“Kopi itu sebuah tirani yang pahit!”

Kopi itu sebuah tirani yang pahit. Membunuh jutaan kesepian. Menghanguskan rasa dingin. Membangun kerajaan di tengah hujan yang bercucuran sepanjang malam. Memerintah di sebuah cangkir. Terkadang mampu membenamkan kantuk ke dalam sumur tua. Secangkir kopi menjadi faham tiran yang menyebarluaskan adikitif, menciptakan ilusi-ilusi di kepala ketika hujan sudah mulai mereda, langit terbuka dan bulan, si putri cantik pencuri cahaya mulai bersolek. Wajah bundar putih terang. Membuat sisa-sisa hujan di ujung daun berkilauan. Berlian di tengah malam. Saat bumi meniupkan ruh-ruh baru di menjelang pergantian tahun, berlian-berlian itu meluluh. Menjadi sumber kehidupan baru bagi tanah-tanah leluhur di kaki gunung, yang terbaring tidur, seperti kematian yang dibujurkan dengan kepala menghadap utara, ia aku sebut Gunung Malang.

Di sini tak ada ledakan petasan. Cahaya kembang api yang biasa muncrat ketika berada di udara pun tidak pernah ada. Di sini hanyalah sebuah sepi. Bumi yang bermeditasi dan bulan yang berkontemplasi di kaki langit hitam bersama buntalan-buntalan putih, serupa cream di atas cappuccino ketika seorang pelayan kafe menambahkannya saat aku tidak menginginkan.

Jika pun ada terbangan-terbangan cahaya, itu bukan kembang api. Mereka ada segerombolang kunang-kunang yang sedang terangsang, mencari pasangan untuk bercinta. Ya, memang saat yang tepat. Ketika udara membeku, bulan menyentil insting romantisme dan kecentilan-kecentilan bintang mendorong hormon dan darah hingga ke kepala. Bersiap-siaplah meledak sebentar lagi ketika kunang-kunang itu menemukan pasangannya di udara.

Sementara aku, tidak pernah berubah. Sama seperti setahun lalu. Di tempat yang sama, duduk di pohon Rasamala tua, meneguk kesepian yang tumbuh subur ketika secangkir kopi setinggal ampas hitam. Memeditasikan masa lalu dan mengintip masa depan yang masih meremang. Tetapi kemudian secangkir kopi kembali terisi, membunuhi sejuta sepi, lantas menghangatkan darah yang semenjak tadi berhenti. Dan aku pun meminum tirani yang pahit untuk ke sekian kalinya. Begitu nikmat! Di tahun baru saat bulan mulai ditelan raksasa hitam.

Selamat mereguk tirani yang pahit!

::son of mount malang::

Advertisements

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s