mimpi copywriter (33) jantung mesin

Mengilukan! Itulah ekspresi pertama kali ketika saya sadar melihat diri sendiri. Saya terbaring di atas kasur bedah di ruangan yang serba putih. Dari pusar hingga dada, tubuh saya sudah terbelah. Semua isi perut dijembrengin, dijejerin rapih ke samping kiri dan kanan badan. Usus-usus seperti tambang-tambang merah dijemur rapih. Perut saya sudah kosong. Tidak ada yang tersisa di dalamnya. Kecuali satu, jantung saya. Dokter bedah yang menangani akan membedah jantung saya.

“Rasanya nggak bakalan sakit,” ucapnya.

Dia memegang pisau bedah mengkilat. Wajahnya tertutup masker putih. Tidak lama kemudian terdengar suara kulit disayat. Pisau menembus daging-daging dan tulang. Rasanya sedikit ngilu.

“Dok, kok rasanya ngilu ya.”

“Oh, tenang. Saya tambah biusnya.”

Dokter itu menekan tombol merah. Seketika ngilu saya hilang. Dan dokter melanjutkan irisan demi irisan di dada saya.

“Nah, ini jantungnya. Coba saya cek dulu ya.”

Dia memasukan tangannya ke dalam dada saya. Di dalam, dia menarik jantung sedikit keluar dari rongga dada. Jantung saya warnanya silver, bentuknya seperti gelas atau piston mobil tepatnya.

“Itu jantung saya?” tanya saya bingung.

“Iya. Sebentar ya. Sepertinya ada sesuatu di dalamnya.”

Dokter itu membuka penutup jantung. Dia memutar penutupnya. Setelah dilihat-lihat, jantung saya mirip toples seukuran gelas minum. Air keruh terlihat memenuhi ruang di dalamnya. Dokter memegang penutup jantungnya. Dia meniup-niup selang di penutup jantung saya.

“Nggak ada yang nyumbat. Penutupnya aman.”

Dia menaruh penutupnya di samping badan saya. Jari-jarinya kembali masuk ke dalam jantung saya. Terasa ngilu. Dia terus mengorek-ngorek isi jantung saya.

“Dok, sakit. Ngilu banget, dok.”

“Oh, ok. Saya tambah lagi dosisnya ya.”

Dokter memencet tombol merah. Dia menambah volume bius.

“Masih sakit?” tanyanya sambi mengorek-ngorek jantung saya.

“Udah nggak, dok.”

Dengan leluasa, tangan sang dokter mengubek-ngubek isi jantung saya yang terlihat keruh-keruh merah.

“Harus dicabut nih jantungnya,” ucapnya.

Dan prut! Jantung saya dia cabut dari dalam dada. Dia membuang airnya ke dalam baskom. Terlihatlah, di dalam jantung saya banyak sekali jepitan warna hitam.

“Ini nih yang bikin kamu sakit dada. Banyak jepitan rambut di jantungnya,” ucapnya. Dia mengambil jepitan rambut warna hitam.

“Jangan dibuang ya dok. Lumayan buat jepit rambut saya.”

“Ok.”

Setelah dokter itu membersihkan jantung saya dari jepitan, dia menggantikan air keruh merah di dalamnya dengan air putih. Jantung saya terlihat bening. Bentuknya tetap seperti gelas. Merasa yakin bersih, dokter menutupnya kuat-kuat. Sampai terdengar bunyi kereket-kereket dan itu menimbulkan rasa ngilu sedikit sakit.

“Sekarang sudah bersih. Saya mau kembaliin semuanya ke dalam perut dan dada kamu. Jadi, saya akan tambah biusnya sampai kamu tak sadarkan diri ya.”

“Baik, dok. Nggak bikin saya mati kan dok?”

“Oh, tenang. Ini sebentar kok. Setelah itu kamu akan sadar.”

“Baik, dok.”

Dokter menekan tombol merah lebih lama. Perlahan tubuh saya mulai semakin lemas. Mata saya mulai samar-samar melihat ruangan bedah. Pelan-pelan mata dan perasaan saya mati. Seluruh pandangan gelap gulita. Otak dan perasaan pun mati.

Tidak lama kemudian saya terbangun. Melihat sekeliling ruangan. Menggosok mata, meraba dada. Saya menarik napas lega, semua itu hanyalah mimpi belaka.

“sonofmountmalang”

Cat.: Baru kali ini saya merasakan rasa sakit dan ngilu di mimpi. Bahaya nih kalau mimpi perang. Hiks!

Advertisements

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s