Gagarutan di Gunung Papandayan

Pemandangan dari lapangan parkir. Kayanya dekat ya tuh gunung.

Perjalanan di tengah jalan menuju Gunung Papandayan. Kata orang sih ini Gunung Galunggung.

Yes! Akhirnya saya sampai ke Garut. Ternyata jarak Jakarta – Garut itu tidak sejauh yang saya bayangkan. Jaraknya masih bersahabat meskipun membuat pantat panas. Saya berangkat jam lima subuh kurang dari Jakarta. Sampai ke kota Garut itu sekitar jam 9 pagi. Sedikit terhambat di Nagrek. Tanjakan gila. Banyak truk dan bis merangkak, bahkan mogok pas tanjakan. Sudah terbayanglah kalau mogok pas tanjakan. Ya, namanya bukan jalan-jalan kalau maunya serba lancar.

Skip cerita di perjalanan menuju Garut dulu ya. Saya akan mengulas sekilas pandang tentang Garut pada umumnya, dan Gunung Papandayan akan saya fokuskan di belakangnya. Gaya yah!

Garut sebenarnya memiliki banyak sekali wisata alam, sekaligus pemandangan yang mendebarkan. Tidak salah juga sih ada yang menyebut Garut sebagai Swiss Van Java. Saya setuju sekali itu. Gundukan bukit-bukit dan barisan gunung-gunung nyaris mengepung kota Garut dari segala penjuru. Bayangkan jika semuanya itu dikelola layaknya Swiss, pastilah Garut akan menjadi tujuan wisata Indonesia, selain Bali, Lombok dan kota wisata lainnya.

Tetapi, sebutan Garut sebagai Swiss Van Java itu, menurut saya, hanyalah sebutan. Tidak didukung oleh keinginan segenap warga dan pemerintahan Garut untuk menjadikan kotanya sebagai KOTA WISATA. Sepertinya mereka belum siap atau belum terkondisikan kotanya menjadi tujuan para turis lokal mau pun mancanegara. Mengapa saya bisa berpikiran seperti itu? Sederhana saja, pertama dari penginapan, di Garut itu penginapannya masih susah dan cenderung hanya berkumpul di satu titik. Misalnya, penginapan berkumpul hanya di Cipanas. Padahal Garut itu tidak hanya Cipanas. Di Cipanas pun pasti selalu penuh, dan bahkan saya ditawari hotel jam-jam’an oleh joki-joki hotel. Duh! Rasanya kaya di Puncak ya. Perilaku joki ini membuat risih pengunjung, dan lagipula di Cipanas itu tidak ada apa-apanya. Hanya permandian air panas. Begitu juga hotelnya, menyediakan permandian air panas alami dari Gunung Guntur. Sementara wisata Gunung Guntur-nya sendiri tidak dimaksimalkan. Malah cenderung dibikin gundul, tidak terawat dan kerowakan dimana-mana karena aktifitas penambangan pasir. Di sisi lain, Gunung Guntur itu bisa dibilang gerbang awalnya pemandangan kota Garut, meskipun sebelum Gunung Guntur, kita sudah disambut oleh barisan perbukitan yang memiliki potensi besar sebagai kota wisata dengan label ECOWISATA, AGROWISATA, ALAMWISATA dan sebutan-sebutan lainnya.

Nah, karena belum siap itulah berujung pada tidak jelasnya papan penunjuk wisata di beberapa lokasi wisata. Clueless jadinya sebagai pendatang yang ingin menjelajahi segala jenis wisata di Garut. Tapi cukup sampai di sini saja ya pandangan pikiran saya soal Garut.

Sekarang, saya akan mengulas salah satu tempat wisata yang harusnya menjadi tujuan wisata turis lokal mau pun mancanegara, dan bisa menghidupkan masyarakat sekitarnya. Dialah salah satu gunung yang masih aktif di Garut, Gunung Papandayan. Yes! Saya akan mengupas wisata yang satu ini sampai hal remeh temeh. Yang tidak suka membaca, lihat foto saja yah:p!

Perjalanan

Untuk sampai ke Gunung Papandayan dari pusat kota, saya cukup menggunakan google map. Berangkat dari Hotel Alamanda di Jalan Otista sekitar pukul lima pagi. Dengan harapan, saya bisa mengejar sunrise dari puncak Papandayan. Rupanya, saya berangkat terlalu siang. Mungkin harusnya berangkat jam empat. Tapi, soal sunrise, lupakan saja ya. Itu sudah telat. Untuk mendapatkan sunrise sempurna harus dalam kondisi cuaca cerah dan baiknya musim kemarau. Kebetulan cuaca Garut sedang galau. Sedikit mendung, sedikit hujan, sedikit gerimis, kemudian cerah, hujan lagi dan terus begitu seperti ABG yang sedang bingung, mau jatuh cinta atau patah hati.

Bahkan selama dalam perjalanan dari penginapan menuju Papandayan itu diselingi gerimis, gelap berkabut, mendung dan kemudian cerah. Sebenarnya sangat menyenangkan jalan-jalan melewati jalanan meliuk-liuk nanjak turun, di sisi kiri kanan berbaris sawah segala usia, bukit-bukit dan gunung. Saking asiknya, jalanan menuju Gunung Papandayan pun terlewati sekitar 15 menitan. Kenapa juga bisa terlewat? Nah ini dia nih salah satu kelemahannya. Sebenarnya saya sudah melihat plang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI AGROPOLITAN” kalau tidak salah. Kan sebaiknya “SELAMAT DATANG DI GUNUNG PAPANDAYAN” Jadi, kalau kalian mau ke Papandayan, patokannya ada tulisan itulah. Jangan berharap ada plang “Gunung Papandayan”

Dan satu hal, jangan percaya orang Sunda di daerah soal jarak. Untuk mereka, jarak tempuh dua jam berpuluh-puluh KM itu dekat. Saya sudah tertipu berkali-kali. Saat saya tanya petugas hotel dan beberapa orang soal jarak menuju Papandayan, mereka rata-rata menjawab dekat. Palingan lima kilo meter. Padahal itu masih jauh dan jauh. So, jangan percaya ya. Percayalah mbah Google Map!

Dari titik plang itu, menuju lapangan parkir di pos pertama, saya harus tancap gas melewati tanjakan. Awalnya jalanan sangat bagus. Aspalnya masih mulus. Sayangnya, banyak sekali sampah, sisa sayuran, tanah dan bekas luapan selokan di jalanan. Coba kalau mereka buat selokan yang bagus dan dalam. Sampah yang terbawa arus selokah atau pun hujan tidak akan tumpah ruah ke jalanan. Herannya, mereka betah dengan jalanan seperti itu. Sekali lagi, mereka belum siap sepertinya.

Eh, jangan senang dulu. Jalanan bagus hanya sampai perbatasan desa. Selanjutnya, mobil akan bekerja keras melalui jalanan berbatu, berlobang dan licin. Menyetir pun harus lebih sigap, waspada dan tetap menyelaraskan kerja kaki dengan tangan. Kopling, gas, rem dan gigi terus bekerja. Jangan lupa ya buka jendela. Udara segar, bebauan rumput, hutan dan suara pesisir hutan akan memanjakan perjalanan nanjak tanpa ujung. Semakin ke atas, jalanannya semakin menanjak dan batu-batu serta lobang-lobang makin sulit diprediksi. Tapi tenang, jalanan jelek itu masih bisa dilalui dengan Alphard sekali pun.

Setelah berjibaku dengan jalanan, akhirnya mobil sampai juga ke pos pendakian. Saya membayar karcis untuk dua orang sebesar 12 ribu. Pos pendakian pertama ini merupakan lapangan luas untuk parkir mobil dan istirahat sambil ngopi-ngopi sebelum melanjutkan pendakian menuju kawah dan tempat kemping.

Jalan Menuju Pos Pendakian / Lapangan Parkir

Jalanan menuju pos pendakian

Sisa-sisa hutan bekas kebakaran

Cadas sisa letusan sudah terlihat. Artinya perjalanan nyaris sampai.

Di sini petugas akan meminta uang tanda masuk sebesar 12 ribu untuk dua orang dan mobil.

Lapangan parkir mobil. Di beberapa sudut ada tenda. Ini jam 7 pagi. Masih berkabut dan gelap.

Rombongan siap menuju Pondok Selada

Anak-anak kampung melatih anjingnya untuk berburu babi.

Ada apa saja di sini? Akan saya ulas satu per satu. Di sini ada beberapa warung. Mereka menyediakan kopi, teh, indomie dan gorengan. Ini makanan dan minuman yang sangat pas di cuaca berkabut dan dingin. Selanjutnya ada ruang informasi. Ini salah satu ruang yang sama sekali tidak dirawat atau dibuat lebih layak. Ini ruang informasi ala kadarnya. Saya tidak foto karena tidak menarik. Padahal kalau mereka buat lebih bersih ruangannya dan lebih menarik, orang pasti tertarik juga untuk membaca lebih teliti. Sayang sekali ya.

Selanjutnya ada toilet. Saya tadinya mau buang air besar dan sudah di ujung tanduk. Ketika masuk ke toilet, astaga…! Itu toilet isinya kotoran manusia. Kenapa? Jawabannya sederhana, tidak ada air! Dan toiletnya juga tidak dikondisikan lebih menusiawi. Coba mereka bangun toilet bersih plus airnya juga mengalir, saya berani bayar 5000 pun! Dan saya yakin, orang-orang juga tidak masalah bayar 2000 sekali kencing atau BAB. Itu bisa dijadikan salah satu pemasukan pengelola.  Ini ironis sekali. Dari Gunung Papandayan itu mengalir air bersih. Kenapa toilet saja bisa tidak ada air? Kan ini ironi yang sangat memperihatinkan. Kritis banget sih nih tulisannya. Hahahah! Habisnya, gara-gara toilet penuh kotoran, BAB yang tadinya tinggal procot pun tiba-tiba hilang begitu saja. Saya tidak jadi ke toilet.

Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Saya tahu jawabannya. Di pos pendakian ini ternyata banyak juga yang kemping. Mungkin yang kemping-kemping inilah empunya jejorok-jejorok. Mungkin lho menurut mereka itu tidak jorok. Lha? Kan yang datang ke Gunung Papandayan itu nggak cuma kekempingan jorok, ada juga kan wisatawan Korea, Jepang, Amerika, Jerman dan Malaysia pada saat itu. Kebayang kan impresi pertama terhadap fasilitas wisata di Garut? Bayangkan juga yang akan mereka ceritakan kepada rekan-rekannya yang berminat ke Garut. Tuh, akhirnya hanya gara-gara satu masalah, semua jadi kena. Sayang sekali, bukan?

Semoga saja pengelola ala kadarnya yang mengurusi Gunung Papandayan bisa lebih “AWARE WISATA.” Toh, hasilnya juga buat mereka-mereka juga lho.

Treking

Pintu gerbang menuju Gunung Papandayan. Siapkan air dan napas yah.

Baru jalan kaki 15 menit sudah istirahat. Beginilah orang kota:p

Jalanan mulai menanjak. Intinya tetap melangkah dengan hati-hati.

Beban mereka saat naik lebih berat dan mereka nggak pernah istirahat.

Dia bilang,”Ah! Ini sudah biasa. Setiap hari saya naik turun gunung.”

Heboh ya treknya.

Istirahat lagi.

Tidak terasa sudah sejauh ini.

Di beberapa blog, saya membaca tentang trek menuju Papandayan. Rata-rata dari mereka bilang, treknya berupa menaiki ratusan anak tangga. Saya jujur saja ya. Tidak ada anak tangga. Trek berupa jalanan biasa saja. Berbatu-batu tapi masih layak dilalui dengan berjalan kaki santai. Seorang anak kecil usia 7 tahun pun bisa melaluinya. Ibu-ibu petani sambil menggendong anaknya bisa melaluinya. Seorang bapak memanggul karung depan belakang pun bisa melaluinya. Siapa saja bisa melalui trek ini. Meskipun bukan tangga, trek jalanan di Papandayan masih manusiawi. Untuk ukuran orang-orang kota, jalanan ini enak kok. Jangan manja deh ya.  Kalau capai tinggal berhenti, duduk sambil menikmati pemandangan kawah di kanan kiri dan udara dingin menyegarkan.

Menurut Mang Ucup sang pemandu, untuk bisa mencapai Pondok Selada itu dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam berjalan kaki. Untuk ukuran dia, yang setiap hari bolak balik Pos Pendakian – Pondok Selada, itu sudah biasa. Untuk ukuran orang-orang Jakarta, yang gaya hidupnya di atas mobil, makan KFC, perokok dan manja, mungkin waktu tempuh akan lebih dari dua jam. Tak apalah. Saya juga banyak berhentinya. Sedikit-sedikit duduk di atas batu. Cape mak! Itu sebabnya saya tidak melanjutkan perjalanan sampai ke Pondok Selada. Waktu saya di Garut hanya sebentar. Masih banyak lokasi wisata yang akan saya tuju. Jadinya saya hanya sampai ke kawah baru, hasil letusan 2002 dan beberapa kawah kecil.

Sepanjang perjalanan menuju naik dan turun, Mang Ucup terus bercerita. Bagaimana indahnya sunrise di pagi hari dari Pondok Selada. Pemandangan laut Santolo di sangat jauh sana jika cuaca cerah sekali. Pemandangan jutaan bintang, dia menyebutnya milky way, pada malam hari. Itu baru pemandangan dari Pondok Selada. Pondok Selada ini titik tempu kekemping-kekempiangan.

Mang Ucup bercerita lagi, dari Pondok Selada ini ada titik yang lebih tinggi lagi. Namanya Tegal Alun. Di sinilah Bunga Abadi, Edelweis tumbuh dengan cantiknya. Di titik ini orang tidak boleh kemping. Untuk mencapainya, dibutuhkan sekitar sejam berjalan kaki. Itu menurut Mang Ucup. Sejam ya? Hmmm…! Tapi dia bilang akan terbalaslah dengan pemandangannya. Eh, jangan senang dulu. Tegal Alun ini bukan titik paling tinggi. Mang Ucup menunjuk puncak gunung di depan saya, itulah titik yang paling tinggi lagi. Tidak heran ada ungkapan di atas gunung masih ada gunung. Ohhh…! Ya ya!

Saya pun melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba suara gemuruh kawah dipecahkan oleh suara raungan motor dari atas gunung. Saya heran, itu suara motor dari mana? Ternyata, kata Mang Ucup, itu motor-motor para petani. Mereka naik turun gunung menggunakan motor. Ciyuusss!? Miapahh!?? Nih buktinya!

Antara berdebar bercampur seru. Begitu kali perasan sang anak.

Kata si amangnya, “Pegangan yang kuat, sayang!”

Ekspresinya hepi semua! Pada ngeganja kali yak!

Meraung di tengah kabut

Jatuh itu biasa, begitu kata Mang Ucup. Dan yang jatuh itu adalah pemotor paling canggih se-Papandayan!

Ini cowboy modern.

Perlu berapa tahun untuk bisa begini?

Dan yak! Itu motor-motor gila. Motor-motor ini naik melewati jalanan berbatu, membawa barang, membonceng orang dan sampai membawa hasil pertanian. Amazing! Keahlian para penunggang motor ini saya acungi 40 puluh jempol. Sekali lagi, pemerintahan setempat tidak memperhatikan kebutuhan masyarakatnya. Mereka harus bersusah payah membawa hasil pertanian dari Gunung Papandayan menuju kaki gunung. Ini salah satu bukti, pemerintahan menutup mata. Bayangkan saja, berapa banyak waktu yang bisa dihemat petani untuk mengangkut hasil pertaniannya, jika saja jalanan yang ditempuh lebih baik. Sekali lagi, namanya juga pemerintahan Indonesia, mana peduli mereka dengan hal-hal seperti ini. Mereka terlalu sibuk dengan korupsi.

Saya bisa membayangkan seandainya wisata Gunung Papandayan diolah secara profesional. Dibuatkan jalan yang nyaman, toilet yang bersih, warung makan ditata dengan baik. Begitu juga dengan lokasi kemping. Dibangun MCK bersih, untuk mandi. Percaya deh, orang yang ingin kemping itu tidak hanya pencinta alam, yang memang BAB-nya di balik semak, di sungai atau menggali tanah. Banyak juga masyarakat kota yang ingin menikmati suasana kemping dengan fasilitas bersahabat. Mereka rela kok membayar lebih untuk sesuatu yang lebih. Kenapa tidak? Selama tidak merusak lingkungan. Justru, kata Mang Ucup, anak-anak ABG – kuliahan yang kurang aware terhadap lingkungan. Mereka susah dikasih tahu, susah dibilangi dan cenderung sesuka hati. Sementara masyarakat kota lebih aware. Mereka sebisa mungkin membawa sampah kembali ke Pos Pendakian. Tidak meninggalkannya di Pondok Selada.

Mendengarkan keluhan hati Mang Ucup yang hanya tamatan SMA dan cinta mati pada alam, membuat saya berpikir untuk membuat “Campaign tentang Papandayan.” Para guide ini, mereka sangat peduli lingkungan, namun saya percaya, uang mereka tidak cukup untuk menciptakan fasilitas yang lebih baik. Mereka butuh campur tangan pemerintahan dan pengelola hutan di Gunung Papandayan. Mereka tidak digaji, mereka sukarela. Bayarannya hanya dari hasil meng-guide turis dan menyewakan alat kemping. Itu saja. Jadinya nilai jualnya pun apa adanya. Akhirnya, turis yang datang pun apa adanya. Dampaknya, kehidupan masyarakat sekitar ya apa adanya juga. Sayang sekali ya.

Semoga dengan tulisan ini, ada pihak dari dinas pariwisata Garut yang membaca dan berpikir lebih keras plus melakukan aksi, supaya Garut sebagai kota tujuan wisata turis lokal mau pun mancanegara bisa terwujud. Dan, selanjutnya, orang tidak hanya melulu ke Bandung, Lembang, Puncak, Bromo dan seterusnya. Garut memiliki potensi ECOWISATA yang menjajikan, jika diolah dengan baik. Jadi, janganlah berani mengklaim sebagai “Swiss Van Java” jika kondisi nyatanya masih jauh dari yang pernah dibayangkan orang.

Nah, jika kalian berminat kemping, Mang Ucup akan memudahkan segalanya. Naik gunung pun tinggal melenggang saja tanpa beban. Mau? Silakan…!

Mang Ucup, salah satu pemandu di Gunung Papandayan.

Kawah baru hasil letusan 2002.

Danau hasil letusan 2001. Warna danau ini akan selalu berubah, tergantung cuaca.

Kawah Salju.

Kawah Emas.

Kawah apa ya lupa namanya. Dan ada satu lagi kawah kembar, tapi tidak bisa dilihat dari dekat. Kata Mang Ucup, lihatnya dari puncak gunung. Jadi total ada lima kawah di Gunung Papandaya. Selebihnya, kawah-kawah kecil tak bernama.

Air sungai dari satu titik ke titik lain warnanya bisa berbeda. Yang ini warnanya putih.

Di titik lain,warna sungainya hitam.

Titik lainnya lagi, warna sungai sedikit kehijauan.

Sungai ini warna airnya berbeda. Sedikit bening kecoklatan.

Sisa perang nih

Di tengah puing-puing letusan

Siap menghilang ditelan kabut

Mari pulang….:)

Selamat berwisata! Tunggu tulisan wisata Garut lainnya.

“sonofmountmalang”

3 thoughts on “Gagarutan di Gunung Papandayan

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s