mimpi copywriter (24) liburan ke perancis

 

Teman sekantor merencakan liburan ke eropa. Negara pertama yang kami tuju adalah Perancis. Kami semua sudah membeli tiket, menyiapkan tas berisi baju dan segala jenis kebutuhan nanti di sana. Saya seperti biasanya, membawa tas gendong berisi laptop dan kamera. Lumayan untuk menuliskan catatan perjalanan saat di Perancis dan mengabadikannya lewat kamera.

 

Ada pun teman kantor yang berangkat ke Perancis itu Dayan, Jalu, Anggia, Bobby dan Septian. Mereka semua teman dekat saya di kantor. Tidak tahu kenapa teman dekat lainnya tidak ikut liburan. Sayang ya.

 

Kami sudah tiba begitu saja di Perancis. Tepat di hadapan menara terkenal di dunia. Apalagi kalau bukan merana Eiffel. Di dekat menara itu kami berfoto-foto. Salah satu foto di depan menara Eiffel itu saya posting di twitter menggunakan akun @sonofmounmalang. Teman lainnya di Jakarta me-reply twitter saya. Mereka bilang,”Kok gue nggak diajak.” Ada juga yang me-reply,”Iriii!” Salah seorang bekas teman sekantor saya, Alia dengan akun @snukiyaki menulis ”Gue nyusul. Tunggu donk di sana.”

 

Saya bilang ke teman-teman yang masih asik foto-foto di depan merana Eiffel, ”Eh, gengs! Alia mau nyusul. Dia minta ditungguin di sekitaran sini.” Mereka cuma bilang,”Ya udah. Bilangin jangan lama-lama. Kita laper. Mau nyari makan.”

 

Jangan lama-lama? Emangnya jarak Jakarta – Perancis cuma 10 kiloan?

Eh, jangan salah. Alia, teman saya yang mau nyusul itu, cuma butuh 10 menit untuk sampai ke Perancis. Sekarang dia sudah bergabung dengan kami semua. Alia yang saya kenal sedikit berbeda. Kulitnya terlihat lebih cerah dan putih. Padahal warna kulit aslinya sawo matang semu gosong. Tidak hitam-hitam banget sih. Cuma bisa dikategorikan hitam untuk ukuran kulit perempuan. Mungkin sebelum ke Prancis dia operasi kulit supaya kulitnya tidak jauh beda dengan kulit orang Prancis kebanyakan. Ia datang mengenakan kaos tipis warna pink. Sangat cocok sekali dengan warna kulitnya yang putih. Bisa dibilang Alia lebih cantik dari biasanya. Dia mengajak kami makan. Katanya ada restoran enak khusus bakcpacker. Tempatnya tidak jauh dari menara Eiffel. Kami pun bergerak mengikuti Alia.

“Al, pacar loe lagi ada di Perancis?”

Saya membuka obrolan. Sebab seingatan saya, Alia punya pacar bule. Kabar dari gosip yang beredar, pacarnya orang Inggris. Dari Inggris ke Perancis itu deket kan ya? Jadi, mungkin mereka janjian ketemu di Perancis.

“Iya,” jawabnya,”Kebetulan aja dia lagi ada kerjaan di sini.”

“Pantesan aja loe langsung nyusul kita ke sini.”

Alia cuma cengar cengir doank. Beh!

Akhirnya kami sampai di salah satu restoran yang padat pengunjung. Kebanyakan dari mereka backpacker dari berbagai belahan negara di Asia.

“Di sini makanannya murah-murah. Tapi tetep sih harus pilih-pilih. Soalnya semurahnya harga di sini, bayarnya tetep pake Euro. Jadi kalau mau pesen, liat harga dulu.”

Alia memberi kami arahan.

Baiklah.

Kami mencari tempat duduk untuk ramai-ramai. Pelayan bule datang dengan bahasa Perancis. Mungkin maksudnya ”Silakan” sambil menyodorkan menu makanan.  Kami begitu hati-hati melihat menu dan harganya. Tidak mau tergoda makanan lezat harga hebat.

“Ini cara pesannya gimana?” tanya saya, “Ada yang bisa basa Perancis nggak sih?”

Jalu menyahut sambil membuka-buka menu,”Tinggal tulis aja kali menunya di kertas order. Kasih deh ke pelayan.”

“Bener juga loe.”

Saya tidak tahu makanan apa yang enak. Semua harga makanannya di atas 40 Euro. Paling murah ya 40 Euro itu. Makanan berupa paha ayam panggang plus nasi.

Semuanya sudah menulis pesanan di kertas. Jalu akhirnya memesan ayam panggang plus nasi. Dayan memesan daging sapi panggang ukuran dua telapak tangan. Yang lain pesanannya sama dengan yang dipesan Dayan. Weh! Menu mewah itu sih. Bukan menu backpacker lagi. Sementara saya masih melihat-lihat, tidak tahu akan makan apa.

“Gue pesan nanti aja deh,” ucap saya sambil mengambil kamera, “Gue mau foto-foto dulu.”

Seperti biasa, mahluk narsis pada umumnya, ketika saya memegang kamera, semua teman saya langsung berdiri. Mereka mengajak berfoto ria di sudut-sudut restoran tempat kami makan. Restoran bergaya khas eropa. Sangat menarik untuk dijadikan latar belakang foto. Jepret sana jepret sini. Sampai pelayan bule memanggil kami. Makanan sudah datang. 

“Gue ketemu pacar gue dulu ya,” Alia pisah meja setelah kenyang berfoto. Dia duduk di meja lain dimana pria bule sudah menunggunya.

“Jats, gue pinjem laptop loe ya bentar.”

Saya memberikannya laptop. Dia pun pergi menuju meja pacarnya. Saya kembali duduk di tempat teman-teman yang  bersiap menyantap hidangan lezat. Orang pertama melahap makanannya itu Dayan. Dayan ini unik. Hari-hariya kalau makan, dia jarang mengunyah berlama-lama. Tidak peduli makanannya apa, pasti akan cepat habis dalam hitungan menit. Ternyata, pola makannya tidak jauh berbeda ketika dia makan sapi panggang di Perancis. Makannya grasak-grusuk. Tidak lama kemudian selesai. Sementara Jalu, yang makan ayam pangggang plus nasi, baru mencomo-comot nasinya. Panas banget, katanya.

“Itu nama menunya apaan sih Jal?” Saya bertanya ketika melihat Jalu mulai mengaduk-ngaduk makanannya dengan jari-jarinya.

“Apa ya namanya?” Dia bertanya balik, “Kayanya Cange, Cenge gitu deh namanya.”

“Bukan conge kan?”

“Ya bukanlah. Coba aja liat di menunya. Ada gambarnya tuh.”

Saya melihat menunya. Di menu sih tertulis Cengo.

“Cengo nama menunya,” kata saya.

“Ya itulah pokoknya.”

Jalu melahap makananya.

Saya pun menulis di kertas order Cengo dan jus jeruk. Setelah itu, saya pergi ke pelayan di dekat kasir.

“Oder…order….” Ucap saya dalam logat Prancis. Pelayan itu mengambil kertas order. Dia masuk ke dapur. Saya kembali ke meja makan. Jalu sudah menyelesaikan makanannya.

“Yang lain kemana?” tanya saya heran. Saya hanya melihat Jalu di meja makan.

“Foto-foto pake kamera loe. Gue mau ikutan. Loe tunggu sini ya. Nunggu makan sekalian jagain tas anak-anak.”

“Sip!”

Jalu pergi tidak lama setelah ia menghabiskan minumannya. Sekarang tinggal saya sendirian. Menunggu makanan lezat tiba. Ayam panggang kecoklatan, nasi dan minuman segar jus jeruk. Glek! Tenggorokan mulai terasa ingin disiram segarnya jus.

Berpuluh-puluh menit saya menunggu, makanan tidak kunjung datang. Pelayan bule itu mondar-mandir membawa makanan, namun tidak satu pun yang membawa makanan ke meja saya. Kacau nih pelayan bule. Saya pesan sejam lalu, makanan belum juga datang. Saya berdiri, lalu berjalan menuju kasir. Saya bicara ke salah satu pelayan yang kebetulan berdiri di dekat kasir.

“Sir, eat eat. Sir, chicken chicken, me, rice, orange juice.”

Saya bicara dalam bahasa Inggris, tetapi menggunakan logat Perancis. Perasaan lancar-lancar saja. Buktinya bule itu angguk-angguk kepala. Dia mengacungkan jempolnya.

Baguslah. Dia ngerti juga.

Saya kembali ke meja makan. Menunggu hidangan lezat tiba. Suwenya, setelah menunggu setengah jam-an lebih, yang ditunggu-tunggu tidak juga muncul. Nikmatnya ayam panggang, nasi dan jus jeruk hanyalah sebatas mimpi. Perut dan haus sudah menggerogoti tubuh dan napsu saya. Gila nih restoran, pekik saya dalam batin. Lama-lama saya batalin juga nih pesanannya.

Tidak kuasa menahan lapar dan haus, saya pun bangun dan membuka mata. Yah, sudah siang. Pantas saja haus dan lapar.

 

“sonofmountmalang”

 

 

One thought on “mimpi copywriter (24) liburan ke perancis

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s