The Adjustment Bureau

 

Bagaimana kalau setiap orang seperti kita ini memang memiliki catatan yang isinya garis takdir kita sendiri. Catatan itu dipegang oleh seseorang yang mengawasi kita setiap detik. Seperti saya misalnya, saya ditakdirkan untuk menjadi copywriter, padahal saya setengah mati dari sejak kecil ingin menjadi astronot. Saya ingin menjelajahi ruang angkasa gratis. Melihat dunia dari ketinggian, meraba bintang dari jarak dekat, menatap bulan sambil melayang-layang di ruang hampa udara. Saking pengennya jadi astronot, saya membaca semua hal yang berhubungan dengan luar angkasa, belajar matematika dan fisika mati-matian meskipun benci mata pelajaran itu. Tetapi, garis takdir berkata lain. Saya diarahkan untuk menjadi copywriter.

 

Apa benar, Seseorang telah mengontrol garis takdir saya dari jauh sebelum saya menjadi janin, akan menjadi kelamin apa, tinggi badan segimana, wajah seganteng atau secantik gimana, temannya siapa, sekolah dimana, kuliah dimana, pacaran berapa kali, nikah dengan siapa, kerja dimana, akan mati kapan, dikubur dimana dan semuanya. Apakah catatan di buku takdir itu sudah pasti? Kalau iya, semua garis kehidupan saya sudah dibukukan di satu buku, dan ya sudahlah, semua sudah ditulis. Tapi apakah masih bisa direvisi atau ditulis ulang supaya sedikit lebih sesuai dengan keinginan saya. Mungkinkah? Misalnya, okehlah saya jadi copywriter. Boleh nggak saya juga jadi penulis novel terkenal sekaligus jadi Creative Director tersohor seantero dunia periklanan. Mungkin kan ya?

 

Sangat mungkin. Mungkin itu jawabannya. Mungkin ya.

 

Kira-kira begitulah inti cerita yang ingin disampaikan The Adjustment Bureau. Film yang dibintangi orang Betawi, Si Mamatt Damon. Bercerita tentang garis takdir yang sudah dituliskan dan harus terjadi sesuai dengan yang sudah tertulis. Jika tidak, maka takdir itu harus tetap berjalan pada takdirnya. Apa pun yang terjadi? Iya, apa pun yang terjadi!

 

Tetapi, sepertinya ada pengecualian buat orang-orang yang tidak suka dengan garis takdirnya. Orang-orang ini, harus berjuang untuk membuat garis takdirnya sendiri sesuai dengan keinginan hatinya. Kenapa harus mengikuti garis takdir kalau kita tidak suka? Kalau bisa, kita ubah saja garis takdir kita sendiri. Namun, ada yang menggelitik di pikiran saya. Jadi, kalau saya menyalahi garis takdir yang sudah dituliskan, bisa saja kan itu juga memang garis takdir saya untuk menyalahi garis takdir. Cuma mereka melewatkan untuk menuliskannya, bahwa tidak semua orang suka berjalan di jalan yang sudah ditentukan.

 

Masih nggak mudeng ya? Sama. Hihihi! Gimana kalau coba saja nonton The Adjustment Bureau. Mungkin setelah itu, Anda boleh menata ulang kembali takdir Anda mau dibawa atau ditulis seperti gimana.

 

Atau, eh. Tau nggak, ternyata, saya membuat tulisan ini, merupakan takdir saya dan takdir Anda membacanya, kemudian mencoba mencari DVD bajakan ORI-nya. Ya ya ya!

 

Selamat menulis ulang takdir yak!

 

Eh, berarti masih bisa ya saya menentukan takdir saya jadi penulis novel terkenal dan Creative Director tersohor. Masihlah! 🙂

 

Kalian juga dong. Yuk! Tulis bareng kalau begitu. *jangan nyontek*

 

“sonofmountmalang”

 

“Most people live life on the path we set for them. Too afraid to explore any other. But once in a while people like you come along and knock down all the obstacles we put in your way. People who realize free will is a gift, you’ll never know how to use until you fight for it. I think that’s The Chairman’s real plan. And maybe, one day, we won’t write the plan. You will.”

 

 

Advertisements

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s