Dongeng (9) Si Riweuh

Malam ini dongeng seputaran babi masih mau? Atau mau dongeng lainnya? Saya bertanya sebelum memulai mendongeng.

        “Soal babi masih ada yang seru?”

        “Masih banyak sih.”

        “Ya, udah deh. Dongeng babi aja. Masih ada hubungannya sama

          babi kemaren?”

        “Dongeng soal babinya iya, tapi aku nggak tahu babinya sama atau nggak.”

        “Oke deh. Aku mau dongeng babi lagi aja.”

        “Oke. Siapin kupingnya ya. Jangan tidur dulu donk.”

        “Iya. Nggak tidur. Janji.”

Langsung saja ya. Malam ini tidak ada ritual minum kopi. Saya sudah menghabiskan dua cangkir Mandheling buatan bos di kantor. Oopss! Lagian kata nenek, apa-apa kalau dikonsumsi berlebihan itu tidak baik juga. Masih ada hari esok untuk bisa menikmati kopi.

Oke, langsung ke dongengnya ya. Si Riweuh. Judulnya itu saja ya.

       “Apa hubungannya Si Riweuh sama babi?”

       “Ssssss…! Jangan nanya dulu. Nanti juga ada hubungannya.”

Dulu, di hutan Gunung Malang, babi itu dianggap sebagai hama, musuh bersama petani, peladang dan pemilik huma. Babi bisa menghabiskan seperempat hektar jagung, singkong dan hasil ladang lainnya dalam semalam. Salah satu cara untuk mengurangi jumlah babi adalah DIBURU!

Jika ada kata diburu, maka penduduk di kaki Gunung Malang butuh yang namanya pemburu. Sudah mulai menangkap hubungannya apa? Belum? Oke. Saya lanjutin ya.

Ada banyak pemburu di kaki Gunung Malang. Mereka berburu menggunakan anjing sebagai pelacak babi dan senapan yang biasa digunakan perang pada jaman Belanda. Dan, rata-rata, beberapa yang ikut berburu itu para veteran perang jaman Belanda – Jepang. Soal menembak, tidak perlu diragukan lagi. Soal senjata, ya jadul sih, tapi itu cukup membuat babi menggelepar.

Di antara para pemburu itu, tersebutlah nama pria muda. Si RIWEUH namanya. Kenapa Riweuh? Oh, penjelasannya sederhana. Kata para pemburu, dia, Si Riweuh itu, paling rame, paling kepo, paling berisik, paling banyak membunuh babi  dan paling berani. Dia pernah membunuh nenek moyangnya babi yang ditembak sekali masih bisa nyeruduk. Dia pernah menembak harimau. Dia pernah berantem melawan babi dengan bermodalkan golok. Dia pernah menghadapi segala jenis babi. Dia merupakan legend. Mendengar kata Si Riweuh itu seolah-olah mendengar kata babi. Riweuh identik dengan babi.

       “Jadi, Si Riweuh ini babi?”

       “Heee! Bukan. Si Riweuh ini manusia. Musuh utama babi

         di hutan kala berburu.”

Pokoknya, kalau pergi ke hutan bersama Si Riweuh, kita semua aman dari gangguan segala jenis babi. Begitu juga berburu, ada Si Riweuh, suasana hutan yang tadinya sunyi senyap pun berubah menjadi tempat orasi suara berisiknya. Suaranya bergema hingga terdengar ke kaki gunung. Saya rasa, babi-babi itu jiper duluan ketika mendengar suara Si Riweuh. Duh! Jadi nggak tega melihat babi hitam segede bagong digotong-gotong ke pos ronda. #aneh ya, babi hutan kok segede bagong:p

       “Babinya diapain? Dimakan?”

       “Nggak ada yang berani makan babi. Lagian aku nggak suka babi.

         Sebel juga sih pernah dikejar habis-habisan soalnya.”

       “Hahahahahha! Terus babinya diapain?”

       “Biasanya sih ada orang dari kota membawa babi itu menggunakan

         mobil pick up. Mungkin untuk dijual atau diapaian, aku nggak tahu.”

        “Owwww!”

        “Selain babi sih, aku makan semua hasil buruan para pemburu.”

       “Ceritaiinnn!”

       “Oke.”

Saya jadi tidak fokus. Mau mendongeng tentang Si Riweuh, malah sekarang harus dongeng hasil buruan lainnya. Harusnya ini ada sesi tersendiri. Tapi tak apa sih. Masih berhubungan sama Si Riweuh.

Salah satu hasil buruan Si Riweuh yang paling menggemparkan adalah dia berhasil menembak mati seekor harimau muda. Catatan saja, di hutan Gunung Malang ini binatang buasnya juga banyak. Macan tutul, anjing hutan, harimau dan beberapa binatang pemakan daging lainnya.

Harimau hasil buruan Si Riweuh dibedah di pos ronda. Di sana, daging harimau dibagi-bagikan. Aku ikut merasakan enaknya daging harimau. Saat itu dagingnya dipanggang. Nyammm! Enak!

       “Jahat ih!”

       “Xixixixixixi! Nggak aku lanjutin nih.”

       “Yahhh! Jangan dong. Lagi seru-serunya nih.”

Semenjak berhasil membawa pulang harimau, Si Riweuh semakin berani dan semakin terkenal. Eh, tapi setelah dia berhasil membunuh harimau, dia sakit selama dua minggu. Setiap malam dia didatangi kakek-kakek tua dari hutan Gunung Malang. Kakek tua itu marah-marah, katanya kenapa anak saya dibunuh, dia penunggu hutan Gunung Malang. Dia tidak akan mengganggu siapa pun. Kalau tidak melakukan upacara permintaan maaf, sakitnya Si Riweuh tidak akan sembuh. Dukun-dukun sakti pun menyerah. Mereka tidak tahu penyebab sakitnya Si Riweuh apa.

Setelah dua minggu sakit, Si Riweuh, atas dasar sang dukun, pergi ke sisi hutan. Dia ditemani dukun-dukun sakti, melepaskan ayam hitam dan sesajen lainnya ke hutan. Dua minggu kemudian, dia sembuh total dan kembali berburu setiap hari minggu.

Cerita kesaktian Si Riweuh pun tersebar ke seluruh penjuru desa di kaki Gunung Malang. Sampai pada masa, Si Riweuh bernasib sial. Dia kehabisan peluru dan harus berhadapan dengan babi gila. Babinya sangat besar, hitam, bertaring tajam dan memiliki kesaktian. Begitu sih ceritanya. Itu premannya babi. Si Riweuh pun melayani babi itu. Mereka duel habis-habisan. Bahkan, anjing kesayangan Si Riweuh mati di tempat, perutnya dicabik-cabik taring babi.

     “Si Riweuh menang?” tanyanya.

     “Sebentar ya, aku ambil air hangat dulu di bawah. Haus.”

Yah, air hangatnya habis. Saya pun merebus air. Menuangkannya ke cangkir. Saya kembali ke kamar, dan pacar saya sudah tertidur. Zzzzzzzzz! Grok!

Lanjut besok lagi deh. Masa saya cerita sendirian. Bobo dulu aja yuk.

Si Riweuhnya bersambung ya….

“sonofmountmalang”

Dongeng sebelumnya Dongeng (8) Dikejar Babi Hutan

6 thoughts on “Dongeng (9) Si Riweuh

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s