Menyangsang di Candi Cangkuang

Rakit-rakit siap membawa Anda menuju Candi Cangkuang

Apa yang terbayang ketika mendengar kata candi? Pertama yang terbayang adalah tumpukan batu-batu setinggi puluhan meter dan seluas ratusan meter. Megah, penuh ukiran dan sejarah. Akan seperti itukah Candi Cangkuang? Dari pada bertanya-tanya lebih baik saya meluncur ke Candi Cangkuang di Desa Cangkuang. Tak usah khawatir tersesat, kali ini ada plang di sisi jalan raya.

Candi di Garut ini letaknya ada di tengah situ. Situ yang penuh dengan lumpur dan terdapat pendangkalan di sudut-sudut situ. Sementara di sudut lainnya terlihat teratai berjejer. Berbunga tidak terawat.

Untuk bisa melihat Candi Cangkuang, sebelum menyeberang ke pulau kecil saya harus membayar tiket masuk 3000 per orang. Setelah itu saya harus membayar rakit empat ribu untuk bolak-balik. Sekali menyeberang rakit bambu diisi oleh 20 orang. Untuk menunggu rakit penuh sampai 20 orang itu lumayan lama. Solusinya, membayar 60 ribu dan rakit pun bergerak menuju ke seberang. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke seberang. Jaraknya tidak jauh. Bapak tua yang menggerakan rakit hanya mengayunkan beberapa ayunan bambu galah, rakit pun sampai.

Ada apa sih di pulau kecil ini? Di pulau ini ada Kampung Pulo, ada makam keluarga, ada Candi Cangkuang, makam Arief Muhammad dan museum kecil. Menurut cerita, Arief Muhammad berasal dari Kerajaan Mataram, Jawa Timur, yang datang ke Batavia untuk menyerang VOC. Berhubung tentara kerajaan kita jarang menang melawan VOC, maka daripada dihukum oleh raja Mataram, Arief Muhammad ini lebih memilih melipir Garut. Nyangkutlah dia di Desa Cangkuang. Sambil tinggal di tanah Sunda, dia mencoba menyebarkan ajaran Islam ke Hindu-Sunda pada jaman itu.

Sepertinya Arief Muhammad berhasil membuat penduduk di Kampung Pulo masuk Islam. Tapi siapa sih yang mendirikan candi di jaman kerjaan Hindu-Sunda? Siapa? Siapa? Tidak ada catatan sejarah soal itu. Mungkin kita harus mengundang pembawa acara Ancient Aliens, Giorgio A. Tsoukalos, untuk mengulik sejarah di balik Candi Cangkuang. Bisa jadi waktu itu alien tidak sengaja turun ke tanah Sunda dan membuat gerbang waktu berupa Candi. Kali lho ya. Namun, secuil informasi tentang siapa pendiri candi ini, kemungkinan orang-orang yang berasal dari Kerajaan Sunda Galuh. Kerajaan yang pada dasarnya mengangut ajaran Hindu. Wah! Jadi, Sunda pada jaman dahulu itu agama Hindu? Hmmm…! Ah ini panjang ceritanya kalau bicara soal kerajaan. Lain kali saja. Kebetulan, pengetahuan sejarah saya tentang kerajaan Indonesia masih sangat minim. Maklumi yah.

Berhubung tidak adanya catatan soal siapa pelaku Hindu-Sunda di Candi Cangkuang, sejarahnya digantikan oleh Arief Muhammad sebagai penyebar Islam. Banyak sekali catatan bertuliskan Arab di daun cangkuang, kulit domba atau kambing. Catatan tersebut disimpan di lemari kaca lembab. Kondisinya sudah rusak dan tidak dirawat dengan baik. Tampilan “museum” Cangkuang pun bernuansa remang-remang seram. Sangat tidak menarik dan tidak dikelola dengan baik. Padahal itu aset budaya yang pantas mendapatkan tempat terbaik. Supaya kita juga bisa belajar dari masa lalu untuk menentukan nasib kita di masa depan. Halah!

Sebenarnya, banyak cerita tentang Arief Muhammad ini. Berhubung saya kurang semangat membahasanya, cukup sekian saja ya. Ada hal menarik lainnya, yaitu Kampung Pulo. Di kampung ini rumahnya hanya boleh enam dari jaman bahuela sekali. Rumahnya pun masih terbuat dari bilik dan papan dengan atap sudah  genteng. Letaknya tiga di kiri, tiga di kanan saling berhadapan dan satu mesjid di dekat pintu utama. Di masing-masing rumah hanya diperbolehkan ada satu kepala keluarga saja. Jika ada penduduk yang menikah, maka dalam waktu dua minggu, dia harus pergi dari kampung. Dia boleh kembali ke kampung jika ada keluarganya yang meninggal. Itu pun wanita. Seorang laki-laki akan memiliki kesempatan paling kecil untuk bisa kembali ke Kampung Pulo. Bisa dibilang, wanita di Kampung Pulo ini lebih memiliki kekuasaan. Hal ini dikarenakan semua anaknya Arief Muhammad itu yang hidup semuanya perempuan. Menurut cerita, ada anak pria namun meninggal di usia muda. Jadinya semua sistem, adat dan kekuasaan dipegang oleh kaum perempuan. HIDUP PEREMPUAN!

Banyak hal menarik di Kampung Pulo ini, tetapi sebagai cagar budaya, tidak semuanya dirawat dengan baik dan tidak semuanya dilestarikan atau pun diajarkan kepada wisatawan. Misalnya, cara membuat tinta alami dan membuat kertas dari daun Cangkuang. Jika saja beberapa hal ini dihidupkan kembali, maka jangan heran kelak Kampung Pulo dan Candi Cangkuang menjadi tujuan wisata budaya, cagar budaya dan kita sebagai generasi masa kini bisa belajar teknologi masa lalu serta ikut melestarikannya. Sementara, saat ini, Kampung Pulo hanya menjadi wisata sepintas. Peranannya sebagai cagar budaya belum diolah dengan sepenuh hati. Lihat saja, bagaimana sampah di situ Cangkuang bertebaran dan pendangkalan air karena lumpur dibiarkan saja. Begitu pun dengan bunga teratai, yang seharusnya terlihat indah, hanya menjadi pemandangan biasa.

Akan sampai kapan pemerintah dan masyarakat Kampung Pulo tersadarkan? Sampai seluruh catatan-catatan sejarah itu musnah dimakan musim? Sampai tetua-tetuanya meninggal dan mengubur bersamanya cerita masa lalu? Sampai situ itu menjadi daratan? Atau sampai Galunggung, Kamojang, Darajat, Guntur dan Papandayan meletus bersamaan? Saya tidak akan pernah tahu, yang saya tahu, saya pernah datang ke Candi Cangkuang, menikmati perjalanan singkat rakit, melihat rumah asli Jawa Barat dan menghirup sejuknya udara di bawah rerimbunan pohon di Candi Cangkuang. Kemudian menuliskannya di sini. Itu saja.

Selamat menikmati!

Berakit-rakit ke Candi Cangkuang

Partner traveling saya sedang menikmati suasana di sekitar rakit

Rumah tradiosional di Kampung Pulo

Pohon Cangkuang sebagai bahan sebagai kertas, atap rumah, topi dan kerajinan lainnya.

Candi Cangkuang peninggalan Kerajaan Sunda Galuh.

Rakit-rakit menunggu wisatawan.

Pemandangan dari Situ Cangkuang

Pemandangan gunung dari sudut lain.

Kembali ke seberang untuk melanjutkan perjalanan lagi.

“sonofmountmalang”

4 thoughts on “Menyangsang di Candi Cangkuang

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s