Jengkel, Dongkol, Jonggol

Jalan menuju Prasasti Pasir Awi

Jalan menuju Prasasti Pasir Awi

Seandainya saya jadi presiden, hal pertama yang akan saya lakukan adalah membuat Bogor sebagai kota pusat pemerintahan Indonesia. Seandainya saya jadi gubernur Jawa Barat, hal pertama yang akan saya lakukan adalah membuat Bogor menjadi salah satu kota paling berkembang. Seandainya saya jadi bupati Bogor, saya akan membuat Bogor menjadi kota paling menjanjikan se-Jabotabek! Seandainya saya dan seandainya saya….!

Tulisan ini akan sedikit serius ya. Hahahah!

Siapa yang pernah mendengar kata Jonggol? Siapa yang pernah ke Jonggol? Ada apa di Jonggol? Dan bagaimana Jonggol?

Sebelum membahas itu, saya kutip ucapan seorang pengusaha yang sudah keliling banyak pulau di Indonesia. Begini katanya,”Jonggol ini masih di Bogor kan? Bogor ini masih dekat rumah SBY kan? Bogor ini masih dekat dengan pusat pemerintahan kan? Bayangkan Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua dan pulau lainnya yang jauh dari pusat pemerintahan,” sambil menunjuk jalanan berbatu segede kapala SBY dan rumah berbilik bambu. Ok. Saya menangkap poin maksud si bapak ini. Kalian juga kan?

Posisi Jonggol ini masih sangat dekat sekali dengan Jakarta. Sekitar satu jam setengah, melalui jalanan naik turun berlobang dan sempit. Di sini terdapat pabrik semen terbesar se-Jonggol, Indocement. Potensi gunung batunya sangat menjanjikan. Begitu sih katanya, tapi saya tidak akan membahas Indocement. Saya akan membahas Jonggol.

Kontur tanah di Jonggol ini sangat keren! Konturnya berbukit-bukit, bergelombang-gelombang, bergunung-gunung dan sangat keren dilihat dari berbagai sudut. Semuanya hanya berupa bukit-bukit saja. Sepertinya bukit juga dulunya hutan belantara. Berhubung hutannya sudah diembat semua, maka sisanya tinggal bukit-bukit batu ditumbuhi tanaman liar. Bayangkan jika Bogor – Jonggol ini jadi pusat pemerintahan atau menjadi kota berkembang, kota ini akan mengalahkan kota-koat di dunia yang posisinya di perbukitan. Saya sudah bisa membayangkan jika kelak Jonggol ini jadi kota besar. Pasti akan menjadi kota romantis. Apalagi hujan di sini sering datang, maka semakin sempurnalah! #khayalanbabu

Tapi kenyataannya sekarang, Jonggol masih menjadi kota kecil, perkampungan kecil, yang bisa dibilang masih jauh dari kata berkembang. Yang berkembang ya hanyalah pejabat-pejabatnya saja. Menurut rumor, lurah di sini mobilnya BMW, Strada, makan siang saja bisa di Jakarta, dugem di Jakarta. Weh! Sadis ya! Itu lurah lho? Kebayang kan camat, bupatinya bagaimana?! Eh, itu duit dari mana?

Masih rumor, duitnya hasil dari pembebasan lahan ratusan hektar di Jonggol. Tidak heran sih. Satu bukit di Jonggol itu bisa dibeli dan dimiliki perorangan. Parahnya lagi, warga sekitar malah menggarap tanah orang Jakarta atau pemilik perusahaan. Woww! Ironi kelas tinggi!  Kasihan ya.

Saya hanya rakyat biasa. Hanya bisa bergeleng-geleng kepala, sesekali berdecak melihat pemandangan dari puncak bukit. Negeri indah ini kenapa harus dipimpin para perampok.

Saya pulang dengan hati berat, meninggalkan bukit-bukit di Jonggol dan melewati Prasasti Pasir Awi yang tidak dirawat…..

ENJOY!

Tanjakan SETAN!

Tanjakan SETAN!

Gadis kecil yang malu-malu

Gadis kecil yang malu-malu

Jonggol - Bogor dari puncak bukit

Jonggol – Bogor dari puncak bukit

Istirahat sebentar

Istirahat sebentar

Kalau ibu kota ada di sini....

Kalau ibu kota ada di sini….

Di balik bukit ada bukit

Di balik bukit ada bukit

“sonofmountmalang”

6 thoughts on “Jengkel, Dongkol, Jonggol

    • Thank you, TBM:) This is the forgotten village near to Jakarta. Located in Buitenzorg or Rain City or Bogor, West Java – Indonesia. One of the country you write on your list that have been or will be visited.

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s