Dari Drawing Squad Sampai Gan Amel

Dari Drawing Squad Sampai Gan Amel


“Eh, anak luar nggak boleh ikutan maen futsal lho…”

Canda seorang wanita berambut pendek.

Ia sedang menikmati sate padang di depan gerobak. Wajahnya terlihat sangat jelas. Saya kenal betul 100 persen. Dia adalah Farika. Ia istrinya Ica.

Ica merupakan salah satu pemilik The Drawing Squad, Biro Iklan tempat saya dulu bekerja sebagai copywriter. Meskipun sudah tidak lagi menjadi karyawannya, beberapa kali saya menyempatkan bermain ke kantornya.

“Bercanda kok Jats. Ex-TDS boleh main juga,” lanjut Farika.

Dia begitu nikmat melahap sate padang, soto ayam dan makanan lainnya. Banyak sekali gerobak-gerobak penjual makanan di halaman kantor The Drawing Squad. Tidak tahu kenapa bisa sebanyak itu gerobaknya.

“Dalam rangka apa sih?” tanya saya penasaran ke Farika.

“Ini ulang tahun pernikahan aku dan Ica,” jawabnya santai.

“Ambil aja makanannya sampe puas ya.”

Farika menunjuk deretan gerobak.

Masing-masing gerobak dijaga para Account Executive The Drawing Squad. Ada Liska, Hilda dan Aldin. Selain menjadi AE, mereka juga jadi penjaga gerobak makanan.

Wah! Multifungsi juga yah!

“Woii! Jats! Sini!”

Nah, itu suaranya saya kenal. Itu suara Ica. Dia berteriak dari tengah lapangan.

Di tengah lapangan sudah ada teman-teman lama sewaktu saya kerja di kantor ini. Ada Kunil, Berry, Choky dan beberapa wajah baru. Saya tidak begitu mengenalnya.

Saya menghampiri ke tengah lapangan.

“Udah siap maen loe?” tanya Ica

“Maen apaan?”

“Maen bola naek sepeda.”

“Siap!”

Main siap aja. Padahal saya tidak sedang naik sepeda.

~

Sebelum bermain bola dengan sepeda, Ica mengumpulkan semuanya.

“Gini! Gini!” kata Ica.

Semua serius mendengarkan.

“Idenya simple banget! Gimana caranya supaya IKLAN ini bikin orang NGAKAK! Intinya bikin IKLAN GILA! Gimana?! Setuju nggak, bos?!”

Kami semua mengangguk setuju.

“Cara brainstormnya simpel aja. Loe semua cukup maen bola sambil sepedaan. Percaya deh sama gue! IDE GILA itu pasti dapet,” lanjutnya.

Sekali lagi kami semua mengangguk.

“Sekarang loe semua ambil posisi. Siapa kiper, siapa striker, siapa bek. Terserah loe. Atur aja, boss. Inget ya. Mikir GILA!”

Kami semua menyebar mengambil posisi masing-masing. Ada yang jadi striker, kiper dan bek.

Ketika Ica memberikan aba-aba, semuanya bersiap naik sepeda.

Priiit!

Peluit panjang berbunyi. Semuanya langsung asik bermain bola di atas sepeda. Hanya saya yang lari ke sana kemari mengejar bola tanpa sepeda.

Nasib nggak punya sepeda!

Permainan sudah berlangsung lama. Tidak ada satu pun tercipta. Sementara keringat sudah mengucur. Kami semua kecapaian. Rebahan di pinggir lapangan mengatur napas.

“Gila ya! Napas gue udah nggak kuat gini.”

Ica ngos-ngosan di samping sepedanya. Badanya basah.

“Dapet IDE GILANYA?” tanya Ica.

Semua saling lirik.

Nihil!

Boro-boro dapat ide. Dapat cape iya banget!

Brainstorm sambil sepedahan dibarengi main bola sama sekali bukan ide bagus.

“Taelah! Menang cape doank nih!” lanjutnya masih ngos-ngosan.

“Cara lain kali, Ca,” saya angkat bicara.

“Gimana gimana?”

“Nah, itu dia. Gue nggak tau cara lainnya apaan.”

“Bwkekekekke! Loe tau kuntul nggak jat? Loe tuh kaya KUNTUL!” candanya kesal.

Yah! Tae ah!

~

Berhubung tidak dapat ide, akhirnya kami semua menikmati makanan dari gerobak sambil nonton pertunjukan teater.

Siapa tahu dapat IDE GILA setelah nonton teater ini.

~

“Gan!”

Suara wanita memanggil saya dengan panggilan yang biasanya dipakai anak—anak kaskus. Ketika saya melirik ke sebelah kiri, eh ada Gan Amel terduduk manis dengan buku sketnya.

Tangan kanannnya sibuk mencoret-coret bukunya.

Amel adalah salah satu partner kerja paling absurd, aneh, nyeleneh sekaligus berbakat! Dia Ex-Art Director saya. Sekarang dia hadir lagi di samping saya. Pasti untuk kerja bareng.

“Yes! Gan?” jawab saya sambil menggeser badan lebih dekat dengannya.

“Keren ya teaternya.”

“Keren banget, Gan.”

“Buat ide iklan bagus nih.”

“Banget! Loe langsung sket aja, Gan.”

“Ini lagi gue sket.”

“Kayanya ini lebih ke tone colornya ya, Gan. Bukan ke idenya.”

“Ya betul!! Setuju, Gan!”

Ah! Thank God! Saya disatukan kembali dengan partner kerja aneh.

~

Namun, entah ide iklan apa yang sedang Amel skecth. Kelihatannya SOMETHING BRILLIANT! Pasti karena panggung teater di depan. Warnanya teaternya mencengangkan mata. Ada labirin-labirin warna tumpang tindih satu sama lain. Semua warna tertata menggiurkan seperti kembang gula. Tetapi identitas pertunjukan tidak terdeteksi. Saya tidak tahu itu pertunjukan apa. Cape yeeehh!

Intinya sangat menarik!

“Udah kelar nih Gan.”

Amel sudah menyelesaikan sentuhan akhirnya.

“Sip, Gan!”

“Menang AWARD nggak ya?”

“Berdoa ajalah!”

Amel menutup buku sketnya.

Ia nyeket apa juga saya tidak tahu. Katanya sih storyboard untuk bikin iklan keren. Produknya apa juga belum jelas.

Baiklah, Mel. Semoga iklannya keren banget.

~

Saya dan Amel pergi keluar dari ruangan teater. Saat membuka pintu, saya baru sadar, teaternya ada di atas bukit. Untuk bisa turun ke bawah, kami berdua harus meluncur di tanah berpasir. Seperti meluncur dari puncak gunung Bromo. Bekas luncurannya meninggalkan debu tebal melambung ke udara.

Sesampainya di bawah, saya melihat pemandangan luar biasa menawan. Sebongkah awan membujur dari selatan ke utara. Tebalnya sekitar 10 meter. Warnanya gradasi dari hitam, abu-abu, putih, kuning, dan merah api menyala. Awan itu merumbai-rumbai seperti akar pohon bakau.

“Mel! Liat awannya! Gila!”

Saya berteriak ke arah Amel.

“Keren najis! Foto, Gan!” sahutnya.

“Harus nih!”

Saya mengambil Blackberry. Menyalakannya. Susah. Berkali-kali memencet tombol ON, Blackberry tidak bisa menyala juga. Padahal awan itu mulai bergerak perlahan ke selatan.

Cring!

Akhirnya terdengar bunyi Blackberry ON.

Te’lot!!

Terdengar bunyi Blackberry lowbat . Lampu merah berkedip-kedip.

Blackberry pun metong  dengan tenang. Saya tidak sempat mengambil foto awan.

Beruntung Amel dengan gesit mengeluarkan kamera. Dia mencoba mengambil sudut pengambilan gambar. Matanya dipicing-picingkan.

Saat sedang meraba-raba sudut, tiba-tiba awan bergerak cepat. Dalam hitungan detik, awan itu tersedot sebuah kekuatan magis di selatan.

Awan pun hilang dari pandangan. Sekarang, kekuatan magis itu menyedot langit biru, tanaman dan daun-daun.

Amel ikut tersedot.

“Mellll!!! Pegangan yang kuat!!”

Saya memegang tangan Amel kuat-kuat.

“Iya, Gaaannnn! Pegang tangan gue yaaa!”

Kami berdua saling berpegangan tangan agar tidak ikut tersedot kekuatan magis itu.

~

Semakin lama daya sedotnya semakin dahsyat! Saya dan Amel sudah tidak kuat lagi menahan kekuatannya.

Saya terpaksa melepaskan tangan Amel. Dia melayang di udara menuju pusaran sedotan seukuran lapangan bola.

“Gaannn! Nyusul gue aja di bawah!!!”

Amel berteriak.

Tubuhnya masuk ke pusaran sedotan. Dia menghilang seketika dari pandangan mata.

“Maafin gue, Mel. Maafin gue…”

Saya menangis bombay! Saya kehilangan satunya-satunya partner kerja di dunia periklanan. Saya kehilangan Art Director canggih dan absurd. Rusak sekaligus berbakat.

Whuaaaaa!

Saya terus menangis sampai air mata menciptakan selokan besar. Ikan-ikan berenang di dalamnya. Kemudian saya menangkapi ikan tersebut. Ikannya aneh. Bentuknya gepeng dan pendek. Tubuhnya licin seperti belut.

Saya terus menangis sampai terbangun dari tidur, lalu meraba sudut mata, ada sedikit air hangat menetas.

~

Hihihihi!

Jadi malu sendiri.

~~~

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s