Dongeng (5) ; Ngurek (1)

Seperti biasanya. Setiap malam. Harus selalu ada dongen yang diceritakan. Seperti biasa juga. Saya menuliskannya. Supaya tidak hanya pacar saya saja yang mendengarkan keseruan atau pun keanehan, kalian juga, kamu juga dan semua juga boleh membacanya.

Dongeng yang saya ceritakan malam ini tentang NGUREK.

Ngurak apa sih? Kaya ngorek gitu?

Bukan. Ini sesuatu yang tidak semua orang mengalaminya. Mau dengerin nggak nih?

Mau!

Pertanyaannya nanti saja ya kalau ceritanya sudah kelar. Ok?!

Ngurek. Aneh ya istilahnya. Ya pokoknya itulah. Tidak perlu tahu bahasa Indonesianya apa, cukup tahu artinya saja. Ngurek itu salah kegiatan paling menyenangkan, menegangkan, bikin jantung dagdigdug, membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, kejelian super, insting tajam, kecepatan tangan, kekuatan jari, kemahiran dalam mengalahkan lawan dan banyak aspek lainnya yang dibutuhkan dalam hal ngurek.

Banyak ya!

Jadi, apa sih ngurek itu?

Ngurek itu kegiatan memancing belut di sawah dengan kail yang dipilin menggunakan benang pancingan, disebutnya UREK. Butuh gambarnya nggak? Susah kayanya ya kalau dijelaskan dengan bahasa. Tapi membayangkan seperti apa UREK itu lebih menantang dan butuh imaginasi. Jadi saya jelasin saya ya.

UREK terdiri dari satu kail dan tali pancingan sepanjang dua meter. Tali pancingan dimasukan ke lubang kail, kemudian dipilin hingga seperti bentuk tambang. Fungsi pilinan ini untuk memudahkan gerakan jari telunjuk dan jempol ketika memasukan kail berisi umpan ke dalam lubang belut.

Sudah terbayang UREKnya seperti apa kan ya?

Sudah!

Oke. Sekarang adegan di sawah. Eh, selain UREK untuk NGUREK, alat yang dibutuhkan adalah kantong kresek atau tempat apa saja untuk menampung belut hasil ngurek. Eh, ada lagi. Sebelum ngurek, usahakan jangan memakan makanan yang manis. Kata nenek moyang di kaki Gunung Malang, belut tidak suka aroma manis. Kok belut bisa tahu? Saya tidak tahu kenapa belut bisa tahu. Ya, ikutin saja apa kata nenek moyang. Tidak ada penjelasan yang masuk akal soal itu. Eh, ada catatan satu lagi, ngurek ini dilakukan oleh orang-orang yang sudah mahir menangangi licinnya belut. Buat yang belum mahir, siap-siap saja dikalahkan licinnya belut. Nanti triknya di akhir saja ya.

Sekarang kembali ke adegan di sawah. Ngurek biasanya tidak dilakukan secara ramai-ramai seperti ngobor. Ngurek adalah untuk orang-orang yang menikmati kesepian, kesendirian dan kekosongan hidup. Haaaa!??

Supaya tidak repot ketika sedang asik NGUREK, baiknya mengumpulkan cacing terlebih dahulu dari pematang sawah. Ukuran cacaing yang disukai belut biasanya dalam masa-masa pertumbuhan atau kalau manusia, sejenis gadis yang sudah matang dan siap dibuahi. Supaya cacing-cacing ini tetap segar, ambil sebuntal tanah pematang seukuran bola tenis, masukan cacing-cacing ke tengahnya, tutup kembali. Jika sewaktu-waktu butuh cacing, tinggal buka bola tanah tadi.

Kenapa harus selalu sedia cacing?

Supaya kalau tiba-tiba umpan habis, saya tidak perlu menunggu mencari umpan.

Banyak nanya nih. Tunggu kalau ceritanya sudah kelar ya. Nanti juga ceritanya komplit dengan sendirinya kok. Sabar yah.

Sudah terbayang kan soal UREK, CACING dan sebagainya? Jika belum, nanti akan saya foto proses NGUREK. Berhubung di Jakarta sudah sangat sulit menemukan sawah, maka saya sepertinya harus blusukan ke kampung semacam Sukabumi, Garut, Malang, Cianjur, Bali dan daerah-dearah yang sawahnya masih perawan. Tunggu fotonya belakang saja ya.

Selanjutnya, saya akan memberi tahu posisi lubang belut. Saya harus berjalan pelan di pematang sawah. Jangan berjalan tegak. Haram hukumnya. Bungkukan badan untuk melihat lebih dekat perbatasan sawah dan pematang. Sekali-kali jongkok. Sujud. Kalau perlu tengkureb. Lubang suka menyaru dengan tanaman kecil. Suka sembunyi di balik tanaman kecil. Makanya mata harus sejeli mata elang. Sekali terlewat, kesempatan untuk mendapatkan belut sirna. Bahkan ada lubang belut yang sama sekali tidak nampak. Kalau sudah begini, gunakan telunjuk jari, kemudian tusuk-tusuk bagian sisi pematang sawah. Cara ini paling ampuh untuk menemukan lubang belut. Saat jari telunjuk menusuk sisi pematang sawah, kemudian merasakan ada goa besar, sudah bisa dipastikan itu lubang belut. Tinggal buka sedikit, akan terlihat air di dalamnya.

Sebelum berlanjut, saya akan ceritakan dulu soal jenis-jenis lubang belut ya. Supaya lebih terbayang adegannya nanti.

Ukuran lubang belut sangat bervariasi. Mulai dari sebesar kelingking, telunjuk, jempol sampai lubang seukuran gelas. Lubang ini menentukan sebesar apa belut yang berdiam di dalamnya. Semakin besar lubang, semakin besar juga belutnya. Namun terkadang, lubang suka menipu. Lubangnya bisa saja seukuran gelas, belutnya bisa saja seukuran kelingking.

Kenapa lubang belut adanya di perbatasan pematang dan sawah ya? Hmmmm…! Apa ya penjelasannya. Sepertinya sih karena di pematang banyak cacingnya ya. Atau apa ya. Wah! Malah saya tidak terpikir soal itu. Kayanya sih lebih aman dari gangguan ya, selain manusia tentunya. Nanti deh saya tanyakan ke nenek moyang di sana.

Lalu apa yang harus dilakukan kalau sudah menemukan lubang? Langkah selanjutnya, jangan sampai ada suara berisik, jangan gaduh, jangan buru-buru, pastikan langkah kaki tidak membuat pematang bergoyang atau bergetar. Pastikan juga kail sudah ada cacingnya. Masukan perlahan kepala kail ke dalam lubang. Kemudian pilin-pilin benang perlahan sampai kail berumpan cacing masuk ke dalam lubang. Biasanya, jika belutnya sedang tidak belanja, keluar rumah atau gosip di tetangga, reaksi akan segera terlihat. Reaksinya ada beberapa kemungkinan. Ada yang tiba-tiba air di lubang surut, ada juga air di lubang tiba-tiba luber, ada juga yang tidak ada reaksi apa-apa. Kalau sudah begitu, mainkan benang UREK ke kiri dan ke kanan. Dalam hitungan detik, jika belutnya sangat lapar, kail akan langsung dicaplok.

Tahap selanjutnya, siap berjibaku dengan belut. Jangan sampai belutnya lepas! Untuk memastikan kail sudah nyangkut di mulut belut, kejut saja benangnya sekali. Maka tali akan segera ditarik ke dalam lubang. Biarkan sebentar, jangan kendurkan benangnya. Tetap jaga supaya benang tetap tegang. Nah, untuk memutuskan urek boleh ditarik ke permukaan atau tidak itu juga ilmu berbeda lagi.

Wuaaaahhh! Cape juga ya. Istirahat dulu ah ceritanya. Besok lanjut lagi.

 Sekarang, tidur dulu yuk!

Bersambung….

“sonofmountmalang”

Advertisements

5 thoughts on “Dongeng (5) ; Ngurek (1)

Comments are closed.