Cerita Minyak Kelapa dan Sang Nenek

Belasan bulan lalu, seorang teman kantor mulai giat membuat campaign kecil-kecilan di media sosial soal baiknya minyak kelapa, sekaligus berjualan. Karena dia jualan, maka dia sendiri menggunakan produknya. Setiap kali saya mendekatinya atau pun dia mendekat, saya mencium masa lalu, yaitu wangi nenek saya. Kalau kebetulan dia lewat begitu saja, bulu-bulu saya langsung berdiri dan di kepala saya terbayang wajah nenek. Itu membuat saya sekonyong-konyong merindukannya.

Lantas, wangi apakah yang membuat saya teringat nenek? Ini adalah wangi minyak kelapa. Teman saya yang berjualan minyak kelapa, yang sudah diolah sedemikian rupa, memakainya setiap hari. Gosipnya, minyak kelapa baik untuk segala hal. Baik untuk kulit, rambut dan pencernaan. Sampai-sampai saya tidak percaya teman saya ini usianya sudah kepala banyak. Saya pikir baru 20an. Gara-gara minyak kelapa saya tertipu dengan keawetmudaannya. #nyengir

Begitukah? Kalau saya, percaya tidak percaya. Sejak jaman kecil, nenek selalu menyediakan minyak kelapa hasil buatannya. Dia biasa menggunakannya untuk rambut dan juga kulit. Hasilnya, rambut nenek meskipun sudah putih, tetapi tetap bagus dan halus. #Shampoo Pantene dan sejenisnya kalah!

Nenek merawat rambut dan kulitnya dengan minyak kelapa. Dan itu membuat saya ikut memakainya. Sebagai hasilnya, rambut saya sangat tebal, halus dan kokoh seperti kawat-kawat baja. Tidak mudah rontok. #hiperbool!

Selain untuk perawatan diri, minyak kelapa juga digunakan untuk menumis. Wanginya sangat nose catching. Apalagi kalau nenek membuat nasi goreng menggunakan minyak kelapa. Hmmm…! Rasanya silakan coba. Saya jadi rindu wanginya minyak kelapa.

Dan, berhubung teman saya ini terus menggempur melalui media sosial dan wangi nenek terngiang-ngiang, akhirnya saya putuskan untuk membeli produknya. Saya membeli tiga produk Virgin Coconut Oil. Minyak kelapa untuk goreng-gorengan, untuk perawatan dan satu lagi untuk massage. Ketiga produk ini wanginya persis seperti wangi nenek saya. Sangat spesial. Unforgetable! Wanginya abadi. Tapi sepertinya produk ini dibuat menggunakan teknologi yang modern. Warna minyaknya bening. Berbeda dengan minyak kelapa buatan nenek. Nenek biasa membuatnya dengan cara tradisional. Sangat sederhana. Nenek cukup membeli tiga sampai empat butir kelapa tua. Keempatnya diparut. Saya ikut kepo-kepoan memarut kelapa. Setelah selesai memarut, kelapa disangrai sampai wangi dan renyah. Bagian ini saya juga suka kepo sambil mengambil kelapa yang sudah kering untuk dimasukan ke mulut. Rasanya ehnak bahnget!

Kelapa yang sudah disangrai itu ditumbuk sampai basah dan menghasilkan minyak. Pokoknya sampai tempat menumbuknya terlihat berminyak. Kemudian hasil tumbukan diangkat, dimasukan ke dalam kain tipis. Dengan sekuat tenaganya nenek-nenek, kain diperas sampai minyaknya menetes di gelas. Setelah itu ditumbuk lagi sampai nenek bener-bener jenuh menumbuk dan memeras. Biasanya sih cukup sampai menghasilkan segelas minyak saja.

Nah, serunya, sisa perasan kelapa tadi tidak dibuang. Istilahnya GALENO atau GALENDO untuk sisa perasannya. Itu sangat enak dan wajib dimakan. Rasanya di lidah, seperti menjilat SURGA. Apalagi jika dicampur dengan nasi, itu di lidah seperti ada ribuan gadis perawan lehey-leyeh hanya pakai bikini saja. Orgasme lidah sampai netes ke halaman rumah. Banjir pun itu halaman. #Anjir

Sekarang, saya sudah memiliki VCO atau minyak kelapa yang saya beli dari teman saya, yang tidak pernah lelah berkicau jualan di akun twitter-nya @naturalova dan terus mengampanyekan betapa baiknya VCO untuk tubuh bagian luar mau pun dalam. Sekaligus juga buat kamu yang tidak suka onyet-onyet di Kalimantan dibunuh demi menanam kelapa sawit, silakan beralih ke VCO. Saya mau masak dulu, dandan dulu pakai VCO dan mencium wanginya, wangi nenek saya.

Selamat mencoba. Salam dari nenek saya.

“sonofmountmalang”

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Minyak Kelapa dan Sang Nenek

  1. Saya juga suka bau minyak kelapa. Sayang setelah serbuan minyak sawit, minyak kelapa hilang dari pasar. Walau terhibur karena sekarang digantikan VCO, dibanding minyak kelapa biasa, VCO lebih mahal untuk digunakan sehari-hari 🙂

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s