mimpi copywriter (35) @panjalumurti si pencuri tart durian

Saya jalan-jalan di mall bareng Jalu, Anggia dan Yana. Kalau ada yang belum tahu Jalu, dia adalah art director berbadan jangkung, hitam, keker dan disukai banyak gay. Sementara Anggia dan Yana adalah sepasang kuli iklan, copywriter dan art director. Saya dan mereka bertiga sedang melihat-lihat barang antik sekaligus jadul di salah satu counter di sudut mall. Di counter itu, banyak sekali dijual barang-barang yang tidak bisa dibeli di tempat lain. Setting tokonya mirip penjual mainan di film Hugo. Barang-barangnya pun banyak dari jaman 30-an. Wayang-wayangan besi, mobil-mobilan kaleng, keris, delman kaleng dan banyak lagi barang lainnya. Saya ngiler ingin beli. Namun sayang, harga satu barang paling kecil, seukuran kepalan tangan, berupa wayang orang dari kaleng, sekitar 600 ribu rupiah!

Enam ratus ribu rupiah itu cukup untuk bensin dua minggu, makan sekian hari atau check in di hotel bintang 3 plus siapanya gitu. Lumayan, ‘kan? Mahal.

Dengan berat hati saya hanya bisa memegang-megangnya, begitu pun dengan Anggia dan Yana. Ngiler namun tidak mampu membeli. Bukan tidak mampu tepatnya. Sayang saja uang 600 ribu dibelikan barang jadul begini.

“Gue cari barang lain ya nyet,” Jalu keluar dari counter. Dia menuju tempat kue-kue dipajang di meja. Kue-kue itu ditutup alumunium foil dan ditempatkan di baskon besar. Salah satu baskom berisi kue tart duren seukuran ban bajaj.

“Nyet, gue mau nyolong nih kue. Nggak bakal ketauan,” katanya.

“Itu kan tart duren. Bukannya loe nggak suka duren?” ucap saya geli melihat tart duren.

“Nggak apa-apa. Gue laper.”

Jalu langsung melahap tart duren diam-diam. Caranya nyolong tart duren termasuk unik. Tangannya ia masukan ke dalam baskom yang ditutup alumunium foil. Matanya melihat ke sekeliling. Kemudian sekali tarik, tangannya sudah penuh dengan tart duren dan dia langsung melahapnya. Ketika sampai di mulut, ia tidak mengunyahnya. Ia langsung telan dan mengambil lagi sampai satu baskom tart duren itu habis. Saya khawatir ada yang melihat kelakuannya.

“Beli aja sih Jal. Nyolong kan dosa,” saya memberi saran.

“Ahhh! Nggak ada yang liat. Lagian ini sensasi makan duren.”

“Loe nggak liat tuh Budiman Hakim merhatiin kita.”

Eh, baru saja disebut namanya, Budiman Hakim yang sedang main Tamiya langsung melambaikan tangan ke arah kami berempat.

“Nah, ketauan juga loe Jal. Gue nggak ikut campur.”

Jalu menghampiri Budiman Hakim. Di sana terlihat kupingnya dijewer. Terdengar suara Budiman Hakim menasehati, ”Loe nggak boleh begitu. Orang lain emang nggak ada yang tahu, tapi itu kue bukan hak loe. Jadi, hukumannya, loe harus setor ide sebanyak-banyaknya.”

Yah! Mampus deh. Saya nggak ikutan. Saya mengajak Anggia dan Yana keluar mall. Kami semua menunggu Jalu di lobi. Semoga tuh anak mendapatkan ide sebanyak-banyaknya.

Dan ternyata, di lobi itu sudah menunggu teman-teman lainnya. Mereka sedang badai otak. Katanya mau nyumbang ide ke Jalu yang sedang dihukum Budiman Hakim.

Tidak lama setelah beberapa puluh menit menunggu, Jalu datang membawa sekarung keripik singkong. Matanya sedikit berair, merah dan mulutnya mengunyah keripik singkong. Di karungnya ada tulisan “BASI!” dari spidol warna hitam.

Kenapa, Jal? Diapain Jal? Dan pertanyaan lainnya datang bertubi-tubi.

“Nih! Ide gue sekarung! GARING semua! Basi!”

Saya dan teman lainnya memberikan semangat ke Jalu,”Tenang…! Ide bagus pasti ada kok. Kita bantuin yak!”

Saya dan teman lainnya mengambil keripik singkong bertuliskan “BASI!” dan memakannya penuh keseruan.

Tidak ada kebasian lagi ketika bunyi krak kruk krak kruk dari keripik singkong yang dikunyah. Yang ada adalah kebisingan, keramaian dan suasana semakin heboh. Anak-anak kecil mulai berdatangan. Mereka ikut memakan keripik singkong.

“Yah, setidaknya ide basi dan garing loe bisa dimakan banyak orang lah, Jal!”

“Iye!”

Saya terlarut dalam suasana keripik singkong. Perut kenyang. Mata berkunang-kunang. Ini pasti efek mecin dari keripik singkong. Pemandangan saya menjadi blur dan semua kejadian hilang dalam sekejap. Sunyi, gelap dan ketika mata saya melihat, saya berada di atas kasur dan terdengar suara panggilan shalat subuh.

Saya menarik selimut, dan tidur lagi sampai waktunya bangun tiba.

“sonofmountmalang”

*Faktanya, Jalu tidak suka durian

**Faktanya, saya punya sekantong keripik talas di meja kantor

***Kesimpulannya, jangan-jangan…sekarung ide basi itu milik saya. Nahhhhh! Ngoks!

Sampai di Mimpi Copywriter berikutnya!

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s