mimpi copywriter (4) bakso

 

 Pemandangan gelap. Ketika mata terbuka, saya dikondisikan memiliki seorang adik. Masih sekolah. Rumah kami ada di bengkel. Bukan bengkel mobil, melainkan bengkel rumah makan. Adik saya sekolah di bengkel mobil. Sepertinya dia anak STM. Sekolahnya tidak jauh dari rumah. Menurut perkiraan, paling cuma terhalang dua rumah. Tetapi saat saya mencoba mengantarkannya dengan mengendarai motor, butuh waktu lama untuk sampai di sekolahnya.

Sekolahnya tidak berbentuk gedung pada umumnya. Bentuknya menyerupai lapangan luas. Ada hanggarnya. Ada mobil-mobil usang terparkir di sana.

“Oke, Ka,” katanya.

“Ini sekolahnya?” tanya saya.

“Iya.”

“Ya, udah sana masuk.”

Dia pun masuk. Saya pulang menuju rumah. Pulang menuju rumah rasanya sangat lama sekali. Sudah melewati berblok-blok rumah, belum sampai juga. Saat melewati satu rumah, seorang bapak penjual bakso memanggil saya. Dia memanggil pakai nama apa, saya tidak ingat.

“Mau bakso nggak?” tanyanya.

“Hah? Bakso? Ngga suka bakso.”

“Ini bakso spesial. Bakarnya pake gula merah.”

Seketika saja saya melihat proses pembuatan baksonya. Cara membakarnya unik.  Dia menggunakan kayu bakar dicampur batangan gula merah. Wangi gula merah terbakar tercium kemana-mana. Kemudian terdengar desas-desus orang yang membeli bakso.

“Eh, itu kan anak tirinya penjual bakso,” bisik salah satu tetangga.

Saya bisa mendengar jelas bisikkannya.

Tidak lama setelah mendengar bisik-bisik tetangga, status saya langsung berubah menjadi anak tiri. Penjual bakso itu menjadi bapak tiri. Bapak tiri yang sukses menjadi penjual bakso. Konon, baksonya terkenal kemana-mana. Cabangnya pun sudah dibuka di berbagai pelosok daerah.

Hebat! Punya bapak tiri sukses jadi penjual bakso.

“Pak, emang punya berapa cabang?”

“Banyak. Di sana. Di sana. Di sana.” Ia menunjuk ke segala arah.

“Berapa keuntungannya dari satu gerobak?”

“Satu gerobak, kira-kira 15 persen,” jawabnya.

“15 persen? Berapa?”

“Ya, seringgit dua ringgit.”

Perasaan saya tinggal di Indonesia, bukan di Malaysia. Kenapa mata uangnya bisa Ringgit ya. Jangan-jangan kita sedang dijajah Malaysia.

“Nih, cicipin baksonya.”

Dia menyodorkan semangkok bakso. Saya menggigit baksonya. Rasanya enak. Ada campuran rasa siomay, pempek dan tekstur bakso. Gurih di lidah. Pantas saja laku berat. Baksonya enak begini. Wah, beruntung nih punya bapak tiri. Bisa dimanfaatin buka cabang baru. Lumayan untuk usaha saya. Begitu pikir saya dalam hati.

Saat sedang menikmati bakso, adik saya datang dari arah depan.

“Bagi duit donk, pak. Mau pacaran.”

Begitu dia bilang  mau pacaran, di sampingnya langsung muncul perempuan secantik-cantiknya bidadari mandi di kali. Cantiiikkkk! Horny saya melihatnya. Rambutnya panjang, senyumnya merangsang. Saat jalan, pantatnya goyang. Bah! Saya mabuk kepayang.

Dia melambaikan tangan kecentilan. Adik saya menggandengnya pergi menjauh.

Ngehex! Lucky bastard!

~

Pandangan menggelap. Terang lagi, saya sudah berada di tengah wanita-wanita bule tahun 70’an. Mereka semua berpakaian ala film Grease. Sepanjang jalan menari-nari sambil bernyanyi. Semua begitu riang. Orang-orang di pinggir jalan menonton keriaan itu. Sebagian malah turun ke jalan. Ikut bernyanyi.

Di jalanan itu, tak ada satu pun wajah lokal. Semua wajah di sekitar saya tampangnya bule asli. Dandanannya jadul. Sama sekali tidak menggairahkan. Saya malah tersiksa. Kenapa harus terlempar ke jaman Grease seperti ini. Beruntung pemandangan di sekitarnya sangat bagus. Lembah-lembah hijau, gunung-gunung, lautan, persawahan, danau, ngarai, sungai, jalanan beraspal naik turun, meliuk-liuk indah. Bule-bule duduk santai di jembatan sambil membaca buku, memainkan gitar, bercanda. Bahasanya kurang begitu saya mengerti. Maklum, saya lahir di kaki gunung. Tidak bisa bahasa Inggris. Bicara bahasa Indonesia saja saya cadel F jadi P. Padahal saya sudah kursus khusus mengeja F jadi F, bukan F jadi P. A B C D E F G, tetap saya bacanya A B C D E P G. Cafe deh!

Salah satu wanita bule yang ada di bagian paling depan, bergaya rambut Olivia Newton-John, menyuruh orang-orang yang menari dan bernyanyi berhenti.

“Stop!” teriaknya.

Fasih sekali dia bicara dalam bahasa Inggris ke banyak orang. Kalimatnya lupa-lupa ingat.

“Guys! Stop!”

Semua orang berhenti total melakukan segala kegiatan menarinya. Mereka semua melihat bule itu.

“Guys, listen! Choose your couple. Now!”

Kalau tidak salah dengar kalimatnya begitu.

Mendengar perintah itu, semua orang menari-nari ala John Travolta di film Grease. Satu persatu dari mereka memilih pasangan untuk berdansa. Asal tunjuk saja. Pasti yang ditunjuk mau. Siapa pun bebas memilih pasangannya. Tidak masalah pilih wanita atau pria. Sekali tunjuk pasti mau. Saya jadi minder sendiri. Bule-bule itu memilih pasangan bule juga. Saya sengaja berdiri di depan bule wanita agar dipilih, eh tidak dipilih juga. Dilewatin begitu saja. Malu rasanya. Padahal saya sudah menari ala John Travolta begitu heboh. Tidak diperhatiin juga. Sebel! Bule itu tidak suka pria lokal. Dasar rasis!

~

Mereka terus melakukan tariannya di jalanan. Menuju puncak bukit. Meriah. Saya putus asa. Ngumpet di semak-semak pinggir jalan. Di semak itu saya menemukan novel kuno. Dari sampulnya terlihat kuno dan tebal. Judulnya juga aneh. Four Man Sex For Love. Sekilas baca refrensinya sih tertulis, ini novel seru, dicetak ulang berkali-kali, mengalami perubahan tokoh berkali-kali, Hencong, Sencong, sekarang tokohnya bernama Fencong. Penulisnya sengaja mengubahnya. Katanya, demi menjadi Best Seller. Dikisahkan, ada empat pria saling jatuh cinta, kemudian mereka bercinta, cemburu dan saling bunuh. Yang hidup terakhir ya Si Fencong itu. Pusing saya bacanya. Saya menutupnya.

“Ssttt!”

Terdengar suara memanggil. Saya melongok ke atas, weh ada bule arab. Mukanya senyum-senyum mesum.

“That’s a great novel,” katanya.

“Oh ya?”

“Yes! Just read it.”

“Ok.”

“Ssssttt…! Ada bule ngajak gue ML. Lima bule.”

Lha? Tadi nginggris, sekarang ngindonesia. Bule arab gila.

“Mantap, ngga?” tanya. Dia menunjuk ke lima gadis bule centil-centil minta dipake.

“Cool!” Jawab saya mengacungkan dua jempol, “Hajar sono!” lanjut saya sambil ngeloyor pergi.

Putus asa. Yang lain sudah dapat wanita, saya masih jomblo. Nasib ya nasib!

~

Dalam keputusasaan itu, saya mengubah pola bernyanyi. Tidak mengikuti gaya Grease. Saya menggunakan metode tersendiri, yaitu memainkan musik biola dari mulut. Nadanya halus penuh kesedihan. Berharap para wanita-wanita berbelas kasih. Mau mengajak saya berkencan.

Metode itu lumayan berhasil mengundang satu wanita. Kulitnya paduan pas khas kulit ekspor impor, Amerika – Indonesia. Dia mengenakan rok tahun 70’an. Motifnya polkadot meriah. Merah, kuning, hijau tua. Meskipun pakaiannya jadul, tetapi wajahnya sangat modern. Cantik! Halus! Sangat berkarakter. Pas untuk dijadikan pacar!

Kemana pun saya pergi, dia selalu ada di belakang saya. Suara biola dari mulut menjadi magnet berkekuatan hebat. Dia ngintil terus. Saya berhenti, dia berhenti. Saya melihat ke belakang, dia melihat ke belakang. Lucu. Malu-malu menggemaskan. Jadi ingin segera merasakan kencan dengannya.

Di satu titik, lapangan hijau, pohon-pohon rindang, burung melayang-layang, sejuta jenis bunga bersemi warna warni. Ukurannya beragam. Dari sebesar jarum pentil, hinga ukuran bunga bangkai. Mereka dimekarkan oleh suara biola dari mulut saya. Suaranya sangat indah. Kalau saya bisa menulis not balok, sudah saya tuliskan nadanya di sini. Berhubung saya buta not balok, jadinya hanya bisa dijelaskan dengan kata-kata minim. Karena saya tidak mengerti struktur bahasa dalam not balok.

Saya berjalan melintasi bunga-bunga bersemi itu sambil terus bernyanyi. Jarak saya dan wanita itu semakin dekat. Sampai akhirnya di jalan kecil, dimana bunga-bunga besar memadati sisi kiri kanan jalan. Bunga dahlia memekarkan kelopaknya lebar-lebar. Warnanya lucu-lucu. Pastel biru, cream, hijau. Semua bunganya berwarna pastel. Ada rumbai-rumbainya. Membuatnya terlihat lebih cantik. Ada juga bunga mawar, matahari, cempaka, sepatu, melati, dandelion, aster, lili dan bunga lainnya. Semua warnanya memastel. Keren!

Di satu titik, wanita itu mengajak saya bicara. Tangannya memegang bunga kecil, seukuran bunga aster, warna kuning pastel.  Dia memutar-mutar bunga di tangannya.

“Suara kamu bagus,” pujinya, ”Aku mau jadi pacar kamu. Boleh nggak? Ini aku bawa bunga kuning. Kuning itu tandanya persahabatan, tapi aku mau jadi pacar kamu…”

Bahasanya lebih indah terdengar ketika diucapkan oleh bibirnya.

Dia memberikan bunga kuning pastelnya dengan seikat senyum harum. Hati saya langsung ditumbuhi sejuta bunga. Jalanan kanan kiri pun semakin dipadati bunga-bunga bermekaran. Canggih! Bunga saja bisa mendeteksi aura cinta yang keluar dari dua manusia.

Kami berdua pergi menuju lorong-lorong waktu. Berciuman. Berpelukan. Bergandengan tangan. Sampai tersesat di lorong gelap.

~

           Suasana terang kembali. Saya sudah berada di mobil dengan satu pria dan dua wanita. Si wanita yang nyetir, ngebut, sengebut-ngebutnya. Adegannya heboh. Seperti dalam film Fast and Furious.

“Kita lari dari apaan?” tanya saya.

“Kita lari dari kejaran Naziii!”

“Walah! Nazi? Emang kita ada dimana?”

“Ini Jermannn, begoooo!”

        Gila! Saya lagi di Jerman. Di dalam mobil dengar orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali. Sialnya, bukan sedang menikmati liburan, tetapi dikejar-kejar tentara Nazi. Mereka menggunakan motor khas tentara Nazi, mobil-mobil tentara, ditambah pasukan kejam-kejamnya itu mengacung-ngacungkan rudal. Serem! Nasib saya pasti akan seperti warga Yahudi. Almarhum di Jerman nih.

               Sopir ini jago nyetir, dia terus berkelit dari kejaran tentara Nazi. Banting stir ke kiri ke kanan. Ambil jalan tikus. Menyelinap di balik pohon. Masuk gorong-gorong. Masuk ke goa. Sembunyi di lumbung padi. Berkelit secanggih mungkin agar tidak tertangkap Nazi. Namun, kemana pun mobil itu berlari, tentara-tentara Nazi itu pasti selalu bisa mengejarnya. Hebat sekali tentara ini. Pasti hidung-hidung Nazi itu implan dari hidung anjing. Penciumannya tajam. Bisa mencium keberadaan kami berempat.

“Nyerah ajah yuk!” si sopir kelelahan. Dia meminta kami bertiga menyerah.

“Kita bakalan ditembak.” Temen satunya bicara pasrah.

“Kita bakalan mati di sini.” Teman di sebelah saya bicara.

Kami siap mati di tangan tentara Nazi.

~

Mobil berhenti. Tentara Nazi sudah mengepung dari segala arah. Di tangannya terlihat memegang senjata laras panjang, pistol lancip, pedang, rudal, bahkan ada juga yang memegang boneka Hitler. Nazi gila! Mereka menghampiri mendekat.

“Passport!” bentak pemimpinnya.

Dia meminta passport kami berempat. Sementara para tentara mengarahkan semua senjatanya ke mobil. Mereka siap memuntahkan semua jenis pelurunya. Kesempatan hidup hanya 0,1 persen saja. Sisanya kematian membayangi kami.

Saat tegang itu, tiba-tiba terdengar siaran radio di mobil. Sang penyiar membacakan berita, katanya, tentara Nazi sudah berhasil dikalahkan. Sekarang, mereka harus menyerahkan diri.

Mendengar berita di radio, semua tentara Nazi langsung bubar jalan. Mereka pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Alhamdulillah…! Selamat juga dari Nazi sialan itu.

  “Kita mau kemana sekarang?” saya nanya ke orang-orang, yang rasanya itu teman saya, meskipun belum mengenalnya. Tapi, kalau dirasa-rasa, saya mengenalnya. Dua cewek cantik, satu pria berambut keriting tebal.

“Kita mau pacaran. Cari saung buat pacaran,” jawab si pria.

“Saung? Nggak salah tuh pacaran di saung?”

“Biar santai dan gratislah. Kan udah nggak dikejar Nazi lagi.”

Mobil melaju menuju saung di puncak bukit. Sekitar bukit dikelilingi danau. Di sisi-sisi danau, tentara Nazi serius memancing ikan. Mereka alih profesi. Dari tentara jadi pemancing ikan. Wajah seramnya pun sudah hilang. Mereka terlihat ramah semua. Tersenyum ke arah saung tempat kami pacaran. Ternyata di saung tidak pacaran, melainkan seibuk ikut memancing bareng tentara Nazi.

Nggak beres!

Rencana mau pacaran pun gagal.

“Tau begini sih pergi makan sate aja.” Wanita yang tadi nyetir bicara.

“Kita makan sate deh! Pacarannya di rumah makan aja.”

Seketika saja, kami berempat sudah berada di rumah makan lesehan. Seperti rumah makan ala Jepang campuran Sunda. Duduk beralaskan tikar. Yang dijual masakan lokal. Sate, ayam bakar, pecel lele dan sejenisnya.

Di sini, wajah kedua wanita itu sangat jelas. Masih muda, seger, mungil, mangkel. Greng! Salah satunya sudah menjadi pacar saya. Jadi, saya bisa ML di rumah makan. Baru saja pikiran itu muncul di kepala, kami berdua sudah bercumbu rayu di pojokan rumah makan. Bercinta suka-suka. Dahsyat! Rasanya seperti bercinta dengan sayuran segar atau buah apel segar. Kriuk-kriuk di sudut.

Ini bercinta apa makan kerupuk sih? Kok pake krauk-krauk segala. Masa bodolah. Ini bercinta. Jelas sekali dengan wanita muda.

Saat asik bercinta dengan segala posisi, si mbok penjual menghampiri.

“Eh, itu ada satpol PP! Kalau mau ML tuh di kamar sebelah. Ada kamar tersembunyi buat ML.”

Kami berdua berhenti ML. Kembali ke meja makan. Duduk lesehan. Kemudian memesan sate ayam ke si mbok. Sudah ditunggu berjam-jam, satenya tidak datang juga.

Bosan nunggu, akhirnya saya pergi. Bangun dari tidur.

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s