It’s me, Cappuccino!

“It’s me, Cappuccino! Who are you?”

Begitulah kalimat pertama yang terucap dari seorang yang menyebut dirinya Cappuccino. Seorang yang diajak bicara itu melirik ke arah Cappuccino. Dengan yakin dia menjawab, ”I’m Black Coffee.”

“Boleh tau seperti apa kamu, Black Coffee?”

“Kamu duluan saja ceritakan. Nanti aku ceritakan seperti apa aku.”
Cappuccino berpikir sejenak di atas meja.

“Aku…, apa ya.., aku…, aku terkadang dingin,” ucap Cappuccino memulai kalimatnya.

“Oke. Lalu?”

Black Coffee mulai menyimak ucapan Cappuccino.

“Kadang panas, kadang anget. Kadang manis, kadang gurih sedikit pait.  Cuma sedikit ya. Pahitnya juga bercampur gurih kok. Yang jelas, aku lembut dan kadang berbusa.”

Mendengarkan sedikit penjelasan Cappuccino, Black Coffee hanya angguk-angguk kepala.

“Gimana denganmu?”

Seseorang yang mengaku dirinya Cappuccino melihat ke arah seseorang yang menyebut dirinya Black Coffee.

“Aku hitam.”

Black Coffee memulai kalimatnya.

“Aku bisa panas. Bisa juga hangat. Tapi aku tak suka dingin. Aku kelam, gelap. Kau tahu telaga hitam di tengah hutan? Yang ada dalam sebuah dongen jaman dulu?”

“Ngga tau.”

“Aku aku beri tahu sekarang. Selagi aku ada waktu.”

Black Coffee membenarkan posisi duduknya. Yang tadinya menyampingi Cappuccino, sekarang ia membalikkan posisinya menjadi saling berhadap-hadapan. Jarak mereka berdua sekitar 30 cm. Mereka berdua duduk di bawah remang-remang lampu kecil. Lampu sewarna coklat sedikit kekuningan. Musik yang keluar dari speaker di setiap sudut ruangan pelan terdengar, namun jelas di telinga. Aliran musiknya sedikit jazzy. Sangat klop sekali dengan suasana dalam ruangan. Sementara itu, di luar angin segar menyentuh daun-daun malam. Mobil-mobil berlalu begitu saja di tengah jalan. Lampu-lampu mencuat di pucuk tiang. Menyala dalam keharmonisan malam. Seperti juga lampu alam, yang sudah digantungkan Tuhan di langit hitam, ditemani segelintir bintang dan lalu lalang awan tipis, menyala terang. Menembus celah-celah jendela kaca. Kemudian berbayang di atas permukaan kopi hitam.

“Yang aku tahu…,” Black Coffee mulai melanjutkan kalimatnya. Seorang bernama Cappuccino menatap dan siap mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Black Coffee.

“Di suatu hutan. Ada sebuah telaga. Ukurannya tidak besar. Hanya seukuran kolam renang sederhana. Luasnya sekitar, ya sebesar ruangan ini. Sepuluh meter per segi. Kira-kira seperti itu.”

“Apa hubungannya ya dengan hitamnya kopi hitam?”

Cappuccino tidak sabar mendengarkan cerita Black Coffee tentang telaga hitam di hutan.

“Telaga itu sangat hitam. Tak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Baik siang mau pun malam. Hanya satu yang berani mendekatinya, hidup di dekatnya.”

“Siapa?”

“Seorang gadis cantik berambut panjang sepinggang. Konon, katanya, usia gadis tersebut sudah ratusan tahun.”

“Ah! Yang bener? Masa ada gadis usianya ratusan tahun. Itu sih nenek-nenek ya. Tapi apa hubungannya juga sama hitamnya kopi itu? Masih ada hubungannya?”

Sepertinya Cappuccino sudah tidak sabar lagi untuk segera mengetahui hubungan telaga hitam, gadis berambut panjang dan kopi hitam.

“Setiap bulan purnama, gadis itu selalu duduk di tepi telaga dengan rambut terurai. Membuatnya tampak seperti kuntilanak cantik penunggu telaga. Sementara bulan berkaca pula di permukaan telaga dengan terangnya.”

“Kok bisa tau sedetail itu? Pernah ngintip ya?”

“Itu cerita dari mulut ke mulut.”

“Oh!”

“Setiap bulan purnama tersebut, dia akan menceburkan dirinya ke tengah telaga. Berenang berjam-jam. Setelah itu dia akan duduk di tepi telaga sambil mengeringkan rambutnya, merapihkannya dengan sisir dan akan duduk di tepi telaga sampai pagi. Namun, sebelum matahari datang, gadis itu dipastikan sudah menghilang. Kembali ke gubuk tua yang terbuat dari kayu dan sudah lumatan. Tak seorang pun berani mengintip ke dalam gubuk kayu tersebut. Konon, kalau ada yang berani mengintip, matanya pasti akan buta seumur hidup dan tidak akan bisa bicara alias gagu.”

“Kenapa buta? Kenapa gagu? Seseram itukah ceritanya?”

“Tidak tahu. Mungkin dibuat begitu agar yang mengintip tidak bisa melihat lagi dunia yang indah ini dan tidak bisa lagi menceritakan seperti apa dunia yang ia lihat di balik gubuk tua itu.”

“Terus, hubungan dengan kopi hitam itu apa? Aku masih bingung.”

Seorang yang mengaku dirinya Cappuccino masih mencoba bertanya ke seorang yang ada di hadapanya, yaitu Black Coffee.

“Aku belum selesai cerita tentang telaga hitam itu.”

“Oh, belum kelar. Oke. Aku tunggu. Lanjutin ya.”

“Kembali soal telaga hitam. Tadi aku sempat menyebut telaga itu teramat hitam. Kau tahu apa yang menjadikannya begitu hitam?”

“Ngga tau. Airnya hitam?”

“Tak pernah seorang pun yang bisa mengukur kedalaman telaga itu.”

“Sedalam apa?”

“Suatu hari, ada orang yang mencoba mengukurnya dengan menancapkan bambu sepanjang sepuluh meter. Kemudian bambu tersebut disambung lagi dengan bambu lainnnya dan disambung lagi dengan bambu lainnya. Jadi, sudah tiga bambu dimasuk ke dalam danau, tetapi bambu tersebut belum juga menyentuh dasar danau. Kau tahu apa yang menjadikannya begitu hitam?”

“Saking dalamnya?”

“Benar sekali.”

Seseorang yang bernama Cappuccino menghela napas panjang. Sepertinya ia sejak tadi menahan napas. Menunggu cerita dari Black Coffee tentang telaga yang menyeramkan itu. Kini ia bisa bernapas kembali dengan normal. Tetapi Black Coffee belum menjawab pertanyaan Cappuccino perihal kopi hitam dan telaga hitam. Di benak Cappuccino masih berkumpul seribu tanya dan ia masih berharap Black Coffee mau menjelaskan hubungan antara hitamnya kopi dan hitamnya telaga. Namun, belum juga Cappuccino merasakan kelegaan yang dalam, Black Coffee sudah memulai lagi kalimatnya.

“Bagi sebagian orang.”

Black Coffee memulai kalimatnya lagi. Sementara Cappuccino menungguinya dengan serius.

“Bagi sebagian orang, telaga hitam itu menakutkan dan tidak layak dikunjungi. Namun bagiku, telaga itu menyimpan misteri, keindahan, kecantikan, ketenangan, renungan hidup, impian, imaginasi, ide-ide, kegelapan, kesepian yang sejuk, rasa damai dan pelarian dari dunia nyata yang sudah gila.”

Mendengarkan uraian Black Coffee, seorang bernama Cappuccino terdiam sejuta bahasa. Dia tidak menyangka, sebegitu gelapnya Black Coffee yang duduk di depannya. Hingga ia sendiri tidak bisa menyelami kedalamannya itu.

“Lihat ini.”

Black Coffee meminta Cappuccino melihat sesuatu yang ia tunjukkan. Seorang bernama Cappuccino melihatnya.

“Apa yang kau lihat?”

“Kopi hitam?”

“Itu saja?”

“Mmmm….ya?”

Wajah Cappuccino masih terlihat bingung.

“Ada apa lagi?”

Black Coffee bertanya lagi.

“Itu aja. Ngga ada yang lain. Emangnya ada apa? Bikin penasaran aja.”

“Bulan.”

Black Coffee menjawabnya dengan tenang.

“Bulan?”

Dengan wajah ragu, Cappuccino melongok ke permukaan kopi hitam. Ia sedikit kaget. Lalu hening. Diam. Kemudian ia melongok lagi ke permukaan kopi. Ia melihat dengan jelas di dalam kopi tersebut bersinar terang sekuntum bulan di langit hitam. Namun raut wajahnya masih menunjukkan ketidakpercayaanya pada apa yang ia lihat.

“Ngga mungkin. Mana bisa bulan ada di dalam kopi. Ohhh!! Aku tau. Persamaan telaga itu dan kopi ini adalah bulan. Mereka memiliki bulan! Mereka memantulkan bulan! Aku tau! Aku tau! Ah! Segitu aja ternyata!”

Cappuccino terlihat antusias.

“Dan sama-sama memantulkan bayangan gadis cantik berambut panjang…”

Cappuccino terdiam kembali ketika Black Coffee mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Apa tadi?”

Cappuccino ingin sekali lagi mendengarkan ucapan Black Coffee. Tetapi, sebelum ucapan itu kembali diutarakan, seseorang meraih gagang cangkir berisi Black Coffee dan meminumnya hingga habis. Cappuccino tertegun. Ia meneteskan air hingga tumpah ke atas meja. Seseorang mencoba menaruh tisu di dekatnya. Kemudian Cappuccino pun direguk hingga habis. Yang tertinggal darinya adalah kehampaan, kekosongan, kesepian dan sunyi di antara alunan jazz yang lembut. Disaksikan bulan menggelayut manja di langit hitam. Yang menembus kaca jendela di sudut kafe, tempat dimana dua sosok manusia menuliskan kisah hidupnya di dalam catatan mesin tipis bernama laptop.

Mereka meninggalkan gelas Cappuccino kosong dan cangkir Black Coffee tanpa ampas di atas meja.  Tak ada kata yang terucap, tak ada senyum yang berpantun. Karena mereka memang tak pernah saling mengenal.
Mereka hanya meninggalkan segelas hampa dan secangkir hening di sudut kafe.

Dan semuanya menjadi sepi.
::sonofmountmalang::

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s