mimpi copywriter (18) gunung meletus

 

Warna langit di atas kepala semu abu-abu. Angin bertiup kencang, menghalau burung-burung terbang. Saya dan teman-teman kantor menatap gunung penuh rasa cemas.

Kenapa cemas?

Terang saja cemas. Beberapa jam lalu, sebuah gunung meletus. Untungnya tidak memuntahkan material sepanas gunung Merapi. Letusannya hanya menimbulkan hujan abu tipis saja.

“Kayanya bakalan ada gunung yang meletus lagi ya,” gumam seorang teman.

“Iqbal nih rese emang,” timpal teman satu lagi.

“Iqbal?” tanya saya heran,”Iqbal siapa? Kenapa dia?”

“Iqbal! Iqbal mana lagi! Iqbal partner loe tuh!” sahut teman saya satunya kesal.

“Kenapa lagi dia?”

“Kan dia tuh yang ngeletusin gunung tadi.”

“Heh?! Bisa begitu?”

“Ya bisalah!”

Seorang teman saya menjelaskan caranya Iqbal meletuskan gunung.

 

Caranya sangat gampang, katanya. Semua gunung di sana berkawah. Satu gunung bisa memiliki lima kawah. Setiap kawah sengaja ditutup kayu gabus yang biasa digunakan untuk menutup botol anggur. Jadi, kalau penutup kawahnya dibuka, meletuslah gunung itu.

Daanngg!

Semudah itulah Iqbal meletuskan gunung.

“Kayanya loe harus kasih tau Iqbal. Dia kan partner kerja loe. Soalnya dia mau ngeletusin gunung lagi.” Ucap teman saya sambil menatap ke arah gunung. “Kalau nggak, kita semua bakal mati kena letusan,” lanjutnya cemas.

“Iqbalnya dimana?” tanya saya.

“Tuh di gunung itu.” Teman saya menunjuk deretan gunung.

“Banyak banget gunungnya.”

“Makanya itu! Kalau dia buka semua penutup kawah, loe bayangin sendiri deh.”

Jangankan ngebayangin, dengarnya saja sudah seram.

“Ya udah deh. Gue coba ngomong sama tuh anak.”

Saya berdiri, kemudian berjalan menuju  deretan gunung.

Setelah mendaki beberapa gunung untuk mengecek keberadaan Iqbal, akhirnya saya menemukannya di satu gunung. Gunung itu berbentuk cembung. Di sekitarnya terdapat banyak penyumbat kawah. Asap tipis keluar dari penyumbat-penyubat tersebut. Sementara Iqbal duduk di samping sumbatnya sambil memutar-mutar sumbat kawah.

“Bal!” teriak saya. Dia nengok dengan tatapan penuh rasa kesal, marah dan kecewa.

“Itu sumbatnya jangan dicabut! Loe udah bikin gunung lain meletus tau!”

“Abisnya gue kesel!

“Iya, tapi kasian kan gara-gara loe temen kita kena letusan.”

“Ahhh! Bodo! Biar mampus!”

“Emang kenapa sih, Bal?”

“Gue kesel!” Ucapnya geram.

“Kesel kenapa, cong?”

“Gue nggak kebagian gorengan!”

“Hah!?? Ya elah! Gorengan doank, Bal?”

“Iye! Gue laper bego!”

“Astaga, Bal.  Cuma gara-gara gorengan doank loe semarah itu.”

“Iye!” Jawabnya kesal bercampur sedih. Dia pun menangis. Halah! Banci negro satu ini malah mewek.

Dia pun bersiap mencabut satu penyumbat kawah.

“Bal! Bal! Tunggu, Bal! Jangan marah dulu ya. Please…please….jangan dicabut tuh penutup kawah. Gue beliin loe gorengan. Tunggu ya di sini…”

Dia berhenti memegang penutup kawah.

“Buruan!” ucapnya ketus.

“Iye! Kampred loe!”

Saya balik badan.

Senggg! Melesat berlari keluar gunung untuk mencari gorengan.

 

Hutan di gunung yang saya masuki tadi medannya sudah berubah. Sekarang lebih rumit. Penuh dengan pohon merambat, akar berbelit dan babi berkeliaran dimana-mana. Saya pun harus merangkak, merayap dan sesekali baku hantam dengan babi. Babi-babi itu selain bertaring, tangannya juga bisa memegang golok dan tongkat kayu. Saya diserang babi-babi gila itu. Tapi demi menyelamatkan teman-teman dari letusan gunung, saya berkeras hati melawan semua babi.

Babi-babi akhirnya berhasil saya kalahkan. Mereka bersujud minta ampun di depan saya. Saya dongkol. Satu babi saya tendang sampai terbentur pohohn. Babi itu pingsan.

Ngrook! Ngrook! Ngrook!

Babi-babi lainnya terlihat gusar. Sialnya mereka terlalu takut melawan saya.

“Babi loe!!!”

Umpat saya sambil lalu.

Babi-babi itu berbunyi dengan moncong bergerak-gerak.

Beberapa jam kemudian saya bisa keluar hutan. Di sana teman-teman sedang menunggu penuh harap.

“Gimana?” teman saya menyambut dengan pertanyaan sama. Mereka penasaran sepertinya.

“Gila!” umpat saya.

“Gila kenapa?”

“Masa dia marah gara-gara nggak kebagian gorengan!”

“Siapa? Iqbal?!”

“Iya! Siapa lagi!”

“Astagfirullahhhhh!”

Teman-teman saya syok mendengar kabar soal Iqbal.

Setelah tahu sebabnya Iqbal ngambek, mereka langsung mengumpulkan gorengan. Entah dari mana asalnya, gorengan itu sudah terkumpul sekarung.

“Nih ya! Kasih deh tuh ke dia!”

Mereka menaruh sekarung gorengan di depan kaki saya.

“Sip! Gue berangkat lagi ya.”

Mereka mengangguk. Menepuk-nepuk pundak saya.

“Semoga berhasil ya.”

“Ok!”

Saya pergi membawa sekarung gorengan menuju gunung.

Ah! Thank God! Jalanan menuju gunung tidak sesulit saat keluar gunung. Cukup beberapa kedipan mata, saya sudah sampai di belakang Iqbal.

Dia terlihat masih kesal dan sesekali mengusap air matanya.

“Bal….” panggil saya sambil jongkok dan menaruh sekarung gorengan di atas tanah.

Iqbal balik badan ke arah saya.

“Nih! Gorengan sekarung buat loe!”

“Wuaaaaahhhhhh!!!”

Dia langsung berdiri tergirang-girang. Persis kaya tante girang melihat berondong. Dia menepuk-nepuk abu di celananya, wajahnya mencerah, matanya membinar, kedua tangannya diusap-usap, mulutnya berdecak-decak ngiler.

“Ini baru gorengan,” katanya.

Saya menyodorkan sekarung gorengan ke hadapannya.

“Jangan cabut ya penutup kawahnya.”

“Nggak…nggak…! Tadi gue bercanda doank kok.”

“Ahh! Kampred loe!!”

“Hehehehehe!”

“Keluar gunung loe. Anak-anak nungguin loe tuh.”

Iqbal menjawab dengan anggukan kepala. Mulutnya terlalu penuh gorengan untuk berkata-kata.

Syukurlah.

Saya bisa mengatasi bencana gunung meletus dengan sekarung gorengan.

Sekarang saatnya bangkit berdiri, balik badan dan membuka mata.

Saya pun terbangun dan mengumpat dalam hati,”Ngehek! Nggak di dunia nyata, nggak di dunia mimpi, tuh anak nggak jauh dari masalah makanan. Begh!”

 

sonofmountmalang

 

 

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s