mimpi copywriter (22) syariat periklanan

 

Hari ini saya mendapatkan bos baru di kantor. Namanya Tohari. Dia seorang Creative Director. Jadi, secara tidak langsung, sekarang saya memiliki tiga bos. Satu Executive Creative Director, satu lagi Associate Creative Director. Bos baru saya ini bukan datang dari kalangan periklanan. Dia sengaja didatangkan dari salah satu pesantren ternama. Fungsinya adalah untuk mengontrol ide-ide iklan tetap berada di jalur yang benar. Tidak bersifat membohongi siapa pun. Dialah satu-satunya bos saya yang memiliki janggut panjang dan mengenakan peci serta sorban melilit di lehernya. Meskipun jabatannya Creative Director, dia tidak begitu mengerti soal iklan kreatif itu seperti apa. Tohari memberikan kekuasaan soal kreatifitas ke Associate Creative Director. Kalau pun dia bicara dengan saya, itu hanya sebatas soal syariat periklanan. Seperti apa sih syariat periklanan itu? Saya pun penasaran. Katanya, tidak boleh berbohong. Semua iklan yang dibuat harus jujur, tidak boleh ada syarat dan ketentuan berlaku, tidak boleh menampilkan adegan seks, tidak boleh menampilkan gambar-gambar dan kata-kata vulgar dan wuahhh banyak lagi. Gaya bicaranya lebih mirip Ustadz ketimbang Creative Director. Saya jadi segan untuk mendebatnya.

“Sekarang mau ngerjain iklan apa?” tanyanya di akhir pembicaraan.

“Susu buat anak-anak. Mereknya Flagen.”

“Oh, bagus. Gue ceknya nanti kalo loe udah ngobrol sama Associate Creative Director. Inget syariat periklanannya.”

“Iya, pak!”

Saya pun pamitan. Mau ngide.

 

Seperti biasa, untuk membuat iklan, saya sebagai copywriter harus menuangkannya dalam bentuk storyline.

Storyline-nya sudah jadi.

Harapan saya, selain bisa dibuat iklan keren, storyline ini juga berpotensi untuk mendapatkan penghargaan di ajang periklanan. Saya yakin betul.

Idenya simple.

Close up seorang anak balita sedang asik menete. Kamera zoom out perlahan, terlihat si anak ternyata menetenya di dot. Kemudian di akhiri dengan announcer,”Flagen, Semurni ASI.”

Saya memberikan storyline itu ke Associate Creative Director. Dia membacanya berkali-kali. Bagus sih nih idenya, katanya. Tapi Tohari kayanya nggak bakal suka kalau ada puting atau toket kaya begini, lanjutnya lagi.

“Mau gimana lagi?” Saya pun bertanya.

“Coba aja dikembangin dari yang ini. Tapi coba aja prisen ke Tohari.” Jawabnya.

Saya pun menghadap Tohari. Dia sedang duduk di kafe Starbucks. Saya menjelaskan idenya, dia langsung menceramahi saya. Persis seperti ceramahnya pemuka agama. Yah, dia mah cocoknya bukan jadi Creative Director. Cocoknya jadi penceramah nih. Tapi ya mau dikata apa juga. Dia bos saya. Saya ikut apa katanya meskipun tidak setuju.

“Nanti gue coba ubah sesuai syariat periklanan.”

Saya menutup pembicaraan sebelum ceramahnya semakin panjang.

“Idenya besok bisa kan?”

“Bisa.”

Tohari, sang Creative Director pun beranjak dari Starbucks. Dia pergi meninggalkan saya yang masih bingung memikirkan ide susu itu mau diapain lagi.

Saat bingung, berpikir keras, Executive Creative Director saya datang.

“Gimana idenya? Oke, Jats?” tanyanya.

“Tohari ga suka ide gue. Nggak sesuai dengan syariat periklanan katanya.”

“Ya begitulah. Emang ngarang aja tuh orang.”

“Menurut mas gimana?”

“Idenya sih oke. Cuma coba gali lagi.”

“Soal syairat periklanan?”

“Abaikan dulu aja. Yang penting poinnya dapet.”

“Oh yo weslah! Thanks yak!”

 

Saya pergi meninggalkan Executive Creative Director. Mau pulang dulu. Saya pulang naik tronton. Rasanya tidak nyaman ya mengendarai tronton. Setirnya berat dan posisi duduknya terlalu tinggi. Ngeri melihat jalanan dari atas. Saya memutuskan untuk memarkir tronton di pinggir jalan. Berjalan kaki lebih baik sepertinya ya. Kebetulan banyak juga orang berjalan kaki.

Di salah satu tempat cuci mobil, saya menghentikan langkah kaki. Di sana ada jeep coklat sedang dicuci perempuan muda. Saya menghampiri dan menawarkan bantuan. Dia pun mengiyakan. Saya ikut mencuci mobil jeepnya. Tetapi lama-lama, bukan jeepnya yang saya siram, melainkan tubuh perempuan itu. Bukannya marah, dia malah senang. Jejingkrakan terkena air dari selang. Kaya adegan film saja ya. Bercandanya tidak berlangsung lama, bapaknya datang menegur kami berdua. Ya sudah, saya menyelesaikan mencuci mobilnya dan menggosok tubuh perempuan itu. Keduanya sudah bersih, kinclong tanpa ada kotoran sedikit pun.

“Thanks,” ucapnya.

“Sama-sama,” balas saya.

Saya pergi meninggalkan perempuan dan mobilnya.

 

Di bawah pohon nangka, pinggir jalan, saya dicegat Tohari. Dia meminta tolong saya di-print-kan sesuatu di dalam flashdisk-nya. Katanya dia tidak tahu caranya nge-print. Maka saya ditarik masuk ke rumahnya. Rumahnya tidak jauh dari pohon nangka. Di rumahnya sudah banyak orang berkumpul. Tidak satu pun yang saya kenal. Katanya akan ada acara arisan keluarga. Nanti pembicaranya dari Afganistan. Jadi Tohari harus menyiapkan materi arisan. Dia menunjuk ke printer di dalam ember dan komputer di dalam baskom. Saya sudah memasang kabel-kabel komputer yang belum terpasang ketika saya datang. Saat komputer dan printer-nya sudah siap, Tohari sengaja mengulur waktu. Dia tidak memberikan flashdisk. Dia malah bicara soal surga dan neraka. Tentu saja hubungannya dengan dunia periklanan. Dia menceramahi saya di dapur, di ruang tamu dan dimana saja ada kesempatan bicara. Otak saya seperti sedang disusupi sesuatu. Pikiran saya seakan sedang dibelokan ke suatu tempat asing. Tohari, pikir saya, pasti punya niat aneh. Saya harus berhati-hati dengan semua ucapannya.

Hati-hati!

Apalagi tidak lama kemudian seorang pria berjanggut lima belas centi meter masuk ke dalam rumah. Perawakannya seperti Amitabh Bachchan. Tinggi besar, berewokan, berpeci putih, sorban putih, sarung putih dan baju koko. Dia duduk di tengah ruangan. Sekitarnya duduk pria, wanita dan anak kecil dari berbagai suku bangsa. Ada wajah dari India, Eropa Timur, Arab, Asia dan kebanyakan berasal dari Indonesia. Kami semua disuruh untuk merebah, melihat konstelasi langit. Kami semua diminta untuk menatap tanpa berkedip dengan napas dijaga sedemikian rupa, sehingga yang bisa kami dengar hanyalah hening dan perintah darinya. Saya tetap mengikuti semua perintahnya, namun dalam hati, saya tetap terjaga agar tidak mudah terkena hasutan, doktrin atau pun hipnotis.

Saya berusaha agar pikiran dan hati saya terjaga.

Sambil mendengarkan perintahnya, kami semua konsentrasi memandang langit malam.

“Kelak langit akan terlihat indah,” ucapnya.

Seketika konstelasi langit membentuk pola circle crop rumit. Bulan-bulan muncul mengisi titik-titik kosong di bagian circle crop, begitu pun bintang. Mereka membentuk konstelasi circle crop paling keren yang pernah saya lihat. Setiap mata berkedip, konstelasi akan berubah menjadi bentuk lain, bentuk yang tak kalah kerennya. Hati saya mulai tertarik, pikiran saya mulai dipadati doktrin-doktrin pria itu soal neraka, kehidupan, surga, kematian dan kejahatan.

“Kita harus memerangi kejahatan dengan kejahatan. Langit akan terbelah…”

Benar saja katanya. Dari keindahan konstelasi itu tiba-tiba langit terbelah. Dari belahannya itu muncul benda sebesar lima kali lapangan bola. Bentuknya menyerupai piringan DVD. Bagian tengahnya bolong, memancarkan cahaya menyilaukan. Dari cahaya itu muncul mahluk-mahluk dalam bentuk tiga dimensi. Mereka siap menerkam kami semua.

“Kejahatan harus dilawan kejahatan,” ucapnya.

Tanpa diberi aba-aba, dua wanita kembar dari India melawan mahluk-mahluk dalam bentuk tiga dimensi itu. Mereka bertarung di langit. Seru sekali melihatnya. Gerakan kedua wanita itu mengingatkan saya ke adegan berantemnya Cameron Diaz dan Drew Barrymore dalam film Charlie’s Angles.

Keduanya berhasil mengalahkan kejahatan.

“Sekarang giliran kamu,” pria itu menunjuk ke arah saya.

Habislah saya, jerit hati saya.

Dalam hidup, saya diajarkan untuk tidak melawan kejahatan dengan kejahatan. Jelas ini tidak sejalan dengan ajaran saya. Jelas pulalah saya sedang didoktrin aliran tidak benar. Saya mencoba melepaskan cengkraman dari pemikiran itu. Sekarang, pemikiran di kepala saya sedang tarik menarik. Satu pikiran sudah dirasuki ajaran pria tua itu, satu pikiran berusaha menghindarinya. Sementara sialnya, tubuh saya tidak bisa digerakan. Hipnotisnya sudah bekerja dengan baik. Saya seperti dipaku di lantai kayu. Ingin melepaskan diri, namun tidak bisa. Saya mencoba tenang, menarik napas perlahan. Sedikit demi sedikit saya mengalahkan pikiran jahat dengan pikiran baik.

Kelamaan.

Pria itu mulai mengucapkan mantra dengan bahasa aneh. Tohari menyemangati saya untuk melawan mahluk jahat, begitu juga dengan orang-orang di sekitar saya. Mereka sungguh-sungguh sudah terkena doktrin jahat.

Setelah berjuang melawah pikiran jahat, saya akhirnya bisa bangkit. Dengan perasaan lega, saya berlari keluar pintu. Saya melarikan diri menuju ke tempat lebih aman. Kalau bisa sejauh mungkin saya menghindar. Tohari ternyata tidak tinggal diam. Dia mengejar saya menggunakan sepeda motor. Di belakangnya, anggota lainnya ikut mengejar saya dengan naik sepeda fixie warna-warni.

Saya sendiri jalan kaki. Terseok-seok menghindari kejaran Tohari dan kawanannya. Saya hanya terus berlari, berlari dan berlari. Tidak ada waktu untuk melihat ke belakang.

Tibalah saya di bawah pohon beringin di atas puncak bukit. Saya merebahkan diri di atas akar-akarnya. Rasanya lelah, saya menguap, lalu tertidur lelap. Nikmat sekali tidur di bawah pohon beringin. Ada angin dingin menerpa wajah saya.

Hmmm…..

Saya membuka mata perlahan. Bangun, melihat keluar jendela, di luar masih gelap. Saya mematikan pendingin ruangan. Duduk di pinggir ranjang dan menulis mimpi ini.

 

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s