mimpi copywriter (16) berbatang-batang emas batangan

Saya memasuki ke sebuah bank bergaya arsitektur Bizantium. Kubah bank setinggi langit, seluas mata memandang. Merpati-merpati dan burung pipit terbang melayang di sekitar kubah.

Kemegahannya tidak mungkin terkalahkan bangunan mana pun. Dinding-dinding dan tiang berlapis emas murni. Kemilau matahari dan lampu memantulkan sinar keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Semua yang terkena cahayanya berubah menjadi emas.

Menakjubkan!

~

Di dalam bank ini, seakan-akan, segalanya menjadi begitu berharga. Setiap benda atau pun orang memiliki takaran karat.

~

Saya mendekati salah satu petugas bank. Dia berdiri di dekat tiang sambil mengetuk-ngetuk pentungan emas ke tangannya. Wajahnya kemuning memantulkan kekayaan emas.

“Pak! Harga emas sekarang berapa?” Tanya saya.

“Mahal sekali….,” jawabnya ramah, ”Sekitar satu juta lebih per gram.”

“Ck! Ck! Ck! Kalau jual emas sekarang, bisa kaya donk ya.”

“Bisa, pak. Bapak mau jual?

“Iya, saya mau jual emas.”

Saya menunjuk ke batangan emas di sudut ruangan. Di sana terlihat setumpuk batangan emas tertutup kertas telor.

“Boleh dilihat?” Tanyanya.

“Boleh.”

Kami berdua berjalan menuju tumpukan batangan emas.

Wah! Wah! Emasnya banyak sekali. Ini pertama kali dalam hidup saya memiliki emas dalam jumlah kolosal. Kalau dijual, saya pasti bisa membeli satu pulau termewah di dunia.

“Laku berapa nih pak?”

Saya mengambil satu batang emas terbungkus kertas telor. Batang emas itu saya sodorkan ke petugas bank. Dia mengambilnya. Melihatnya penuh ketelitian.

“Sebentar saya cek dulu ya.”

Petugas bank itu mengeluarkan pisau lipat. Dia merobek kertas pembungkus emas dengan gaya mafia narkoba mengoyak bungkusan berisi bubuk putih.

Clep! Brettt!

Suara pisau lipat merobek kertas pembungkus emas.

Kilauan dari sebatang emas membuat mata petugas itu berubah menguning.

Baru kali ini saya melihat batangan emas di depan mata. Betapa beruntungnya hidup saya. Bayangan menjadi orang kaya langsung menggelayut di kepala. Liburan ke Italia, Spanyol, Maldives, Antartika, Antariska dan banyak lagi tempat eksotis di dunia yang ingin saya kunjungi.

~

Petugas bank itu sudah menelanjangi batangan emas dari pembungkus kertas telor. Dia menciumnya, mengusap-ngusap permukannya, mengetuk-ngetukannya ke lantai. Langkah terakhir, dia menggigitnya.

“Selamat, pak. Ini harganya satu MILYAR per batang,” katanya sambil memberikan batangan emas milik saya.

Saya mengambilnya.

“Hah!? Satu MILYAR?! Horeeee! Kayaaa! Jadi kayaaaaa!”

Saya berteriak keras sambil loncat-loncat saking girangnya. Tapi, suara itu hanya sebatas di tenggorokan, dan loncatan itu hanya berupa kejang-kejang kecil.

Semakin lama kejang-kejangnya semakin terasa lebih nyata.

Perlahan saya sadar, saya sedang mencoba menggerakkan kaki yang terlilit selimut.

Saya pun bangun. Membetulkan simpul selimut di kaki.

“Kemana perginya batangan emas itu ya?” Pikir saya dalam hati.

Saya melirik ke kanan, kosong. Tidak ada batangan emas di kanan saya. Saya melirik ke kiri, di situ hanya ada istri sedang tertidur pulas. Tidak ada batangan emas di sana.

Ah, mungkin inilah emas sesungguhnya ya, seorang istri.

Ia lebih bernilai dari batangan emas.

Hmmm….

~

Saya memeluknya, kemudian mencium pipinya.

Ayo, banguuunn!

Hihihihi

 

“sonofmountmalang”

 

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s