Dongeng (7) ; Ngorang

Sebenarnya masih banyak topik lebih menarik dari kata ‘NGORANG’, berhubung sebelum tidur saya membaca berita pendaki hilang di Gunung Gandang Dewata, saya pun akhirnya mendongengkan NGORANG untuk pacar saya yang sudah siap mendengarkan dongeng sebelum tidur.

Baiklah kalau begitu. Kalian siap? Tapi sebelum mulai, saya mau menuangkan Kopi Lintong, mereguknya, mendiamkannya sejenak di mulut dan mendalami pahitnya. Kemudian ditelan seketika. Glek!

Sekarang siap ya?

Saya akan memulainya dengan kata NGORANG.

Bagi yang suka udang di balik batu, ngorang merupakan pekerjaan yang bisa membuat lupa daratan. Ngorang adalah sebuah kata kerja. Sebuah kegiatan para penduduk di kaki Gunung Malang mencari udang di kali tengah hutan belantara.

Perlengkapannya sederhana sekali. Cacing tanah seukuran sedotan, lidi daun ara muda dan ayakan. Plus golok jika dibutuhkan. Sebelum berangkat ke hutan menyusuri sungai berbatu-batu, jangan lupa menusuk cacing dari mulut hingga pantat menggunakan ujung lidi ara muda. Tusuk cacing seperlunya saja. Ya palingan delapan sampai 10 cacing. Setelah itu ikat ujung lidi ara hingga membentuk lingkaran. Jika sudah, mari berjalan kaki menuju ke tengah hutan.

Kalau sudah berada di sungai tengah hutan belantara, ayo mulai NGORANG. Begini caranya; tenggelamkan ujung lidi berisi cacing di antara bebatuan. Pastikan airnya sedang jernih. Oh, ya. Ada yang lupa. Biasanya ada dua pasukan yang ikut. Pasukan pembawa cacing dan pasukan pembawa ayakan. Pasukan pembawa cacing harus selalu ada di barisan paling depan, sementara pembawa ayakan ada di belakang.

Kenapa begitu?

Pasukan pembawa cacing membutuhkan ketenangan dan kejernihan air untuk menangkap udang. Jadi sebisa mungkin tidak terganggu oleh kebisingan pembawa ayakan. Jika bagian kali sudah dilewati oleh tukang ngorang atau pembawa cacing, maka pasukan ayakan boleh membabi-buta mengayak kali berbatu, untuk menjaring udang-udang ukuran sedang. Ukuran kecil biasanya dikembalikan ke kali.

Lanjut ke kegiatan ngorang ya. Seperti saya bilang tadi, tukang ngorang akan mencelupkan ujung lidi berisi tusukan cacing menggunakan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang ayakan. Jangan bicara dan jangan melakukan banyak gerakan. Biarkan udang keluar dari batu memburu dan menancapkan capitnya di tubuh cacing. Giring perlahan udang-udang tersebut ke ayakan di dalam air. Jika sudah berada di tengah ayakan, angkat segera ayakannya dan udang pun siap diambil.

Ukuran udang, khusus untuk ngorang, biasanya besar-besar. Sekitar jempol orang dewasa. Udangnya berwarna hijau atau hitam. Segar dan lincah. Masukan ke wadah rapat-rapat jika tidak ingin udangnya loncat ke air. Lakukan terus sampai wadahnya penuh udang.

Biasanya ngorang bisa membuat saya lupa diri. Tahu-tahu sudah siang atau sore. Matahari tidak bisa menembus rimbunnya daun dan pohon di tengah hutan belantara. Salah satu pertanda adalah suara tonggeret. Jika dia sudah berbunyi, tandanya saya harus kembali ke hilir. Jika tidak, siap-siaplah berjalan di kegelapan hutan menyusuri sunga-sungai berbatu dengan air super dingin.

Jadi, pastikan jangan sampai kemalaman di hutan ya.

Oh ya, jangan lupa, sambil ngorang, sesekali ambil buah paku dan daun poh-pohan. Daun dan buah paku ini bisa ditemukan di sepanjang sisi kiri dan kanan kali. Daun poh-pohoan untuk lalapan, sementara buah paku untuk dimasak bersamaan udang.

Lalu? Udangnya diapain?

Hmmmm…! Jangan ngiler ya kalau saya ceritain.

Sesampainya di rumah, udang biasanya masih dalam kondisi hidup. Ada dua cara untuk memasak udang hasil ngorang. Pertama, orang rumah sudah menyiapkan kelapa parut yang sudah disangrai. Udang yang masih berontak dimasukan ke dalam tumbukan kecil berikut kelapa parut dan bumbu-bumbu apa adanya. Udang ditumbuk sampai setengah hancur bersamaan dengan buah paku. Setelah itu ada dua pilihan, mau dibungkus daun kemudian dikukus atau kembali disangrai sampai tumbukan udang berwarna merah. Kedua cara ini sama-sama enak. Udangnya wangi dan gurih. Siap dimakan dengan lalapan, nasi panas dan sambal pedas.

Cara kedua adalah dengan membersihkan udang dan menumisnya dengan minyak super sedikit, dan jangan lupa buah pakunya diikut sertakan. Cara ini adalah cara paling cepat jika kondisi perut sudah sangat lapar. Atau, jika udangnya banyak, gunakan dua cara tersebut. Ditumis singkat dan ditumbuk. Kedua cara ini cukup membuat perut bahagia. Perut sudah kenyang, sudah mandi dan leyeh-leyeh di sisi perapian ditemani teh tawar panas atau kopi panas.

Kalau sudah begitu, siap-siap ngantuk dan barulah lelahnya terasa, karena  ngorang ini butuh stamina jreng, dan keahlian berjalan di sungai berbatu, yang treknya kadang harus merangkak nanjak. Beneran bisa menguras energi. Bagi yang belum terbiasa naik gunung, jangan terlalu jauh pergi ngorang. Cape! Tapi tenang, secapenya di hutan, masih banyak makanan yang bisa dimakan. Jadi, jangan takut kelaparan ya kalau pun tersesat. Nanti saya ceritain segala jenis tanaman, buah dan keseruan tersesat di belantara Gunung Malang ya. Sekalian, kapan-kapan kita NGORANG ya. Semoga udang di hutannya masih banyak. Sekarang tidur dulu yuk!

Tidak ada suara menyahut di sebelah saya. Rupanya pacar saya sudah tertidur dengan mulut ngunyam-ngunyam. Hmmm…! Jangan-jangan dia sedang bermimpi menikmati udang tumbuk kelapa. Xixixixixi!

“sonofmountmalang”

*Foto menyusul ya kalau sempet 

Cat.: Apa hubungannya NGORANG sama pendaki yang hilang di Gunung Gandang Dewata? Tidak ada. Cuma sayang saja, para pendaki meninggalkan temannya yang sudah lemas di pinggir sungai, karena mereka sudah kekurangan makanan. Padahal kalau mereka tahu, banyak hal yang bisa dimakan di hutan, mencari udang di sungai dan banyak persediaan air di hutan tanpa harus mencari sungai. Ah, sayang sekali ya. Satu pendaki belum juga ditemukan sampai dongeng ini kelar. Mungkin sudah disantap harimau.  Hiks!

8 thoughts on “Dongeng (7) ; Ngorang

  1. aku pilih cara masak udang hasil ngorang : menumbuk lalu menyangrainya sampai daging udang berwarna merah… tandanya matang.. nasinya hangat dan masih mengepul… surgaaaa… #asemngilerbeneran

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s