di Indonesia. Katanya, dulu saya merasa menyesal menjadi etnis Tionghoa, kenapa tidak lahir sebagai orang Jawa. Kenapa begitu sulit dan dipersulit menjadi etnis Tionghoa. Segala urusan kuliah dan perdokumenan saja susah.

Banyak cerita seru sih pemilik GaleriSemarang ketika Client saya dari Marimas yang kebetulan mengenal Chris Dharmawan, namun sayangnya, saya tidak begitu paham soal SENIRUPA. Jadi, menangkap perbincangan seridonya. Bahasa visual sangat sulit dinikmati, macam seni rupa inilah. Haks!

Simpelnya, buat kalian yang memang suka dengan SENI RUPA, berjalan-jalan di KOTA TUA SEMARANG yang sepertinya mulai berbenah, silakan ngobrol seru dengan pemilikinya, Mas Chris Dharmawan.

Selebihnya, saya foto-foto aja yak!:p

“sonofmountmalang”

Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (4)

"dari satu minggu ke satu tahun."

“dari satu minggu ke satu tahun.”

Berapa waktu yang sudah aku habiskan bersamamu, Ran?
1 tahun
12 bulan
52 minggu
365 hari
8.760 jam
525.600 menit
31.536.000 detik
Akan ada jutaan detik lainnya yang akan kita habisi. Sampai hidupku benar-benar terhenti di satu titik, akhir perjalanan di duniawi. Semua waktu tidak akan pernah terasa, Ran. Seperti 31.536.000 detik yang kita jelajahi.
Melihatmu pertama kalinya menangis kencang dan aku tertawa girang. Tegang bukan kepalang ketika asi ibumu kering kerontang. Hari itu aku berlari kencang di terik siang, naek ojek sih, menuju rumah Laluna, demi sebotol ASIP, untukmu yang mulai kehausan.
Beberapa jam berikutnya, banyak bantuan ASIP yang ditawarkan. Kita semua senang, dan kamu, Ran, ada banyak saudara sepersusuan. Terima kasih, ketika itu, untuk semua bantuan.
Lalu, kita semua, selanjutnya berjuang. Supaya kamu, Ran, mendapatkan ASI untuk semakin tumbuh berkembang. Segala jenis jus untuk ibumu dibuatkan. Segala sayuran dimakan. Segala ramuan penyubur ASI ditelan. Sampai obat-obatan perangsang ASI pun dijejalkan. Ibumu sudah segalanya dimakan, untukmu, tersayang. Dan, semangat terus aku berikan, agar ASI ibumu mengalir kencang.
Kami berdua, Ran, tidak pernah menyerah. Tidak pernah berpasrah. Hingga ASI untukmu meruah-ruah. Asupanmu mewah.
Seru, Ran. Bisa melihatmu tumbuh. Tanpa sangat terasa.
Dari tak berdaya digendong, di ranjang, dimandiin. Mulai berguling ke kiri dan ke kanan ranjang. Jatuh dua kali dari ranjang. Demam hingga 39,8 derajatan. Berkicau tidak karuan. Belajar duduk dengan bantuan. Enam bulan mulai makan. Kita berdua sibuk mencari menu untukmu, Ran, sarapan, makan siang dan makan malam. Rasanya, bisa melihatmu mengunyah, tak bisa terbayarkan. Saat itu, aku mulai kehabisan kata-kata untuk dituliskan, satu rasa di luar batas kata menyenangkan.
Di waktu 31.536.000 detik itu, aku juga melihatmu merangkak cepat. Merambat cepat. Merayap dari anak tangga ke anak tangga, bahkan sampai ke puncak. Aw! Kamu semakin hebat. Semakin banyak gerak. Digendong pun semakin berontak. Kamu semakin tahu makanan enak, minuman enak dan tahu caranya menolak.
Kini, di titik 31.536.000 detik, aku sudah melihat banyak hal, belajar banyak hal, untuk bisa aku tuangkan dalam halaman demi halaman, hingga menjadi sebuku tebal.
31.536.000 detik, Virgillyan Ranting Areythuza, hanyalah sebuah awal yang sangat permulaan.
Kita masih ada detikan tak terhingga untuk melakukan petualangan, seperti yang aku bilang, sampai hidupku terhentik di satu detik terakhir.

Selamat ulang tahun yang pertama, Virgillyan Ranting Areythuza!

Jadilah penjelajah!

"Virgillyan Ranting Areythuza"

“Virgillyan Ranting Areythuza”

26 Maret 2015

“sonofmountmalang”

samsung project (28) pindah agama di gereja blenduk

gereja blenduk

gereja blenduk. semarang

Ke Semarang, belum lengkap kalau  belum berdoa dan pindah agama di Gereja Blenduk. Salah satu gereja tertua di Jawa Tengah peninggalan jaman Walana. Mungkin sudah banyak orang membaca lebih jelas tentang gereja ini, jadi saya tidak akan nulis panjang-panjang. Saya hanya menuliskan pengalaman di mana saya akhirnya bisa pindah agama ke Kristen Protestan dan berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus.

Di dalam itu hanya ada saya, gema dari napas dan bisik-bisik batin yang mengucap doa.

“Ya, Tuhan. Berikan aku jodoh orang Semarang, yang seksi, cantik, bertete besar, kaya raya banget, baik hati dan punya rumah jadul jaman belanda. Amin!”

Doa yang aneh….!

“sonofmountmalang”

samsung project (27) kolesterol memuncak

Segala jenis kambing!
Segala jenis kambing!
Sabtu & Minggu, kepala saya terasa seperti dijejali oleh batu kali dan pusingnya kaya ditoyor-toyor abang-abang tukang bangunan pake adukan semen. Tidak karuanlah pokoknya.
Cerita punya cerita. Rupanya, sodara-sodara! Hari Jumat saya pesta KAMBING 29 di Kota Tua Semarang! Astajim banget sih tuh kambing. Siang siang bolong, makan SATE KAMBING, SATE BUNTEL, GULAI dan SUMSUM. Wak waaaww!
Bijimana mau sehat sih yah! Makannya kacau balau.
Hari Minggu malam pun akhirnya saya berikrar, SAYA TIDAK AKAN MAKAN KAMBING LAGI!
Semoga ikrar ini berlaku tanpa ada syarat dan ketentuan. Hahahah! Semoga ya. Bantu saya untuk tidak terlena dengan daging kambing mana pun. Kecuali kambing muda yang nggak ada kolesnya. Halah! Sama aja yak! Ya begitulah intinya.
Intinya kambing itu ENAAKKK! Hahhaha! Ayo, siapa mau ke Semarang, jangan lupa makan KAMBING 29 sampai kalian INSAP!

“sonofmountmalang”