mimpi copywriter (17) farewell

 

Suasana dibuka di pinggiran sungai kecil. Letaknya persis di depan Plaza Bapindo, jalan Jenderal Sudirman. Saya dan teman sekantor sedang bermain di pinggir sungai. Warna air sungainya sebiru laut Maldives, begitu pun dengan pasir putihnya. Gelombang kecil di sungai menyapa pasir di pinggirannya. Lumayan juga nih bermain di sungai berpasir. Berasa liburan di mini Maldives.

Perlahan angin mulai berhembus. Hembusannya semakin lama terasa semakin kencang. Daun-daun dipaksa lepas dari rantingnya. Air di sungai mulai naik. Gelombang air meninggi. Tidak butuh waktu lama untuk melihat tsunami di sungai yang secepat kilat sudah berubah menjadi laut.

Gelombang ganas menerjang kami semua.

Kami berlari dikejar gelombang. Awalnya hanya gelombang air saja. Saat gelombang itu mendekat, wujudnya berubah menjadi beberapa superhero. Spiderman, Batman, Superman, Ultraman, Xmen dan banyak lagi superhero mengejar kami semua. Saat berlari di samping kami, superhero itu berteriak kencang,”Surpriseee!”

Saya melihat ke samping saya. Spiderman membuka topengnya. Dia berteriak lagi, “Ini bercandaan doank tau!”

Apa ya maksudnya? Saya nggak ngerti.

“Itu gelombang buatan anak-anak Ogilvy!” teriaknya di samping saya yang terus berlari menghindari terjangan gelombang.

Saya berhenti berlari. Melihat ke belakang. Gelombang masih tinggi, angin masih kencang dan pohon-pohon doyong. Gila nih anak-anak Ogilvy, bikin gelombang seenaknya aja. Bahayain hidup orang neh!

Saya balik arah. Berjalan ke arah gelombang tinggi. Niat saya ingin menghajar gelombang itu. Tapi, saat sampai di depan gelombang, niat saya langsung berhenti.

Saya tertegun sekaligus terpana melihat anak-anak Ogilvy berenang-renang di air sambil berfoto ria. Semuanya cowok dan hanya mengenakan celana dalam. Sementara di belakangnya terpasang kipas angin raksasa. Kipas raksasa itu berputar kencang, menghasilkan tiupan dahsyat di air sungai. Dari tiupan itulah gelombang tinggi tercipta.

Ohhhh! Kipas angin raksasa ini penyebabnya. Gemblung ya. Buat apaan coba bikin gelombang sebesar itu.

 

“Oi! Loe bikin ombak ngebahayain banget tuh!” teriak saya ke cowok-cowok bercelana dalam.

Damn!

Pemandangan paling nggak enak neh!

“Iye, kita semua sengaja bikin ombak. Ini kan farewell Tira.” Jawab salah satu cowok yang pegang kamera.

“Heh?! Tira?”

“Iya, hari terakhir dia kerja di Ogilvy. Makanya kita kasih kejutan.”

“Bujeettt! Kejutan apa kejutan. Nggak bisa begini! Gue lapor polisi!”

Saat itulah polisi air langsung datang. Yah! Belum juga lapor. Dia udah datang duluan.

“Ini tanggung jawab siapa?” Tanya pak polisi, “Bahaya nih! Harus dihentikan!”

“Kerjaannya anak-anak Ogilvy, pak!” saya langsung jawab.

“Oh…. Ya sudah. Jangan lama-lama bikin ombaknya.”

Lha? Maksud lho, pak???!!

 

Polisi air pergi menggunakan mobilnya yang bisa berjalan di air.

Nguiiingg! Sirine menyala. Polisi hilang ditelan gelombang. Modar lho pak!

Saya kembali ke cowok-cowok yang berfoto ria di air.

“Sampai kapan neh gelombangnya?” tanya saya kesal.

“Bentar lagi. Nunggu Tira muncul.”

“Emang tuh anak kemana?”

“Katanya sih mau beli duren dulu. Kita mau pesta duren.”

Apa hubungannya pesta duren sama surprise ngasih gelombang ya? Aneh banget konsepnya.

 

Saya pergi meninggalkan cowok-cowok itu. Lama-lama geli juga liat cowok telanjang basah-basah di air. Idiiiihh!

 

Saya berjalan menuju sawah. Di dekat saung, teman-teman saya sudah menunggu.

“Kemana aja sih loe?”

“Lha pan gue dikejar gelombang tinggi.”

“Ya lari aja kaleee!”

“Gue udah lari, tapi gue penasaran kenapa tiba-tiba ada gelombang. Eh, taunya tuh gelombang emang sengaja dibuat sama anak-anak Ogilvy. Katanya sih buat ngasih kejutan ke Tira.”

“Yang bener?!”

Semua wajah menatap saya.

“Iyak! Hebat ya tuh anak-anak Ogilvy. Mereka udah bisa bikin gelombang buatan plus angin kencang.”

“Hebat amat! Pasti menang GOLD tuh di Cannes.” Salah seorang teman saya nyeletuk. Ntah siapa dia. Wajahnya terhalang air percikan air.

???????????????????? Ekspresi wajah kami semua dengan tatapan nanar.

“Tiranya mana?” tanya saya

“Dia lagi pergi beli duren. Buat farewell-an.”

Anak-anak Ogilvy juga bilangnya Tira mau farewell-an. Dia mau resign dari Ogilvy. Terus kenapa Tira mau farewell-an sama anak-anak kantor. Harusnya dia kan farewell-an sama anak Ogivly.

Grrrrr!!

“Bukannya Tira mau farewell-an sama anak-anak Ogilvy?” tanya saya heran.

“Anak Ogivly gabung sama kita. Makan duren bareng. Nah tuh Tira datang.”

Teman saya menunjuk ke seberang sawah. Tira datang membawa duren satu mobil pick up. Penuh banget.

Tira sampai di depan kami semua.

“Nih ye durennya. Makan tuh sampe puas!”

Tira turun dari mobil. Dia menurunkan durennya.

“Sayangnya gue nggak suka duren, Tir.”

“Ini durennya beda, jats.”

Tira membelah satu duren. Dia menyodorkan ke saya,”Duren ini nggak bau dan nggak manis.”

“Lha terus?”

“Udah makan aja.”

Saya mencicipi duren. Rasanya memang beda. Teksurnya kasar, rasa hambar dan tidak berbau sama sekali. Saya melahapnya dengan nikmat. Begitu juga dengan yang lain, sibuk melahap duren. Kami semua menikmati duren satu pick up sambil ngelantur soal kerjaan, suting iklan, ajang award, resign dan pembicaraannya lama-lama tersamar oleh bising suara alarm.

Saya bangun. Mengecap-ngecap lidah, merasakan kembali rasanya duren hambar tak berbau. Mengingatnya membuat saya ingin merasakan nikmatnya makan duren.

Hmmm….

 

“sonofmountmalang”

Fakta: Tira adalah karyawan baru di kantor tempat saya. Dia sebenarnya sudah lama resign dari Ogilvy, tapi entah kenapa mimpi saya munculnya baru sekarang. Saat saya sampai di kantor, saya mendapati Tira membawa coklat. Untunglah bukan duren.

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s