Aku tidak akan menikah!

Cinta itu secangkir kopi pahit yang sudah berubah menjadi sebuah pesta pernikahan. Aku menulisnya ketika hidung mencium wanginya kopi merapi dicampur susu putih, lalu direbus dengan tambahan sedikit gula. Api itu menyalak. Menjilat panci. Menggejolakkan kopi hitam. Berbuih menerbangkan aroma ke jagat yang sudah renta.

Lantas senyap menyapa. Bisikan-bisikan pelan terdengar di telinga.  Aroma kopi menghantam penciuman. Sendok-sendok bercumbu berisik dengan cangkir. Menimbulkan ritme yang nikmat saja untuk didengar.

Perkenalkan, ini duniaku yang dulu. Di sebuah ruangan remang-remang. Di balik kaca jendela. Sebuah buku. Satu catatan hidup dan mati. Sebungkus rokok yang tak pernah dibakar. Sejuta hujan menuliskan kisah di tanah basah. Secangkir kopi hitam menggoda di atas meja. Kemudian aku akan duduk untuk menikmati semuanya. Cukup sendiri saja.

Itulah hidupku. Kelam. Senyap. Pahit.  Aku tak perlu lagi menikah dengan perempuan mana pun yang akan memaniskan hidupku. Kata orang, seperti sesendok gula di secangkir kopi yang menjadikannya manis.

Aku suka kepahitan kopi ini! Aku sudah menikah dengannya. Ia sudah mengalir di darahku. Menghitam. Itu pasti! Lantas seorang perempuan datang. Ia duduk di depanku. Membawa sesendok gula.

“Tambahkan sedikit gula. Itu bisa memaniskan hidup,” katanya sambil menuangkan gula ke dalam cangkir kopi.

“Begitu ya?”
“Ya,” jawabnya sambil mereguk kopi miliknya.

Sekarang perempuan itu setiap malam tidur di sampingku. Memeluk guling kesayangannya. Mendengkur dengan nikmat dan akan bangun jika hidungnya ditutup saat matahari bangkit dari alam kubur
.
Perempuan itu istriku, yang memberikan kemanisan dalam hidup. Teman baik untuk menikmati kopi setiap hari. Tempat bercerita saat senja. Inspirasi hidup yang, sepertinya, semoga, tidak akan ada habisnya. Amin! Crod!

Dan tidak terasa, aku sudah menikahinya selama sebulan. Satu fase untuk melanjutkan ratusan bulan lagi bersamanya. Bulan-bulan yang akan terasa sangat panjang. Semoga hidupku dengannya akan selamanya menyenangkan.  Amin! Crod!

Selamat hari jadi pernikahan yang ke-sebulan, Tala.  Aku seperti biasa, akan mencintaimu seperti pertama kali kita bicara saat hujan rintik-rintik, senja yang manja dan kopi yang menggoda di atas meja.

“Aku mencintaimu….”

Aku bicara sendiri sambil menghirup wangi kopi merapi yang semakin menggejolak dan sudah waktunya dituang ke dalam cangkir. Hmmm…seperti nya akan nikmat sekali sore ini!

Mari kita mengopi! Sluuurrppp! Croood!

::sonofmountmalang::

Uncategorized

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s