Dongeng (3) : Belalang

Seperti malam-malam sebelumnya, saya mendongeng sebelum tidur. Kali ini topiknya belalang. Kok belalang sih?

Puluhan tahun lalu, sewaktu saya masih kecil, belalang merupakan cemilan paling nikmat dan harum sedunia. Tidak semua jenis belalang sih. Hanya beberapa jenis belalang. Biasanya yang ukurannya besar, sedang dan bentuk tertentu.

Tidak mudah menangkap belalang ukuran besar atau pun sedang. Butuh kecepatan tangan dan keahlian khusus untuk menangkapnya. Salah satu caranya, jangan berdiri di depannya, jangan sampai belalang tertutup bayangan, usahakan badan tetap di belakang, jangan sampai terdengar suara, gerakan harus pelan-pelan dan jika tangan sudah dekat, segeralah gunakan gerakan TANGAN COPET untuk menangkapnya.

Belalang yang sudah ditangkap, masukan ke dalam kantong atau tempat apa saja supaya tidak kabur. Ingat! Jangan bunuh belalangnya ya. Itu pelajaran penting.

Emang dimana sih berburu belalang? Gampang. Berburu saja di sawah yang sudah mulai tumbuh butir padinya atau yang masih hijau, di perkebunan jagung dan padi huma. Padi huma itu adalah padi yang ditanam di dataran kering. Biasanya ditanam di perbukitan, sisi hutan atau di dataran tinggi dan miring. Kalau mau lebih gampang lagi, berburu belalang enaknya sebulan setelah musim panen padi sudah kelar. Pemilik huma biasanya membabat tanaman padi sisa panen yang sudah menjadi jerami. Jerami tersebut dibakar untuk dijadikan pupuk. Nah, saat-saat inilah paling seru berburu belalang. Kenapa? Belalangnya tidak bisa sembunyi lagi. Ladang di huma sudah lapang, sehingga mengejar belalang itu menjadi pekerjaan mudah.

Apa langkah selanjutnya kalau sudah mendapatkan banyak belalang? Siap-siap ya. Ambil penusuk berupa ranting panjang. Kira-kira setengah meter. Pastikan di huma itu para petani sedang membakar gundukan jerami ya. Ambil belalang-belalang yang masih hidup, tusuk dari pantat hingga dadanya. Kemudian panggang di atas api tumpukan jerami. Wangi belalang yang terbakar akan menyebar ke seantero huma. Wanginya mirip sekali dengan udang bakar. Warna belalang juga akan berubah menjadi merah, seperti udang dibakar. Kalau sudah wangi, belalang pun siap dicemil. Rasanya unik di lidah, gurih dan harumnya membuat saya ingin selalu berburu belalang setiap ada kesempatan. Hmmmm…!

@dwiyuniartid antara geli, jijik, nggak tega dan penasaran mendengar cerita tentang belalang ini. Mau? Tanya saya. Nggak ah, katanya, kasihan. Terus-terus, ada cerita apalagi?

Malam ini, cukup belalang dulu ya. Sisain buat malam-malam berikutnya. Masih banyak dongeng sebelum tidur yang akan saya ceritakan padanya, sebagai pengantar sebelum tidur.

Sekarang, saya mau tidur dulu ya. *matiin lampu*

“sonofmountmalang”

6 thoughts on “Dongeng (3) : Belalang

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s