Tolong, Istri Saya Hilang

Saya tidak tahu harus mencari kemana. Istri saya hilang sejak pukul satu siang, hari Sabtu kemarin. Harusnya saya menemaninya interview di Mall of Indonesia, café Olala, jam sebelas siang. Berhubung saya digempur kerjaan editing program Diplomat Success Challenge Season 2, saya pun tidak bisa pulang. Saya habiskan hidup di Jumat malam hingga Sabtu siang untuk memantau editor bersama atasan saya.

Tidur sekitar sejam, mata terasa pedas, sepet dan sipit ketika matahari muncrat mengenai kornea mata.  Saya pulang sekitar jam sebelas siang dari Citos menuju Setiabudi One. Saya ada janji dengan dua teman di sana. Merebahkan diri sambil BBM-an dengan siraman rohani menyejukkan dari secangkir kopi Toraja Kalosi khas buatan Anomalicoffee, membuat pikiran saya relaks, santai dan mem-belo-kan kembali mata sipit-sipit sepet saya.

Saya bilang ke istri saya, bahwa pertemuannya tidak akan lama. Dia mengiyakannnya dengan menjawab,”Ok.” Itu tepat jam 12 lewat lima menit. Artinya dia sedang berada di Olala di-interview oleh salah satu pemilik perusahaan. Begitu katanya, dia sudah mencapai tahap ngobrol dengan bigboss. Oh, baiklah. Saya hanya memberikan semangat,”Sukses ya.”

Jam dua siang, pikiran saya sudah tidak bisa diajak diskusi lagi. Saya harus mengkontemplasikan otak, pikiran, hati dan tubuh agar badan tetap bugar. Saya BBM istri,”Aku pulang ya.”

Tidak ada jawaban. Saya telpon, tidak diangkat juga. Oh, mungkin sedang serius nego gaji sebesar 50 juta. Hehehehe!

Tanpa menaruh curiga, saya pulang dengan kondisi pikiran nyaris blong. Isinya ada tiga benda di kepala saya, bantal, guling dan ranjang empuk. Sepanjang jalan saya membayangkan itu sambil mendengarkan Light Jazz di Brava Radio. Enak. Sesekali mata merem di lampu merah. Zzzzzz….!

Singkat cerita, sampailah saya di rumah mertua, Sunter, jam duaan. Perhitungan saya, istri interview jam sebelas, harusnya dia sudah kembali ke rumah lebih dulu dari saya. Interview paling lama berapa jam sih? Dua jam, kan? Itu analisis saya. Tapi ternyata saya salah. Rumah mertua masih kosong. Mertua saya pergi makan siang bersama teman dekatnya entah dimana.

Kemana nih anak? Begitu pertanyaan di batin saya. Interview di Mall of Indonesia, yang jarak tempuhnya pun hanya butuh waktu lima menit naik mobil, tetapi belum pulang juga. Saya BBM-in bertubi-tubi, tidak dibalas. Saya SMS, tidak dibalas. Saya telepon sampai jempol pengkor, tidak diangkat juga. Sekali lagi saya bertanya di batin kecil, kemana ini anak perginya. Mungkin masih nego gaji kali ya. Maklumlah Strategic Planner berbakat. Eaaa!

Saya tunggu sejam dengan mata mahasepet, mahapedes, pengen molor semolor-molornya dengan nyenyak dengan jari terus mem-BBM-nya. Tidak juga dibalas. Telepon tidak juga diangkat. Nyaris setiap menit saya nelepon. Sampai akhirnya Blackberry-nya tidak aktif. Ah, ada yang tidak beres nih. Saya BBM adik ipar, itu persis jam setengah empat. Dia menyarankan saya menyusulnya ke MOI. Dengan langkah gondal-gandul, kepala mentul-mentul, tenaga 0,00002 watt dan mata setengah merem, saya memaksakan diri melajukan mobil menuju MOI. Sial sungguh sial. Jalanan menuju MOI macetnya seperti jembut kambing. Waktu tempuh yang harusnya hanya lima menit, saya buang sejam saja di jalan.

Selama di perjalanan itu saya berpikir sejuta macam. Jangan-jangan dia dihipnotis, didoktrin jadi teroris. Jangan-jangan dia diculik, diambil uangnya, BB-nya dan ditinggal di pulau terpencil. Dan banyak lagi pikiran jelek terbang-terbang genit di atas kepala saya. Menambah suasana semakin panik. Jalanan juga bener-bener deh. Keterlaluan macetnya. Tapi dengan kesabaran tingkat tinggi, saya akhirnya sampai di MOI. Untungnya parkir tidak jauh dari Café Olala. Dengan perasaan jedang-jedung, aliran darah seperti roller coaster, saya menatap satu demi satu meja, bangku dan orang-orang di Olala. Nyeeepp! Suasana menjadi senyap. Tidak ada istri saya di sana. Oh, mungkin. Mungkin lagi ya, dia sedang makan. Coba saya gunakan teknologi hallo-hallo information center. Mba-mba manis dengan suara lembut memanggil nama istri saya. Semoga dia mendengar panggilan mba-mba itu. Setengah jam saya tunggu, tidak juga muncul. Adik ipar pun mulai panik di BBM, dan sialnya juga, BB saya mendadak merah. Haruskah lapor polisi? Kalau lapor polisi, akan dicari kemana istri saya. Mata yang tadinya sepet, otak  mandek dan badan lemas-lemas lebay pun seperti dicolok listrik tegangan 5000 volt. Greng! Energi melesak ke tubuh saya. Badan jadi segar kembali. Saya menarik napas panjang. Menenangkan kepanikan. Sementara jempol siap menulis Twitt blast, BBM blast, YM blast, Facebook blast, SMS blast, yang isinya menyatakan bahwa istri saya hilang. Saya ingin segera menemukannya kembali. Karena dialah satu-satunya belahan jiwa saya. Kalau dia hilang, segalanya dalam hidup saya hanya tinggal separuh dan saya tidak akan mampu menjalani hidup jika separuh hidup saya belum ditemukan.

Tulisan itu tinggal dipencet dan akan menyebar dalam hitungan jam. Telat sedikit saja, pesan itu tidak akan sampai. Karena Blackberry saya sungguh-sungguh merah. Ketika saya ingin memencetnya, tiba-tiba BBM dari adik ipar saya masuk,”Rakaaaa! BB-ku mati blast! Aku sudah di rumah.” BBMnya belum sempat saya klik baca, Blackberry keburu mati. Pesan itu aku dapatkan sekitar jam enam lewat lima belas.

Saya menarik napas panjang. Lega rasanya separuh hidup saya sudah kembali ke rumah. Dan berhubung prediksi jalanan masih macet setan, maka saya pun melangkahkan kaki penuh kepastian menuju Starbucks.

Memesan Hot Chocholate ukuran Grande. Membuka laptop dan menikmati semua kelegaan ini di pojokan sambil merelaksasikan otot-otot tegang dengan siraman manis dari secangkir coklat panas. Dan, karena ngantuk sudah melebur dengan rasa bahagia, saya pun mulai menuliskan cerita ini.

Pesan terakhir saya, jangan biarkan alat komunikasi Anda mati. Ganti segera dengan Blackberry terbaru yang baterenya bisa bertahan 24 jam. Dan kalau bisa, sesibuk apa pun, angkatlah telepon yang berbunyi, karena kita tidak akan pernah tahu kekhawatiran apa yang sedang terjadi di sana. Dan sepertinya satu lagi bukti otentik, bahwa ternyata saya masih begitu mencintai istri saya.

I love you, “Tala” Dwi Yuniarti Dharmanto.

Mari kita lanjutkan menghabiskan HOT CHOCOLATE! Glek! Glek! Glek!

“sonofmountmalang”

“Kini, ia istri saya sudah kembali ke sisi saya. Ia menemani saya yang tergolek panas dingin pusing bercampur badan ringsek di ranjang sejak tadi malam hingga jelang sore ini.  Selamat berakhir pekan!“

Advertisements

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s