mimpi copywriter (11) fonglasiong, cewek-cewek perancis!

 

Opening scene.

 

Adegan saya sedang berada di Perancis. Bergosip dengan cewek-cewek bule cantik. Postur tubuhnya tinggi, lekuk badannya aduhai, kulitnya memendar, konstruksi wajahnya ciamik! Saya menjatuh-jatuhkan cinta ke  cewek-cewek Perancis, di bawah menara Eiffel. Amour! Amour! Amourr…!

 Saya fasih sekali bicara dengan mereka. Sepertinya, tenggorokan saya habis dioperasi supaya bisa mengucapkan dialek seksinya Perancis.

Banyak sekali kosakata Perancis yang bisa saya ucapkan. Semisal La petit, fonglasiong, amour, amsiong, bongsong, jangsang dan seterusnya. Apa pun yang saya ucapkan dan apa pun yang cewek-cewek seksi itu ucapkan, kami sama-sama saling mengerti. Meskipun saya sendiri kadang berpikir, ”Kok perasaan ada yang ngaco ya.” Ah! Tapi mereka mengerti kok.

Hebatnya lagi, setiap kali cewek-cewek Perancis ngomong, otak saya terus menyuruh untuk mencium cewek-cewek ini. Entah kenapa, dialeknya bikin saya horny mati-matian! Emang seksi sadis nih cewek Perancis. Baru ngomong aja udah bikin terhorny-horny, apalagi telanjang. Tak terbayangkan gairahnya.

Cut to

Saya sedang naik mobil. Di sebelah saya duduk samar-samar orang yang sepertinya pernah saya kenal. Tapi tidak tahu siapa.

“Kita pergi bagi-bagi uang ke orang miskin ya,” katanya, “Yuk! Jalan.”

Dia menyuruh saya menyetir untuk pergi ke rumah orang-orang miksin. Dalam perjalanan menyetir, banyak hal yang saya temui. Melewati pohon nangka, buahnya jatuh ke kap mobil. Nangkanya pecah dan kami berdua makan buah nangka. Jalan lagi, ketemu orang-orang jualan bunga. Mereka memaksa saya untuk membeli bunga. Katanya untuk dikasih ke pacar.

 Cut to

 

Saya sedang memberikan segunduk bunga ke seorang cewek di salah satu kafe.

“Jadilah kekasihku, cinta…!” rengek saya.

Cewek itu mengambil bunga, kemudian membuka baju.

Asiikkk!! Ngilerrrr!

Namun, bajunya berjuta-juta lapis. Cewek itu tidak telanjang-telanjang juga.

Cut to

Saya kembali berada di atas mobil. Nyetir layaknya pembalap. Sampai di lampu merah, seorang polisi mencoba menghentikan saya.  

“Stop!” Polisi itu menghampiri.

Saya membuka kaca jendela, melemparkan bergepok-gepok uang ke arahnya.

“Ambil tuh!” teriak saya sambil memacu gas.

Polisi mengejar mobil saya. Dia berlari di belakang mobil. Saya tancap gas. Ketika tiba di jalanan sempit, mobil saya berubah menjadi motor. Masuk ke jalanan yang lebih sempit lagi, dimana anak-anak kecil sedang asik main kelereng, motor berubah menjadi sepeda. Saya pun mengayuh sepeda.

“Minggir! Minggir! Jangan maen di tengah jalan! Ntar mati ketabrak!”

Teriak saya sambil mengayuh sepeda kencang. Anak-anak itu tidak mau minggir. Saya lindas saja. Mereka terkapar. Saya berlalu pergi, mereka kembali berdiri dan bermain kelereng.

Anak ajaib!

Saya terus mengayuh sepeda. Di depan terlihat gerombolan ulama sedang bermain layangan. Mereka bersurban dan berpeci putih.

“Assalamualaikum, pak haji. Numpang lewat…” ucap saya sopan. Ulama-ulama ini sama sekali tidak menjawab ucapan saya. Mereka asik main layangan.

“Numpang lewat. Boleh?” tanya saya.

Mereka semua malah tertawa.

Gih! Gimana lewatnya nih. Jalanan penuh dengan benang gelasan. Kalau saya menerobos, bisa putus leher ini kena gelasan tajam.

Karena gondok ucapan saya tidak dihiraukan, akhirnya saya mengayuh sepeda dengan kencang. Dan Slepp! Satu benang gelasan nyangkut di leher.

Hahahahahahahah! Ulama-ulama itu tertawa. Saya melepaskan benang gelasan yang nyangkut di leher, lalu pergi meninggalkan ulama-ulama yang masih sibuk bermain layangan.

Cut to

 

Sampailah saya di sebuah rumah. Biliknya dari bambu dan lantainya dari tanah. Di rumah ini orang-orang sedang memasak berbagai jenis daging. Mereka memasak daging hidup-hidup. Masukin ayam hidup ke penggorengan. Ayamnya berontak sampai bertelor di penggorangan.  Masukin sapi, kerbau, domba dan kambing. Sangat tidak manusiawi!

“Uangnya kasih ke bapak itu,” cewek yang ngikut sejak dari naik mobil hingga naek sepeda, menunjuk ke bapak tua yang duduk santai di depan perapian. Mulutnya menghisap rokok sebesar kaki gajah.

“Nih, pak uang buat bapak.”

Saya memberikan bergepok-gepok uang ke si bapak tua.

“Taroh aja di situ. Tuh di sana topi capingnya, ambil sendiri. Pilih sukanya yang mana.”

Si bapak tua menunjuk deretan topi caping di samping perapian.

Saya menghampiri topi caping itu. Mengambil satu. Mengangkatnya. Berat banget. Tebalnya topi caping ini sekitar 15 CM. Gedenya seukuran payung. Terbuat dari kayu jati. Sudah dipernis mengkilat.

“Tuh topi bisa nahan rudal,” kata si bapak tua.

“Rudal?” tanya saya heran.

“Sebentar lagi, di luar hujan rudal,” jawabnya santai.

Tanpa berpikir panjang, saya memakai tapi caping. Rasanya seperti ada sebuah truk nongkrong di kepala. Topi terberat yang pernah saya pakai.

Cut to

Saya pergi keluar rumah. Mengejar ayam. Bertemu cewek cantik. Pacaran. Kenalan sama ibunya. Membangun rumah dari bambu. Jalan-jalan di sekitar monas. Pulang ke rumah si bapak tua. Jemput cewek yang ketinggalan di sana. Bertemu polisi. Ditilang. Uangnya dikembalikan, dompet saya diambil.

Adegannya semakin lama semakin rumit, ribet dan tidak berpola. Saya tidak ingat secara detail lagi adegannya. Terlalu berbelit-belit. Riweh!

Endshot

Saya terbangun, mengusap mata, membuka jendela dan melihat udara Jakarta. Bukan Perancis! Cis! Bleh!

 

“sonofmountmalang”

Note: Fonglasiong artinya aku mencintaimu:p

 

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s