Bandung Lautan Distro dan Resto

Bandung Lautan Distro dan Resto

 

Setiap berkunjung ke Bandung, sekilas pasti teringat teman bernama Dewi saat saya masih duduk di bangku kelas lima SD. Ayahnya seorang polisi, bertugas hanya setahun di Gunung Malang. Setelah itu, mereka berpindah tugas ke Bandung. Dewi pun ikut keluarganya ke Bandung. Waktu itu, di kepala saya, tidak pernah terbayang kota Bandung tampilannya seperti apa. Belakangan, saya sering meluangkan waktu berkunjung ke Bandung. Bukan untuk mencari teman SD bernama Dewi, tetapi lebih untuk mencuci pikiran dari keriwehan Jakarta. Padahal, kalau dilihat-lihat, Bandung juga macetnya ngepet gila! Wong isinya plat B semua di jalanan. Udah plat B, kelakuan nyetirnya sama saja seperti di Jakarta. Sradak-sruduk klakson-klakson minta diceburin ke Kawan Putih.

 

Ya, lupakanlah soal kemacetan Bandung. Masih banyak sisi menarik lainnya sebagai pengobat kaki pegal injak-injak kopling rem gas. Salah satunya atau beberapanya adalah singgah di tempat-tempat enak, yang jauh dari bising suara klakson atau pun asap knalpot. Inilah beberapa tempat, yang sepengetahuan saya saat ini saja, ya. Semoga lain kali direktori saya soal Bandung lebih luas. Amin!

 

Selasar Sunaryo

Untuk Anda penikmat seni sekaligus kopi, coba mampir ke tempat ini. Namanya Selasar Sunaryo. Konon, katanya, Sunaryo ini salah satu dosen hebring di ITB. Ya iyalah! Secara dia punya ruang pameran sendiri sekaligus tempat untuk ngopi. Tempatnya lumayan inspiratif. Duduk di tempat ini, untuk seniman, penulis dan mahluk sejenisnya, seolah-olah, pikiran dipaksa untuk membuat sesuatu atau membicarakan sesuatu yang konteksnya tidak jauh dari seni. Seni lukis, seni tulis, seni teater atau apa sajalah. Tidak hanya soal seni sih. Bergosip, berbincang  santai, serius atau merencanakan mau ngerampok atau ngebom dimana juga di tempat ini rasanya enak. Ingin mencobanya? Silakan. Sayang kalau dilewatkan. Kopinya juga murah kok. Eh, di sini banyak mahasiwa ITB unyu-unyu lho pada nongkrong. Brrrr…!

 

Di Selasar Sunaryo ini, Anda akan mendapatkan satu karya seni yang memadukan unsur modern dengan tema satir atau sejenis sindiran pada tata ruang kota yang sembrono, namun nikmat sekaligus menusuk mata. Begitulah. Lebih enak melihatnya sendiri. Saya tidak bisa menjelaskannya lebih detail, karena saya bukan kurator.

 

Selasar Sunaryo ini letaknya di Bukit Pakar Timur. Orang-orang nyebutnya Dago Pakar. Ya kan?:d

 

Kopi Ireng

Perjalanan selanjutnya berhenti di Kopi Ireng. Mestinya namanya Kopi Hideung. Eh, Ireng bahasa Sunda juga ya? Bukannya Jawa? Nggak tahu deh. Atau ini punya musisi terkenal Indonesia, Ireng Maulana? Nggak tahu juga. Yang jelas, letak Kopi Ireng ini cukup menyempil di atas bukit. Jalan kaki naik tanggak ke atas, cukuplah bikin dengkul koplak. Udara dingin dengan pemandangan Bandung terhampar di depan mata menghilanglang rasa cape dan bikin malas untuk beranjak pergi dari tempat ini.

 

Pilihan kopinya pun cukup banyak. Ada Illy, ada Luwak dan saya suka Dark Angel. Kopi pahit di atas bukit ketika malam tiba sambil melihat kunang-kunang modern di seluas kota Bandung. Jangan lupa juga memesan pisang goreng untuk menemani hangatnya kopi. Nah, kalau semuanya sudah di meja, Anda pun tinggal menikmatinya sambil berbincang-bincang santai. Tak penting topik pembicaraannya apa, pasti akan terasa seru. Coba deh ya kalau ke Bandung mampir ke Kopi Ireng. Dijamin ingin berlama-lama duduk di sana. Kalau Anda tidak tahu Kopi Ireng dimana, gampang kok. Letaknya itu lurusannya Selasar Sunaryo. Adanya di sebelah kiri. Cuma ya parkinya saja sih lumayan rempong. Silakan.

 

Stone Café

Setelah ngopi-ngopian seru, kini saatnya menyantap makanan berat di Stone Café. Letaknya di Dago Atas, Jalan Rancadengkal Luhur. Persisnya jauh sebelum Selasar Sunaryo. Stone Café ini tempatnya sih yang nyaman. Cocok untuk makan malam berduaan sambil lesehan atau tiduran deh kalau boleh. Ada live music-nya di Sabtu malam. Pemandangannya juga bagus. Kita bisa melihat gemerlap kota Bandung. Untuk menambah suasana romantis, Anda bisa memesan wine di sini. Ya, anggap saja wine ini sebagai booster untuk menaikan mood Anda nanti di atas ranjang. Danggg! Jika sudah nikah lho, ya. Kalau belum, ya bolehlah asal jangan sampai terjadi hal-hal yang diinginkan. Anda ingin mencobanya? Silakan meluncur ke Stone Café, dan duduk romantis di kedai-kedainya nyaman.

Congo

Kayu, kayu dan kayu. Itu identik dengan suasana di Congo. Entah pemilik pengusaha kayu, pecinta kayu atau gimana. Yang jelas, di Congo ini banyak sekali kayu-kayu dipajang sebagai galeri dan dijual juga sepertinya. Katanya itu kayu asli Indonesia. Wadduh! Sayang sekali ya. Kayu umurnya ratusan tahun, kemudian ditebang dan dijadikan pajangan komersial. Makin gundul hutan kita ini. Hiks!

Terlepas dari konteks cinta mencintai hutan dan kayunya, Congo menyajikan suasana berbeda. Lampu temaram, live music dan pemandangan Bandung di malam hari, ditambah Tahu Peletok panas. Pas rasanya!

Tahu Peletok nih salah satu menu ringan spesial menurut saya. Rasanya enak. Kalau makanan lainnya, selera lidah orang berbeda-beda. Soal rasa tidak bisa dinilai dengan angka. Soal tempat, saya bisa bilang, Congo salah satu tempat yang pas untuk bermanja-manjaan berdua. Letak Congo tidak jauh dari Stone Café. Masih di alamat yang sama, yaitu Jl. Rancadengkal Luhur, Dago.

Warung Lela

Bagi Anda yang suka bakso-baksoan atau bakmi-bakmian macam yamin, Warung Lela salah satu tempat yang pas. Lagi-lagi, bagi saya, bukan makanannya saja yang enak, tetapi tempatnya juga berada di ketinggian sekian di atas kota Bandung. Sambil makan yamin atau bakso, Anda bisa melepas lelah di pemandangan sekitaran kota Bandung. Tempatnya sederetan dengan Congo, tepatnya setelah Congo. Hati-hati di jalanan. Jalanan kecil dan naik turun. Apalagi kalau malam, harus ekstra hati-hati ya. Saya tidak begitu suka bakso atau mie ayam, jadi cukup sekali saja ke Warung Lela meskipun tempatnya asik. Lagi pula di sana tidak ada sajian kopi seru.

 

Rumah Nenek

Dari pinggiran kota Bandung, saya jalan-jalan ke tengah kota. Saya meluncur ke Jl. Taman Cibeunying Selatan No.47, Cilaki. Di situ ada restoran terkenal. Roemah Nenek. Bener-bener rumah nenek sih. Bangunan jadul, begitu juga dengan desian di dalamnya. Ada pajangan-pajangan jaman jadul. Masuk ke Roemah Nenek, terasa berkunjung ke Roemah Nenek di kampung halaman. Lumayan nyaman, mungkin karena bentuknya rumah.

 

Di Roemah Nenek ini jangan takut kekurangan makanan. Di sini, segala jenis makanan ada. Tinggal pesan saja ke nenek, nanti nenek pasti ngasih makanan enak. Tapi di sini nggak bisa nongkrong lama-lama. Nggak enak sama yang lain. Yuk ah, gerak ke tempat lain ajah.

 

Dakken

Tempat nongkrong santai lainnya di Bandung bernama Dakken. Tepatnya ada di Jalan RE Martadinata a.k.a Riau nomor 67.  Masuk ke Dakken, Anda seperti sedang bertamu ke rumah jaman baheula, jaman dimana Belanda masih menjajah negeri koruptor tercinta kita ini. Sepertinya memang ini rumah asli Belanda yang dijadikan tempat makan. Kamar-kamar dan ruang tamu diubah menjadi ruang-ruang untuk menikmati makanan lezat. Tempatnya sangat nyaman. Makanannya, menurut saya sih, cukup enak-enak. Saya suka salmonnnya. Hmmm…! Mau ke Bandung dalam waktu dekat? Coba aja ,mampir ke Dakken.

 

Batagor Kingsley

Nah ini nih tempat yang tidak pernah sepi. Bakso tahu goreng alias batagor ikan tengiri asoy yang terkenal ke seantero jagad Indonesia. Nggak cuma batagor, di sini juga ada siomay plus bisa beli oleh-oleh khas Bandung. Repotnya makan di sini adalah jalanannya selalu macet dan susah nyari tempat parkir ditambah lagi bayarnya kudu cash. Padahal di plastik oleh-olehnya itu ga ada label harganya. Jadi kudu sip-siap terkejut pas liat angka yang bertambah dengan cepat di kalkulator si mbak kasir. Nah, kalo soal parkir, kita sebagai pengunjung kudu maklum. Lokasinya di pinggir jalan Veteran yang super rame, otomatis membuat kegiatan parkir kita repotnya minta tobat. Jadi harus berlapang dada ya kalau diklaksonin mobil-mobil plat D. Hhihihi! Kita kan pendatang, harus lebih mengalah. Jangan ngotot dan srabat srobot. Otreh! Met kunyah-kunyah ya di Kingsley.

 

Rit’s Ice Cream

Jalan Setiabudi itu ibarat jalanan menuju puncak. Udah macet, ya sudahlahyah. Pasrah. Kadang tidak bergerak. Daripada dongkol kena macet, enaknya mampir dulu ke tempat ini. Namanya Rit’s. Persis di samping kiri jalan dari arah Lembang. Tempat ini adalah rumah yang dijadikan bisnis senang-senang sepertinya. Tempatnya cozy sekali. Dan menu paling pas di sini adalah es krim. Hmmm…! Kebayang kan? Panas-panas, terkena macet, mampir ke Rit’s dan di meja tersaji es krim super menggoda. Aw! Jadi pengen duduk di sana lagi, menikmati es krim sambil melihat kemacetan jalan Setiabudi.

 

Kartika Sari

Sepertinya seluruh dunia tahu Kartika Sari. Namun, bukan Kartika Sarinya yang ingin saya kasih tahu. Tetapi restoran yang ada di dalam gedung Kartika Sari, Dago. Di situ ada menu namanya Garang Asam. Itu Garang Asam paling enak yang pernah saya cicipi di Bandung. Bicara soal Garang Asam, saya jadi ingat Bintang Jatuh. Dia seorang teman baik dari Bunga Matahari. Saya pernah berjanji akan menulis satu novel soal pertemuan seorang Garang Asam dan Bintang Jatuh. Dia sudah memberikan bahan-bahannya, sayangnya, waktu itu saya pindah kerja ke satu agency, kemudian mengerjakan salah satu brand Telko dan habislah sudah waktu menulis novel. Sekarang, novelnya terbengkalai begitu saja.  Maaf ya, Bintang Jatuh, novelnya belum kelar. Tak tahulah kapan kelarnya. Pret!

 

Anda suka Garang Asam? Icip-icip deh Garang Asam yang ada di dalam gedung Kartika Sari, sekalian belanja oleh-oleh buat saudara, tetangga dan teman sekantor di tokonya Kartika Sari.  Met belenji yey!

 

Sapu Lidi

Gemericik selokan, sawah, saung, udara sejuk dan suara tonggeret. Paduan yang sempurna. Bukan begitu? Anda mungkin sudah jutaan kali ke sini. Saya baru sekali. Kasihan, ya. Meskipun sekali, rasanya sudah suka tempat ini. Mengingatkan saya semasa kecil di Gunung Malang. Makan di saung sambil menunggu orang-orang memanen padi. Yah……tiba-tiba saja saya langsung teringat banyak hal ketika duduk di saung Sapu Lidi. Wangi padi saat masih hijau hingga sudah menguning, menyimpan ribuan memori di kepala. Bermunculan silih berganti. Senangnya hidup di alam bebas.

 

Salah satu mainan yang bisa dimainkan dengan irama enak didengar adalah ole-ole. Ole-ole ini dibuat dari batang padi. Caranya gampang, potong batang padi di dekat bukunya. Kasih jarak dari bukunya ke ujung lainnya sekitar sejengkal kurang. Kemudian, pencet batang dekat buku hingga remuk dan membentuk celah-celah. Kembangkan sedikit, kemudian tiup. Suaranya akan terdengar seperti terompet. Orang kampung di Gunung Malang jaman dulu bisa meniupkannya dengan irama enak didengar. Mereka memainkannya saling bersahutan. Itu salah satu hiburan saat memanen padi. Ndeso ya:)!

 

Eh, kembali ke Sapu Lidi. Makanan di sini bisa dibilang enak-enak. Saya suka genjernya. Cuma sayang banget ya waktu ke sana, genjernya sudah sedikit tua. Rasanya tidak terlalu fresh. Mungkin mereka kehabisan genjer muda. Kelebihan lainnya di sini adalah ada WIFI. Yep! Anda bisa browsing-browsing dengan pemandangan sawah di depan Anda. Perpaduan modern tradisional yang layak untuk dinikmati barang sejam dua jam. Biarlah yang lain ngantri. Heks!

 

Tahu Tauhid

Huah! Mendengar kata Tahu Tauhid, artinya berakhir sudah perjalanan ke Bandung. Kenapa? Di sana pasti beli oleh-oleh tahu yang tidak pernah sepi pengunjung. Entah kenapa bisa seramai itu. Padahal cuma tahu lho. Tahu tok! Ada yang sudah digoreng. Dimakan panas-panas dengan buras. Enaknya bukan kepalang. Nah, sudah makan tahu, makan buras, belilah oleh-oleh tahu mentah khas Tauhid. Sudah beli? Yuk! Kembali ke Jakarta. Kasihan orang-orang Bandung kena macet gara-gara plat B. Hyuk!

 

Sstt…! Masih banyak lho jajanan lainnya di sekitaran Bandung. Ada Rumah Kopi, Maja House, The Peak, Kampung Daun, Rumah Sosis dan segambreng tempat lainnya. Bosan makan, gampang kok. Ada kegiatan lainnya, yaitu belanja di distro-distro dan rumah-rumah mode sampe gempor tuh kaki. Oke? Cocoklah jika Bandung memiliki sebutan baru, Bandung Lautan Distro dan Resto. Setuju kan ya:p.

 

Selamat berlibur. Pesan buat plat B, berkendaralah dengan baik ya. Orang Bandung sebel kayanya liat plat B bikin kemacetan dimana-mana. Ditambah sradak sruduk jadi makin sebel. Kasihan kan buat pengendara baik-baik seperti saya. Heh hoh!

 

 

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s