mimpi copywriter (23) mati bersama benyamin sueb dan warkop


 

Kalian pernah nongkrong, duduk atau rebahan di saung di tengah sawah atau di tengah huma? Ketika saya masih duduk di bangku SD, saya sering bermain di saung. Tempat yang nyaman untuk bersembunyi dari pengganggu mana pun.

Setelah  puluhan tahun lamanya, saya kembali bisa menjumpai saung di tengah sawah. Di dalam saung itu terlihat duduk santai seorang pria tua, berkumis tebal dan rambut merumbai beruban. Wajahnya sangat familiar. Saya sering melihatnya di layar kaca. Dia tidak lain adalah sosok komedian Betawi, dialah Benyamin Sueb. Mengenakan sarung warna hijau dan kaos lepek putih menyembunyikan perut buncitnya.

“Lho? Bang Ben?” tanya saya heran.

“Nape gue?!” sungutnya, judes, keluar dari bibir tebal penuh asap tembakau.

“Bang Ben kenapa ada di sini?”

“Biasa!” jawabnya santai. Sekali lagi dia membuang asap dari mulutnya. “Gue mau mati di sini.”

“Lha?! Bukannya Bang Ben udah meninggal?”

“Ahhh! Gosip aje loe! Gue di sini nunggu Warkop! Muke! Lama amat yak ntu bocah!”

Benak saya dipenuhi sejuta tanya. Bukankah Benyamin Sueb itu sudah meninggal? Bukankah anggota Warkop juga sudah meninggal? Eh, masih ada Indro ya. Ini aneh. Kenapa Benyamin Sueb dan anggota Warkop bertemu di saung. Apa yang ingin mereka lakukan di sini? Masih banyak pertanyaan menggantung di kepala saya. 

“Bang Ben?”

“Ape?!”

Ternyata Benyamin Sueb tidak sebawel seperti di layar kaca. Di saung ini dia lebih banyak diam. Menikmati lintingan tembakaunya dengan asap tebal keluar dari mulutnya terus-menerus.

“Loe kagak tau gue sakit?” tanyanya.

“Sakit? Sakit apa Bang Ben?”

Dia menarik sarungnya. Belum juga menunjukkan ada apa di balik sarung itu, Warkop sudah datang. Ada Indro, Dono dan Kasino. Mereka menyapa Bang Ben ramah. Tidak satu pun dari mereka yang mencoba bersikap melucu. Padahal biasanya mereka itu melucu di sana sini, kan? Kali ini tidak. Mereka jadi lebih kalem. Mereka duduk di pembatas saung. Menatap hamparan sawah dengan mata-mata kosong.

“Kita mau mati di sini,” ujar Kasino.

“Iya, Kas,” Dono menimpalinya.

Bukannya mereka berdua juga sudah meninggal? Bukannya orang yang sudah meninggal tidak bisa meninggal lagi? Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul lagi di benak saya.

“Mas Warkop,” sapa saya,”Bukannya mas berdua udah meninggal?”

“Itu mati boongan. Sekarang mati benerannya,” jawab Kasino, “Gue kena serangan jantung, Bang Ben kena diabetes, Dono mati wajar. Nah, Indro ngurusin kita bertiga yang mati.”

Kasino menepuk pundak Indro. Indro mengangguk dengan mata penuh kantong air.

“Lha dia mewek!”

Canda Kasino.

Suasana jadi sedikit sedih. Saya ikutan sedih. Semua sedih. Nggak asik nih kalau suasananya begini. Masa saya harus menyaksikan orang-orang mati di depan mata.

“Brisik aje lu pade! Mau mati aje suseh. Kagak bisa tenang gue!”

Bang Ben terlihat gusar. Dia merebahkan tubuhnya.

“Udeh ye! Gue mau mati.”

Dia menarik napas sangat panjang. Menghisap dalam-dalam hisapan rokok terakhirnya. Melepaskan asap putih ke udara. Menutup mata.

Bang Ben meninggal di saung. Indro, Dono dan Kasino menangis. Mereka menutup tubuh Bang Ben dengan  kain hijau.

“Sekarang giliran siape?” tanya Kasino.

“Siape aje dah!” Indro menjawabnya pasrah.

“Gue duluan yak, Ndro! Jangan mewek loe!”

Kasino merebahkan tubuhnya di samping Bang Ben.

“Akhirnya gue bisa mati di tempat tenang kayak begini. Seneng gue!” Kasino cengar-cengir, “Goodbye my prens…!”

Kasino menutup mata. Dia meninggal dengan cengiran menyembul di bibirnya.

Beh! Dasar pelawak!

Sudah dua pelawak meninggal di depan saya. Kini, tinggal Dono dan Indro. Mereka saling lirik.

“Saya masi mau idup, Ndro.”

“Gue juga, Don. Begimana kalo kita nggak usah mati aja.”

“Saya juga maunya begitu, Ndro. Tapi saya harus nyusul Kasino. Kasian dia cuma berduaan sama Bang Ben.”

“Loe pikir-pikir dulu deh, Don.”

Mereka berdua menatap ke hamparan sawah. Saya cengo di samping dua mayat. Tidak tahu harus berbuat apa. Menunggu keempatnya meninggal atau pergi dari saung ini sekarang juga.

“Saya gimana Mas Dono, Mas Indro?”

Saya memberanikan diri bertanya.

“Loe ikut kita mati,” jawab mereka bersamaan.

“Tapi saya belum mau mati,” ucap saya ketakutan.

“Semua yang datang ke saung ini tujuannya buat mati. Situ ngapain dateng kalo nggak mau mati?” Tanya Dono.

 Saya tidak bisa menjawab.

“Jadi?” ucap saya, “Semua orang yang datang ke saung ini, tujuannya udah pasti mati?”

“Bethul!” jawab Indro dan Dono.

“Tapi saya nggak punya penyakit apa-apa.”

“Mau mati nggak perlu sakit. Mati ya mati aja. Ya kan Ndor?!” Dono melirik ke arah Indro. Indro mengangguk.

“Gimana caranya?” Saya bertanya lagi.

“Ikutin kita ye,” ucap Indro, “Kita mati bareng.”

Indro dan Dono merebahkan tubuhnya di samping mayat Kasino dan Benyamin Sueb.

“Tutup mata,” ajak Indro, “Tarik napas tiga kali. Nah, yang ketiga tahan sampai lama, ntar pas udah dilepas, itu kita udah mati.”

Saya merebahkan tubuh di samping mereka. Menarik napas pertama, melepaskannya. Lega. Menarik napas kedua, melepaskannya lagi. Lega. Terakhir, saya menarik napas panjang, menahannya. Ketika saya ingin lepaskan, saya tidak bisa bernapas. Tenggorokan saya seperti tercekik sesuatu. Saya mencoba mendorong napas saya keluar, napasnya sudah terhenti di tenggorokan. Matilah saya bareng empat komedian Indonesia. Saya memasrahkan tubuh kesakitan sambil menahan diri tidak bisa bernapas. Ketika sudah diujung kematian, tiba-tiba saya bisa bernapas lega dan terperanjat bangun dari tidur.

 

Saya meraba-raba wajah, mencubit kulit tangan dan melihat sekeliling. Ah, saya masih di kamar.

Syukurlah….

 

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s