Sahabat Pena vs Sahabat Digital

Pertanyaan pertama, siapa yang pernah memiliki sahabat pena? Acungkan tangan! Siapa yang pernah mengalami masa-masa pacaran dengan kirim-kiriman surat? Sekali lagi, acungkan tangan tinggi-tinggi. Sekarang, siapa yang masih menyimpan semua surat-surat itu? Masih ada yang ngacung? Kalau masih, yuk berbagi cerita.

Sebelum era digital menjajah kehidupan analog, belasan dan bahkan puluhan tahun lalu, kita meromantiskan hubungan persahabatan melalui tulisan tangan di sepucuk surat cinta, untuk sahabat pena. Itulah masa-masa kejayaan surat, sekaligus masa kejayaan sahabat pena.

Lima belas tahun lalu, saya mulai menjalin hubungan dengan sahabat dari berbagai dearah di Jakarta, luar Jakarta dan luar pulau Jawa. Menulis surat saat itu merupakan kepuasan yang tidak bisa digantikan dengan teknologi dan kemajuan apa pun di era sekarang ini. Rasanya, menulis surat berbeda dengan menulis imel atau pun jejaring sosial seperti yang ada sekarang ini. Untuk yang pernah memiliki sahabat pena, mungkin memiliki perasaan yang sama dengan saya.

Setiap hari saya menerima sekitar lima surat dari berbagai daerah. Setiap malam sebelum tidur, saya membalas suratnya. Keesokannya menitipkan ke tukang pos yang lewat di depan rumah atau cukup memasukannya ke dalam kotak pos. Kebayang kan, lima surat dalam sehari. Artinya saya membutuhkan lima perangko, lima kertas surat dan amplop. Berapa biaya yang harus dihabiskan dalam sebulan untuk surat menyurat? Oh, tenang! Sahabat pena saya mengajarkan tips dan trik yang cukup membantu penghematan dalam menjalin sahabat pena.

Triknya sangat sederhana. Begini caranya:

Usahakan untuk menggunakan stick glue ketika menempelkan perangko di amplop. Setelah ditempelkan, sapukan stick glue ke atas permukaan perangko. Hasilnya permukaan perangko yang disapu stick glue akan terlihat licin dan mengkiat. Kemudian pak pok akan memberikan cap pos. Nanti kalau sudah sampai suratnya, copot perangkonya dan lap permukaannya dengan kain sedikit basah. Stick glue hilang bersamaan dengan cap posnya. Dan perangko pun siap digunakan lagi.

Biasanya perangko akan terus digunakan sampai berkali-kali. Selama permukaannya belum pudar, perangko tetap bisa digunakan. Trik itulah yang membuat saya bisa menghemat perangko setiap bulannya.

Supaya perangko kita dibalikin, cukup tulis, “Ps: Perangko tolong dibalikin atau pake perangko ini aja balasnya ya.” Dan selanjutnya trik ini terus menyebar satu satu sahabat pena ke sahabat pena lainnya. Menyenangkan bisa berhebat dan berbagi trik yak. Hihihihihihi!

Namun, kejadian surat menyurat itu sudah berlalu, lima belas tahun lalu. Kemudian lahirlah internet. Saat itu sedang mewabahnya virus mirc dan imel-imelan. Perlahan sahabat pena mulai bertanya dalam suratnya,”Alamat imelnya apa?”

Dan semenjak mereka menanyakan alamat imel, saya dan sahabat pena lainnya sudah tidak saling mengirimkan surat lagi. Hingga akhirnya, sahabat pena punah di tanah Indonesia, mungkin juga di seluruh dunia. Orang sudah beralih ke sahabat digital.

Sahabat digital ini pun terus berubah. Mulai dari friendster, facebook, twitter dan mungkin akan muncul lagi teknologi digital lainnya. Namun, menurut saya, sahabat pena dengan surat, amplop dan perangkonya tidak bisa digantikan keseruannya oleh teknologi canggih mana pun. Untuk itulah saya akan tetap menyimpan sisa-sisa surat balasan ini, 15 tahun, 30 tahun dan sampai saya mati.

Salam sahabat pena:)

“sonofmountmalang”

PS: Maaf ya pak pos, saya sudah mencurangi kalian bertahun-tahun:D

Advertisements

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s