Life of Pi

Sebagai orang yang sukanya berpura-pura menjadi penulis, maka saya akan berpura-pura me-review Life of Pi berdasarkan kepura-puraan atas dimengertinya film ini. Jadi semua ini hanya pura-pura saja ya. Silakan.

Dulu ada anak kantor yang suka membandingkan novel terjemahan Indonesia dengan novel aslinya. Katanya cuma untuk ngecek tepat atau tidaknya terjemahan novel tersebut. Saya juga mau sombong ah, membandingan novel dengan filmnya, sama atau tidak ya. #sok!

Sepuluh tahun lalu, saya membaca novel ini ketika masih kuliah. Saya habiskan selama sebulan perjalanan Jakarta Depok PP di atas Mayasari Bakti 91. Pernah ada mahasiswi yang turun di Uneversitas Pancasila nanya, “Itu novel apa?” Saya jawab, “Ini cerita tentang sebuah keluarga yang terombang-ambing di tengah lautan. Dua anak cowok, ibu dan ayah. Karena mereka putus asa dan kelaparan, mereka pun mulai saling memakan. Sang anak paling besar membunuh dan memakan ibu serta ayahnya. Kemudian anak paling kecil membunuh kakaknya dan bertahan hidup di tengah lautan hingga selamat.” Wahhh! Benar begitu ceritanya? Mmmm….! Tidak tahu sih.

Ketika membaca novel ini, saat-saat dimana saya ikut shalat bersama 5 teman kuliah, Mulky, Tri, Awenk dan Zamie. Saat itu juga saya pergi ikut sembahyang di wihara dan minggunya ikut misa di gereja. Teman saya pun bingung. Mereka sering bertanya, “Agama loe apa sih?” Saya sering iseng menjawabnya, “BUDKRISLAM!” Rata-rata yang bertanya itu lebih suka bilang, “Insaf loe, insaf!” Hahahahahah!

Teman diskusi atheis saya lainnya yang pada akhirnya insaf dan jidatnya sudah hitam, menceramahi saya supaya memutuskan mengambil satu agama yang paling diyakini. Jangan menduakan Tuhan, katanya. Saya anggap angin lalu semua itu. Saya tetap menjalani ibadah semuanya. Itu terjadi sepuluh tahun lalu. Sekarang? Sebelum saya jawab, yuk kita nonton Life of Pi dulu. Ada apa sih di dalamnya, apakah sama dengan isi novelnya? Sekalian deh ngecek script-nya, sudah benar apa belum. #blagu!

Film Life of Pi garapan Ang Lee ini menyajikan visual surealis manis di mata. Membuat penonton terdiam, sesekali terdengar tarikan ingus di belakang, suara seguk-seguk di beberapa bangku. Lho? Kok pada mewek sih? Ini bukan Drama Korea lho? Ini film fiksi yang membutuhkan penyerapan mendalam *pake kapas*. Bukan hanya sekedar keterombangambingan di tengah lautan, tetapi ini tentang keterombangambingan kepercayaan-imannya. Berat kayanya ya. Tapi tenang, Ang Lee memudahkan para penonton mencerna semua plot cerita, makna-makna keimanan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban pasti. Selain itu, Ang Lee memberikan visual-visual yang nyaris sulit dipercaya. Super keren! Apalagi dalam bentuk 3D. Saya saja sampai ngeces dan ngidam terombang-ambing di tengah lautan indah begitu. Tapi…. tentu saja dengan puluhan gadis-gadis super hot, beer, wine, kopi dan makanan super lezat. Hmmm…! Mau?

Lalu? Ini cerita tentang apa sih? Saya pernah berpikir, ini cerita tentang pertanyaan-pertanyaan seseorang tentang Tuhan yang dibungkus dengan simbol keterombang-ambingan. Jadi, ketidakpercayaan atau keraguan itu disimbolkan dengan diombang-ambingkannya kita di tengah lautan. Tidak ada tujuan, tidak ada clue, tidak ada garis, tidak pertolongan dan tidak ada dan tidak ada. Sebegitu tersiksanya. Yang ada hanya percaya. Yang ada hanya harapan. Yang ada hanya keyakinan. Yang ada hanya…..

Saya tidak kecewa menonton film ini. Ang Lee menerjemahkan tulisan Yann Martel dengan sempurna. Yann Martel pun bisa dibilang seorang penulis sekaligus filsuf dahsyat! Meskipun novelnya ini terinspirasi dari novelist Brazil, Moacyr Scliar, Max and the cats., novel tentang seorang Yahudi muda yang menyeberang Lautan Atlantik dan kemudian kapalnya tenggelam. Ketika tersadar, ia sudah berada di perahu kayu bersama seekor jaguar. Mirip ya ceritanya. Seorang India muda dan seekor harimau Benggala, Rhicard Parker. Tokoh yang konon sebetulnya diambil dari novelnya Edgar Allan Poe, sebuah novel yang bercerita tentang tenggelamnya kapal dan kanibalisme untuk bertahan hidup di tengah lautan. Ada juga yang bilang, tokoh Richard Parker diambil dari beberapa cerita tentang beberapa orang yang bertahan di tengah lautan dengan memakan satu sama lain. Richard Parker menjadi orang yang selamat. Lalu siapa Richard Parker dalam Life of Pi? Apakah PART dari Pi yang menjelma menjadi harimau Benggala dan cerita tentang penguasaan diri yang liar? Atau…, jangan-jangan sebetulnya binatang-binatang itu adalah simbol keluarganya? Kakak, ayah dan anak? Dan Pi menjadi seorang kanibal dengan memakan semuanya? Kita semua akan memiliki persepsi yang berbeda. Tergantung, bagaimana kita menerjemahkannya.

Yang jelas, Life of Pi merupakan hasil kegalauan Yann Martel terhadap pertanyaan-pertaanyaan tentang keeksistensian Tuhan di dunia, kehilangan pegangan dan kesepian serta kehampaan hidup. Hasil kegalauannya ini pun pernah ditolak lima kali lebih oleh penerbit di London. Mungkin sesuai tema novelnya, PERCAYA saja, YAKIN saja, pasti akan menjadi sesuatu yang besar. Dan benar saja. Novel ini memenangkan beberapa penghargaan. Hebat ya! Terinspirasi itu bisa menjadi sesuatu yang lebih besar juga. Jangan sudah nyontek, eh lebih jelek pula:p.

Yuk! Nulis NOVEL! #nyontek siapa ya…

Hmmmm…!

“sonofmountmalang”

8 thoughts on “Life of Pi

  1. Ane pura2 ngerti review agan aja deh, ngerti kaga ngerti, yang pasti visualnya kereeen. Ane dulu baca yg versi bahasa Enggris gan. Yang ane salut, adaptasi filmnya bener2 sesuai ama filmnya, kecuali ada bagian ditengah yg dihilangin dikit, yg ada orang ikut terdampar di kapal itu, tapi ngga ngefek juga sih kan ya? Ayo berkarya gan!

  2. Terus terang gw memantau tanggapan orang-orang yang abis nonton film ini. Dan uniknya mereka punya kesimpulan yang berbeda tentang pesan yang mau disampaikan oleh fim ini. Kalo dari kesimpulan loe, gw suka dimana loe menganalogikan antara keterombangambingan dia di laut dengan soal keimanan.

    Dan menariknya film ini, apa pun latar belakang kepercayaan yang loe anut, loe akan keluar dari bioskop merasa bahwa kepercayaan loe kayak abis disuntik multivitamin dosis tinggi.

    Buat gw sendiri, pesan yang gw tangkep terangkum jelas dari dialog akhir antara mereka berdua

    “Which story do you prefer, which one make a better story? The one with animal, or the one without animal?”
    “The one with the tiger”
    “And so it is with God”

    • Kayanya memang semua orang punya persepsi yang berbeda. Apalagi anak-anak yang diajak nonton sama emaknya. Ya, ini bisa bahan ngelantur kitalah sambil mabok bandeng dan beer tawar panas di I’m Sorry. Yuk!

  3. saya tidak pernah baca novelnya atauypun nonton filmnya, dan balum tentu juga tertarik dengan kisahnya, tapi kalau bagian

    ” Tapi…. tentu saja dengan puluhan gadis-gadis super hot, beer, wine, kopi dan makanan super lezat. Hmmm…! Mau?

    itu so pasti saya sangat tertarik…hehe

    • Besoknya saya ketemu lagi dengan mahasiswi itu. Kenalan. Ngobrol. Melalui proses yang panjang, akhirnya kami berdua pacaran. Sayangnya dia sudah punya pacar sampingan dan hamil. Menikah dengan pria itu. Memiliki dua anak. Yep! Sekarang dia bukan gadis, juga bukan janda. Dia wanita dengan tiga anak. Begitulah ceritanya:p.

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s