Kuliner Jaman Kegelapan Bagian Dua

Kalian sudah membaca “Kuliner Jaman Kegalapan Bagian Pertama?” Sebagai pengingat, di sana sudah ada menu Landak, Trenggiling, Musang dan Kancil. Kira-kira makanan lezat apalagi yang pernah saya nikmati. Yuk! Ikuti jelajah Kuliner Jaman Kegelapan Bagian Dua.

Kali ini kita akan bertemu dengan daging Buaya dan Biawak. Daging ini susah sekali ditemukan. Namun, entah kenapa, saya bisa mendapatkan daging ini. Dagingnya enak. Mirip perpaduan ikan dan ayam. Gurih. Waktu itu saya mendapatkannya sudah dalam bentuk pepesan. Pepes buaya. Saya diberi tahu setelah menghabiskan semua makanan. Gimana cara dapetin buaya? Gampang, katanya. Itu anaknya buaya. Panjangnya baru satu meter. Dagingnya masih enak dan pas untuk dijadikan hidangan. Weks! Cukup sekali makan buaya, begitu pun biawak. Menyeramkan. Takut kena karma pas nyeberang sungai nanti. Hiii…! Tapi melihat orang-orang Irian Jaya berburu buaya dan memasaknya dengan cara dibakar menggunakan batu panas, itu membuat saya ingin sekali lagi menikmati daging buaya. Hmmm….!

Bagaimana dengan daging Biawak? Waktu itu disate. Rasanya enak. Enaknya seperti apa, saya sudah lupa. Hanya sekali makan. Setelah itu tidak berani makan lagi. Meskipun katanya daging Biawak ini banyak sekali manfaatnya. Hoaks!

Biawak mudah ditemukan di kali-kali atau tempat basah, seperti rawa. Cara menangkapnya, katanya sih waktu itu cukup dipancing dengan daging atau cukup dengan diburu senapan angin. Hiks! Kasihan ya.

Setelah Biawak? Hmmm…! Ini sedikit mengerikan dan saya tidak akan pernah memakannya lagi. Ini adalah DAGING MONYET! Whuaaaaa! Waktu itu dagingnya sudah dalam bentuk dendeng. Dagingnya merah dan wangi karena sudah diberi bumbu superlezat! Rasanya enak banget! Dan katanya juga, bagus buat menangkal berbagai macam penyakit. Hiks! Cukup sekali makan daging monyet. Cara mendapatkannya dengan diburu menggunakan senapan berburu. Harus ditembak pas di bagian kepala. Sedih banget ya. Maafkan aku ya, MONYET…!

Hiks! Makin sadis ya Kuliner Jaman Kegelapan Bagian Dua ini.

Makanan enak selanjutnya ini tidak sadis. Ini lucu. Ini daging Marmut atau Marmot. Tahu kan bentuknya seperti apa? Seperti Hamster. Cuma ukurannya sebesar Aqua botol plastik 1500 ML atau lebih. Kalau hewan ini memang sengaja diternakan. Cara masaknya sedikit rempong. Setelah disembelih, ada dua cara untuk menghilangkan bulunya. Pertama dibakar sampai bulunya habis. Setelah dibakar, badannya dikerok untuk menghilangkan sisa-sisa yang gosong. Kedua, direndam air panas. Setelah itu dikerok menggunakan pisau. Bulunya akan rontok sampai Marmutnya bugil. Cara masaknya bebas. Ada yang dipanggang, digoreng, dibumbu kuning dan sebagainya. Dagingnya enak, empuk seperti ayam. Nyam-nyam! Sekarang, saya tidak berani makan Marmut lagi. Tidak tega melihat wajahnya yang imut-imut.

Daging berikutnya yang menjadi santapan asik adalah Rusa. Hiks! Ini daging sangat super enak sekali! Kalau ini, saya mau makan berkali-kali. Dan, sekarang pun saya ingin daging rusa. Sayangnya, daging rusa di hutan Gunung Malang sudah nyaris tidak bisa ditemukan. Untuk bisa menikmati rusa gratis harus ngembat di Istana Bogor. Hiiiii! #MalingRusa!:P

Eh, katanya di Puncak ada lho jual sate rusa. Itu dimana ya? *ngiler*

Nah, yang ini nih, salah satu daging yang dilarang oleh GREENPEACE untuk dimakan. Daging apakah itu? Auuummm! Kalian kenal suara auman ini? Suara apakah itu?  Ya, suara macan kale. Alias HARIMAU!

Pernah terbayang tidak untuk makan daging harimau? Mendengar auman dan melihat penampakannya saja sudah ngeri ya. Apalagi memakan dagingnya. Eh, jangan salah. Ini salah satu daging yang enak dan sedikit pahit di lidah. Waktu itu sih saya merasakannya begitu. Mungkin masaknya kurang ahli. Daging macan itu saya dapatkan dari pemburu di Gunung Malang. Mereka tidak sengaja bertemu macan saat berburu. Karena takut, para pemburu ini memberondongnya hingga mati. Dibawa ke kampung dengan digotong banyak orang. Katanya, ini macan remaja. Dagingnya pasti masih enak. Belum alot. Kemudian di pos ronda, daging macan itu dibagikan ke seluruh penduduk kampung. Dan saya salah satu orang yang memakannya. Alot! Dan tidak selezat daging rusa. Ya iyalah! Namanya macan!

Setelah para penduduk menikmati daging macan, malamnya mereka didatangi bapak dan ibunya macan. Dan salah satu pemburu yang nembak, sakit selama seminggu karena setiap malam didatangi orang berbadan macan dalam mimpinya. Dalam mimpinya, orang berbadan macan itu ngomong,”Itu anak saya, penunggu hutan Gunung Malang, kenapa kamu tembak mati!? Dan kenapa kamu makan dagingnya!?”

Selama dua bulan, para pemburu tidak berani pergi ke hutan. Mereka takut keluarga macan balas dendam. Mimpi itu dibenarkan sang dukun. Macan itu memang benar adalah siluman macan. Mereka penunggu hutan Gunung Malang. Waks! Jadi horor dan serem! Akibatnya, babi pun merajalela gara-gara pemburu mogok berburu. Mereka takut dendam siluman macan.

Untuk meredakan dendam macan, dukun itu menyarankan para pemburu melakukan ritual dan memberikan sesajen berupa ayam hitam, telor, menyan dan sesajen lainnya di pintu masuk hutan. Hadehh! Gara-gara macan, semuanya jadi ikut rempong. Jangan sekali-kali deh nembak macan. Kalau ketemu kabur atau takut-takutin aja. Bisa nggak ya…?

Cukup ya Kuliner Jaman Kegelapan Bagian Dua ini. Masih ada kuliner lainnya sih. Tunggu eksplorasi Kuliner Jaman Kegelapan Bagian Tiga saja ya. Saya sudah lapar. *Makan apa ya sore-sore dingin begini. Hmmm….! Lirik teman sekantor*

Hap!

Salam Karnivora! Auuummm!

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s