Pulang Kampung ke Masa Lalu

Di saat orang lain pulang ke kampung halamannya untuk bertemu sanak saudara, saya pulang ke masa lalu, menemui gadis kecil bertelanjang dada, kegirangan, berteriak-teriak di bawah rintik hujan, di sisi pelangi, ketika sore menari di balik bukit, persis di pucuk beringin.

Suara gemuruh daun pisang di depan rumah tertiup angin. Helai-helai daun compang-camping. Tercarik-barik angin kencang. Suara getaran khasnya seperti nyanyian harmonika butut di perkebunan. Mendengarkannya bisa menyegarkan ingatan kering terabaikan, akan gadis kecil tertawa riang di cumbuan hujan rintik-rintik.

Dia satu-satunya gadis kecil ketika tanda-tanda hujan mulai datang, angin mengepakan sayapnya di daun-daun pisang, yang berteriak-teriak menyambut hujan dengan riang. Bertelanjang dada. Rambut basah, sulur-sulur air mengalir di pipinya, seperti air mata, yang ini paling bahagia. Dia seperti kodok. Air hujan baginya adalah kebahagiaan tak tergantikan oleh musim apa pun.

Di masa-masa itulah, si gadis kecil, ketika usianya masih di jauh bawah ambang kedewasaan, berlarian di bawah hujan, melempar hujan dan menginjakkan kaki ke kubangan. Darinya aku telah melihat, bahwa hujan bukan lagi membawa kabar duka, melainkan bahagia. Aku bisa melihat hujan tertawa di wajahnya, dan petir, kilat serta awan-awan bukan hal yang menakutkan lagi. Baginya, suara itu adalah pengiring untuk membawa ke permainan paling menyenangkan.

Setiap kali petir menyambar, gadis itu berteriak kencang, wajahnya menengadah ke langit temaram, mulutnya terbuka lebar. Ia akan berhenti ketika mulutnya penuh air hujan. Kemudian ia semburkan ke udara.

Itu saat dimana hujan begitu membuat hidup lebih nikmat. Tidak akan pernah lagi terulang kejadian seperti itu, telanjang di bawah hujan, teriak-teriak dan meledek petir yang menjilat ujung daun aren.

Gadis kecil itu mengalami masa kejayaan. Hujan, suara gemuruh daun pisang itu sudah menjadi milik kami berdua. Karena tidak ada satu pun anak lainnya berani bermain hujan. Mereka terlalu takut, pengecut, karena hujan, bagi mereka, membawa kedukaan.

Kini, perjalanan pulang kampung ke masa lalu, usai sudah. Bayangan gadis kecil itu redup, seiring redanya angin menyentuh daun-daun pisang, gemuruh itu pun hilang.

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s