mimpi copywriter (3) luna maya

 

Cerita dibuka dengan adegan di lokasi suting, kru-kru sibuk menyiapkan perlengkapan suting. Lampu-lampu didirikan di beberapa titik. Kabel-kabel bertebaran di mana-mana. Seorang bapak wara-wiri membawa nampan dengan kopi dan teh di atasnya. Suasana begitu ramai dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Kita bakalan suting apa sih? Jadi bingung gue?” Iqbal, Art Director, bertanya sesaat tiba di lokasi. Udah datang telat, nanya pake bingung segala. Saya tidak menjawabnya. Nanti juga dia tahu sendiri.

Setelah semua kru menyelesaikan tugasnya, set sudah siap digunakan. Seting pertama digunakan untuk adegan mencuci pakaian. Karena produknya sabun mencuci baju, maka orang Art dan orang Props dari PH menyediakan berkantong-kantong sabun cuci, ember, baskom, selang, papan penggilasan dan bertumpuk-tumpuk pakaian kotor. Mulai dari kaos, celana dalam, celana panjang sampai topi. Hebat juga nih orang Art-nya.

Catatan kecil saja, tugas orang Art biasanya membuat setingan lokasi suting menjadi sedemikian bagus. Orang Props menyediakan perlengkapan yang berhubungan dengan persutingan. Atau biasanya, bisa juga orang Art digabung perannya jadi orang Props.

Saat saya asik melihat kru menyiapkan segalanya, Mas Jaja, Creative Director sekaligus bos saya, datang dengan kopi Starbucks di tangannya.

“Jat, gimana? Udah siap suting?”

“Kayanya sih udah.”

“Yang bener loe? Udah tanya kru?”

“Tuh udah siap semuanya.”

Saya menunjuk ke arah setingan suting siap pakai. Semua orang sudah siaga. Kamera, lampu, monitor, soundman. Semua sudah siap.

“Ini talent-nya siapa, Jat?” Mas Jaja nanya.

“Kita kan pake Luna Maya.”

“Ah! Yang bener loe!?”

Sepertinya dia tidak percaya.

“Beneran!” Saya meyakinkannya.

“Ya udah. Kita mau mulai. Panggil Lumay-nya.”

“Director-nya siapa, Mas?”

“Ya…gue kaleee!!”

Brak! Saya kaget. Sekaget-kagetnya. Sampai jatuh berguling-guling menimpa lampu. Lebay. Tapi itu ekspresi kekagetan saya. Bukannya bos saya ini Creative Director. Kenapa dia sekarang jadi Director? Dia sudah alih profesi atau gimana?

“Lho? Mas Jaja kan Creative Director.”

Kepala saya masih dipenuhi rasa penasaran berlebihan.

“Emangnya kenapa kalo gue jadi director!” Jawabnya ketus.

“Siap! Okeh! Gue suruh mereka siap. Gue panggil Luna Maya-nya ya.”

“Tunggu dulu. Gue mau liat copy-nya. Lumay ngomong apa.”

Oh iya. Lupa. Tugas saya di sini masih jadi copywriter bukan Asisten Sutradara. Dia masih atasan saya meksipun sekarang berperan sebagai Director. Jadi, dia tetap harus melihat copy yang saya buat.

“Suruh Iqbal aja manggil Lumay. Kita mau roll.”

“Siap! Nih mas, copy-nya.”

Saya memberikan copy yang ia minta.

“Keh! Gue liat dulu.” Katanya sambil mengambil kertas berisikan beberapa copy yang saya buat.

Saya pergi menemui Art Director saya, Iqbal, yang sedang sibuk menghisap sebatang rokok sambil menyeruput kopi. Enak sekali sepertinya dia.

“Bal!”

“Ape?! Ganggu orang aja loe!”

“Laga loe! Disuruh Mas Jaja tuh manggil Luna Maya. sutingnya mau mulai.”

Dengan sigap dia langsung mematikan rokoknya. Menghabiskan kopi di gelas Aqua bekas.

“Wahhhhh! Kalo rejeki ga kemanaaa. Untuungggg untunggg!” Dia ngibrit ke arah yang tidak sayatahu kemana. Larinya jig-jag seperti dikejar babi hutan.

Begh! Dasar! Giliran disuruh manggil Luna Maya aja langsung ngibrit dia.

Suting sudah siap dimulai. Mas Jaja duduk di belakang kamera. Matanya ia picing-picingkan melihat lensa kamera. Ternyata, selain menjadi Director, dia juga menjadi kameramen. Ck ck ck! Maruk yah.

“Okeh!” Teriaknya kencang. Suara khas Batak-nya keluar. Cocoklah untuk teriak-teriak.

Semua diam menunggu aba-aba selanjutnya.

“Kamera roll!”

Iqbal lenggak-lenggok datang menggandeng Luna Maya menuju depan kamera. Lho? Bal? Kenapa Luna Maya udah kaya bini loe? Pikir saya dalam hati. Iqbal datang menggandeng Luna Maya dengan tangannya. Gayanya seperti jin Arab kebakar matahari gurun keluar dari goa. Sangat tidak cocok sekali dengan Luna Maya yang putih mengkilat.

“Bal! Loe ngapain di situ?!” Mas Jaja teriak.

“Kan saya ikut jadi talent-nya,” jawabnya santai.

“Ngimpi loe. Adegannya cuma ada Luna Maya. Ga ada adegan loe di sini!”

“Ohhh! Maaf, mas. Saya pikir ada sayanya.” Iqbal melepaskan gandengan Luna Maya.

Saya mencoba melihat wajahnya Luna Maya, tapi entah kenapa, saya tidak bisa melihat wajahnya. Saya hanya bisa melihat kakinya yang halus, putih dan panjang. Mungkin tubuhnya terlalu tinggi. Saking tingginya, saya pun tidak melihatnya. Saya hanya bisa melihat wajahnya di ingatan saja. Ingatan ini dapatnya dari infotaintment atau koran.

“Kamera roll!!!” Mas Jaja teriak lagi membuyarkan lamunan. Semua kembali fokus. “Aaaaanddddd action!”

Luna Maya datang membawa baskom kosong. Ia berjalan lenggak-lenggok menuju gundukan baju kotor. Suasana setingan suting terlihat suram. Tidak seperti iklan sabun biasanya, yang selalu menyuguhkan pemandangan segar, putih, bersih dan kecantikan. Kali ini pemandangannya sedikit gelap. Lampu dibuat remang. Langit dibuat mendung.

Iklan sabun yang aneh nih.

Sekarang saatnya adegan mencuci. Luna Maya mulai membuka keran. Air selang mengucur. Saya mencoba melihat wajahnya, tetap saja tidak bisa. Ketika saya melihat betisnya kembali, betapa terhentaknya mata saya. Betisnya Luna Maya berbulu tajam-tajam. Bulunya pun hanya ada di bagian seperempat betis ke bawah. Geli! Bener-bener geli melihatnya. Sampai merinding saya dibuatnya.

“Cut!” Suara Mas Jaja terdengar memotong adegan yang sedang berjalan. Dia menghampiri saya.

“Jat,” katanya, “Itu kenapa kakinya Luna Maya berbulu begitu ya?”

“Ga tau deh.”

“Loe ga cek dulu tadi?”

“Yah. Mana berani gue cek kaki artis.”

“Harusnya loe cek dulu. Kacau dah iklan kita.”

Kami berdua terdiam membingung. Melihat kaki Luna Maya berbulu tajam. Iqbal garuk-garuk kepala di dekat kamera sambil melihat-lihat lensanya. Kru mematikan lampu, perlahan pemandangan di depan semakin menggelap dan menggelap. Sampai akhirnya tidak terlihat apa-apa.

Suting iklan tidak selesai. Mimpi pun sudah usai.

*Di dunia nyata, Mas Jaja sudah menjadi Executive Creative Director.

~~

3 thoughts on “mimpi copywriter (3) luna maya

  1. Pingback: Tweets that mention Luna Maya « "hidup adalah proses menuju kematian yang sempurna" -- Topsy.com

  2. Wuakakkkakaaa…. jadi ini ya yang lo reply gue di Twitter?? Gokil, bisa inget mimpi sedetil ini? Udah kayak cenayang. Aauheuaheha.. Jgn sering2 mimpi kerjaan, Jat. Kalo tidur aja mikirin kerjaan, kapan istirahatnya?? Huaheuhaeua *ngomong sama diri sendiri*

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s