Dongeng (8) Dikejar Babi Hutan

Malam ini, sebelum memulai sebuah dongeng, saya melakukan ritual sederhana. Memutar musik pengantar dongeng. Meredupkan lampu kamar. Menghabiskan kopi terakhir. Menarik selimut. Mengambil napas. Menahan napas. Diam sececah. Terdengar gerisik hujan memelan di luar kamar. Nyaris luntur disiram putaran musik dari speaker hitam di pojok ruangan.

Malam ini dan kemungkinan di malam-malam berikutnya, saya akan mendongengkan keseruan tentang kehidupan, ketersesatan, jalan-jalan dan semua keanehan di belantara hutan Gunung Malang. Tapi kalau bosan dengan dongeng tentang hutan setiap malam, saya akan loncat ke dongeng lainnya di malam berikutnya ya. Sekarang dongeng soal hutan dulu nggak apa-apa kan ya? Pacar saya setuju.

“Mau dongeng apa sih? Lama banget mulainya.”

“Apa ya? Hmmmm…! Jadi bingung. Banyak banget soalnya nih.”

“Katanya mau dongengin soal hutan. Ya udah, soal hutan aja. Aku udah siap dengerin nih.”

Wohhh! Galakan pendengarnya ya!

“Oke. Pilih ya. Mau babi, canar, marasi, pohon bernyanyi, makanan seru di hutan, buah susu sapi….”

“Apa ya…., babi seru juga kayanya.”

“Tapi dongeng babi akan banyak serinya nih.”

“Nggak apa-apa. Aku siap dengerin sampai selesai.”

“Baiklah.”

Judulnya DIKEJAR BABI HUTAN.

“Eh, jangan babi deh. Pohon bernyanyi aja. Kayanya horor tuh. Jangan soal hutan terus donk. Selang seling aja. Malam ini soal hutan, besoknya soal lainnya. Biar nggak bosen.”

Begini nih kalau mendongeng ke pacar super galau. Banyak maunya. Ini jadinya mau dongeng apa sih?

“Pohon bernyanyi seru nggak?”

“Rada mistis sih.”

“Ada yang lebih serem?”

“Banyakkkk!”

“Aku mau yang serem, tapi seru. Nggak mau yang bikin takut.”

“Banyak maunya ah.”

“Ya udah deh. DIKEJAR BABI AJA. Besok ceritain yang serem ya.”

“Iya iya!”

Saya ulang ya, judulnya DIKEJAR BABI HUTAN.

Di hutan Gunung Malang, banyak sekali ditemukan babi hutan. Biasa disebut BAGONG, BEGU atau CELENG. Ada banyak cerita seru di balik babi hutan. Namun kali ini sesuai judulnya saja ya, DIKEJAR BABI HUTAN. Sudah ketebak adegannya seperti apa? Belum? Dengerin ya. Jangan sampai ngantuk.

Tempat bermain saya waktu kecil itu tidak pernah jauh dari kali, sawah, padang rumput, perkebunan teh, perkebunan kopi, cengkeh, kina dan paling seru adalah jalan-jalan ke hutan. Salah satu kegiatan paling menegangkan di hutan itu ikut berburu babi. Namun, sekali lagi, kali ini saya tidak akan mendongengkan soal berburu babi. Itu keseruan lain ya. Harus ada sesi tersendiri.

Saya dan kedua sahabat paling dekat di kaki Gunung Malang. Soal dua sahabat ini juga akan ada sesi lain. Hahahahah! Banyak sesi menunggu ya. Xixixixi!

“Iya nih. Bikin penasaran.”

Kembali ke babi ya.

Suatu hari, saya pergi ke hutan, bersama dua sahabat sepermainan. Tujuannya saat itu mencari sarang burung untuk diambil telurnya. Soal telur juga ceritanya akan ada di sesi lain. Hahahahah! Kan kali ini fokus ke babi. Sambil mencari sarang burung, saya mengumpulkan ranting seukuran jempol kaki orang dewasa untuk dijadikan kayu bakar. Kayu bakar digunakan ini digunakan untuk menghangatkan badan di pagi dan jelang malam. Soal kayu bakar, ada cerita lainnya juga. Hahahah!

“Ini cerita dikejar babi kok meleber kemana-mana sih?”

“Hahahahah! Habisnya saling berkaitan.”

“Langsung aja ke babinya.”

“Oke!”

Jadi, begini. Menurut penduduk di kaki Gunung Malang, jangan pernah mendekati semak-semak di hutan yang bentuknya rimbun dan bagian dalamnya seperti kosong. Jangan pernah mendekatinya. Begitu kata mereka. Kenapa? Di dalam semak itu biasanya ada babi sedang tertidur atau sedang menyusui. Jangan pernah mengganggu babi sedang menyusui. Lagian ya siapa juga mau ketemu babi hutan. Melihatnya saja tidak ingin, apalagi mengganggunya. Dan, pula ya, babi hutan di Gunung Malang itu menakutkan. Taringnya melenting-melenting. Tidak seorang pun penduduk di kaki Gunung Malang yang rela bertemu babi hutan ketika sedang berada di tengah hutan mencari kayu bakar atau pun kegiatan lainnya. Dan, hanya segelintir orang yang bahagia ketika melihat babi hutan. Dialah para pemburu babi hutan. Soal pemburu ini, banyak cerita seru. Lain kali ya.

Mendengar wejangan penduduk kaki Gunung Malang soal babi hutan, saya pun tidak berani mendekati semak-semak di tengah hutan. Namun sial berkata lain. Ketika sedang asik mencari sarang burung sambil membuka-buka semak, tiba-tiba dari dalam semak terdengar bunyi NGROK! SGROK! SGROK!

Di depan mata saya, terbangun babi hitam, besar, bertaring dan tiga anak babi sedang sibuk nyusu di tetenya. Ibu babi itu sepertinya marah. Dia bangkit dan bergerak keluar. Saya langsung berteriak ke kedua teman yang jaraknya sekitar 15 meter dari saya.

BABIIIIIIIIIKKKKKK!!! ADA BABIIIIKKKKKKK! LARIIIIIII!!!!

Saya langsung mengambil langkah semiliar. Lari pontang-panting menuju ke lembah. Sementara kedua teman saya yang jaraknya lebih jauh dari semak berisi babi, sudah berlari lebih dulu. Mereka berlarian belok kanan belok kiri. Begitu katanya kalau dikejar babi. Tidak boleh lurus. Begitu jugalah saya berlari pertama kalinya dikejar babi. Sedikit belok kiri, sedikit belok kanan. Babi tetap saja ada di belakang. Taringnya sih paling menyeramkan dan suara SGROK! SGROKNYA NGEPET banget! Bikin jantung tidak karuan.

Sambil terus berteriak-teriak AAAAAAA BABIII!!! TOLONGGGG! Sambil terus berlari. Kedua teman saya yang jauh berada di depan berteriak,”NAEK POHOOONNN! BABINYA CELEEENGG!” Artinya tuh babi emang lagi gilak! Niatnya pasti pengen ngobrak-ngabrik badan siapa saja yang mengganggunya.

Kedua teman saya terlihat memanjat pohon. Sementara jarak saya dan babi itu sekitar 10 meteran. Sambil terus berlari sekuat kaki. Tersandung dan tersangkut duri, saya mencari pohon paling enak untuk dipanjat. Akhirnya, saya ikutan manjat pohon yang kedua teman saya panjat. Itu pohon paling gampang dipanjat karena banyak dahannya. Nama pohonnya PUSPA. Gampang dipanjat karena teksur kulit pohonnya kasar dan keset. Ukuran pohonnya ketika saya panjat itu sebesar tiang listrik. Ukuran yang pas untuk dipanjat dengan gerakan kilat, apalagi dibantu dengan banyak dahan. Saya dan kedua teman sudah berada di atas pohon. Tiga meteran dari tanah di mana si babi ngehe SGROK SGROK!

Kaki, tangan dan seluruh tubuh gegeteran. Menahan shock, takut, tegang dan akhirnya selamat. Kedua teman saya pun merasakan hal yang sama. Pohon jadinya bergetar. Saya diam. Mereka berdua diam. Hanya dengus-dengus napas dan suara getaran kaki yang terdengar.

Saya terponggok di atas pohon PUSPA itu sekitar satu jam.

“Selama dua jam ngapain tuh babi?”

SGRAK SGROK sambil muterin pohon. Sesekali gosok-gosokin badannya ke pohon. Ampuunnn babiii! Jangan tumbangkan pohon. Ah, tenang sih. Pohonnya besar. Babi sebesar itu juga tidak mungkin bisa menumbangkan pohon sekuat Puspa sih. Jadi saya santai menenangkan diri sambil melihat ke bawah.

Setelah sejam menunggu, babi itu kebosanan. Dia pergi meninggalkan pohon. Saya menunggu sejam lagi untuk memastikan babi itu memang sudah pergi. Saat situasi sungguh aman, saya turun dari pohon dan berjalan mengendap-ngendap turun ke jalan setapak di hutan. Jarak pohon tempat saya manjat ke jalan setapak itu sekitar 40 meteran. Sementara dari titik jalan setapak ke perbatasan hutan dan perkebunan penduduk itu masih sekitar sejam dengan berjalan kaki biasa. Jauh ya. Belum berada di zona aman. Saya masih di hutan. Jadi, cara terbaik adalah menuju jalan setapak dengan segera supaya bisa berlari lebih cepat. Ketika sudah berada di jalan setapak, tanpa mengucap apa pun, saya melarikan tubuh sepontang pantingnya sambil terus berteriak-teriak,”TOLOONG BABIII! TOLOONGG BABIII!”

Dan, akhirnya, setelah melarikan diri tiada henti, saya sampai juga di perbatasan hutan dan perkebunan penduduk yang posisinya berada di bukit. Adegannya itu kaya berlarian di hutan, kemudian berhenti di gerbang cahaya, di mana mata saya bisa memandang ke depan, pemandangan lepas sawah-sawah, rumah penduduk, kebun-kebun sayur, teh dan bukit-bukit. Lega rasanya. Saya langsung melemparkan tubuh di atas ladang penduduk. Menarik napas. Mengatur napas. Menarik napas. Mengatur napas. Mengusap-ngusap dada. Bersyukur selamat dari amukan babi menyusui.

Begitulah. Dongeng malam ini. Gimana? Seru kan?

SGROK! RRRRR…! SGROK!

Suara ngorok pacar saya terdengar di sebelah. Yah, dia tertidur lebih dulu sebelum dongengnya selesai.

Ya sudah, saya ikutan ngorok juga deh. Yuk!

SGROKK!!

“sonofmountmalang”

10 thoughts on “Dongeng (8) Dikejar Babi Hutan

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s