Amiko, Oh Amiko!

Amiko, Oh Amiko!


Matahari siang ini berbeda. Warnanya lebih pucat. Langitnya pun membisu biru, keracunan terik memekik. Awan putih melipir ke pinggiran dunia. Dia takut terbakar gosong kalau dekat-dekat dengan matahari yang begitu telanjang, menelanjangi manusia di bawahnya. Bersyukur karena angin masih belum bosan bernapas keras-keras. Daunan dibuatnya bergoyang kencang. Ilalang-ilalang dijadikannya menari riang. Burung berkicau di atas ranting, berteduh di balik daun.

Panas-panas nyegerin!

Itulah gambaran siang bolong di Cimanggis, Depok, tempat saya bersemayam di akhir pekan.

Tapi, ada yang unik siang ini. Saya dan istri pergi makan di Warung Solo. Letaknya tidak jauh dari tempat tinggal. Meskipun seringkali melewatinya, baru kali ini mencoba makanannya.

Di Warung Solo ini saya memesan PEPES IKAN MAS. Istri saya pesan AYAM BAKAR. Kami berdua menikmati makan siang.

“Jatmiko! Sini!”

Ada suara pria memanggil nama itu dengan kencang. Saya melihat ke depan, seorang pria menatap saya. Saya melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Saya kembali menatapnya.

“Eh, Amiko! Sini!” Pria itu terlihat girang, ia melambaikan tangannya, meminta saya keluar.

“Bapak mana? Amiko! Jatmiko! Bapak mana?” tanyanya sambil senyum-senyum.

Saya belum bisa menjawab apa-apa. Masih terkesima.

Pria itu pergi ke seberang jalan dengan wajah gundah dan kecewa.

Siapa Amiko? Siapa Jatmiko? Siapa pria itu?

Sambil mengunyah PEPES IKAN MAS, kepala saya dipenuhi sejuta tanya. Kenapa pria itu tiba-tiba datang dan mengajak bicara. Mungkinkah dia mengenali saya sebelumnya? Kapan? Dimana? Apakah saya mengenalnya? Pernah bertemu dimana?

Otak saya terus loading mencari potongan memori yang tersembunyi, tapi wajah pria itu tidak ada di memori saya. Saya hanya menemukan satu file yang mirip dengannya. File itu bernama Mbah Surip. Tapi dia bukan Mbah Surip. Mbah itu sudah mati berapa tahun lalu. Saudaranya? Ah, tidak mungkin. Saudara Mbah Surip tidak ada yang seperti pria ini. Rambutnya memang sama. Gimbal berantakan kemerahan seperti ALAY, baju compang-camping tidak karuan, daki menutupi seluruh kulitnya yang terbuka. Bibirnya HITAM IKAL, kumis tipis berwarna merah kecoklatan. Janggut panjang jarang-jarang. Kaos hitam sudah berlumut menempel di tubuhnya yang kurus kering.

Siapa pria ini?

Saya tidak bisa menemukan jawabannya.

Tidak lama kemudian, dia datang lagi. Senyum girang membungkus bibir hitamnya.

“Amiko! Sini! Amiko! Sini! Bapak mana?! Bapak?! Kemana bapak? Sini! Amiko!? Bapak mana? Sini?!”

Dia mengajak saya keluar, saya tetap duduk menatapnya.

Dia terlihat kecewa dan terpukul penuh kesedihan. Pria itu duduk di aspal pinggir jalan sambil memukul-mukul aspal. Kemudian dia berdiri lagi.

“Amiko!! Sini! Bapaknya mana?”

Pria itu putus asa memanggil saya tidak juga menghampirinya. Dia seperti ingin menangis, mengepalkan tangannya, lalu mengibaskannya. Wajahnya sangat muram.

“Amiko! Aahhh!” teriaknya gusar.

Saya masih diam menatapnya.

“Ma kasih ya!” dia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Pria itu pergi ke seberang jalan. Meninggalkan saya yang masih terbengong-bengong.

Setelah pria itu lenyap, saya baru sadar, pria yang memanggil saya dengan nama Jatmiko dan Amiko ternyata orang gila.

Hah!

Pria itu sungguh gila, tapi kenapa dia memanggil saya Jatmiko. Nama yang nyaris mirip dengan nama panggilan saya. Jat! Jat!

Wadduh!

Lantas, Amiko itu siapa?

Hanya Tuhan dan orang gila itu yang tahu.

“sonofmountmalang” 06032011


Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s