mimpi copywriter (31) liburan ke sololok, afrika!

Semua teman saya sedang berkumpul di tempat nongkrong. Sepintas mirip Seven Eleven. Jumlah teman saya ada sekitar sebelas orang lebih. Mereka teman sekantor. Ada Martin, Bobby, Alia, Anggia, Jalu, Seno, Septian, Yudi, Yana, Lita, Lala dan beberapa teman lainnya yang wajah tidak bisa teridentifikasi. Semuanya membawa tas. Mereka siap liburan jauh.

“Kita jadi liburan kan?” tanya Martin.

“Jadilah,” jawab saya.

“Yuk! Berangkuts!”

“Pake mobil siapa?”

Semua anak nunjuk ke wajah saya.

“Mana muat? Ini mobil muatnya cuma buat enam orang.”

Mereka tidak mau tahu. Pokoknya mobil ini harus muat ditumpangi sekitar sebelas orang yang wajahnya jelas dan sisanya lagi wajahnya ilam-ilam. Gila! Banyak banget!

Satu per satu masuk ke mobil Avanza hitam.

Sedeng! Mobilnya sampai ceper. Bannya mendelep bantet.

“Buruan! Keburu macet!” teriak mereka, menyuruh saya masuk dan mulai menjadi sopir menuju tempat liburan.

“Ini jadinya liburan kemana ya?” tanya saya sambil mulai melajukan mobil.

“Liburan sejauh mungkin,” jawab Martin.

“Iya, kemana?”

“Kemana, Bob?” Martin melihat ke arah Bobby.

“Kalau nggak salah ke pantai di Afrika atau apa ya namanya. Pokoknya jalan aja terus. Nanti sampai di ujung pulau,” Bobby menjawabnya sambil cengengesan. “Ntar kalau lupa, nanya penduduk sekitar aja,” lanjutnya.

Saya pun melajukan mobil menuju tempat tersebut. Luar biasa lho mobil saya. Bisa menembus hutan-hutan belantara. Menyelip-nyelip melewati pohon. Naik bukit, turun bukit. Melewati jurang curam dan berbatu sebesar kepala orang dewasa. Padahal tidak ada jalanan. Mobil saya tetap bisa melaju melewati rintangan super edan. Sementara teman-teman saya asik-asik di belakang bercanda. Ngeheks!

Di puncak bukit mirip Green Canyon, saya menghentikan mobil. Ketika melihat ke bawah, di sana terdapat jurang tanpa ujung. Di sisi-sisinya bertengger batu-batu tajam. Jantung saya jiper juga melihatnya.

“Turun dulu yak! Istirahat dulu. Kasian nih mobilnya.”

Teman saya pun turun. Mereka menggeliatkan tubuhnya. Duduk-duduk sambil mengunyah makanan.

“Hebat ya, kita bisa melewati jurang gila begini,” Bobby geleng-geleng kepala melihat jurang.

“Pret!”

“Gue mau kencing dulu yak!” saya pamitan untuk kencing.

Saya pergi menyelinap melalui semak-semak sambil menuntun mobil saya. Lama sekali saya menyelinap di semak-semak, sampai akhirnya tiba di satu pedesaan. Pedesaan aneh. Semua bangunannya terbuat dari tanah merah. Tembok jalanan di sisi kiri kanan juga terbuat dari tanah merah. Jalanannya pun dari tanah merah. Di pinggir jalan terdapat banyak mobil terparkir. Mobilnya bagus-bagus dan kokoh seperti mobil khusus medan gurun.

Desa apa ya? Tanya saya dalam hati.

“Pak, saya mau kencing. Dimana ya?”

Saya bertanya ke penduduk yang kebetulan sedang mengorek-ngorek pohon besar di samping jalan.

“Di sana. Di balik pohon.”

Orang itu menunjuk ke pohon besar.

Saya berjalan menuju pohon. Tidak lama kemudian terdengar pohon tumbang menimpa mobil.

Uedan! Tuh orang nebang pohon caranya cuma dengan mengorek-ngorek doang! Ajaib! Ini pasti desa ajaib. Orang-orangnya sakti. Tapi, eh tunggu, itu yang ketiban pohon mobil saya.

Saya pun berlari ke arah si bapak tadi.

“Pak!” bentak saya,”Ini mobil saya ringsek!”

“Oh…, ini mobil saya, mobil adik ada di sana,” ia menunjuk mobil saya di bawah pohon lainnya.

Saya menarik napas lega. Saya buru-buru kencing, tapi tidak keluar. Ya sudahlah! Saya berlari memanggul mobil menuju ke tempat berkumpul anak-anak.

Dengan napas ngos-ngosan, saya bilang ke mereka, ”Di sana ada desa aneh. Orangnya sakti-sakti. Bangunannya dari tanah merah. Kita udah dekat ke tempat liburan.”

Mereka bergerak cepat. Naik mobil. Lalu menyuruh saya menuju desa aneh itu.

Sampailah kami semua di desa aneh. Bobby menunjuk plang nama desa di pinggir jalan. Nama desanya Sololok. Orang-orangnya memiliki kulit warna tanah merah. Kaya orang Indian. Cuma logatnya kesunda-sundaan campur bahasa Indonesia dan bahasa aneh lainnya.

Tidak jauh dari desa ini terdapat sebuah pemandangan super mewah. Air terjun yang selalu ada pelanginya, kali ukuran raksasa dengan debit air seperti lautan lepas. Tetapi jalan menujunya berupa jembatan dari tanah merah dan terputus-putus. Di bawah jembatannya ada air sungai bergejolak hebat. Kami semua memandang dari kejauhan jembatan itu sambil tengkurep di tanah merah.

“Keren sih jat,” ucap Bobby,”Tapi gimana ya? Mobil loe bisa loncat-loncat nggak?”

“Ngeri sih. Nyemplung. Mati semua kita.”

“Iya ya.”

“Tapi pasti ada caranya deh ke sana,” teman lainnya menimpali.

“Coba tanya penduduk aja.”

Bobby bangkit. Dia mencegat satu penduduk desa. Penduduk desanya lari terbirit-birit.

“Kenapa ya?” tanyanya heran.

“Nggak tau. Takut kali,” jawab saya.

“Aneh.”

Dia mencoba mencegat satu ibu-ibu dengan kayu di kepalanya dan buku-buku di tangannya.

“Kalau mau ke sana, harus lewat jembatan itu. Syukur-syukur sampe. Kalau ngga, ya mati. Rata-rata sih yang lewat sana mati semua. Semoga aja bisa balik lagi ya.”

Setelah bicara, ibu-ibu itu pun berlari.

Sungguh desa yang aneh.

Kami semua ingin sekali pergi ke tempat paling indah itu. Melewati jembatan dengan membuat mobil loncat-loncat merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan.

“Gimana nih? Masa kita di sini terus?” Bobby terlihat gelisah.

“Mau mati? Hayo aja sih. Yang lain gimana?” saya melihat ke teman lainnya yang bengong menopang dagu, melihat jembatan di bawah jurang dengan debit air bergejolak berbusa.

“Nggak ah. Males jadinya.”

“Ya udah. Kita liburan di sini.” Bobby tengkurep di tepi jurang.

Saya pun ikutan tengkurep. Melihat ke arah jembatan maut, lengkungan pelangi dan muncratan-muncratan busa sungai.

“Eh, itu mas Jaja loncar-loncat pake mobil di jembataann!” anak-anak menunjuk ke jembatan.

“Mas Jajaaaa!” anak-anak memanggil dari ketinggian. Yang dipanggil mendongakkan kepalanya ke atas.

“Oii!!” dia melambaikan tangannya ke arah kami semua.

“Go! Go! Mas Jaja bisaaaa!” Anggia, Alia dan cewe-cewek lainnya memberi semangat.

“Eh, kok mas Jaja bisa tau sih kita mau liburan?” tanya Bobby.

“Oh iya ya. Siapa yang ngasih tau ya?” saya balik nanya.

Kami semua akhirnya berpikir keras. Mencari tahu siapa yang memberi tahu Mas Jaja. Betewe, Mas Jaja ini bos kami semua di kantor.

Saat semuanya sedang berpikir keras, seorang teman berteriak,”Nah! Gue tau siapa yang ngasih tau Mas Jajaa!!!”

Teriakannya membuat saraf tidur saya tersentak.

Saya pun bangun dari mimpi tentang liburan yang gagal.

“sonofmountmalang”

Note:

Sepertinya mimpi ini tercipta gara-gara saya tidak jadi pergi liburan yang sudah direncanakan. Ke Sawarna, Kiluan Bay, Pulau Seribu, Bandung dan tempat lainnya. Sekian! Selamat berakhir pekan:)

2 thoughts on “mimpi copywriter (31) liburan ke sololok, afrika!

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s