mimpi copywriter (45) rumah sakit, @tirarenton & @nadaarini

Ketibaan saja @dwiyuniartid perutnya sakit. Dia harus check up ke RS YPK Menteng. Cuma tuh RS sekarang berubah. Parkirannya luas, posisinya ada di dekat bukit tinggi dan sudah banyak gedung-gedung bertingkat, sekaligus mall juga ada.

Saya memarkir mobil di belakang, kemudian berjalan kaki selama 10 menit menuju lobi rumah sakit. Di lobi itu banyak sekali orang sedang duduk-duduk santai sambil ngobrol. Dan eh rupanya di depan lobi  ada sawah sedang masa tanam. Beberapa anak gadis sedang bermain di sawah. Ah, abaikan pemandangan itu. Saya dan @dwiyuniartid pun masuk ke dalam. Di dalam juga sudah banyak orang ngantri di depan apotek. Mereka membeli obat dalam jumlah banyak. @dwiyuniartid pun ikut-ikutan membeli obat. Saya tanya untuk apa, katanya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya. Oh siplah!

Dokternya mana? Katanya dwi, dokter lagi menangani pasien yang mau melahirkan. Jadi harus minum obat dulu sebelum bertemu dokter.Ohhh! Okeh!

Sesaat setelah keluar dari antrian, saya bertemu dua wanita muda. Mereka membawa keranjang buah. Katanya mau jenguk istrinya @tirarenton, @nadaarini, mau melahirkan. Oh yaaa!? Wah! Kebetulan. Padahal saya tidak kenal dua wanita itu, tapi karena teman sekantor istrinya mau melahirkan, saya kembali ke dalam rumah sakit. Di sana saya mendapati @tirarenton sedang menggendong anaknya.

“Serius ya istri loe mau melahirkan?” tanya saya.

“Iya,” jawabnya.

“Masih lama?”

“Baru bukaan pertama. Dia maunya normal. Sekarang masih ngeden-ngeden. Kayanya sih sakit banget. Kalau nggak keluar juga, mau sesar aja.”

“Ohhhh…!”

Saya membayangkan sakitnya melahirkan seperti apa. Hiiiiyy! Jadi ngilu.

“Salam buat nada ya. Semoga sukses lahirannya.”

Saya menyalami @tirarenton, begitu juga dua wanita muda tadi, mereka ikut menyalaminya dan bahkan mencium tangannya, tapi @tirarenton menepisnya. Wah! Jangan-jangan itu istri kedua atau selingkuhannya Tira ya. Ah, biarinlah. Bukan urusan saya.

Saya keluar dari rumah sakit melewati sawah di depannya. Bertemu sungai besar. Di sungai itu ada segerombolan pria berotot macam Ade Rai. Mereka pamer dada cenut-cenut, tangan gerinjil-gerinjil, otot paha dan perut, tapi gayanya pada banci semua. Ada beberapa di antara mereka malah pelukan, ciuman dan basuh-basuhan air sungai. Hanjroottt! Saya jadi geli. Ingin berlari, kaki kok terasa nancap di tanah ya. Malah mata saya terus tertuju ke mereka dan mereka semua melambai-lambaikan tangan sambil julurin lidah, gigit bibir dan kedip-kedipin mata dengan otot tetap dipamerkan. Haduh! Serem begini jadinya. @dwiyuniartid kemana sih nih? Dia malah jalan duluan meninggalkan saya sendirian.

Oi! Dwi! Dwi! Toloonggg! Tunggu!

Saya berteriak-teriak, namun suara tidak keluar dan rasanya mau bergerak juga sangat susah.

Akhirnya, dengan sekuat tenaga, saya menggerakan kaki supaya bisa berlari dan ketika bergerak, saya langsung terperanjat dari ranjang. Kaget, deg-degan, cape, kemudian bangun mengantarkan @dwiyuniartid ke RS YPK Menteng untuk check up.

“sonofmountmalang”

*Rasanya, saya, sudah semakin sulit membedakan mana mimpi dan mana realitas.

2 thoughts on “mimpi copywriter (45) rumah sakit, @tirarenton & @nadaarini

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s