Godaan Maut ABG

Di suatu sore yang cerah di sekitaran Tebet, dekat distro milik Eno, beberapa tahun lalu. Saya berjalan dari kos menuju pancoran, dengan rambut tergerai semu-semu basah tertiup angin. Matahari sore kekuningan membuat rambut saya lebih indah dari rambut siapa pun saat itu. Di gang kompleks seberang, tepatnya kompleks kejaksaan, terparkir mobil sedan warna silver. Musik sayup-sayup terdengar, pintu mobil terbuka, anak-anak muda tanggung berdiri di sampingnya. Mereka merokok, minum teh botol dan bercanda ria, sebagian duduk-duduk di dalam mobil.

Saya, dengan tas selempang warna coklat sedikit berat, berjalan santai ala lelaki pada umumnya menuju keluar kompleks di Tebet. Sementara di seberang sana, abg-abg tanggung keganjenan mulai melambaikan tangan ke arah saya, lampu mobil dikedip-kedipkan, bunyi siulan suit suit kencang terdengar, semua mata abg-abg tanggung itu tertuju ke arah saya. Saya melihat ke belakang, oh tidak ada siapa-siapa di belakang saya. Perasaan mulai tidak enak nih.

Jarak saya mulai dekat, abg-abg tanggung semakin menggila. Sepertinya titit mereka sedang ngaceng-ngacengnya, lampu dim mereka kedip-kedipkan, yang di dalam mobil melongokkan kepalanya keluar jendela. Suit-suiiittt! Puncaknya, mereka menyalakan klakson sekali dua kali,”Tit tit!”

Jarak saya semakin mendekat. Dan semakin mendekat. Dan semakin mendekat. Akhirnya jarak saya dengan mereka sudah mencapai jarak terdekat, lima meteran kira-kira.

Nyeppp! Krik! Krik! Krik! Semuanya menjadi anyep. Mereka baru sadar, yang mereka godain sedari tadi adalah seorang cowok berrambut Pantene. Terdengar salah satu abg ngomong,”Itu cowok, sooobb!”

Dengan terburu-buru, mereka semua masuk mobil. Persis seperti adegan hewan Meerkat Manor masuk lobang saat ada pemangsa lewat. Kemudian hening di dalam mobil. Perlahan kaca jendela ditutup. Tanpa ada satu pun mata yang berani melihat saya. Dan tebakan saya, titit mereka yang siap ngecrod pun, kembali loyo, bahkan impoten dan ngga bisa ngaceng selamanya.

Keesokannya, saya pergi ke tukang cukur,”Mas! Tolong cukur pendek!”

Untung si masnya bilang,”Siap, mas!” Coba dia bilang,”Siap, mbak” Sudah pasti, saya acak-acak itu salon.

Dan selamat tinggal untuk rambut Pantene saya:(

“sonofmountmalang”

Note: Pantau terus ya blognya, akan ada kejutan-kejutan kecil dari #Copywriter Banci. Enjoy! Selamat Jumat!

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s