Senja Menggila di Sawarna

Dua tahun lalu, Sawarna hanyalah sebuah desa terpencil di pesisir pantai yang sepi dari jejak kaki manusia. Di desa ini hanya memiliki dua homestay yang jarang sekali didatangi pengunjung. Satu rumah Pak Hudayah (sudah meninggal), satu lagi Pak Widi. Sepengetahuan saya, hanya dua homestay itu yang biasa digunakan pendatang untuk menginap. Harganya saat itu 60 ribu saja per orang, termasuk makan 3x, dan saya pun bebas menyisir pantai nan sunyi dari pemandangan wajah-wajah orang dari luar Sawarna. Saya biasa menyisir pantai dari titik muara hingga Tanjung Layar. Sepanjang garis pantai itu saya hanya bertemu pemancing, nelayan dan anak kecil iseng mencari tripang. Tidak ada turis lokal atau pun asing. Rasanya saya jadi pemilik pantai dengan pasir putih. Saya bebas mau melakukan apa saja tanpa harus takut dilihat orang. Ini mungkin kenikmatan yang tidak akan pernah ditemukan kembali di Sawarna.

 

Seorang bule dari Perancis yang kebetulan satu homestay dengan saya, begitu terpana melihat keperawanan pantai Sawarna.”Ini gila,” katanya,”Saya bisa menemukan pantai sebagus dan sesepi ini. Semoga pantai Sawarna tetap seperti ini. Jangan sampai seperti Pelabuhan Ratu, Bali atau Lombok. Pantainya sudah penuh dengan gubuk-gubuk dan warung. Sudah tidak alami lagi. Tapi saya yakin, kalau pantai ini sudah terkenal dan banyak turis, penduduk kampung di sini pasti membangun penginapan dan warung-warung. Saya tidak suka, dan mungkin saya tidak akan kembali ke sini. Saya akan mencari pantai lainnya lagi.” Begitu cerita bule panjang lebar di balkon homestay Pak Hudayah. Saya bisa memahami kegelisahannya. Sama gelisahnya saya terhadap kealamian Sawarna, yang bisa jadi suatu saat nanti tidak akan sebagus ketika pertama kali saya datang Maret 2009.

 

Kegelisahan itu saya rasakan dua tahun lalu. Kini, saya kembali ke Sawarna untuk melepas kepergian 2011. Merenungkan ketidakpentingan-ketidakpentingan hidup di masa lalu dan memperbaikinya di 2012. *klise!*

 

Rupanya, wajah Sawarna sudah berubah. Villa, cottage, bungalow dan penginapan sejenisnya, mulai dari yang mewah hingga ala kadarnya pun menjamur di setiap beberapa meter. Jalanan penuh dengan mobil plat B, D dan F. Bahkan bis ukuran sedang dan minibus. Penduduk setempat sudah mengenal uang. Mereka mengerti bisnis. Parkiran di jalan pun dijadikan bisnis. Dulu tidak ada bayar-membayar parkir. Sekarang, bayar parkir di jalan 25 ribu dan masuk ke pantai Sawarna harus bayar 3 ribu per orang. Beberapa tahun lalu mereka memandang asing pendatang, kini mereka memandangnya sebagai sumber uang. Sawarna sudah dikomersilkan, tetapi pantainya tidak dijaga. Deretan beberapa warung-warung penjual kopi, mie instan, air mineral hingga bir di tepi pantai sudah berdiri. Bahkan, Tanjung Layar yang dulu sama sekali tidak ada jejak kehidupan pun, sekarang sudah berdiri warung-warung penjual makanan dan minuman.

 

Penduduk sudah tahu peluang bisnis dengan banyaknya turis yang datang, tetapi mereka tidak merawat pantainya dengan baik. Sampah di pesisir pantai tidak mereka bersihkan. Setidaknya, jika mereka tahu bahwa pantai itu yang menjadi magnet bagi turis, harusnya mereka ikut menjaganya dengan gotong royong membersihkan pantai. Sama halnya seperti yang dilakukan warga Bali ketika pantai mereka kotor.

Sawarna sekarang bukan lagi Sawarna yang saya kunjungi dua tahun lalu. Wajahnya sudah berubah. Saya nyaris tidak mengenalinya lagi. Mungkin, ini kunjungan terakhir saya ke Sawarna sebagai penutup akhir tahun dan saya tidak akan kembali meskipun saya begitu merindukannya keheningansunyinya dengan senja yang selalu membakar langit setiap sore.

Dua tahun lalu, saya masih gencar merekomendasikan Sawarna ke beberapa teman. Saya bilang,”Loe harus ke Sawarna. Pantainya sih biasa, cuma satu yang gue suka, pantai sepi, masih perawan dan bener-bener alami, apa adanya ditambah banyak wisata goa. Dari yang serem sampai yang keren!”

Sekarang saya berani bilang,”Kalau mau ke Sawarna, kalau benar-benar tidak sebegitu penasarannya, lebih baik jangan. Perjalanan sejauh itu tidak akan terbayarkan. Kecuali waktu bisa diputar kembali ke 2009:)!”

Untuk membuang semua kegelisahan, saya duduk di atas pasir, menunggu matahari membakar awan hingga menyala. Dari kuning, merah hingga keemasan. Inilah senja terakhir Sawarna di 2011 yang mengguyur seluruh tubuh saya dan pengunjung lainnya. Semoga nyalanya menjadi pemantik semangat para penghuni negeri ini untuk terus berkarya. Semoga, sekali lagi, manisnya senja akhir tahun menjadi penyedap rasa yang tidak pudar diombang-ambing jaman.

 

Sampai bertemu di pesta akhir tahun 2012. Ngook!

 

Selamat Tahun Baru!

 

“sonofmountmalang”

2 thoughts on “Senja Menggila di Sawarna

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s