mimpi copywriter (36) pesawat gatot

Saya berencana ke Lombok naik pesawat. Tiket sudah ditangan. Perlengkapan sudah di tas semua. Kamera, laptop, baju dan peralatan lainnya sudah siap dibawa.

Dan saya sudah check-in di bandara mirip hanggar raksasa. Di sana sudah terparkir pesawat jumbo bercat merah putih. Di pintu pesawat berjajar pramugara dan pramugari menyambut kedatangan saya.

“Duduknya di lantai dua ya mas,” kata salah satu pramugara setelah dia melihat tiket saya.

Saya menaiki anak tangga besi menuju lantai dua pesawat. Di lantai dua, saya duduk di kursi nomor 31. Kursinya hanya ada tujuh. Yang terisi dua kursi. Selebihnya kosong. Kursinya pun tidak seperti kursi pesawat. Kursinya berwarna orange. Mirip sekali dengan kursi metromini. Tas saya pun tidak ditaruh di kabin, melainkan di dekat kaki.

Saya duduk merebahkan badan sambil melihat jendela. Pesawat mulai berjalan. Hujan tiba-tiba turun. Aspal pun basah. Sesekali pesawat yang sedang melaju oleng dan terpeleset. Kata pramugarinya, jalanan sangat licin, pesawat terpaksa terbangnya menunggu hujan reda. Jadi, untuk sementara pesawat melaju di atas jalanan saja dulu.

“Terus kapan terbangnya?” tanya saya.

“Segera, pak. Ini pesawat dalam proses lepas landas. Tunggu saja ya rodanya terangkat,” jawab pramugara.

Jantung saya ketar-ketir. Darah berdesir. Nyawa pasrah. Kalau pesawat ini tiba-tiba oleng, menabrak dan meledak, ya sudah yah, saya meninggal di pesawat ini. Maafkan saya kalau ada salah-salah kata, teman-teman. Begitu bunyi twitt saya.

Lama sekali pesawat tidak terbang juga. Pilotnya melajukan pesawat di jalanan berbelok-belok. Sesekali badan pesawat tergelincir dan membuat semua penumpang di lantai satu panik. Terdengar teriakan segala jenis suara menggema dari bawah.

Saya memberanikan diri melihat ke luar jendela. Cih! Wajar saja pesawat ini tidak mau terbang, itu roda belakangnya terikat kain perca warna-warni yang sudah menambang. Kain itu menahan laju roda pesawat. Sehingga rodanya tidak bisa berputar.

“Pak! Itu rodanya keiket tuh!” saya berteriak sambil menunjuk ke roda pesawat, ”Buruan ambil! Mungkin bisa terbang kalau diambil sekarang!”

Pramugara langsung turun tangga. Dia menuju pintu pesawat.

“Lot! Berenti bentar lot! Ada tali! Nyangkut di ban!!” Pramugara itu berteriak ke arah pilot di depan sana. Pilotnya melongok keluar jendela pesawat. Dia berteriak, ”Iya! Turun aja! Saya pelanin pesawatnya!”

Pramugara itu berubah jadi kondektur. Dia loncat dari pintu pesawat, persis kondektur metromoni, lalu membentulkan roda yang terlilit kain perca. Dia membentulkan roda pesawat, sementara pesawatnya jalan terus.

“Lot! Berenti lot! Susah nih betulinnya!”

Sekali lagi pilot melongok dari jendela pesawat, ”Iya! Nggak bisa berhenti nih. Remnya blong!”

Wuaaaaaaaa! Rem pesawat blong! Ngehe! Gimana dengan nyawa saya. Gimana dengan liburan saya! Teman-teman, ibu, bapak, pacar selingkuhan, maafkan saya. Saya sepertinya bakalan mati barengan pesawat ini.

Pesawat terus melaju meninggalkan pramugara yang berteriak-teriak minta berhenti. Selama melajunya pesawat, jantung saya tinggal pret, copot deh. Pesawatnya oleng ke kanan, ke kiri, sesekali tergelincir ke sisi jalan, sayapnya melibas pepohonan, dan itu membuat panik seisi penumpang. Saya akhirnya turun ke lantai satu. Suasanya kacau. Ada yang menangis, berdoa, solat dan menunduk takut. Mereka siap mati sepertinya.

Saya melongok ke jendela. Pesawat sudah berada jalanan sisi laut sebelah kanan dan sawah sebelah kiri. Ombak lautnya menyeramkan. Ombaknya seperti pecut. Melejit ke udara sampai ke puncak gunung dan meledak di atas gunung, kemudian turun gunung menarik apa saja yang ada di sekitarnya. Bentuk gunungnya pun aneh. Gunungnya di tengah laut, bentuknya mengerucut dan memiliki aliran sungai melingkar dari bawah hingga puncaknya. Jadi air laut sampai ke gunung melesat melalui aliran sungai. Ketika melejitnya sih keren, cuma suara dan renggutan setelahnya sangat menyeramkan. Banyak orang terbawa arusnya dan tenggelam.

Saya langsung menuju pintu pesawat. Menunggu pesawatnya melambat. Kalau sudah melambat, saya akan loncat. Saya akan berhenti di sini saja. Pemandangan di sini cukup bagus buat foto-foto. Saat pesawat melambat, saya loncat. Ketika saya loncat, pesawatnya berhenti blas.

“Kita sudah sampai di Lombok. Silakan turun.” Begitu bunyi suara dari speaker pesawat.

Ngeprettt!

Saya meninggalkan pesawat menuju sisi laut. Mengabadikan lecutan ombak dari bawah gunung, melingkar-lingkar dan meledak di puncaknya. Ternyata gunungnya banyak. Suara ledakan terdengar silih berganti. Seru! Sekaligus menakutkan. Tetapi saya betah berlama-lama di sisi laut ini. Menyaksikan fenomena menyeramkan, unik dan keren sampai saya terbangun dari tidur.

“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s