Seven Days in Bali; A Lovely Solitude in Amed

Perjalanan tujuh hari di Bali bukanlah waktu yang panjang untuk menjelajahi setiap jengkal keunikannya. Bahkan, seorang teman di Bali, Ari Triono @megalomankoe, yang sudah 9 bulan tinggal di Ubud dan mengajar bahasa Indonesia bagi WNA, belum menjejalahi banyak tempat. Padahal ia mengajar sehari hanya 3 jam. Selebihnya, dia bilang, bermain-main saja. Duh, enaknya mahluk satu ini.

Oke! Nanti akan ada pembahasan tersendiri tentang @megalomankoe sang guru Bahasa Indonesia ini ya.

Sekarang, saya akan memulai perjalanan dalam rangka ulang tahun pernikahan kedua bersama pacar saya yang cantik, @dwiyuniartid. Dalam melakukan perjalanan ini saya akan mengendarai Karimun Estilo. Eh, tunggu dulu. Rupanya pemilik rental mobil yang saya booking dua minggu sebelumnya, datang dengan Avanza, bukan Estilo.

Kok bisa? Estilonya overhit. Sementara Estilo lainnya sudah disewa orang. Jadi, saya harus bayar berapa Avanza ini? Sementara budget Estilo itu 171.000 per hari. Budget perjalanan sudah ngebundel nih. Pengantar mobilnya bilang, cukup menambahkan uang 9.000 saja. Oke. Jadi harga sewa Avanza per hari 180.000 rupiah dan itu sudah bisa dikategorikan murah. Saya menyewa untuk 6 hari. Total 1.080.000 bayar di muka. Cash! Supaya di perjalanan tidak terpakai uangnya untuk ini itu.

Mobil sudah siap. Barang-barang sudah masuk. Mari menuju Amed. Jangan lupa mampir ke Circle-K, Indomart atau Alfamart untuk membeli minum, snack, cemilan, roti dan penggembira perut lainnya. Agar perjalanan lebih menyenangkan.

Kalau sudah siap, mari lanjutkan perjalanan dari Bandara langsung menuju jalanan Ngurah Rai By Pass. Perjalanan menuju Amed memakan waktu sekitar tiga jam saja. Jalanannya gampang. Tinggal lurus saja mengikuti plang-plang jalanan.

Perjalanan tiga jam itu tidak akan terasa. Karena pemandangan di kanan kiri sangat menggoda untuk berhenti. Lautan biru komplit dengan sawahnya, bukit-bukit hijau, pura-pura dan plang-plang wisata akan membuat pikiran ingin berbelok. Tapi, cobalah perkuat iman ya supaya tidak tergoda untuk berbelok.

Tiga jam perjalanan memang tidak terasa. Melewati sawah, pantai, bukit, sawah lagi, pantai lagi, bukit dan akhirnya sampailah di pesisir Amed. Sepanjang pesisir tersedia segala jenis penginapan. Harganya mulai dari 100 ribu rupiah per malam, sampai ada yang juta-jutaan per malam.  Tinggal pilih mau bermalam di mana. Jangan takut tidak dapat penginapan. Di sini banyak penginapan dan pengunjungnya pun tidak terlalu banyak.

Hanya orang-orang yang suka snorkling dan diving saja kebanyakan datang ke Amed. Selebihnya, orang-orang patah hati, penyepi, pencari kedamaian dan lainnya. Karena Amed sangat jauh dari hingar bingar kehidupan.

Hanya itukah Amed? Tentu saja tidak. Banyak juga kegiatan yang bisa dilakukan di Amed. Diving dan snorlking. Itu nomor pertama. Snorkling ke kapal Jepang yang karam itu hanya 250 ribu untuk dua orang selama 2,5 jam plus perlengkapan dan perahu. Mungkin kalau ditawar 200 ribu untuk dua orang masih bisa. Bisa juga menengok Submarine Mailbox di bawah laut. Ini yang pertama di Indonesia dan adanya hanya di Amed.

Kalau kaki dan fisik cukup kuat, bisa naik ke atas bukit untuk melihat pemandangan laut dari ketinggian. Bersepeda sampai dengkul lepas pun asik dilakukan di sini.

Ingin mancing? Gampang juga. Tinggal bayar sekitar 100-150 ribuan, maka nelayan pun akan mengembangkan layar warna-warninya sedikit ke tengah laut dan memancing ikan segar untuk dibakar di pinggir pantai.

Sehari semalam di Amed tidak akan cukup. Tiga hari dua malam penuh kesunyian cukuplah rasanya. Itu pun akan membuat kalian berpikir untuk kembali ke Amed. Menikmati lautan tenang dengan pasir hitam. Mengilerkan, bukan?

Sayangnya, saya tidak bisa berlama-lama di Amed. Tidur semalam diiringi deburan lembut ombak, bintang-bintang bertebaran, kicauan binatang malam dan paginya dibangunkan cericit burung, itu sudah cukup berkesan.

Jangan lupa untuk bangun pagi-pagi sekali. Menghirup udara segar, dingin dan duduk di sisi pantai sambil menunggu matahari bangkit di ujung lautan. Memerah, merekah, membulat, cahayanya seolah membuat jembatan merah di lautan. Itu membuat saya ingin berjalan di atasnya.

Meskipun terbitnya tidak sempurna karena ada awan-awan yang masih tertidur, saya tetap merasakan energi besar masuk ke dalam tubuh. Seandainya waktu bisa di-pause, saya akan pause barang sejam. Menikmatinya lebih lama bersama pacar yang masih membisu melihat matahari berjalan pelan di kaki langit.

Jika paginya kenyang dengan fajar, maka sorenya bersiaplah mabuk dengan senja. Ada banyak spot untuk menyaksikan ketenggelaman matahari. Ini juga tidak kalah bagusnya. Kita bisa melihat Gunung Agung mendiam anggun, lautan emas, awan merah dan matahari undur diri. Speechless. Menahan napas. Diam. Duduk di atas batu. Sambil sesekali melihat wajah pacar saya berubah menjadi keemasan. Hmmm! Terlihat lebih cantik dari biasanya dia. Hahahaha!:p

Semua kemewahan itu bisa didapat di sini, di Amed, Karangasem, Bali. Dan saya cukup bermalam di Wawa-Wewe II. Ke laut tinggal nyebur. Cukup bayar 300.000 rupiah per malam. Sudah dapat bungalow dua kamar, lantai satu dan dua.  Kamar ber-AC dan sarapan pagi ala bule. Roti dibalur keju, minum kopi Kintamani. Duduk di sisi laut yang tertidur, merasakan udara gontai menyapa kulit. Menarik, bukan?

Setelah sarapan di Wawa-Wewe II, saya dan pacar pun melaju menuju Ubud. Kali ini berjalan santai. Sesekali berhenti di tepi pantai. Berfoto. Duduk sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Sepanjang pulang dari Amed, banyak pantai tersembunyi, yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Saya pun melewatkan salah satu pantai tersembunyi rekomendasi @megalomankoe. Pantai dengan pasir putih, laut biru dan sepi. Sayang sekali ya kelewatan. Itu pertanda saya harus kembali sepertinya.

Perjalanan pulang lebih lama rasanya. Karena banyak berhenti. Tidak lupa juga makan siang di Warung Sari Baruna. Ini warung makan khas masakan Bali. Murah meriah. Satu porsi sudah membuat cacing di perut pesta pora. Posisinya setelah Padang Bai. Ada di sebelah kanan. Warung paling ramai oleh warga dan PNS. Cocok untuk dompet setengah backpacker seperti saya ini, yang memang mencari makanan murah, banyak dan bergizi! Isinya tiga sate lilit, satu sate ikan, satu mangkok bakso ikan, kacang, sambal bawang, nasi dan sayuran. Harganya cukup 24 ribu saja. Itu sudah plus minum kelapa muda. Murah sekali ya.

Setelah makan, saya melanjutkan perjalanan menuju Ubud, melewati jalanan dengan pemandangan super mewah. Bukit, sawah dan pantai. Perjalanan begitu menyenangkan sambil berbincang dengan pacar yang tumben-tumbenan tidak berani tidur sekejap pun sepanjang jalan. Sayang sepertinya jika dilewatkan dengan mata merem.

Bagaimana dengan Ubud? Menginap dimana? Dan kemana saja hari kedua. Tunggu postingan selanjutnya ya.

Selamat menikmati tulisan dan fotonya di “Seven Days in Bali”🙂

Sepanjang perjalanan menuju Amed, Anda akan menikmati pemandangan seperti ini. Dan masih banyak lagi pemandangan menarik lainnya.

Penginapan di Wawa-Wewe II. Hanya 300.000 per malam. 

Makan murah meriah di Warung SARI BARUNA

Pemandangan saat menunggu sunrise.

Siangan sedikit, para nelayan membuka layarnya menuju lautan. Nah, bisa sekalian ikut memancing juga di perahu mereka.

Mari duduk menonton sunset!

“sonofmountmalang”

4 thoughts on “Seven Days in Bali; A Lovely Solitude in Amed

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s