mimpi copywriter (14) manisnya gadis manis

 

 

Cerita ini mulai dibuka di tempat saya sedang terdampar, di sebuah pedesaan dan terobsesi dengan satu GADIS DESA. Seluruh pria menyebutnya dialah kembang yang mekar di taman surgawi. Barang siapa bisa memetiknya, dia mendapatkan dua surga. Siapa yang ngga mau coba!

Menurut saya, dia memang  gadis desa paling sempurna sepanjang garis pedesaan di muka bumi ini. Seseorang pasti telah menduplikasi bidadari dengan mesin super canggih. Kemudian melepaskannya di sebuah pedesaan. Atau bisa jadi dia itu bidadari sungguhan yang tertinggal saat mandi di curug ketika pelangi melengkung di perbatasan langit dan bumi. Pelanginya memudar lebih awal. Maka, jadilah jembatan menuju langit itu hilang tanpa bekas. Bidadari itu tidak bisa kembali ke langit. Dia pun menyamar menjadi gadis desa. Sosok yang terlalu sempurna untuk disebut gadis desa.

Saya harus mendapatkan GADIS ini. Apa pun caranya!

Sekarang, gadis SUPER CANTIK ini sedang berjalan di sebelah saya, dan dua teman lainnya. Tapi wajah kedua teman saya ini tersamar oleh bayangan tipis. Mata saya tertutup bayangan wajah gadis desa yang cantiknya benar-benar keterlaluan.

Oh, ya ada yang lupa. Nama gadis desa itu Mimis. Sesekali terdengar ada orang memanggilnya Iis. Ada yang juga yang memanggilnya Miss. Saya tidak tahu mana yang benar. Saya sendiri memanggilnya Dis dan Gadis. Biar ujungnya tetap terdengar IS. Dia tidak keberatan dipanggil dengan nama itu.

Gadis.

Nama yang sealiran dengan kecantikannya.

Dan saya pun sudah tidak tahan ingin memeluk alirannya.

~

Kami berempat berencana mancing ikan di sawah. Namun, tidak ada sepetak pun sawah yang kami temui. Di sisi kanan kiri jalan yang ada hanyalah deretan kolam ikan. Orang-orang memancing ikan sambil berenang di air kolam berwarna coklat. Suasananya mirip seperti kolam umum di pedesaan.

“Kita nggak bisa nih mancing di sini. Nggak ada sawah nih.”

Saya bicara ke mereka yang tidak tahu harus berbuat apa dengan pancingannya.

“Enaknya kita cari tempat sepi nih.”

Saya menyambung pembicaraan lagi.

“Dimana?” Gadis itu bertanya.

“Kita ke kebun,” jawab saya.

Ketiganya berpikir.

“Gue ga ikut.”

Salah satu teman yang tidak jelas siapa nama dan wajahnya mengundurkan diri. Dia ikut gabung dengan kebanyakan orang di kolam ikan.

~

Sekarang tinggal kami bertiga. Satu teman pria yang sejak tadi tidak saya kenali, kini bayang-bayang di depan wajahnya mulai menghilang. Dia adalah teman SD saya. Namanya Cepi. Panggilannya Cecep. Rambutnya keribo, kulitnya hitam. Semakin ditegaskan wajahnya semakin jelas. Teman saya ini bukan teman SD melainkan teman sekantor. Iqbal namanya. Tapi tubuhnya tidak segentong biasanya. Perutnya rata, badannya kurus dan lebih pendek. Saya menegaskannya kembali wajahnya sambil berjalan menuju perkebunan. Lama-lama kalau diperhatikan Iqbal ini mirip sekali dengan Bobby, teman sekantor juga. Sekilas-sekilas saja teman saya ini selalu berubah. Selayang pandang menjadi Bobby dan selayang menjadi Iqbal. Menjadi Iqbal atau pun Bobby atau pun teman SD saya, tidak sepatah kata pun yang bisa saya dengar ketika dia bicara. Suara Gadis itu sudah menutupi gendang telinga saya dari suara-suara lainnya.

Hebat ya!

Berarti suara gadis itu pasti memiliki fruekuensi jutaan desibel.

“Kita ke kebun mau apa?” tanya Gadis itu setelah lama berpikir.

“Metik tomat. Kamu punya kebun tomat kan?” tanya saya.

“Ada, tapi jauh.”

“Bisa pergi kan?”

“Harus minta ijin bapak dulu ya.”

“Iji mah gampanglah. Pasti bisa.”

“Bapakku galak banget. Aku takut.”

“Kamu bisa kok. Kita pasti bisa ke kebun tomat ya.”

Tiba-tiba saja hujan turun begitu deras. Bulir-bulirnya sebesar tumpahan air dari ember. Teman saya, yang sekilas mirip Bobby, mirip Iqbal dan mirip Cecep berlari ke belakang. Katanya mau ambil payung sambil menunjuk ke pohon pisang.

Saya dan Gadis melanjutkan perjalanan di bawah guyuran hujan.

Ah! Romantis sekali!

Kapan lagi bisa hujan-hujanan dengan seorang KEMBANG DESA idaman jutaan pria. Ini kesempatan saya untuk mendapatkannya.

Pikiran saya langsung dipenuhi sesuatu yang kotor. Sempat terlintas, nanti kalau sudah di kebun tomat, saya akan mencumbunya, mengajaknya bercinta. Pasti menyenangkan sekali ya bisa bercinta di kebun tomat. Pikiran cabul itu mulai menjejali rongga-rongga di otak. Lama-lama, rasa suka berbumbu cinta berubah menjadi napsu yang meledak-ledak, penuh gas Hidrogen.

I’m in danger nih!

Xixixixixi:d

~

Perjalanan menuju kebun sangatlah jauh. Sebelum mencapainya, kami bertiga harus melewati puluhan rumah, sungai dan perbukitan. Teman yang mengambil payung belum juga datang, sementara kami berdua sudah basah kuyup. Gadis itu dipeluk hujan kedinginan. Rambutnya basah mendesah, bibirnya berlumuran hujan, pipinya dijadikan jalur bulir-bulir untuk mengalir, kaos putih tipisnya menyatu dengan kulit. Payudara tertutup bra hitam menyembul seperti gunung perawan.

Ah! Cabul sekali pikiran saya ini.

“Dis, kita istirahat dulu ya.”

Saya mengajak Gadis berhenti di sebuah pos ronda.

Gadis itu tidak bicara apa-apa. Ia pasrah pada keadaan. Wajahnya sendu-sendu menggairahkan. Pipinya merona basah, bibirnya basah merekah.

Haish!!

Kenapa jantung saya meronta-ronta seperti ingin mendobrak keluar.

Tuhan, jauhkan saya dari perbuatan dosa.

Begitulah gumaman saya. Tapi otak yang terlalu cabul dan napsu yang terlalu menggebu, membuat saya mendekati Gadis yang merebah di pos ronda.

“Aku takut…” gumamnya pelan.

“Takut apa?”

“Bapakku galak. Aku takut nggak dikasih ijin pergi ke kebun tomat.”

“Pasti dapet ijin kok. Kamu mintanya baik-baik aja ya.”

Saya membelai sisa hujan di pipinya, mengusap basah di rambutnya dan mengeringkan rintik di bibirnya. Kemudian, saya memeluk hujan di seluruh tubuhnya. Mendadak saya menjadi pria paling romantis sepedesaan. Gadis itu mulai termakan rayuan maut saya. Dia memasrahkan dirinya di pos ronda.

Unfortunately! Seorang teman yang tadi bilang mau mengambil payung tiba-tiba datang membawa daun talas.

“Nih payungnya,” katanya sambil menyodorkan dua helai daun talas segede payung. Satu buat saya dan satu lagi buat Gadis itu.

Hellowww! Ngapain dateng! Haddah!

Saya menggerutu dalam hati.

~

Gadis mengambil daun talas. Menaruhnya di atas kepala.

“Aku pergi dulu ya. Mau minta ijin bapak. Tunggu di depan rumah aja.”

Kami berdua mengangguk. Melihat ke arah Gadis itu berjalan menuju rumahnya. Ternyata rumahnya tidak jauh dari depan pos ronda. Banyak rumah besar dengan kolam ikan seukuran DANAU TOBA. Salah satu rumah Gadis itu termasuk yang paling besar dengan taman seluas KEBUN RAYA BOGOR. Anjing-anjing di sekitar rumahnya langsung menyambut sang Gadis. Beberapa menyeringai ke arah kami berdua.

Semoga saja Gadis itu mendapatkan ijin pergi ke kebun tomat.

~

Setelah ditunggu berjam-jam, Gadis itu tidak juga keluar rumah. Dia malah sibuk memasak di dapur bersama ibunya. Sepertinya dia tidak diberi ijin pergi ke kebun tomat.  Orang tuanya tahu kali kalau anaknya akan diperdaya di kebun tomat. Bisa jadi sih.

Yahhh! Gagal bercinta di kebun deh ah.

Kecewa berat! Ternyata gadis itu lebih milih keluarganya ketimbang saya.

Tapi saya tetap menunggu di depan rumah untuk mendapatkan kepastian.

Setelah lama menunggu, seorang bapak tua dan gahar keluar rumah.

“Kamu mau ke kebun tomat?!” tanyanya galak.

Waks! Kacau! Yang keluar malah bapaknya. Saya tidak menjawab apa-apa saking takutnya. Teman saya yang sejak tadi diam saja mengangguk.

“Tunggu di sini!” ucap bapaknya Gadis.

Dia masuk ke dalam rumah. Keluar lagi membawa pancingan. Sementara saya pelan-pelan berjalan menuju tempat sembunyi. Saya tidak berani ikut ke kebun tomat dengan bapaknya. Biarkan teman saya saja yang ikut. Saya mengawasinya dari balik pohon. Di balik pohon itu ada Bagus sedang memancing ikan di darat. Wah! Kebetulan ada orang yang saya kenal. Lumayan untuk dijadikan teman berlindung.

“Gus, diem ya. Jangan bilang-bilang gue sembunyi di sini.”

Bagus mengangguk.

Saya duduk di sebelahnya untuk  ikut memancing ikan di darat sambil melihat bapak sang Gadis dan teman saya.

“AYO!” teriak bapak sang Gadis sambil mendorong teman saya.

“Ga jadi, pak. Ga jadi ke kebun.” jawab teman saya. Dia menolak pergi ke kebun tomat.

Bapak sang Gadis memaksa teman saya pergi ke kebun tomat. Teman saya tidak mau bergerak.

“JALAN!!” teriak bapak sang Gadis.

“Ga mau, pak.”

Teman saya ngotot tidak mau pergi.

Bapak sang Gadis mengaitkan kail ke baju teman saya. Lalu meraih pecut. Teman saya dipecut berkali-kali.

“Gue temenin ga mau! Lu ga hargai GUE ya!!”

Ctar! Pecut berkali-kali menghantam teman saya. Dia tidak bisa berlari karena pancingan mengait di tubuhnya. Setiap kali mau berlari, bapak sang Gadis menariknya, memecutnya lagi. Teman saya sudah bersujud minta ampun, si bapak itu tidak mau tahu. Amarahnya semakin meningkat. Jantung saya berdebar melihat penyiksaan mengerikan. Mau menolong, takut terkena pecutan si bapak.

“KAMU harus tau rasanya disiksa! ANAK KURANG AJAR! Ga tau diri! Ditemeni ga mau! Dasar!”

Ngilu melihat teman saya disiksa. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga ibu sang Gadis. Hanya bisa teriak-teriak histeris,”Berhenti! Berhenti!”

~

Bapak sang Gadis semakin GILA. Dia mengambil arit. Teman saya yang minta ampun di tanah, tangannya langsung diraih. Dibentangkan. Dan KREK! Arit itu memutuskan tangan teman saya. Napas saya langsung sesak. Jantung berdebar kencang.

Saya langsung bangun saja. Mengatur napas tersengal-sengal. Sangat shock melihat adegan mimpi sesadis itu.

Setelah napas tidak sesak, saya ke kamar mandi mencuci muka untuk menghapus adegan sadis tadi.

Jarum jam di dinding masih menunjukkan pukul empat pagi. Saya tidak berani tidur lagi. Terlalu menyeramkan untuk dilanjutkan. Akhirnya, saya membuka mata sampai matahari menerangi dunia.

Note: Di dunia nyata, Iqbal dan Bobby itu teman sekantor.  Sementara Bagus itu bos saya. Di dunia mimpi, peran mereka tidak ada hubungannya dengan profesinya masing-masing. Yah, namanya juga mimpi. Apa pun bisa terjadi.

 “sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s