mimpi copywriter (28) menyabit rumput ditemani gadis cantik

Seorang wanita cantik. Rambut sepinggang. Baju terusan berwarna merah menyala menutupi tubuhnya sampai membentuk rok setengah paha. Lisptik merah membalut bibir mahaseksi. Dia berdiri di samping pagar bambu setinggi dua meter. Tangannya menunjuk ke pohon pepaya di balik pagar. Di pohon itu bergelantungan pepaya matang menguning.

“Tolong dong petikin pepaya. Nanti kamu boleh pacaran.” Wanita cantik itu bicara ke arah saya.

“Dengan senang hati. Pacaran sama kamu?”

“Oh, bukan. Sama anak saya.”

Wanita cantik itu menunjuk anaknya di jarak 10 meter darinya. Gadis berambut lurus. Kulit putih. Lugu. Berdiri di samping pagar memegang karung.

Tak apalah. Gadis itu pun saya suka.

Saya memenjat pohon pepaya. Memetik satu-satunya buah yang sudah matang.

“Nih. Sudah matang. Silakan.” Saya menyodorkan pepaya ke hadapannya. Wanita cantik itu mengambilnya.

“Terima kasih,” ucapnya seksi, “Sekarang, kamu boleh ngapain aja sama anak saya, tapi tolong sabit rumput buat kambing saya ya. Anak saya bisa nemenin kamu. Nanti bisa ml di padang rumput sama anak saya. Bebas kok. Jangan lupa ya, cari rumputnya yang bagus. Biar kambing saya cepet gede.”

Wanita cantik itu memanggil anaknya. Gadis cantik, lugu-lugu menggemaskan menghampiri saya. Dia membawa dua karung kosong dua dua sabit disarungnya.

“Ini anak saya. Sekarang kalian boleh pergi.” Wanita cantik itu mengenalkan anaknya.

Saya mengajak gadis cantik dan lugu setengah mampus itu pergi ke padang rumput. Sebelumnya, saya bilang ke gadis cantik itu,”Kita jangan pake karung ya. Rumputnya cepet rusak kalau pake karung. Kita pake alat untuk mengangkut kayu bakar aja.”

Gadis cantik dan lugunya bukan main itu mengangguk. Anggukannya saja sudah membuat darah saya mengalir deras ke ubun-ubun kepala. Rasanya, ingin segera pergi ke padang rumput, menyelesaikan penyabitan rumput, dan sembunyi di balik semak-semak untuk bercinta sampai teler berat.

Saya menggantikan karung dengan pikulan dari bambu yang biasa digunakan para pencari kayu bakar di hutan.

Setelah itu kami berdua pergi menuju padang rumput. Gadis cantik yang lugunya keterlaluan, berjalan di samping saya. Dia membawakan sabit.

Susah ya mencari rumput hijau berkualitas. Tapi bagaimana pun juga, saya harus memenuhi pikulan ini dengan rumput. Agar bisa bercinta dengan gadis canti itu. Lagi pula kepala saya sudah terisi bubuk mesiu dan napsu. Siap meledak dalam hitungan beberapa menit ke depan. Saya pun menyabit rumput di segala tempat. Termasuk di toko buku. Banyak buku-buku saya sabit sampai robek-robek.

“Itu kan buku. Bukan rumput. Kambing nggak suka buku.” Gadis cantik berwajah lugu sekaki langit bicara lembut.

“Oh iya. Baru sadar. Keburu napsu. Maaf.”

Saya membuang robekan buku. Memilah-milah rumput terbaik. Menaruhnya di pikulan bambu.

Keringat sudah mengucur. Saya jalan ke segala arah. Sibuknya bukan main. Menyabit segala jenis rumput dengan gadis cantik terus membayang-bayangi, pergumulan, percintaan, di padang dengan wangi rerumputan. Grrrrrr…!

Rumput! Dimana sih loe?!!!

Padang rumput dimana-mana sudah gundul. Para penyabit lainnya sudah mendahului saya.

“Gimana ya? Rumputnya susah nih.” Saya bicara ke gadis cantik itu.

“Sabar. Pelan-pelan aja. Nanti juga penuh kok. Saya temenin pokoknya sampai pikulannya penuh.”

Gemes! Gemes! Gemes! Saya ingin membuang arit jauh-jauh dan merangkul gadis itu segera. Apa daya. Rumput belum penuh. Ya sudahlah. Mari bersabar menyabit rumput.

Pelan-pelan penuh kepastian, pikulan mulai penuh dengan rumput hijau. Di padang rumput itu pun sudah terlihat orang-orang berdatangan. Penyiar acara ROTI-nya JakFM, Ronald-Tike, datang membawa telepon. Dia terlihat menelpon korbannya. Yang ditelepon tidak mengangkat.

“Wah, pulsa gue abis ternyata. Hahahahahha!” katanya, ““Mas, punya pulsa nggak? Saya mau nelepon korban.” Ronald melihat ke arah saya.

“Wah, saya lagi sibuk nyari rumput,” jawab saya.

“Ayo dong mas. Saya minta tolong. Sebentar kok, sebentar. Saya pinjem teleponnya ya.” Ronald memohon dengan sangat.

“Ya udah nih. Pake aja sampe puas.” Saya memberikan telepon genggam.

Saya kembali menyabit rumput menggebu-gebu.

Semakin lama suasana di padang rumput semakin ramai. Banyak orang jualan ayam, buah dan ada balapan F1. Bahkan wanita cantik, ibunya sang gadis cantik pun ada di situ. Dia dikerubungi banyak pria-pria hidung belang. Wanita cantik itu seperti barang dagangan. Dia memajang tubuhnya di atas tikar. Sesekali berguling ke kiri. Sesekali telentang. Tubuh mahaseksinya membuat saya berpaling begitu saja.

Sudahlah! Saya bersama wanita cantik ini saja. Gadis cantik itu saya tinggalkan di samping pikulan rumput. Saya pergi ke lain ladang untuk tetap menyabit rumput. Cuma tujuannya kali ini lain. Supaya bisa pacaran bersama wanita cantik berbaju merah dengan lipstik meleleh di bibirnya.

Saya terus sibuk membabat rumput di padang rumput liar, yang rumput terbaiknya sembunyi di tengah rumput-rumput kuning dan jelek.

Saya menyabit rumput sampai terbangun dari  tidur.

“sonofmountmalang”

*Gagal bercinta dengan gadis cantik di padang rumput plus gagal juga mendapatkan wanita cantik, yang tidak lain adalah ibunya si gadis. Oh…mimpi…!!*

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s