mimpi copywriter (21) macbook si robot mematikan

 

Dugem, ajeb-ajeb, clubbing dan kegiatan sejenisnya, tidak pernah bisa lepas dari musik djang-jdung, meja DJ dan peralatannya. Jangan dilupakan juga tata lampu, sound system dan minuman setan plus teman sebangsanya.

Di depan panggung, terlihat ratusan jemaah sudah berdiri. Mereka bersiap melakukan gerakan bersama diiringi musik jdang-jdung. 

Inilah saatnya merayakan pesta sepanjang malam sampai tak sadarkan diri.

 

Acaranya sendiri diadakan di ketinggian salah satu bukit. Di atasnya berdiri bangunan mewah. Di balkon bangunan itulah DJ-nya akan mempimpin ritual penyembahan bersama.

Saya dan segerombolan teman tidak mau ketinggalan. Kami berdiri di bagian paling depan. Saat DJ mulai menyapa dengan musiknya, semua terlihat antusias. Gerakan demi gerakan dimulai. Dari yang halus santai sampai liar. Sementara gadis-gadis di balkon menari liar. Tubuhnya berputar-putar, melintir, meliuk-liuk dengan pakaian ala kadarnya. Bikin jantung cenat-cenut macam lagu Boyband ALAY!

DJ itu cukup lama membuat jemaahnya mulai melayang-layang ke surga.

Oh, ternyata tidak hanya pemuka agama yang menjanjikan surga, DJ pun demikian. Bahkan, mereka tidak hanya menjanjikannya, melainkan membawa jemaahnya langsung ke surga. Saya kagum di depan DJ, goyang-goyang tidak karuan. Begitu pun dengan segerombolan teman. Sudah tidak jelas lagi gerakannya beraliran apa.

Heboh!

 

Keseruan musik tiba-tiba terhenti oleh suara teriakan para penari setengah bugil. Mereka berloncatan dari balkon. Begitu juga dengan DJ-nya. Ngibrit dari depan DJ set-nya. Jemaah pun langsung menghentikan ke-khusuk-an ajeb-ajebnya. Mereka lari berhamburan keluar dari bangunan. Mereka berteriak histeris,”Monster! Monster!” sambil menunjuk ke balkon.

Di balkon, DJ set berubah menjadi robot mengerikan, dengan gergaji mesin di bagian depannya. Salah satu robot sudah memotong pinggang seorang penari setengah telanjang. Darah muncrat seperti air mancur, bececeran di dinding bangunan. Saya langsung keluar dari kerumunan secepat kilat. Tetapi monster-monster robot itu begitu cepat berubah menjadi monster mesin menakutkan. Suaranya meraung-raung seperti gergaji mesin pembabat hutan. Asap hitam keluar dari knalpot di belakangnya. Monster-monster itu membabat apa pun yang ada di depannya. Termasuk pohon, rumput, batu dan tubuh manusia.

Tiba-tiba dari dalam tas saya terdengar raungan mesin hebat. Saya pun membukanya, sesuatu loncat dari dalam tas. MacBook saya berubah menjadi robot gila. Giginya tajam-tajam, di ujung tangannya ada baling-baling pemotong rumput. Tajam dan berputar kencang. Menakutkan!

Monster mesin itu mulai mengejar.

Saya berlari menerebos kerumunan kaki. Menyelip melalui betis-betis. Wahhh! Saya melewati satu betis mulus, putih dan berbulu halus.

Ahhh! Tidak ada waktu untuk itu. Saya merelakan kehilangan kesempatan mengintip yang lainnya. Saya tidak ingin mati dipotong-potong monster gergaji mesin. Saya terus berlari tanpa berani menengok ke belakang sedetik pun. Sesekali saya memanjat pohon sampai ke pucuknya. Sebentar saja berada di puncak, pohonnya sudah ditebang monster gergaji mesin. Saya tumbang bersama pohon. Beruntung tumbangnya jauh dari monster itu, jadi saya bisa berlari menuju perbukitan tinggi.

Bukitnya setinggi bukit barisan. Di atas bukit itu ada pintu besi. Di sisi kiri dan kanannya dijaga dua juru kunci. Jika ingin selamat, harus masuk ke dalam. Bukit ini aman dari amukan monster jahat.

Juru kunci itu membukakan pintu besinya. Saya pun masuk tanpa ragu. Di balik pintu itu sudah banyak orang berkerumun. Mereka semua berlindung dari monster jahat.

“Itu bukan monster!” ucap salah seorang. “Itu iblis pencabut nyawa orang-orang berdosa! Kita semua ini pendosa! Kita terlalu banyak dosa!”

“Kita? Loe doank kali!” ungkap batin saya.

Saya melipir dari kerumunan itu. Tibalah saya di bibir bukit. Di bawahnya ada sungai mengalir. Airnya jernih. Ikan-ikan berenang jelas di dasarnya. Warna-warni seperti ikan koi. Saya duduk di bibir bukit, melemparkan kail ke arah sungai. Saya pun memancing ikan. Lapar juga ternyata setelah sekian lama berlarian.

Lama sekali saya memancing ikan. Tidak satu pun ikan mau menyantap umpannya. Ikan-ikan itu cuma sibuk mondar-mandir berenang. Perut saya semakin lapar. Tidak tahan. Akhirnya saya menceburkan diri ke sungai dari ketinggian puluhan meter.

Byur!

Saya masuk ke dalam sungai. Di dalam air semuanya terlihat serba gelap. Saya tidak bisa bernapas. Bahkan berenang pun saya tidak bisa. Semakin saya mencoba berenang dengan kaki dan tangan, semakin dalam saya tenggelam. Saya mencoba tenang meksipun sangat panik. Pelan-pelan saya bernapas, tetap tidak bisa juga. Sepertinya air sungai sudah masuk ke paru-paru saya. Saya pasti mati di sungai ini.

Saya tidak bisa bernapas.

Matilah.

Saya mencoba mengambil napas sekali lagi.

Heeeppppp!

Aaahhhh! Setengah teriak, saya terbangun dan menghirup udara segar. Saya bahagia tidak jadi mati di sungai penuh ikan.

 

“sonofmountmalang”

 

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s