mimpi copywriter (10) iklan sabun

 

Di ruangan miting ukuran satu meter persegi, saya, Rara yang berperan sebagai copywriter dan Mba Opay yang menjabat sebagai Associate Creative Director, duduk memegang sabun batangan. Rara memegang sabun warna biru, Mba Opay memegang sabun warna ungu dan saya memegang sabun warna hijau.

“Jat! Ide loe apaan?” Rara ngomong ke saya.

“Ayo donk crod. Keluarin idenya.” Mba Opay nimpalin.

“Bentar. Gue mikir dulu,” jawab saya.

Kami bertiga sedang mencari ide iklan untuk sabun. Tapi, belum menemukan ide apa-apa. Sabunnya pun tidak terdeteksi merknya apa.

“Tunggu, Ra. Buntu. Gimana, Mba Opay? Ada ide?” Saya bertanya ke Mba Opay.

“Gue juga bingung. Diapain ya enaknya nih sabun.” Mba Opay melihat sabun di tangannya.

“Dimakan aja,” ucap saya spotan sambil menggigit sabun, “Enak, Ra. Mba Opay cobain deh sabunnya,” lanjut saya sambil terus menggarus sabun.

Ragu-ragu sekali Rara dan Mba Opay menggigit sabun. Mereka berdua merasa-rasa sabunnya.

“Enaaaakk, Jat!” Rara mengomentari rasa sabun yang ia gigit.

“Kok kaya coklat ya?” Mba Opay mengunyah sabun itu dengan nikmat.

Sabun pun berubah saat itu juga menjadi sebatang coklat manis.

Kami bertiga menikmati coklat masing-masing di ruang miting. Tapi, setelah sekian lama makan, coklat di tangah tidak habis-habis. Kami bertiga sampai lelah mengunyahnya.

“Jadi nih sekarang kita bikin iklan coklat ya? Bukan sabun lagi kan, mba?” Rara bertanya ke Mba Opay yang sedang sibuk mengunyah coklat.

“Iya donk,” jawab Mba Opay dengan mulut penuh. Remah-remah coklatnya sampai berterbangan kemana-mana. Meja dan lantai penuh dengan remah-remah coklat.

“Gue ada ide! Gue ada ide!” teriak saya.

Mba Opay dan Rara berhenti mengunyah.

“Idenya nih. Jadi, kita kumpulin semua anak kantor. Terus kita cuci pake sabun ini.”

Coklat di tangan saya seketika saja berubah menjadi sabun. Mulut Mba Opay dan Rara kini penuh busa. Mereka bicara dengan mulut mengeluarkan gelembung-gelembung sabun.

“Waahhh! Seruuuu!” Teriak Rara. Dia terlihat antusias karena mulutnya bisa mengeluarkan gelembung-gelembung sabun. Mba Opay tidak mau kalah. Dia membuka jendela, kemudian mengeluarkan gelembung-gelembung sabun dari mulutnya. Suasana kantor langsung berubah menjadi alun-alun luas. Banyak orang berkumpul bermain sabun. Mereka meniupkannya ke udara. Ramai-ramai bertepuk tangan bahagia.

Orang-orang mulai berdatangan membawa sabun. Alun-alun semakin padat. Saya pun kehilangan Rara dan Mba Opay. Mereka berdua ditelan jutaan manusia bermain sabun.

Saya kembali ke ruang miting. Duduk serius. Memikirkan ide iklan sabun yang kadang berubah menjadi coklat, menjadi sabun, menjadi coklat dan menjadi sabun lagi. Sampai saya tidak tahu lagi harus memikirkan apa. Bingung dan pusing setengah mati.

Mungkin lebih baik menyadarkan diri segera, lalu sabunan di kamar mandi supaya segar.

“sonofmountmalang”

Note: Di dunia nyata, saya dan Rara sudah tidak satu tim dan satu kantor lagi. Rara sudah pindah ke agency lain. Sementara Mba Opay juga tidak satu tim dengan saya. 

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s