mimpi copywriter (19) serigala banci

 

Daun-daun kecoklatan berjatuhan menyapa ruang hutan. Ranting-ranting retak terinjak bekas kaki ukuran raksasa. Angin berhembus cukup kencang. Lolongan serigala melengking di kejauhan. Suaranya membuat semua pembuluh darah merah berubah menjadi putih. Wajah saya langsung pucat. Keringat dingin mengucur.

Saya segera bersembunyi di gubuk kayu. Dari celah kecil saya mengintip. Di luar terlihat gerombolan serigala berkepala manusia datang. Mereka berkumpul di depan gubuk. Saling berbisik satu sama lain.

Apa yang sedang mereka bisikkan?

Satu serigala bertubuh kurus, tinggi, berbulu merah dengan trisula perak menjejakkan kakinya. Trisulanya ia arahkan ke gubuk tempat saya sembunyi. Semua wajah memandang ke arah gubuk.

Dari semua wajah itu, ada tiga wajah yang saya kenali. Meskipun tidak begitu detail, saya bisa tahu karakter wajahnya. Satu serigala bertubuh kurus dengan bulu keriting merah menyala adalah Rarambol. Dua lagi adalah Bella dan Cullen. Rarambol  bekas teman kerja satu tim kami masih sekantor. Sementara Bella dan Cullen saya kenalnya dari film Twilight. Sekarang ketiganya ada di depan saya. Hanya terhalang bilik kayu lapuk. Dengan tatapam setajam silet, hidung mendengus-dengus, mulutnya berliur begitu mengucur, matanya membara kemerahan, mereka siap mencabik-cabik tubuh saya.

 

Rarambol maju selangkah ke depan. Cakar tajam mengkilat keluar dari ujung jari-jarinya. Mulutnya menyeringai. Taring lancipnya mengeluarkan tetesan liur berlendir. Dia melolong. Suaranya keras memekakan telinga.

 

Rarambol tidak mungkin memangsa, begitu pikir saya dalam hati. Dia teman dekat saya. Orang-orang kantor dulu bilangnya, kami berdua bak pinang dibelah dua. Saya yakin sekali, dia anak yang baik. Walau pun sudah menjadi serigala, hatinya pasti masih bisa mengenali saya. Jadi, tidak mungkin dia menelan saya di tengah hutan ini. Kecuali seluruh jiwanya sungguh-sungguh sudah dirasuki oleh jiwa serigala. Kalau itu, saya pasrah saja.

 

Bella dan Cullen saling lirik melihat Rarambol maju selangkah lagi. Kini, jaraknya semakin dengan dengan gubuk tempat dimana tulang di badan saya sudah mulai bergetar ketakutan. Jantung pun berpacu dengan melodi lolongan serigala di segala penjuru hutan.

 

Anying! Jerit batin saya. Haruskah saya mati di hutan ini, di tangan sahabat sekantor yang sudah berubah menjadi manusia serigala?

 

Nggak rela rasanya.

 

Saya memutar otak 360 derajat untuk mendapatkan cara agar bisa keluar dari situasi mengerikan ini.

Tuhan Maha Baik.

Dia mendengarkan jeritan seorang umatnya yang sedang teraniaya. Maka, ide untuk lepas dari cengkrama serigala Rarambol dan kedua temannya, Bella dan Cullen pun muncul di kepala saya.

Ting!

Saya mengambil jerami, ranting dan daun-daun kering yang ada di dalam gubuk. Semua atribut itu ditempelkan ke seluruh badan.

 

Cara berkamuflase yang sempurna.

Badan saya jadi lebih mirip empunya serigala dengan bulu-bulu kasar dari jerami.

Berbekal kepercayaan diri yang tinggi, saya keluar dari gubuk.

“Hay, nekkk! Pada ngapain sih kumpul-kumpul. Cari mangsa yey! Sama donk. Eike juga cari mangsa. Hyuuk!”

Jdeeeng!

Spontan saja saya menjadi serigala banci. Pecicilan menyapa serigala-serigala bermata bara. Lenggak-lenggok di depan kawanan serigala kelaparan.

Melihat saya keluar dengan dandanan serigala berbulu jerami, serigala-serigala berkepala manusia itu saling lirik terheran-heran.

Selamet neh gue, saya bicara dalam hati sambil melihat mereka semua. Semoga saja mereka tidak mencium bau manusia.

Dugaan saya salah!

Satu serigala yang memegang trisula perak memberikan isyarat ke serigala-serigala lainnya untuk menyerang saya.

“Auuuuu!!” Teriaknya.

Breekk!

Puluhan serigala, termasuk Bella, Cullen dan Rarambol menyerang saya.

 

Kampreeddd! Serigala setaann! Tau aja lagi samaran gue!

Saya mengumpat sambil ancang-ancang untuk berlari. Jurus langkah seribu saya kerahkan sekuat tenaga menghindari taring-taring serigala.

Hosh! Hosh! Hosh!

Brak!

Saat sedang konsetrasi berlari, kaki saya tersandung batang pohon. Saya terperanjat kaget dan bangun dari tidur. Saya mengusap dada. Melihat sekeliling kamar.

Syukurlah tidak jadi makanan empuk serigala berkepala manusia.

Whiew!

 

“sonofmountmalang”

Advertisements

2 thoughts on “mimpi copywriter (19) serigala banci

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s