Dongeng (10) Si Riweuh 2

Malam ini saya akan melanjutkan dongeng Si Riweuh ya. Masih ingat kan dongeng semalam lalu?

      “Adegannya sampai Si Riweuh duel dengan babi kan?”

      “Yap! Masih ingat rupanya.”

      “Pasang telinga baik-baik ya.”

      “Nggak ngopi dulu?”

      “Nggak, tadi udah minum wine setengah gelas buat nyembuhin flu.”

      “Gayaa!”

      “Hahahahaha!”

Sudah siap mendengarkan dongeng lanjutannya Si Riweuh kan ya. Langsung saja ya biar tidak terlalu malam.

Si Riweuh melawan babinya segala babi seorang diri. Ia terpisah dari para rombongan pemburu di tengah hutan. Lagipula ia terbiasa melepaskan diri dari rombongan pemburu untuk mencari babi yang sedang ketakutan.

Setelah berduel maut, seluruh tubuh Si Riweuh tercabik-cabik taring babi. Darah dari lukanya berceceran dan babi itu tidak berhenti menghajar tubuhnya. Babinya benar-benar ngamuk membabi buta. Marah semarah-marahnya. Babi itu terus menghajar tubuh Si Riweuh. Beruntung anjing pemburu lainnya tiba. Anjing-anjing itu menggonggong panik. Mendengar gonggongan panik, para pemburu langsung datang ke tempat Si Riweuh dengan babi gilanya.

Anjing-anjing pemburu mencoba mengusir babi sedikit menjauh dari tubuh Si Riweuh. Saat menjauh sedikit, para pemburu menghujani tubuh babi dengan tembakan. Babi itu rubuh tidak jauh dari tubuh Si Riweuh. Mereka berdua sama-sama bersimbah darah.

Para pemburu menggotong Si Riweuh yang sudah tidak berdaya keluar hutan. Begitu juga babinya, digotong beberapa orang karena ukurannya sangat besar. Itu mungkin yang bisa disebut segede bagong!

Meskipun babi itu sudah mati, namun tampangnya tetap menyeramkan. Taringnya hitam, tajam, melenting dan tubuh gempal hitamnya penuh bulu-bulu kasar dan penuh luka tembakan. Babi itu digantung di pos ronda. Dia menjadi tontonan seluruh penduduk di kaki Gunung Malang. Sementara Si Riweuh langsung dibawa ke dukun sakti untuk disembuhkan luka-lukanya.

Beberapa bulan kemudian, Si Riweuh pun sembuh. Banyak sekali bekas luka di betis, paha, tubuh, tangan dan wajahnya. Meksipun begitu, ia tetap terlihat gagah, segar dan penuh semangat. Di lehernya terkalungkan taring babi yang pernah mencabik-cabik tubuhnya. Katanya, kalung itu bisa membuat kebal terhadap senjata apa pun. Bahkan babi segila apa pun! Wohh! Hebat ya!

Si Riweuh terus melanjutkan berburu babi setiap minggu. Berbabi-babi sudah ia bunuh lagi. Namun, pada akhirnya, taring babi di kalungnya tidak bisa menyelamatkannya dari kematian. Yah, seperti kita tahu, tidak seorang pun bisa selamat dari kematian. Lagipula semua orang pasti mati. Begitu pun Si Riweuh. Dia meninggal dunia, bukan karena babi, harimau atau pun binatang buas di belantara hutan Gunung Malang. Ia mati karena usia dan mungkin karena dosa-dosanya membunuhi babi.

Kematian Si Riweuh rupanya membawa kabar bahagia bagi babi-babi di hutan. Mereka mulai ngelunjak. Rombong-rombongan babi pada malam hari sudah berani turun gunung, melahap apa pun yang ditanam di ladang. Singkong, jagung, ubi, dan sayuran lainnya, bisa dilumat dalam semalam.

Andai saja penduduk di kaki Gunung Malang suka makan babi, rombongan-rombongan babi itu pasti sudah mereka jebak. Sayangnya, mereka tidak suka babi plus mereka juga takut dengan babi-babi yang datang bergerombol.

Harusnya yang hidup di kaki Gunung Malang ini adalah bangsa sejenis Asterik & Obelix. Mereka pasti sudah pesta pora dengan babi hutan yang lezatnya mengalahkan WAGYU JEPANG!

       “Wahhhh! Wagyuuu! Aku mau makan wagyuuu!”

        “Besok ya, pulang kantor.”

         “Oke! Sekarang mau dongeng lagi ya?”

         “Sekarang? Hmmm…! Tidur deh. Besok banyak kerjaan.

          Dongengnya lanjut malam besok ya.”

         “Babinya udah tamat?”

         “Babinya sih belum. Yang udah tamat Si Riweuhnya.”

         “Ohhhh..! Jadi masih ada babi lagi?”

         “Masih dong.”

         “Seru nggak?”

         “Dijamin seru!”

         “Besok ya dongengin aku lagi. Tapi nggak mau babi lagi. Wuaaahhh……!” ucapnya ditutup menguap panjang.

Tidak lama kemudian, terdengar suara dengkuran. Kali ini dengkurannya pelan. Saya menarik selimut, mematikan musik dan mematikan lampu.

Goodnight, darl…!

“sonofmountmalang”

Dongeng Si Riweuh sebelumnya

Advertisements

10 thoughts on “Dongeng (10) Si Riweuh 2

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s