Selamat Datang Anak Kembar Yang Manis

image

Kembar katanya. Tuh di gambar paling kanan. Hihihihi

Sebetulnya, saya tidak ingin mem-posting tulisan ini. Tetapi siapa tahu ada yang bisa belajar dan memetik hikmahnya dari tulisan ini. So, kalau ada waktu, silakan dibaca. Siapkan cemilan, teh hangat, kopi atau apa saja. Supaya tidak bosan ya. Soalnya tulisannya rada panjang. Hueh! Mari, silakan….!

Ada sebuah kalimat. Katanya. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ada juga yang bilang. Tuhan hanya memberikan ladang, kita yang menentukan apa yang ditanam, apa hasil panennya. Ada juga yang bilang, Tuhan pasti punya rencana besar untuk kita. Ada juga yang suka bilang, semua keputusan ada di tangan Tuhan. Tapi, ada juga yang bilang, terus berdoa, alam semesta pasti mendengarkannya. Ayahku lain lagi ketika ibuku bilang, berdoa saja. Ayahku bilang, kalau berdoa terus dan tidak usaha, tidak jadi apa-apa. Terlalu banyak wejangan di kepala saya ini.

Sampai di satu titik saya menyerah setelah melakukan sejuta cara untuk mendapatkan seorang bayi mungil, lucu, imut. Bahkan dokter di YPK Menteng, Yusfa, bilang, ”Saya sudah mengerahkan semua ilmu dan kemampuan, sampai ilmu pamungkas sudah saya keluarkan. Saya nyerah. Saya serahkan saja kalian ke embahnya dokter ya.” Dokter Yusfa pun menyerahkan kami berdua ke dokter Karrel di RS Bunda. Sayangnya, saat itu saya pun sudah menyerah. Berhenti berdoa. Berhenti berusaha. Berhenti segalanya. Saya menikmati hidup sebagaimana mestinya bersama istri paling kuat sedunia, @dwiyuniartid.

Namun, saya kembali berpikir. Usaha itu tanpa batas. Kesabaran itu tanpa batas. Berdoa itu tanpa batas. Segalanya tanpa batas. Saya kembali menghadap mbahnya dokter untuk mendapatkan Awal Kehidupan. Hampir 6 bulan lebih saya konsultasi ke dokter Karrel. Sampai bosan melihat wajahnya. Sampai bosan juga bayarnya. Sampai bosan juga melihat pacar saya disuntik, dicek dan minum obat setiap hari. Saya bilang ke @dwiyuniartid, dokter Karrel ini harapan terakhir kita. Setelah dia, bebaskan saja apa pun yang terjadi. @dwiyuniartid setuju. Dia juga sudah bosan menunggu di ruang tunggu berjam-jam dan bertemu dokter hanya lima menitan.

Setiap kali bertemu kembali dengan dokter Karrel. Ucapannya sama, dia bilang, “Bayi tabung saja. Supaya lebih pasti.”

Bayi tabung? Duit dari Hongkong!

Ya, seperti orang bilang, Tuhan menyediakan ladang, menyediakan jalan dan menyediakan segalanya, kita sendiri yang menentukan mau ditanam apa, mau berjalan bagaimana dan mau panen apa. Begitulah, katanya, jika kita berkeinginan kuat, SELURUH ALAM SEMESTA akan mendengar, hingga daun-daun, tanah, hujan dan semuanya! Mereka akan mendukungnya. Okehlah! Mari berdoa.

Setelah konsultasi terakhir bulan November, selama bulan Desember 2012, saya bermimpi 5 kali memiliki anak perempuan. Mimpinya sudah sangat jelas. Sampai saya sudah sulit membedakan mimpi dan realitas. Tapi saya bilang ke diri saya, ini hanya mimpi. Sepertinya. Kehasratan terbesar saya di dunia nyata yang dimuntahkan ketika terlelap. Sekali lagi, ini hanya mimpi. Setiap bangun dari tidur, saya melihat ke sebelah. Tidak ada  bayi, tidak ada suara tangisan. Yang ada sih suara dengkuran @dwiyuniartid. Hmmm…! Namanya juga mimpi ya.

Saya pun kembali ke dokter minggu berikutnya. @dwiyuniartid dicek. Dokter bilang, bagus. Apanya yang bagus, dia tidak bisa menjelaskan. Dia bilang bagus. @dwiyuniartid sampai kesal. Tiap bertemu, dokternya bilang bagus. Dan, selalu berkata, kalau tidak berhasil, terpaksa bayi tabung. Kembali lagi dua minggu ya. Katanya. Menunggu lagi. Oh, tidak! Begitu gerutu @dwiyuniartid.

Selama dua minggu itu, saya dihantui mimpi punya anak perempuan. Seandainya dunia mimpi itu bisa dicuri, saya akan mencurinya ke dunia nyata. Haha! Sialnya, mimpi ya mimpi saja. Dua minggu diisi oleh keraguan, cemas, gelisah, pasrah, berdoa tentu saja kepada hujan-hujan, awan-awan, pohon, langit, matahari, senja, tanah, kopi, tanaman dan seluruh Tuhan yang pernah lahir di masa lalu. Saya berdoa kepada apa saja, siapa saja, path, facebook, blog, twitter, teman, sampai poster bokep di meja saja dijadikan media berdoa. Sudah gila sepertinya! Semua dijadikan Tuhan yang bisa mengabulkan doa.

Lalu, kemudian, selanjutnya, apa kata dokter setelah dua minggu menunggu. Saya dan @dwiyuniartid masuk ke ruangannya. Basa-basi mengucapkan SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU. Senyum-senyum. Salaman. Bertanya tahun baruan kemana. Katanya, ya saya dibilangin orang tua, tahun baruan di rumah saja. Wah! Nih dokter sudah tua masih manut sama orang tua. Hahaha! Nggak penting.

Gimana dok? Kira-kira? Tanya saya bercanda. Tidak tahu saya. Kita lihat saja ya. Ya kalau tidak berhasil, kita bayi tabung saja. Saya tanya, berapa harganya. Dia bilang sih 20 juta. 20 juta? Mahal ya. Kudu ngepet berapa kali supaya dapet 20 juta buat bayi tabung. Hmmm…!

Yuk! Kita periksa. Kata dokternya. @dwiyuniartid pun berbaring. Saya duduk depan meja dokter, di balik tirai, tempat @dwiyuniartid berbaring.

Terdengar suara dokternya bicara keras bahagia,”Wah! Hamil ini!” Saya nyaris terjengkang ke belakang. Kemudian dokternya meralat, ”Kok nggak ada jantungnya ya.” Saya melesu lagi. Padahal dari balik tirai, suara @dwiyuniartid juga sudah kegirang-girangan. Sudah teriak, HALELUYAH! PUJI TUHAN! PUJI SYUKUR! Untunglah dia nggak teriak Syeikh Puji!

Tidak lama kemudian, dokternya bicara keras lagi, “Wahhh! Beneran hamil ini! Ini ada jantungnya ini. Berdetak ini! Hamil ibu!” dengan logat khas Ambonannya.

Saya langsung loncat dari kursi, membuka pintu ruangan, berlari ke ruang tunggu, keluar RS Bunda, berlari ke parkiran, ketika itu gerimis kecil, berlari ke jalan, saya mengelilingi sebundaran jalanan di RS Bunda selama 15 menit, sambil terus berteriak,”HORE! HAMIL! HAMIL! HAMIL!” memeluk semua orang di jalanan, salaman, mencium pohon, mencium tiang listrik, berdoa di masjid, berdoa di gereja, masuk kembali ke RS Bunda, menuju lantai dua, melewati ruang tunggu dan masuk ke balik tirai. Di sana saya melihat layar hitam putih super burem berisi janin dan detak jantung, sebuah Awal Kehidupan.

Tidak bisa berkata. Tidak bisa berekspresi. Diam. Memandang denyut jantung. Sampai tak sempat memotretnya. Kemudian sang dokter menyalami saya. Sudah 7 minggu ini, katanya. Saya dan @dwiyuniartid pun keluar ruangan dengan senyum selebar badan gajah, hati merekah sebesar bunga bangkai dan seluruh butiran hujan di luar ikut menari. Saya bahagia di awal 2013, dan akan bahagia sampai waktu tanpa batas.

Lebih bahagia lagi ketika dua minggu kemudian dr. Karrel bilang, bayinya kembar. Horaaaah! Siap-siap kerja keras, banting tulang dan badan jadi berotot ngangkat dua bayi kanan kiri. Mertua saya, dengan nada bercanda, siap-siap fitnes supaya bisa menggendong dua cucu sekaligus. Wah! Ide bagus tuh.

Namun, memang hidup selalu penuh kejutan. Begitu juga dengan saya dan @dwiyuniartid. Tiga minggu kemudian sang dokter bilang, “Maaf, ini tidak bisa dilanjutkan. Sudah berhenti sampai di sini. Saya kembalikan kalian ke dokter Yusfa untuk ditanganin lebih lanjut.”

Dokter Karrel pun menuliskan pesan cinta di raport @dwiyuniartid. Pesan cinta yang membuat kami sudah tidak ingin bertanya lagi.

Besoknya, saya ke dr. Yusfa di YPK. Dia melihat raport selama hampir 6 bulan, dia tersenyum. Wah! Hamil! Selamat! Cepet juga ya. Katanya antusias bercampur bahagia. Saya bilang, dok, lihat dulu pesan cinta dari dr. Karrel. Dia pun manggut-manggut. Coba kita cek dulu, katanya. Sementara @dwiyuniartid masih berharap mesin USG RS Bunda yang jadul dan salah diagnosis. Ketika dr.Yusfa melakukan USG dengan mesin lebih canggih di RS YPK, layar jelas dan bersih, di rahim itu terlihat ada dua janin usia 9 minggu. Tidak bergerak. Tidak berdenyut. Mereka berdua saling terdiam. Saya menatapnya. @dwiyuniartid menatapnya. Kemudian saling diam.

Saya kembali duduk di depan dokter sambil berbincang ringan. Dokter Yusfa mulai bercerita, katanya, istri saya juga baru keguguran. Usia kandungannya 6 minggu. Saat saya tanya kenapa, dr Yusfa menjelaskan. Kemungkinan juga ini salah satu penyebab kembar di rahim @dwiyuniartid berhenti melanjutkan kehidupannya.

Salah satu penyebabnya, yang juga menimpa istrinya, yaitu pembekuan darah. Jadi, kedua bayi tidak bisa mendapatkan nutrisi secara maksimal, karena pasokan makanan terhambat. Ditambah lagi kembar, jadi mereka rebutan nutrisi dan lambat terdeteksi semua kekacauan itu. Akhirnya, mereka berdua berhenti berkembang dan koleps.

Saya pun harus kembali lagi menjadi biksu selama seminggu, menenangkan @dwiyuniartid dan mengajaknya berpikir bijak. Duh! Rasanya memang tidak enak, namun pasrah dan tetap berusaha, itu salah satu jalan terbaik ya. Sebab kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa mengubah masa depan. Jika begitu, mari kita susun masa depan lagi, seperti yang saya tulis di awal tahun, saya akan bahagia dari titik ini, sampai titik terakhir hidup.

Terima kasih buat para supporter setia kantor, Anggia, Leli, Yana, Lita, Milcis, dan seluruh mahluk hidup di dunia, juga benda mati. Mari kita bugil di halaman rumah sambil hujan-hujanan. Mariii…!! *buka baju. brrrrr*

*Untuk yang sedang berjuang, terus berjuang! Untuk yang putus asa, jangan berhenti mencoba.

**Untuk dr. Yusfa, selamat berjuang ya dok. Semoga cepat hamil kembali istrinya.

***Selamat Datang Anak Kembar Yang Manis, meskipun seluruh dunia sudah siap menyambut kalian, namun kalian sepertinya belum siap menyambut dunia. Senang bisa melihat kalian barang sejenak, berdenyut dan bergerak, dan Selamat Tinggal Anak Kembar Yang Manis. MAY GOD BE WITH YOU GUYS. LOVE YA!

 Semoga bermanfaat, bagi kalian, mereka, yang juga sedang berjuang untuk mendapatkan keturunan. Jangan menyerah. Terus berusaha. Katanya, ALAM SEMESTA sedang mendengarkannya.

Sekianlah dan selamat malam….:)

“sonofmountmalang”

18 thoughts on “Selamat Datang Anak Kembar Yang Manis

  1. Salam kenal cinta-cinta kecil…bersyukur kalian bisa hadir di dalam tempat terindah di dunia. Waktu gak bisa ngebatasin kalian untuk tahu how much mama dwi dan papa ajat love you.Sebentar atau lama, kalian pasti udah ngerasain bahagianya dicintai. Love you all

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s