mimpi copywriter (26) dikejar FPI


 

“Itu orang kafir! Bunuh! Gorok! Habisi!”

Kalimat itu terlontar dari seorang pria berjubah putih ala FPI Habib Riziq. Ada sekitar enam berpakaian ala Habib Riziq. Mereka berlari ke arah saya sambil mengacungkan golok, pedang, bambu runcing dan celurit tajam.

“Bunuh orang kafir ituuu!!”

Senjatanya ditunjukkan ke arah saya.

Oalah! Ada apa ini? Apanya yang kafir, wong saya tidak melakukan apa-apa kok. Tapi ya daripada kepala ilang, leher dipenggal dan perut diacak-acak, lebih baik lari saja. Meskipun saya tidak tahu duduk perkaranya apa. Mereka sedang kalap, logikanya sudah punah.

Saya berlari.

 

Saya tidak berlari sendirian. Ada cewek cantik, memakai rok super mini dan baju “you can see” dan tali bela beleweran kemana-mana.

Oh, sekarang saya tahu. Kenapa orang-orang berpakaian ala FPI itu berteriak kafir ke saya. Ternyata ya, saya sedang mojok di bawah pohon bersama seorang cewek bahenol, demplon, semok, semlohai, rambut sebahu, kulit rupawan, mata menawan, bibir bak senja di pinggiran laut Maldives, cewek ini, ah pantas saja saya tidak bisa menahan diri di bawah pohon ini.

 

Saya juga tidak mengira, orang-orang itu bisa mencium keberadaan kami.

“Bunuh mereka berdua! Kafiiirrrr!”

Teriakan itu semakin mengganas.

Saya tergesa-gesa menarik tangan cewek itu.

“Lariiii!!!” teriak saya.

Tanpa menunggu lagi, kami berdua berlari menuju rawa-rawa. Sementara orang-orang mirip FPI mengejar saya di belakang.

 

“Kayanya, sekenceng apa pun kita lari, mereka pasti bisa ngejar. Mereka laki semua. Kamu emang kuat lari kenceng?”

Saya ngomong ke cewek itu sambil berlari.

“Nggak. Hosh! Hosh! Hosh!” jawabnya terengah-engah.

“Kalo gitu caranya, kita sembunyi di balik lumpur. Kita harus cari rawa yang pas.”

Saya menarik tangan cewek itu menuju rawa-rawa. Kecuprak-kecuprak di rawa becek.

“Kita harus berendem di sini. Kamuflase dari kejaran mereka.”

Kami berdua guling-guling di rawa.

“Itu aja nggak cukup. Kita harus tidur di rawa.”

Kami berdua tiduran telentang. Menenggelamkan sebagian badan ke rawa. Badan kami menyatu dan menyaru dengan rawa.

“Berdoa ya. Semoga mereka nggak nemuin kita.”

Saya berdoa kepada Tuhan yang kuasa, ”Ya, Tuhan lindungilah kami dari amukan massa.”

 

“Tadi larinya ke sini si dua kafir itu!” sungut-sungut seorang berpedang panjang sesampainya di rawa. Persis berada di sebelah saya kakinya. Lainnya berdatangan. Mata-mata nanar, tangan-tangan gatal dan amarah ingin menghabisi kami berdua terlukis jelas di depan mata. Mereka mondar-mandir di sekitaran kami, dengan senjata-senjata tajam menggaris-garis permukaan rawa. Jantung saya meletup-letup gugup. Nyawa seperti berada di ujung tanduk banteng gila.

Di saat begini, saya sungguh berpasrah diri kepada Tuhan, alam semesta, semoga dia melindungi hambanya yang rapuh ini.

“Nggak ada di sini! Ilang kemana si kafir itu!” umpat seorang pria lainnya yang memegang celurit. Dia membabat-babatkan celuritnya ke rerumputan di rawa.

“Padahal gue udah pengen gorok tuh leher si kafir!”

Umpat pria yang memegang golok.

 

Saya cuma pacaran di bawah pohon, sedikit grepe sana-sini sudah dibilang kafir. Apalagi melakukan hal-hal yang senonoh, bisa-bisa saya dibilang Dajjal. Susah kalau hidup dengan orang-orang begini nih. Nggak ngerti nikmat dunia. Merasa paling suci dan paling yakin ahli surga. Begitu kicau saya dalam hati.

 

“Nggak ada! Kita cari di tempat lain.”

Salah satu pemimpinnya memerintahkan pergi ke tempat lain.

“Kita coba sekali lagi. Sisir rawa ini.”

Satunya lagi menahan orang-orang itu pergi. Maka, mereka pun mulai membabat-babat, menusuk-nusuk rawa dengan senjatanya masing-masing.

Inilah masa dimana kesempatan hidup saya hanya setipis pedang mereka. Saya bisa melihat ujung-ujung senjata tajam menghujam tepat di depan mata. Hanya sepersekian milimeter jaraknya. Sedikit lagi menembus mata saya. Mereka bersungguh-sungguh ingin menemukan saya. Tetapi Tuhan sedang berpihak ke saya dan pacar saya, pedang, golok, celurit dan senjata lainnya tidak ada yang mengenai tubuh.

Mereka berlalu, menjauh sampai akhirnya tidak terlihat apa-apa.

 

Kami berdua bangkit dari rawa. Berpelukan penuh tangis kesenangan.

“Nggak lagi-lagi deh kita pacaran di bawah pohon. Better sewa hotel aja lebih aman,” ucap sajya sambil memeluk erat tubuh cewek­* yang penuh lumpur.

Pacar saya mengangguk. Kami berdua tidak melepaskan pelukan. Kami berdua bahagia. Kami berdua menangis. Saya menangis bahagia hingga tersedak, terbatuk dan terbangun dari tidur.

Mimpi yang melelahkan.

 

“sonofmountmalang”

 

 

*Sampai sekarang, saya tidak tahu siapa pacar saya itu. Wajahnya sangat asing, tapi rasa tubuhnya begitu akrab. Glek!

 

 

 

3 thoughts on “mimpi copywriter (26) dikejar FPI

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s